I To Be W

I To Be W
Untuk Kedua kali



Aryo takut kalau Niko malah membuatnya semakin takut, Aryo bukan tidak mau diantar pulang, hanya saja dia takut kalau teman Niko melihat dirinya diantar oleh Niko yang akan menjadi bahan bullyan bagi mereka.


"ARYO SAPUTRA," bisik Niko tepat didepan telinga Aryo


"Iya-iya," 


Niko menarik tangan Aryo dengan sedikit paksaan, tentu saja Aryo sudah pasrah, hanya berharap semua akan baik-baik saja.


--


Disepanjang mereka masih duduk di motor Niko, tidak ada obrolan lagi, suara motor dan mobil yang sesekali menyalib membuat telinga mereka terasa monoton.


Kaca spion tergambar jelas wajah Aryo, merah dan hidungnya memerah, matanya juga sedikit sembab, ada perasaan sedih dalam hati Niko, ingin rasanya dia mengambil sedikit beban itu lalu menaruh dalam relung hatinya.


"Aryo!" panggil Niko lembut


"Apa?" Balas Aryo yang masih menunduk


"Kalau lu takut, lu bisa ngasih alamat palsu rumah lu sama gue, sampai lu bisa percaya sama gue dan nyaman sama gue, gapapa buat kali ini lu bohong," 


"Entar gue ngasih alamat palsunya malah lu ngintilin gue," jawab Aryo dengan senyum mengejek tanpa sadar Niko juga melihat senyum itu, ya gapapa lah Niko terima gitu, karna tau rasanya bagaimana di posisi Aryo yang notabene hampir tiap hari dibully, bukan hanya sekali dalam sehari, bahkan 2 sampai tiga kali, hingga Guru TIK lebih sering memperhatikan Aryo.


"Lu tau pikiran gue ya hehe, iya sih tapi gue gakan kasi tau apa-apa buat mereka, gue janji, tapi beberapa anak genk juga tahu kok rumah kamu yo, itu kata mereka," balas Niko dengan setengah malu.


"Stop, dari sini rumah gue," ucap Aryo yang sibuk memeriksa Tasnya


Niko menghentikan motornya, sementara Aryo turun dari motor, membuka helm dan meletakkan di jok belakang dengan sembarangan.


"Itu rumah gue" tunjuk Aryo pada rumah yang bercat putih dan dan tidak punya pagar depan


"Aryooo!!" panggil Niko setelah selesai meneliti setiap jengka bentuk dan warna rumah Aryo dari motornya.


suara Niko yang pelan dan lembut membuat Aryo menoleh dengan ekspresi  heran "Ya?" Aryo mengalihkan pandangannya dari tatapan Niko


"Nanti jam tujuh kita keluar ya, gue jemput lu disini," Niko menepuk lembut pundak Aryo


"Buat apa? Gue sibuk jam segitu, belum lagi ngerjain PR," balas Aryo dengan ekspresi heran juga


"Pokoknya jam segitu, mau gue tunggu di rumah lu juga gapapa, OKE?" 


"Bye-bye," lanjut Niko lalu memutar motornya.


Aryo masih termenung dengan tegak, menatap motor yang sudah tak terlihat itu, kaget dan takut bercampur aduk. Entah mengapa efek bullyan itu membuatnya suka overthinking bahkan negatif thinking lagi, "Gue harap yang gak baik jangan datang, please," batin Aryo lalu melangkah masuk ke rumahnya.


Aryo melakukan tugas dan kewajibannya untuk sekarang, sudah lagi dia minta izin untuk ayahnya menjaga adik bungsunya, ya tak luput juga ayahnya mau-mau saja dengan permintaan Aryo, lagi pula pak Aryo libur di hari minggu dan sementara bu Aryo masih menjaga toko yang tidak terlalu jauh dari rumahnya.


