I To Be W

I To Be W
Menuju Masa Depan



Setelah sekian lama mereka menghabiskan serapan itu, semua sudah beres bahkan piring kotor sudah Alsay cuci, sementara Aryo membersihkan meja dan mengelap meja, dan Mercy hanya bisa terdiam di kursinya tanpa sepatah kata.


"Sudah kak" ucap Alsay dengan tatapan memelas yang membuat Aryo menatap adiknya malas juga.


"Yaudah tidur sana!, makan siang jangan telat ya, kakak mau nyapu rumah dulu," balas Aryo lalu berjalan menuju pintu belakang.


"Dedek tidur ya kak," timpal Mercy dan berlari kencang menuju pintu kamarnya.


Aryo tidak menghiraukan sepatah kata pun, dia fokus pada bunga mawar yang dia tanam beberapa minggu lalu, "mekar dan cantik" batin Aryo sambil mencabut rumput yang menempel pada batang bunganya.


Sudah bosan untuk memandangi bunga tersebut, Aryo berdiri dan masuk kembali ke rumah, dia melakukan hal yang dia katakan tadi, membersihkan rumah dan kamarnya, tidak lupa mencuci pakaian miliknya sendiri yang kotor.


Jam 12:20 semua sudah beres, bahkan makan siang sudah Aryo masak dengan cekatan, hanya nasi ikan tongkol sambal disertai sayur lodeh ala kadarnya, tidak lupa sambal tumis yang paling Aryo sukai, Aryo suka memakan makanan pedas jadinya ketika dia masak makan pasti tidak akan lupa dengan sambal yang dia idamkan.


"Yuhuiiiii, wuenak pasti" celoteh Aryo dengan suara pelan, tentunya tidak ada yang mendengar karena kedua adiknya masih sibuk nonton filem kesukaannya di kasur.


"Dek makan ya, ini udah siang," peringat Aryo setelah tiba tepat didepan pintu kamar adiknya.


"Iyaa kak" jawab kedua adiknya bersamaan.


Tidak lupa pintu kamar pun dibuka dan berdiri berhadapan Aryo dengan kedua adiknya.


"Yok ayok" ajak Aryo lalu Berlaku dari hadapan adiknya, dan diikuti oleh adiknya juga.


Setelah makan siang yang hening dan penuh hnikmat yang tiada tara, mereka langsung bubar, dan tentunya sudah melakukan kewajiban wajibnya, mencuci piring sehabis makan dan mengelap meja.


Aryo kini sudah ada di kamarnya, lalu meraih ponsel yang tidak memiliki notifikasi, "sedih bah" batin Aryo laka meratapi kesepian ponsel dan hidupnya, dia tidak mengambil pusing lalu merebahkan dirinya hingga terlelap.



Pagi sudah tiba, Aryo terbangun karena suara ayam yang terdengar keras dan mampu membuat Aryo terbangun, dia masih merasakan lelah pada batinnya, perbincangan lama bersama orangtuanya sangat lah berat belum lagi topik yang mungkin tidak masuk akal bagi seorang Aryo yang notabene suka topik "gimana Sekolah? Gimana PRnya? Aman?" Jauh dari kata itu.


Aryo mencoba sedikit mengingat suasana tadi malam, "Kamu habis SMA lanjut kuliah atau kerja yo?"


Pertanyaan pertama yang tidak dia sangka akan secepat ini dilempar ke arah Aryo yang masih tidak memikirkan hari esok, hari ini aja jika aman dari bully sudah rasanya menjadi orang yang paling bersyukur, "gimana ya ngasih tau yang sebenarnya" batin Aryo khawatir."


"Mungkin pas kelas 12 aja Aryo pikirin itu pa, sekarang Aryo cuma mikirin biar nilai bagus" jawab Aryo dengan tenang lalu menoleh ibunya yang mengangguk pelan, entah apa arti dari anggukan pelan itu.


"Kalau nanti ambil jurusan Farmasi aja ya kak," timpal ibunya dengan cengiran yang membuat Aryo bergidik, entah aura apa yang ibunya salurkan hanya saja aura kali ini semakin berbeda untuk Aryo.


