
Desi berjalan lunglai menuju arah rumahnya, sesekali menatap ke belakang, semenjak dia berbicara baik-baik dengan Niko, Desi lantas menjaga diri dari sesuatu yang membuatnya overthinking.
Desi bersiul sesebentar, menghilangkan rasa cemas yang memburu jiwa dan batinnya, tetapi itu tidak bekerja, malah membuat telapak tangannya berkeringat.
[Ini Niko, lu udah nyampe rumah kan?]
^^^[Udah]^^^
Begitu singkat balasan Desi, "Apakah aku akan menjadi target mereka untuk selanjutnya?" Desi membatin sambil mencari list lagu yang hendak dia pasang.
Dia tempelkan ujung earphone ke dua telinganya, dan menaikkan volume musik hingga 98%, bagi dia cara ini adalah yang terbaik untuk menghilangkan overthinking.
"Tumben kau seperti ini pulang sekolah," Tegor Ibu Desi ketika sudah sampai di depan rumah.
Desi mencabut earphone tersebut, "Apa?" Tanya Desi lagi.
"Lah aku udah sampai ternyata, gak terasa juga ya kalau dengerin musik, lelahnya berjalan juga serasa tidak ada,"
"Udah selesai kejutannya?," Ibu Desi menempelkan tangannya pada pinggang.
"Kenapa Ma?"
"Gak ada, buru sana ganti baju. Habis itu kerjakan apa yang mau kau kerjakan," Ibunya menggeleng kepala dan melengos pergi dari hadapan Desi.
"Salah ku apa?" Desi memandang kepergian Ibunya.
Desi melangkah masuk ke rumah, tanpa mengatakan salam sepatah katapun, karena dia sadar tidak akan ada orang di rumahnya pada jam segitu.
*
Pikirannya kembali pada zaman Majapahit, pada saat dia diantar oleh Niko, sisa wangi badan Niko masih menempel di depan hidungnya, membuatnya ingin dekat kepada Niko.
Desi menghirup udara itu, sesaat dia menahan nafasnya, agar sisa wangi itu tidak segera terbuang begitu saja.
"WOIII!!!!,"
"ANJINRT," lantas Desi memegang dadanya.
"Terkejut ya? Hahahahahaha, makan tuh terkejutnya," ejek saudara lelaki Desi yang bernama Ryan.
"Awas lu ya lain hari!" Ancam Desi dengan sedikit berwajah marah.
"Hahahahahaha, kasiaaan!"
Desi segera beranjak, dan pergi menjauh juga dari kakak laki-lakinya itu, yang ada dia bisa saja emosi dalam waktu dekat. Jika dia emosi bisa jadi sesuatu yang akan dikorbankan untuk melampiaskan emosinya.
"Lain kali kudu latian emosi dulu ane, biar bisa ngadapin cowo itu dengan santai. Santai-santai untuk menusuk," senyum jahatnya dia tebarkan dan sekilas melihat kakaknya masih terduduk sambil memakan cemilan.
"Tunggu saja pembalasanku," Desi masuk ke kamar dan tak lupa menguncinya.
Badmood sudah suasana hati Desi, dia meletakkan tas sekolahnya disembarang tempat, dan langsung berbaring di atas kasur tanpa mengganti baju sekolah yang dia pakai.
Seketika itu bayang-bayang Niko dan Aryo muncul di langit-langit kamarnya, sesuatu yang masih abu-abu sepertinya akan terjadi kepada dirinya, "Apakah aku Atau Aryo?" Ucapnya dengan sembarangan dan mengusap wajahnya sedikit kasar.
"Dess, keluar yok. Bantu mama buat beres-beres dulu lah,"
"Hmm,"
Mukanya langsung berubah drastis, bete dan tidak semangat. Terawangannya yang hampir mendekati langsung saja menjadi buyar dan tak memiliki arti, sedikit lagi dia akan mempunyai topik yang harus disetor kepada Aryo dan apesnya malah hilang seketika karena dirinya dipanggil oleh ibunya.
"Ada apa?" Desi akhirnya keluar kamar dengan wajah yang sangat bete.
"Temenin mama masak bolu lah, Mayan nanti kita makan 0as Ayah sudah balik," ibunya mengedipkan matanya satu
"Bolu apa dulu?"
"Gausah banyak tanya, ayo bantu mama aja!" Ibunya langsung beranjak pergi tanpa memperbolehkan putrinya bertanya.
Desi mengikuti langkah ibunya sambil menundukkan kepalanya.
"Arrghhh," desah Desi yang membuat Ibunya melihat kebelakang.
"Itu mata ada dimana kau buat?"