"Kak yo," Alsay mengetuk pintu kamar Aryo, 


Aryo beranjak dari kursi belajarnya dan menuju pintu "Aalda apa?" Setelah Aryo membuka pintu


"Temenin Say ke toko buku kak, buat beli buku gambar sama pensil warna," 


"Tunggu bentar ya, kakak ambil jaket dan kunci motor juga, eh tunggu di motor aja ya dek," jawab Aryo sembari mencari kunci motornya di antara laci lemarinya, 


"Naik Als" perintah Aryo


Hanya kurang dari 10 menit motor Aryo sudah tiba di toko buku langganan mereka, keduanya memasuki toko lalu mencari buku gambar dan pensil warna yang Alsay sukai.


"Sudah kak, ini aja" Alsay mengulurkan bukunya dan pensil warnanya dan tak lupa uangnya juga, dengan maksud Aryo membayar belanjaan itu ke kasir.


"Bentar kita keliling dulu ya, sebelum bayar" ucap Aryo lalu memegang tangan Alsay


Aryo masih mengelilingi toko tersebut, meski tidak mewah dan modern tetapi isinya tetap berkelas untuk para siswa.


"Okeee, dapat juga bukunya" Aryo menatap buku tulis kecil dan memutar mutarkan berkali-kali


Aryo pun berjalan menuju kasir dan tangan Alsay masih tetap dipegang.


"Pulang aja dek, atau, masih ada yang perlu? Tanya Aryo sebelum menuju parkiran


"Pulang aja kak, mau ngerjain tugas" Alsay menatap Aryo


"Yoklah, sini kakak pegang" Aryo mengulurkan tangannya dan Alsay dengan senang hati memberikan tangannya untuk dipegang


---


Aryo sudah berada di kamarnya, membereskan pekerjaan yang masih tertinggal sebelumnya, lalu pergi kedapur untuk mengerjakan apa yang kurang, itu adalah kebiasaan Aryo, dan itu juga membuat mama dan papa nya senang setiap kali mereka pulang dari luar rumah.


"Pa, Aryo nanti keluar malam ya,"


"Lah? Tapi besok sekolah kak, gak keganggu?" Tanya Pak Aryo yang sedikit keheranan dengan sikap Aryo yang minta izin di malam senin, "tidak biasanya, palingan malam minggu keluar cuma buat makan doang," batin Pak aryo.


"Kurang tahu pa, tadi teman nyuruh buat keluar malam gitu, Aryo cuma ngangguk doang," balas Aryo dengan rasa takut


"Ada masalah kak?" Tanya pak Aryo lagi masih menatap Aryo lekat


"Gak ada masalah Pa," tegas Aryo, namun hati dan pikirannya sedang berkecamuk, apa yang dia lakukan nanti?


"Yaudah. siap saja, entar temennya nunggu lama,"


Aryo langsung bergegas ke kamar lagi, memilih baju yang harus dipakai, tidak lupa berdoa agar semesta tidak membiarkan Aryo menangis juga.


"Gue udah nunggu di depan tadi yo."


"Datang ya,"


Dua pesan dari Niko membuat Aryo membuang nafasnya kasar, lalu keluar kamar dan tidak lupa pamit pada orang tuanya yang sedang menonton di ruang tamu, ya ini sudah jam 19:10.


--


Aryo dan Niko sudah berada di restoran mahal dekat rumah mereka, sempat Aryo mengelak dengan alasan mahal dan mengatakan uangnya akan habis jika tidak dia tabung untuk diberikan buat yang malak, namun dengan tegas juga Niko bilang kalau Niko akan membayar, dan itu membuat Aryo tenang dan senang, tapi apa daya pikiran masih berkecamuk dengan apa yang akan terjadi?


"Mau pesan apa?" Tanya Niko setelah mereka sudah memilih kursi yang harus ditempati dan sudah duduk tentunya.


"Lu aja yang milih, tapi jangan yang mahal dan jangan juga kebanyakan, gue dah makan dari rumah," jawab Aryo sembari celinguk kesana dan kemari, memastikan tidak ada rencana buruk disini, Niko yang melihat ekspresi wajah Aryo hanya menggeleng kepala dan "terlalu takut juga salah yo," batin Niko sembari memanggil waiter dan menyebut pesanan yang Niko inginkan. Niko kembali menatap Aryo yang masih melakukan hal yang sama, layaknya memeriksa satu persatu dan memastikan itu bukan ingin membully dirinya.


#TBC