
"Hahaha lu cewekable ***" Doni yang mendekati Aryo, lantas mengelus pipi bagian kiri Aryo
Rasanya dibully itu seperti sebuah pisau yang menusuk buah mangga, mengelupas bagian kulitnya, kemudian memotong beberapa bagian buah mangga,
mental Aryo mulai terkelupas sedikit demi sedikit, hanya ada tersisa air mata yang belum terpotong hingga beberapa bagian, dan dia tidak tahu sampai kapan ini akan bertahan.
"Lu Gadak niat transgender" ledek Bagas
mendengar kalimat tersebut, Aryo serasa disambar petir yang tak berhujan ini, "Andai aku cewek apakah kamu tidak akan pernah membullyku?" Aryo menatap nanar pada Bagas dan Doni.
Semua anak genk mengelilingi Aryo yang semakin gemetaran dan itu malah membuat mereka senang dan tertawa sepuasnya.
Grendy berjalan mendekati Aryo, mengganti posisi Doni, Grendy menarik kerah Aryo, "Sini duit lu!"
Aryo tidak mengucap sepatah kata pun, dia saja hanya bisa komat-kamit di dalam hati, berharap seseorang menolongnya.
Aryo menggeleng pelan, hendak pergi namun tangan Sevan menarik tas Aryo, membuat Aryo semakin gemetaran dan keringat dingin.
Ini bukan pertama kali Aryo dibully, ketika MOS. Aryo pertama kali dibully karena membuat kesalahan dan berhadapan dengan Osis, Aryo sudah tahu bakal apa yang terjadi tetap saja dia mencoba membuat pertahanannya, siapa sangka? Temannya itu pergi begitu saja.
"WOIII" teriak Dana, dan memukul bahu Aryo pelan, belum juga, Aryo masih menunduk membuat anggota genk itu semakin tertawa,
"Lu mau semakin gemetaran atau kasi uang lu ke gue!"
"Apakah ini sebuah ancaman?" Batin aryo setelah mendengar suara Doni setengah teriak.
"Uang atau nyawa?" Ujar Sevan lagi,
Tanpa pikir panjang, Aryo pun merogoh sakunya dan mengambil uang lima ribuan dua lembar lalu memberikan ke telapak tangan Sevan yang setengah menengadah.
"Sudah kan?, Gue bisa pergi?" Aryo langsung berjalan kasar dan mengusap wajah nya yang basah itu.
Malu? Tentu saja! Perhatian semua yang ada di parkiran menuju Aryo, meskipun bukan yang pertama kali, mereka tidak bosan melihat Aryo lemah!"
"Apakah aku sebuah mainan yang bisa membuat mereka bahagia?" Batin Aryo menuju motor yang terparkir lalu memutar dan menancap gas lumayan kencang, hingga seorang siswa ingin tertabrak.
"Maaf" ucap Aryo memandang sang siswi tersebut, dan dibalas dengan tatapan tidak suka, semua mata pun terheran melihat sikap Aryo yang berubah drastis, membiarkan air matanya masih menempel pada wajahnya, ingus yang keluar pun dibiarkan begitu saja. Aryo tidak peduli, dia ingin segera sampai di rumah, untuk melampiaskannya pada kamar mandi.
Tanpa mengucap salam, Aryo segera berlari ke kamar mandi dan membunyikan kran dengan kuat lalu menguatkan batin dan tubuhnya, bersiap untuk besok dia akan dibully atau dipalak.
--
Bunyi dering ponsel Aryo berbunyi, Aryo tidak segera membuka, "Tumben ada yang chat gue di weekend" batin Aryo sembari membantu adiknya makan.
Aryo segera meraih ponsel yang ada di atas sofa, lalu membuka pesan tanpa nama dan tanpa profile photo.
["Lu Aryo kan?"]
^^^[Ya]^^^
^^^[Ini siapa?]^^^
[Besok lu ada kegiatan?]
^^^[Gimana gue jawabanya?] ^^^
^^^[Gue kan gak kenal lu!]^^^
[Besok bakal lu kenal sih!]
[Ketemuan ya jam 13:00 di fany cafe]
^^^[Maaf gue sibuk sekarang]^^^
"Tumben ada yang ngajak gue meet lagi" Batin Aryo tak terlepas menatap nomor yang tertera, nickname yang gak jelas, profile photo yang tidak ada, bio juga di privasi.
Pikiran Aryo kembali lagi menerawang, takut anak genk itu ngajak meet namun nyatanya buat ngebully? "Tapi tidak, dia kan ngajak ke fany cafe itu lumayan ramai, tidak takut nge bully gue? Atau mau mempermalukan gue?" Batin Aryo semakin bergejolak,
"Daripada gue penasaran atau itu beneran anak genk, gue pergi aja deh. Siapa sangka buat nyelesain masalah gue, dan semoga bullyan nya berakhir cepat" lanjut Aryo entah kepada siapa, adik bungsunya sudah tertidur lelap setelah makan. Aryo pun beranjak ke dapur lalu mengerjakan apa yang bisa dia bantu.