"Mataku di sini Mama," tunjuk Desi pada kedua mata.
"Terus kenapa kau bisa kesitu, sementara ini jalan untuk ke dapur, gak sekalian kau tabrakkan dinding itu,"
"Serah Mama aja" Desi mengelus jidatnya, kembali ke arah dapaur setelah menabrak dinding kamar Ibunya.
"Kasihan jidatnya, masa dia tidak bisa melihat jalan?" Usil Ryan dan berbicara kepada Konro.
Desi yang mendengar itu pun seketika naik darah, wajahnya kembali merah dan ingin rasanya untuk meninju kakaknya.
"Diam lu, itu bukan urusan lu ya,"
"Perasaan gue ngomong ke Konro ya, kok jadi ikut campur yang situ,"
"Terserah lu, mau ngomong ke mbak Kunti sekalian aja gue gak peduli lagi," Desi melongos pergi dengan langkah cepat.
"Kasihan dia esmosi hahahaha,"
"Berantam Mulu kalian," omel Ibunya ketika melihat putrinya sudah sampai di dapur.
"Ya, harusnya ibu tahu kalau anakmu berantam mulu,"
"Pusing saya dengar kalian adu mulut terus, gak ada niat buat adu kekuatan juga?" Pancing Ibu Desi dengan wajah kesalnya.
"Mungkin besok bisa adu pisau ma,"
Ibunya hanya menggeleng kepala, dan tangannya sibuk meracik tepung yang sudah bergumpal di dalam sebuah mangkuk.
Desi mencuci tangan sebentar dan kembali ke samping Ibunya, "Apa yang mau saya bantu Bu?"
"Ovennya kau beresin dulu, sekalian loyangnya kau cuci ya,"
Desi langsung saja menuju kamar penimbun barang, mencari posisi oven yang terletak di antara banyaknya barang yang dititipkan di dalam kamar itu, Desi mengecek satu persatu setiap judul dan gambat yang tertera di luar kardusnya.
"Yesss, dapat juga," Desi merasa senang, tetapi dia harus menyingkirkan barang yang ada di atas oven tersebut lebih dahulu.
Setelah dirasa sudah aman, Desi memutar badan dan ingin segera keluar, tidak sabar lagi untuk segera membakar bolu buatan ibunya yang super enak.
"Lah kok pintunya terkunci?" Desi berusaha membuka pintu itu. Matanya menatap knopnya dengan heran.
"Perasaan tadi pintunya gak ku kunci deh," Desi merogoh sakunya, memeriksa dan mengingat-ingat bahwa dia dengan sadar tidak mengunci pintu.
"MAMAAAAAAAA!" Teriak Desi.
"MAMAAAAAAAA!" teriaknya kembali
Mungkin Desi tidak ingat, kalau jarak dari dapur ke kamar itu lumayan jauh, di batasi oleh dinding kamar dan ruang tamu juga.
"Ini kok bisa terkunci sih? Ini udah gak beres,"
Desi mengedit keras pintu, memutar kenop pintunya berulang kali.
"Capek juga,"
"Haha,"
Desi langsung tercengang mendengar tawa tersebut, pikirannya langsung menangkap sesuatu. "Benar, ini udah gak beres,"
"Ryannn!! Buka pintunya, tak lapor sama Bapak nanti ya,"
"RYAAAAAANNNNNN!"
"Kenapa sayang? Hahaha. Kau tidak ingin menikmati enaknya hidup di situ?"
"Matamu, saya telpon ini Ayah,"
Desi merogoh ponselnya, "bodoh sekali aku, gak dari tadi nelpon Mama buat bukain pintu," ucapnya tanpa sadar.
"Jangan ditelpon dong, nikmati dulu sebentar aja hahahaha,"
Desi tak lupa menekan tombol speaker pada ponselnya dan dia tempelkan pada pintu, agar bisa di dengar oleh Ryan.
"Halo kak,"
"Ayah masih di mana?"
Pintu pun langsung terbuka.
"Ayah masih kerja,"
"Semangat ya Ayah, udah dulu ya,"
"Eh, lu pengecut ternyata ya Ryaaan, hahahaha, malu sama jenis kelamin," ledek Desi tepat dihadapan Ryan.
"Dasar tukang ngadu,"
"Itu lah Aku, udah tau kan?* Desi memasang wajah marahnya dan menatap Ryan begitu tajam.
*
"Lama banget nyampenya, kau pergi ke pasar kah?" Omelnya lagi setelah melihat Desi baru sampai di dapur.
"Harus secepat kilat kah? Seperti sicepat halu?"
"Kalau bisa lebih cepat dari situ,"
"Maaf, aku bukan kurir,"