
Alsay yang melihat kedatangan kakaknya membuat dia segera berlari seolah menjemput kekasihnya, Alsay tersenyum miring membuat Aryo membalas senyuman itu dengan mencium kening Alsay lalu mengelus rambutnya pelan, "Kakak belajar dulu ya, selagi adik tidur" bisik Aryo pada telinga Alsay dan Alsay hanya mengangguk pelan.
"Alsay mau ke depan ya kak, bareng mama juga," balas Alsay membisik.
Alsay berlalu dan menutup pintu tersebut, tersisa Aryo dengan 2 adik kecilnya masih menikmati tidurnya tersebut. dia kembali menuju meja, lalu meletakkan tas dan mengambil buku pelajaran nya, Aryo tidak mau mengganggu ke kenyenyakan adiknya, "Biarin saja," batin Aryo sembari mulai mengerjakan tugas.
--
Ponsel Aryo bergetar 2 kali, dia tidak segera mengambil ponsel tersebut. Sudah menjadi kebiasaan jika hanya chat, Aryo akan lama membalas beda dengan deringan dari call, tanpa disuruh untuk kedua kali pun dia langsung akan merespon kecuali Aryo sibuk atau sedang tidak berada dekat ponsel pintarnya.
[Yo, besok gue anter pulang lagi ya, sekalian kita pergi ke fany cafe lagi]
[Tunggu kayak tadi siang ya]
Pesan itu lah yang diterima Aryo yang pengirim juga dengan orang yang sama yaitu Niko, Aryo pun menghirup nafasnya kuat, seperti orang yang sedang kehabisan nafas dan membuangnya juga kuat.
Hati yang mungil tersebut dilempar pertanyaan dari jantung yang tidak diketahui "Apalagi yang dia akan lakukan?"
Namun, Aryo mungkin sangat beruntung hari ini, dia tidak dirundung oleh siapapun, semua berjalan dengan baik bahkan seperti yang Aryo harapkan dari dulu, siapa yang tidak mengharapkan harinya di sekolah berjalan dengan baik Tanpa ada masalah?"
Bu Aryo memasuki ruang belakang toko tersebut, melihat ke 2 anak kecilnya tidur sementara Aryo masih fokus pada buku catatannya dan sebuah pena.
"Ayo pulang!" Ajak sang ibu lalu membangunkan 2 anak kecilnya itu, Aryo langsung merapikan bukunya, "Ma, ayah dimana?" Tanya Aryo sambil memakai jaketnya.
"Didepan udah, lagi nutup toko" jawab bu Aryo santai.
Keempatnya pun berjalan menuju depan toko, setelah kedua adik Aryo berhasil dibangunkan dengan susah payah.
2 motor tersedia, setiap 1 motor diduduki oleh 3 orang, Aryo-mercy-alsay. Pak Aryo-Bu Aryo- adik bungsunya, kombinasi yang bagus sekali, dan keduanya melaju santai menjauh dari toko dan ini sudah pukul 19:20.
--
"Yo, tunggu gue ya. Lagi nganterin Aurelia bentar" pesan dari Niko yang tadi sempat membuat ponsel aryo bergetar pelan, Aryo hanya memandang sesaat tanpa berniat membalas lalu memasukkan bukunya ke dalam tas.
"Woi, si Aryo udah pake kacamata lagi loh, dia imut benar" celetuk sevan dengan seringai
"Lu udah buta ya?" Tanya doni lagi. Aryo tidak mengatakan apa-apa, dia hanya menatap bukunya yang masih terbuka
"Lu mau curhat sama buku toh?" Bagas menarik dengan cepat buku tersebut, lagi-lagi Aryo hanya menatap bagas dengan santai.
"Mata lu jangan liat gue monyetttt, lu itu kayak janda yang haus ***! Tau gak?" lanjut bagas.
Aryo tidak mengatakan sepatah kata pun, dia menarik paksa buku itu lalu memmasukkan ke dalam tas kemudian menutup tas dengan kasar juga dan hendak pergi.