"Mah" suara lembut Aryo dia keluarkan


"Masih mikirin nilai loh ma sekarang, itu mah terlalu cepat buat Aryo, belum pun minat Aryo kurang jelas dibidang apa, support Aryo buat rajin gali minat aja udah Aryo syukurin buat sekarang" Aryo melanjutkan ucapannya yang sempat terhenti dan tidak


"Semangatwww kakak" dukung Mercy dengan senyum tulusnya. Aryo langsung bahagia menatap adiknya, tidak lupa Aryo mengelus surai adiknya pelan.


"Adik juga yang semangat belajarnya ya" sambung ayahnya mendukung Mercy dan dibalas anggukan pelan oleh Mercy.


Sungguh melelahkan jika mengingat pertanyaan yang simple tersebut namun membutuhkan jawaban yang harus matang sekali, belum lagi dirinya yang masih bahan olokan membuat nya kadang enggan ingin melanjut kuliah.


Dengan santai Aryo kembali masuk kamar untuk mengganti pakaian tidur dengan baju sekolah yang sudah disetrika, setelah dia mandi dengan waktu yang lumayan lama dan tentu saja digunakan menghilangkan beban berat pada batinnya, dan Aryo sudah makan sebelum mandi, terakhir dia mengambil tasnya lalu keluar kamar untuk pergi sekolah.


Hening dan sepi, sebab Aryo duluan makan tadi, jadinya ruang yang dia lewati kosong dan dan sunyi, jadinya mereka masih sarapan.


"Aryoo duluan yaaaaaaaa" suara Aryo sedikit meninggi hingga cukup terdengar keruang belakang dari pintu depan.


tanpa menunggu jawaban, Aryo sudah menutup pintu dan langsung berlari pelan menuju gerbang rumahnya, siap menunggu ojek yang akan mengantar dia kesekolah, sebab Aryo sudah memesan dari tadi.



Sudah sampai di gerbang sekolah, Aryo langsung turun dari ojek dan berlari pelan menuju kelasnya, feeling Aryo sedikit tidak tenang, jadinya aryo sedikit waspada dengan hari ini.


"Hai Aryo" sapa Ivan teman Aryo dari X ipa 1, yang adalah kelas unggulan, baik dan ramah begitulah sikap dia, mereka berpapasan tepat di depan X Ipa 1.


"Iya vaan, gak masuk kelas dulu?" Tanya Aryo karena melihat Ivan menunjukkan wajah sedikit kecewa.


"Oiya lupa, makasih ya yo" balas Ivan dan segera berjalan menuju kursinya sedangkan Aryo berjalan menuju kelasnya dan palingan juga duduk di kursinya.


Sebelum bel berbunyi, Aryo masih mengambil sampah tepat dari lacinya lalu membuang ke keranjang sampah di kelasnya, hingga Desi sudah sampai dan duduk tepat di samping Aryo.


Pelajaran demi pelajaran mereka lalui, hingga tiba saat yang ditunggu adalah bel pulang sekolah berbunyi, Aryo merapikan Tasnya setelah materi terakhir sangat membosankan eh bukan membosankan tapi sang guru suka mencuri waktu yang seharusnya sudah bubar malah digunakan untuk menjawab kuis, untung saja Desi dan Aryo bisa menjawab kuis dari sang guru tersebut. Kalau tidak? Mungkin Aryo dan Desi sudah pasti telat pulang dan diberi tugas tambahan lagi, kesal bukan jika ada guru seperti itu?.


Aryo dan Desi berjalan santai menuju gerbang, sekolah susah mulai sepi sebab mereka agak telat keluar kelas, taulah Alasannya apa? Karena kuis dadakan!!!


"Yo kita bareng pulang yuk" ajak seseorang tepat dibelakang Aryo, lantas Aryo mematung sesaat lalu menatap Desi, dia sadar kalau itu orang yang berbicara.


Akhirnya Aryo menatap ke belakang, takut jika dia salah orang, bisa menjadi masalah, "Antar Desi aja" ujar Aryo dan masih menatap Niko yang sedang menatap Aryo juga.


"Gak deh, gue bisa pulang sendiri, bye-bye" ucap Desi dengan cepat dan pergi meninggalkan keduanya yang tanpa Desi sadari kalau mereka memandang dirinya hingga sampai di gerbang.


"Ayok yo" ajak Niko lagi dan menarik tangan Aryo menuju motor Niko terparkir.


Semua sudah aman, bahkan Desi sudah berangkat sebelum Niko sampai di gerbang, Niko pun melajukan motornya menjauh dari sekolah dan Desi naik angkutan umum untuk pulang.