I To Be W

I To Be W
Toko Buku



"Aryoo" panggil Niko dengan suara khasnya


"Iyaa" jawan Aryo dengan singkat.


Semua aman untuk hari ini, feeling yang tidak mengenakkan tadi pagi mungkin memang memberitahu kalau dirinya akan bersama Niko lagi, huhuhu, "Semoga seperti ini saja untuk ku" batin Aryo.


Aryoo tidak mau lagi dibully. cukup dan cukup, tapi apa daya? Banyak guru yang sudah tahu dan mereka seolah menganggap itu candaan, sebab setiap kali mereka dipergok oleh guru dengan cepat dan tanggap anggota genk itu menjawab kalau itu hanya candaan, dan parahnya para guru itu pun mempercayai tersebut, untung saja guru Komputer yang sering dipanggil bu Kom, suka melihat situasi dan cukup paham dengan keadaan Aryo, apalagi dia sebagai wakil kepala sekolah bidang kesiswaan.


Seringkali bu Kom harus berkeliling sekitar sekolah untuk memastikan keadaan sekolah dan sering kali pulang setelah sekolah dirasa kosong, (baiknya bu Kom tuh pengen jadi guru seperti dia juga hehehe.)


Mata Niko menatap fokus jalanan, sering juga dia mencuri pandang Aryo dari spion.


"Kalau orang lain tanya kamu siapa aku, jawab kamu apa?" Tanya Niko pelan.


"Gatau, belum pernah ada yang nanya," jawab Aryo dengan kalimat yang masih singkat.


"Bilang sepupu aja," jelas Niko


"Kenapq harus sepupu?" Tanya Aryo lagi dan lagi,


entah pikiran Niko bagaimana lagi, senang? Kaget? Entah hanya wajah datar yang Aryo tampilkan pada spion yang bisa Niko lihat.


"Maksudnya?" Batin Niko dengan senyum yang tidak bisa diartikan, "mau lebih ya yo?" Batin Niko lagi.


"Gak kenapa sih, biar keliatan dekat aja yo" jawab Niko meski pengen kalimat yang tak terduga hendak keluar.


"Oke oke"


Melihat jalan pulang yang bukan biasanya, membuat Aryo kaget dan takut, dia ingat feeling nya lagi,


"Apakah ini?" batin Aryo lagi.


Semakin jelas tempampang wajah takut Aryo pada spion "Kita kemana?" Tanya Aryo sedikit gelagapan


"Ketoko buku aja yo, mau kan?"


seketika ekspresi Aryo berubah, "Yang anak rajin mah bebas ya hehe,"


"Kalo dibarengi kamu yo aku makin semangat kok," goda Niko sambil menatap wajah Aryo dari spion.


"Begitu ya?" Itu lah jawaban Aryo membuat senyum Niko pudar lagi.


Hingga tiba di parkiran toko buku, Aryo dan Niko memasuki toko buku itu, keliling dan berhenti tepat di rak buku kumpulan anime, Niko suka membaca anime di kala waktu kosong, sementara Aryo hanya suka membaca novel romantis di perpustakaan.


Niko mengambil 3 buku anjme yang dia sukai lalu membayar dan berjalan keluar menuju meja kosong yang ada di taman dekat toko buku tersebut.


"Mau makan apa yo?"


"Gausah kalau aku, tadi pas istirahat kedua udah kenyang beh"


"Sama juga, yodah duduk aja, gamau baca nih yo?"


Aryo hanya menggeleng kepala dan menurunkan pantatnya untuk duduk diikuti Niko tepat di samping Aryo.


Niko fokus pada buku anime yang dia beli, sementara Aryo fokus pada ponselnya, sesaat kemudian Aryo sudah terlelap, senyum tipis dari Niko kembali lahir.


"Yo" panggil Niko lembut


"Aryo" panggil Niko lagi.


Merasa tidak ada sahutan dari Aryo membuat Niko memicingkan matanya sebelah untuk memastikan Aryo sudah terlelap.


Niko menyentuh tangan kiri Aryo yang dibuat sebagai tumpuan kepalanya.


Menyentuh-mengelus tangan Aryo, karena tidak ada pergerakan dari Aryo membuat Niko menggenggam tangan Aryo.


Niko meletakkan bukunya yang dia pegang, berbalik arah memandangi tangan Aryo yang Niko genggam.