"Lu jangan lemah dong beb," ejek sevan lagi,
Aryo nampak tegar kali ini, dia berusaha untuk membela diri setidaknya bisa pergi, dengan susah payah dia ingin pergi. namun jangan diharap! Tangan Doni terlalu cepat menghadang langkah Aryo dan mendorong dengan kasar ke belakang.
Aryo meringis kesakitan, air matanya mulai mencair, dia hendak berdiri lagi dan didorong kasar oleh Doni, perlahan Doni mulai membuka resleting Aryo, secepatnya Aryo menepis tangan itu.
"Lu udah mulai berani ya? Gue telanjangi atau duit lu kemariin" perintah sevan dengan tangan menyilang di dada, Aryo membuka tasnya lalu mencari kotak pensil dan mengambil duit sepuluh ribuan, Aryo meletakkannya tepat ditangan Doni, saat Aryo hendak pergi Doni masih menahan dan menekan dada Aryo.
"Lu habis dibully lagi?" Tanya Niko
Aryo tidak menghiraukan, dia menghempas tangan Niko dengan kasar dan berlari menjauh sembari mengusap matanya yang berair, siswa yang melihat hanya bisa bingung sehabis Aryo menghempas tangan Niko, sementara Niko langsung berlari menuju motor dan melaju hingga dekat dengan Aryo.
"Naik!!!" Perintah Niko pada Aryo yang masih berlari, Aryo masih tidak menyahut dan masih berlari, Niko yang sudah paham hanya bisa mengikuti Aryo dengan santai, hingga Aryo terisak kuat dan terduduk tepat di tembok jembatan.
"Udah capek? Lu naik cepat gue antar mau jalan kemana!" Perintah Niko lagi sambil menyeret Aryo menuju motor, Aryo dengan pikiran kacaunya tidak tahu lagi ingin berbuat apa! Desi yang merupakan sahabatnya sudah pulang duluan, "Andaikata gue suruh Desi nunggu bentar" batin Aryo setelah naik ke motor niko dan memegang tas Niko dengan kuat.
"Desss," desah Aryo kasar dan terdengar oleh Niko.
Heran dan penasaran, Niko pun menatap wajah Aryo yang kalut itu dari spion,
"Turun yoo!" Niko mengingatkan Aryo untuk turun.
"Dimana?" Tanya Aryo lagi
"Tuh liat" Niko pun turun dan memasang helm yang dia pakai ke kepala Aryo
"Maaf tadi satu helm lagi ketahan sama Aurelia," setelah membisikkan itu, Niko menarik tangan Aryo menuju suatu tempat.
"Kenapa ke sini?" Tanya Aryo lalu membuka helm itu,
Niko pun menatap Aryo dengan sedih "Basuh muka lu dulu, jangan gitu pulang dah,"
Niko mengambil air dan membasuh muka Aryo, sedikit gemetaran masih tersisa di tubuh Aryo, tanpa sepatah katapun Aryo nampak pasrah dengan perlakuan Niko, pasrah mau dibully lagi, tapi dalam hati berdoa semoga semuanya baik-baik saja.
°
"Habis dibully?" Tanya Niko to the point setelah mereka sudah duduk di kursi kosong tepat di fany coffe.
Aryo hanya memandang Niko malas.
"Bagi cerita dong, gue pengen juga ngerasain apa yang lu rasain Yo," bujuk Niko lembut.
"Lu mau ikut ngerasain atau ingin merasa kasihan?" Tanya Aryo balik tanpa memandang Niko.
"Hmm, intinya gue ingin tahu lu habis diapain Yo," ujar Niko lagi.
Wajah Aryo kembali datar, dan ingin rasanya pergi.
"Gue gak bisa nyeritain sekarang, kalau udah selesai boleh gue pulang?"
"Belum boleh" jawab Niko cepat.
"Bentar gue pesen dulu makanan" lanjut Niko memanggil seorang waiter dan menyebut makanan yang harus disajikan.
"Ya terus Ngapain lagi?" Tanya Aryo setelah melihat Niko tidak berbicara dengan orang lain.