
Aryo sudah duduk santai di sebuah kursi kosong, sudah memesan teh kesukaan nya, lalu memainkan ponselnya lagi, berharap ada notifikasi dari siapapun, tapi itu mustahil, notifikasi pun kosong, mungkin galaksi sedang tidak merestui Aryo hingga kesepian harus menemaninya setiap saat.
15 menit berlalu, sang pemain utama pun belum menunjukkan batang hidungnya, Aryo melirik kekiri, kekanan melihat seisi kafe penuh dengan orang yang sedang menikmati harinya, "hari ini memang manis," ucap Aryo pada batinnya.
"Lama ya nunggu?"
Suara itu memaksa Aryo harus menatapnya, familiar dan dia sedikit benci, benar saja Aryo mengenal orang itu.
Tanpa berpikir panjang, Aryo hendak pergi, namun tangannya ditahan oleh orang tersebut.
"Kenapa lu mau pergi secepat itu?"
"Lu benci gue?" Lanjut nya yang masih memegang tangan Aryo
"Lu mau apa? Duit?" Tanya Aryo balik, memperbaikinya duduknya juga diikuti oleh orang tersebut.
"Gue gak butuh apapun, gue hanya butuh ngomong dengan lu sebentar kek,"
"Atau pilih" orang itu menatap tajam Aryo menghentikan bicaranya dan menatap tangan Aryo yang masih dia pegang, dia tahu Aryo pasti takut dan bukan tidak mau berontak. dia paham kalau Aryo berontak, genk nya tidak akan tanggung-tanggung memukul, karena itu Aryo pasti sedang pasrah.
"Lu pergi dan semakin dibully besok atau temenin gue disini," lanjut Niko
"Sama aja sih, gue meski disini lu bisakan ajak teman lu buat bully gue, siapa sangka?" Tatap Aryo dengan sedikit tidak percaya dengan ancaman orang yang ada di depannya bernama Niko.
"Kenapa? Lu mikir gue yang ajak mereka buat ngebully lo ya? Hehe,"
Aryo mengedikkan bahunya tanda tidak tahu dan meneguk tehnya yang sudah setengah kosong.
"Gue gak gitu sih, lu tau gue gak pernah ngebully. hanya nonton saja, itu aja gue ikut buat hiburan aja" balas Niko lalu melepaskan tangannya dari pergelangan Aryo, dia tidak peduli dengan tatapan orang yang sedikit heran, buat Aryo? Itu malah membuatnya semakin tertekan.
"Kenapa lu ngajak gue ketemu sih? Gue Pengen cepat pulang" Aryo menatap Niko dengan tatapan kosong meski air matanya sudah sedikit mulai meleleh,
"Cuma ngobrol doang, santai aja gue gak akan nge bully kok,"
"Boleh nanya?" Aryo seolah meminta izin
"Silahkan" jawab Niko dengan santai
Aryo sedikit lega, "Apa alasan genk lu ngebully gue? Lo Bisa ngasih tau?"
"Katanya sih, lu itu lucu, itu aja sih yang gue tahu, mereka itu ngebully lu itu karena bawaanya lu itu lucu dimata mereka,"
"Kenapa lu gak ngelawan gitu yo?"
"Gimana gue ngelawannya, bisa mental gue makin down, mending gue kasi aja duit buat mereka, gapapa sih, setidaknya mental gue bisa sedikit gue jaga," Aryo mulai menundukkan kepalanya dengan perasaan yang menyakitkan kalau teringat bagaimana dirinya diperlakukan ketika dibully.
"Lu dapat duit darimana, tiap kali mereka malak lu, dengan santainya lu bisa ngasih duit yang gak sedikit?"
Pertanyaan itu membuat hati Aryo semakin menyakitkan, seperti ada pisau yang mengiris, sakit dan teramat sakit namun darahnya tidak ada.
"Penasaran ya? hehe" tawa Aryo begitu menyeramkan.
"Dapat dari bokap nyokap gue, sesekali gue pas jaga toko suka ambil lebihnya pas dihitung gitu, keknya gue malak ortu gue deh. ya lu Juga tau, pasti uang jajan gue gue kurangin sih jelasnya" lanjut Aryo dengan senyum palsunya lalu menyeka air matanya
"Lu mau nangis?"
"Lu kenapa gak bawa motor kesekolah, yo?