"Sore bang" sapa laki-laki yang tampan memasuki ruang tamu, Aryo sedang menonton drama favoritnya sambil menjaga adiknya tidur.
Aryo menatap jam dinding sekilas masih pukul 16:50 lalu menatap ayahnya heran, "tumben papa cepat pulang, mesti papa jemput mama juga" balas Aryo
"Gatau kenapa hari ini cepat pulang, habis rapat tadi, pimpinan nyuruh kami biar pulang aja, ini juga telat sampai, ayah belanja dulu di pasar tadi buat abang sama adik dan mama" ayah Aryo yang sering dipanggil pak Aryo mengangkat kresek setara dengan bahunya
"Coba tebak apa ini?" Pak Aryo bergegas menuju dapur dan diikuti Aryo
"Ayah jemput mama dulu ya bang, kalau lapar makan aja dulu, jangan tunggu ya bang" pak Aryo mengecup pelan kening Aryo
"Hati-hati pa" balas Aryo menatap punggung ayahnya hingga tak terlihat oleh pintu yang sudah tertutup, dan pergi menuju dapur untuk makan.
Aryo kembali ke ruang tamu, melihat adik bungsunya masih tertidur, sementara 2 adiknya sedang bermain di rumah bu ratma, Aryo mengambil bukunya untuk mencicil tugas yang dikumpul minggu depan.
Aryo meraih ponselnya lagi, dia tahu notifikasi tidak ada, karena temannya akan bertanya saja jika ada tugas dan Aryo juga akan membalas jika mood-nya bagus, jadi kedua belah pihak sudah tahu tentang kehadiran mereka juga didalam dunia maya.
Masih menatap nomor yang ber nickname "Yours Bear", seribu pertanyaan juga tidak lupa hadir dalam relung pikiran Aryo, hingga tanpa sadar kedua adiknya sudah ikut duduk tepat di samping Aryo, dan menepuk bahu Aryo pelan "HAH?" Sontak Aryo terkejut lalu menatap adiknya yang menatap Aryo dengan muka heran juga.
"Udah lama pulang?" Tanya Aryo membenarkan posisi duduknya
"Belum kak" balas Alsay
"Lapar kak" Sambung adiknya yang bungsu kedua sering disebut Mercy, Aryo segera menggendong Mercy menuju meja makan "jaga adik ya kak, bentar kakak jaga mercy makan dulu" Aryo lantas berjalan sambil menggendong adiknya.
Hanya dibalas dengan anggukan oleh Alsay.
"Makan yang banyak ya boss" tatap Aryo pada adiknya yang manis itu, Aryo mengambil kursi disamping adiknya dan sesekali menyuapi.
"Kakak ganteng" ucapan adiknya berhasil membuat Aryo tersipu malu, "ini pujian atau ejekan?" Batin Aryo memandangi adiknya dengan senyum tipis,
"Dedek juga cantik" Aryo tidak kalah juga memberi pujian pada adiknya sambil mengelus rambutnya pelan.
°°°°°
Ini adalah hari minggu, sekarang tepat pukul jam 12:20, Aryo sudah pamit pada ayah dan ibunya akan pergi sebentar keluar rumah dengan alasan refreshing, Sehingga Pak Aryo pun mengganti tugas untuk menjaga anak bungsunya, Aryo sudah rapi dan sedang duduk manis didepan rumahnya, ditemani oleh sang ayah untuk menunggu gojek, sedari tadi Pak Aryo membujuk Aryo membawa motor sendiri dengan alasan biar bebas refreshing nya, dengan tegas juga Aryo menolak dengan alasan ingin santai di motor.
Suara Klakson berbunyi berkali-kali, mas Gojek nya sudah melambai tangan pada Aryo yang sedang duduk,
"Izin ya pak" ucap Aryo lalu menggandeng tas kecilnya
"Hati-hati ya bang" balas Pak Aryo lalu mengecup kening Aryo
Aryo berlari pelan ke arah motor setelah pelukannya pada tubuh ayahnya sudah lepas, sekilas dia melihat ayahnya masih berdiri di depan rumah sembari menggendong adik bungsunya, airmata aryo menurun, mengeluarkan embun yang sudah harus dikeluarkan "Maaf ya pa" batin Aryo kemudian menyeka air matanya lalu menatap ponselnya yang berdering
"Tunggu sebentar"
"Kayaknya gue telat dikit"
"Maaf"
Tiga pesan hanya dari nomor yang misterius itu, Aryo pun memasukkan ponsel ke tas kecilnya lalu menikmati teriknya matahari siang itu.