
Aryo meraih ponselnya dari atas bantal, jarinya bergerak nan gemulai, menekan layar dengan pelan, mencari sesuatu yang dia harapkan.
Ya! Menonton drama China adalah pilihan yang teoat untuk Aryo, tidak berbeda dengan drama negara lain. hanya saja, drama China yang terbesit dalam kepalanya, bahkan mengiang-ngiang, hingga tanpa sadar gabutnya membawanya ke alam mimpi yang tak mengejutkan.
---
"Aryo Saputra?!"
"Hadir bu," balas Aryo lantang
"Kenapa buku tugas mu berbeda?" Tanya sang guru sambil membolak-balikan buku Aryo
"Kemungkinan buku Aryo tinggal bu, perasaan tadi malam sebelum tidur udah Aryo masukin ke dalam tas bu. Ketika tadi pagi pas pelajaran pertama Aryo lihat sekilas kalau buku tugas Aryo tidak ada lagi bu," jelas Aryo dengan sedikit keraguan
"Ini hasil contekan yo?"
"Bukan bu, Aryo masih ingat jawaban yang Aryo kerjakan tadi malam bu"
"Kalau begitu pulang, ambil bukumu lagi, ibu tidak menerima jawaban kalau bukan di buku tugas" titah sang guru.
"Baik bu"
Aryo lantas berdiri dan mengambil ponselnya dari tas, hendak pergi "izin bu," pamit Aryo ketika sudah di ambang pintu.
Berjalan menyusuri koridor sekolah, sedikit jauh menuju parkiran, Aryo masih mencoba mengingat kalau benar Aryo sudah masukkan buku itu ke tasnya.
"Mau kemana?" Tanya seseorang ketika Aryo sudah dapat izin dari satpam dan hendak keluar dari pos satpam
"Pulang kak" mode adek kelas keluar sesaat dari tubuh Aryo, "biar sedikit sopan di depan satpam" batin Aryo
"Ikut gue aja" dia langsung berlari pelan menuju motor yang terparkir
Aryo langsung naik tanpa mendapat arahan lagi dari kakak kelasnya itu, biasa dan sudah sering.
"Mau ngapain pulang Ar?" Tanya nya lagi
"Bentar kak mau ngambil buku tugas yang tertinggal"
Setelah mendapat jawaban itu, sang kakak kelas langsung menancap gas motor lumayan, Aryo semakin erat memegang pundak sang kakak kelas, hingga hanya beberapa menit sudah sampai tepat di depan rumah Aryo.
Aryo berlari kencang, dan mendorong pintu sedikit kasar dan berlari menuju kamarnya, mengobrak-abrik buku yang ada di atas meja belajarnya, namun nihil kalau bukunya tidak ada di situ, di lemari buku pun tidak ada, di tempat buku tugas juga tidak ada, kekhawatiran Aryo semakin memuncak, pasrah? Atau tidak ingin ke sekolah? Tapi bagaimana pun jika Aryo tidak segera ke sekolah akan mendapat ceramahan dari sang guru di pertemuan berikutnya.
Aryo mengalah dan segera keluar dari kamarnya kemudian menutup pintu utama juga dengan kasar, Aryo berlari juga menemui sang kakak kelas yang masih bertengger di motornya, Niko yang mengantar nya hanya bisa menatap Aryo dengan heran.
"Balik aja kak, bukunya gak di situ," jelas Aryo, Niko mengangguk paham dan menjalankan motornya dengan kecepatan yang sama ketika mereka datang tadi.
"Ingat coba dimana terakhir kali Ar"
"Kalau seingat gue, udah gue masukin ke dalam tas kak" raut muka Aryo berubah menjadi sedih
"Ngak dipinjam teman Yo?"
Niko tidak mengatakan sepatah kata lagi, memilih diam dan fokus pada jalan.
Setelah sampai tepat di gerbang sekolah, sudah turun dari motor, berlari kecil menuju kelasnya setelah berucap terimakasih pada Niko tetapi Niko tetap mengikuti langkah Aryo.
"Mana bukunya?" Tanya sang guru dengan tangan berpangku pada pinggangnya, ketika Aryo masih di pintu dan belum mengetuk pintu.