"Hah?" Tanya Aryo cepat, heran dan aneh dengan kakak kelasnya yang satu ini "pura-pura peduli ya?" Batin Aryo, lalu meneguk tehnya lagi
"Semoga ini ya terakhir pertanyaan lu, gue jawab semua pertanyaan lu karena gue kek gatau jawab apa. karena genk lu setiap kali gue berontak dikit malah ngegas gak karuan,"
"Gue gak bawa motor itu biar gak dicegah ditengah jalan, dulu itu, gue udah gamau lagi mental gue semakin down, mending uang gue terkuras baik dari tabungan atau gue minta lebih dari ortu gue gapapa sih, lagian paman gue suka antar gue pulang kok," lanjut Aryo dengan senyum palsunya yang tidak lupa dia tebarkan.
"Lu ngejelasin dengan jujur gue lihat, gak takut lu gue kasi tau ini semua ke teman gue?" Niko dengan senyum liciknya memandang Aryo
"Gapapa sih, sekalian aja mental gue down gapapa, kan itu yang diinginkan pembully, mental korbannya down dan berakhir bunuh diri, sekarang sih gue udah pasrah," jawab Aryo dengan santai terlihat tegar namun berbeda dengan hatinya yang sudah remuk dan airmatanya semakin encer, tidak tahu sudah seberapa banyak aryo menyeka air matanya.
"Lu bawa motor gak yo?"
"Gak!" jawab Aryo singkat
"Gue anter lu pulang ya!?"
Heran dan semakin heran, Aryo semakin takut dengan satu orang ini "Gausah, gue bisa pesan ojek atau sejenisnya kok, ga usah repot-repot,"
"Gue gak merasa repot kok, kan karna gue ajak lu ketemu, jadi gue ngerasa harus anter lu pulang juga, atau lu takut rumah lu gue tahu?"
"Iya gue takut," jawab Aryo to the point
"Gue takut keluarga gue kena imbasnya, gue gamau, gue gatau sama pikiran gue, sudah suka overthinking, apalagi gue paling gede, gue masih mikirin adik gue yang masih kecil, gue lagi punya tanggung jawab," jujur Aryo
Hening dan hening, Niko ingin tahu lebih banyak lagi mengenai Aryo, hatinya juga ikut merasa sakit melihat Aryo yang selalu bahan bullyan ternyata memiliki banyak beban juga, "gue salut sama lu yo," batin niko lalu melipat kedua tangannya, sementara aryo sibuk menyeka air matanya.
"Kalau gitu, besok gue anter lu pulang juga!"
"Ga perlu, gue bisa sendiri. Gue gakmau dianggap caper dan lu Punya orang yang lebih perlu, buat lu anter pulang," ujar Aryo
"Siapa?" Niko memicingkan kepalanya
"Aurelia,"
"Pokoknya gue anter lu pulang titik, kalau lu gamau besok gue tarik paksa lu. Aurelia? Hehe, lu lucu juga ya, pengen bully juga," lantas membuat bulu kuduknya Aryo semakin merinding, pergerakan Aryo dengan cepat Niko paham
"Gue bercanda yo," Niko memegang lembut tangan Aryo seolah untuk menguatkan diri.
"Kan Aurelia gebetan lu, isu juga tersebar kok, mestinya lu mentingin dia dulu sih. kalau gue mah bisa pesan ojek," ucap Aryo dengan sedikit mengejek Aurelia? Bahwa Aurelia tidak bisa mandiri untuk pulang sekolah?.
"Intinya besok gue anter lu pulang, gue jemput lu dari kelas lu titik, jangan bawa motor besok!" Ancam Niko pada Aryo yang masih keras kepala.
Niko pergi membayar tagihan yang harus Niko bayar, kembali menuju meja dimana mereka mengobrol tadi, agak sulit untuk Niko kalau melihat kondisi Aryo, tapi apa buat? Dia juga tidak bisa menghentikan tindakan temannya, mungkin ini adalah awal pertemanan Niko dengan aryo atau malah sebaliknya?
Sunyi dan sepi, pengunjung sudah banyak yang keluar masuk, tidak terhitung. Waktu yang tersisa juga semakin sedikit, ini akan semakin sore, keduanya mesti harus pulang sebelum malam tiba.
"Yo, ayo gue anter, jangan keras kepala," perintah Niko pada Aryo yang masih bergeming dengan tatapan kosongnya.
TBC