Niko pun mengambil tidurnya setelah terakhir memotret tangannya yang menggengam tangan Aryo. hingga sesaat, sudah ikut bermimpi juga.


Rasa nyaman dan tenang hadir dalam kebersamaan mereka, terlelap mimpi yang tidak diketahui hanya saja Niko bermimpi kalau Aryo percaya pada Niko untuk bersahabat dan memeluk erat tubuh Niko.


Karena tidak ada pergerakan Niko, Aryo menggoyang badan Niko pelan.


Niko yang merasa sebuah tangan lembut menggosok pada punggungnya, lantas dia menoleh ke pemilik tangan tersebut dan terakhir dia menoleh kalau tangannya menggengam tangan Aryo.


Niko melepas gengaman itu dan menoleh Aryo "Maaf yo, tadi biar gak lu tinggal gue kalau lu bangun lebih dulu, dan benar kalau lu bangun lebih dulu dari gue," raut wajah Niko berubah sesaat. namun, berbeda dengan Aryo yang masih mencerna perlakuan Niko tadi.


Niko merasa kalau Aryo sedang melamun, rasanya ingin memegang tangan Aryo lagi, lebih erat dan erat. Apa daya? Dia harus juga menahan dirinya, jangan sampai Aryo membencinya.


"Pulang aja atau makan dulu yo?"


Pertanyaan Niko membuat Aryo mengabaikan lamunannya, dia menoleh ke arah Niko yang memasukkan bukunya ke dalam tas. "Pulang aja Nik" jawab Aryo singkat, kemudian meraih tas.


Keduanya berjalan menuju parkiran motor dekat taman tersebut, Aryo langsung naik setelah Niko perintahkan untuk naik dan motor juga menjauh dari parkiran.



"Pulang," ucap Aryo memasuki rumahnya, meskipun dia tahu kalau jam segini itu rumahnya pasti kosong, karena ibunya masih di toko dan adiknya masih bermain di rumah ibu Ratma.


Ibu Ratma punya anak 2 perempuan seumuran Alsay, jadinya ketika Alsay merasa bosan di rumah, dia bisa bermain sepuasnya di rumah bu Ratma.


Aryo langsung bergegas menuju kamar dan tidur, tidak ada niatan untuk makan.


Dia mengambil ponselnya dan mencari nama Desi, sahabat sejatinya itu.


"Halo Yo"


^^^"Ngapain Des?" ^^^


"Nyantai Yo"


^^^"Oh gitu"^^^


"Yo, boleh nanya?"


^^^Aryo mengernyitkan bahunya "silahkan,"^^^


"Niko ada bilang sesuatu?"


..."Dia bilang anggap aja kalo dia sepupu gue Des"...


"Sama gue juga kmaren dia bilang gitu"


^^^"Yaudah, selamat menikmati rebahannya Des"^^^


Aryo menghentikan panggilan itu, lalu meletakkan dan mencoba mengingat bagaimana ekspresi Niko selama dia ada di taman.


"Tok tok"


"Tok tok"


Suara pintu kamar Aryo diketok terlalu keras, hingga Aryo harus bangkit dari tidurnya dengan malas.


"Apa?" Tanya Aryo masih mengucek matanya.


"Bantuin Mercy mandi kak, Alsay mau belajar Kelompok dan jemput nanti Alsay jam 8 di rumah Nandi ya, eh Mercy masih tidur siang kak," Alsay langsung berlari dari pintu kamar Aryo meninggalkan Aryo berdiri yang kebingungan.


"ALSA IZIN YA KAK" teriak Alsay lalu menutup pintu.


Aryo hanya mendengus kesal, dan berjalan menuju dapur untuk makan. sebab dari siang Aryo tidak mengisi perutnya, jam sudah menunjukkan pukul 16:40, berarti Aryo harus segera memasak dan mandi.


Semua terlaksana dengan mulus, hingga selesai makan tepat waktu dalam keluarga kecilnya kecuali Alsay yang masih belajar kelompok, bubar pun tiba.


Gelap kembali hadir, memberi malam untuk sang insan, berhenti dan tidurlah yang terakhir.


Aryo masih bergelut di dalam kamarnya, belajar atau gabut adalah pilihan yang biasa.


Gabut mungkin hal yang biasa buat banyak orang terutama Aryo yang sudah selesai bergelut dengan tugas sekolahnya. ekspresi yang tidak bahagia harus dia tonjolkan, kemungkinan adalah tugasnya susah, ya sangat susah!.