"Tidak ketemu Bu," jawab Aryo dengan menunduk,
"Berarti tugas nya gak di kerjakan tadi malam ya?"
Aryo juga tidak menjawab apa-apa, rasanya jujur tidak berguna, kecewa? Tentu saja! Hampir begadang hanya untuk mengerjakan itu, tapi di sekolah di hadiahi oleh pengalaman yang tak terduga.
Niko yang mendengar semuanya hanya bisa mematung tepat di samping Aryo,tidak menatap Aryo juga, hanya bersandar pada dinding dan menatap lurus pada halaman sekolah.
"Nilai kamu kosong dan dapat nilai skor 50 isi buku kedisiplinan nanti, dan tetap berdiri di situ"
"Andai kata aku tidak jujur dari tadi" batin Aryo lalu mengambil posisi berdiri tepat di samping Niko.
Malu? Benar! Aryo dilihat oleh beberapa anak yang lewat bahkan ada yang menyaksikan bagaimana permulaan dari kisah Aryo yang dihukum.
Pasrha dan pasrah.
Bel berbunyi, jam mata pelajaran Fisika sudah selesai, Aryo langsung berdiri tepat di depan pintu, menunggu sang guru untuk keluar, untung saja sudah jam istirahat, kalau tidak! Mungkin guru yang mengajar pada jam berikutnya akan menghukum Aryo,
"Duduk sana!" Perintah sang guru.
Aryo berjalan menuju kursinya, dan duduk, kemudian mendengus kesal untuk melampiaskan kesedihan nya, oh tentu saja malunya juga.
"Sampai ketemu di pertemuan berikutnya" begitulah ucapan sang guru dan berjalan dari kelas.
Terdengar tawa bahak dari pojok belakang, berbeda dari sebelumnya, hingga seisi kelas harus menoleh ke arah yang tertawa itu, dia yang ber-nametag rian mengangkat buku tugas Aryo sambil menertawakan Aryo, tertawa puas, bagaimana tidak? Mereka menginginkan itu terjadi pada Aryo, dan tidak lupa Niko masih berdiri di ambang pintu menyaksikan apa yang terjadi.
Kaku seluruh tubuh Aryo, seperti tidak bisa dikendalikan, kaget dan sangat marah sekali, kalau tahu ada yang mengambil, mungkin dia sudah melapor kepada sang guru, sekarang? Tidak ada gunanya! Mereka akan bilang khilaf? Atau bercanda? Atau lupa mengembalikan? Tentu saja sang guru akan percaya kepada ucapan mereka.
Aryo memutar tubuhnya, dan memperbaiki posisinya, menegarkan jiwanya, jangan sampai emosi, jika dia berani melawan, bukan itu yang akan dia lawan nanti, tentu saja anggota genk lainnya, bahkan senior.
Jhon mengambil buku itu dari tangan Rian, menaruh tepat di meja Aryo dengan kasar.
"Makasih ya, jawabannya tidak ada yang salah, sesuatu keberuntungan buat hari ini" ujar Rian lagi diselingi senyum puas
"Maaf tadi lupa ngembalikan" timpal Nosten lagi.
Tanpa diperjelas pun Aryo sudah tahu kalau mereka memang berniat membuat Aryo semakin terpuruk, kan memang itu yang mereka inginkan!
Semua hanya bisa menyaksikan dengan diam, tidak ada yang berani mengoceh atau menanggapi, kamu berani? Bersiaplah berhadapan dengan anggota senior genk mereka.
Niko menatap tajam Rian, seolah meminta Rian untuk meminta maaf, Rian tahu kalau Niko juga memang anggota genk tersebut, Rian langsung menepis tatapan itu dan bersenda gurau dengan teman lainnya.
Sementara Aryo hanya mematung dan mencoba menerima keadaan yang harus diterima, yang dia takutkan nilai skor nya semakin membanyak, padahal dia tidak berbuat sesuatu yang salah, namun dia harus menerima beban yang bukan harua dia pegang, "sakit sekali" batin Aryo meraih kasar buku dan memasukkan ke dalam tasnya dengan kasar juga, hampir koyak cover bukunya untung tidak sampai koyak.