
Niko mengeluarkan motornya dari garasi, mumpung ini hari libur, dia dengan semangat membersihkan kotoran yang menempel pada body motornya, agar bisa dengan bangga mengantar Desi untuk pulang.
"Sarapan dulu Nak," panggil Ibu Niko sembari meletakkan bubur ayam kesukaan Niko di atas meja teras rumah
"Bentar lagi Ma,"
"Jangan lupa sarapan ya, mumpung masih hangat,"
Niko mengangguk pelan sambil kemudian fokus untuk mencuci motornya.
"Bang, Mama pergi dulu belanja ya,"
"Oke Ma, jangan lupa beli batagor ya Ma,"
Niko merebahkan diri dibangku panjang, menatap langit-langit teras dengan bingkai bunga teratai, sekilas kenangan itu muncul dalam ingatannya.
"Apakah Desi bareng Aryo?" Dengan pelan Niko berujar, yang kemudian meletakkan kedua tangannya dibelakang kepala sebagai bantal
"Sedang apa mereka berdua ya?"
"Cit, cit, cit," Niko langsung menekan tombol terima.
Sebelum menempel sound ke telinganya, Niko sekilas melihat nomor yang menghubunginya ketika sedang berhkayal, "ini lagi," batin Niko dan akhirnya menempelkan ponsel itu pada telinganya
"Halo Sayang,"
Aurelia dengan suara imutnya membuat Niko sedikit terasa jijik.
^^^"Iya, ada apa?"^^^
"Kau sibuk kah hari ini?"
^^^"Kenapa memang?"^^^
"Keluar yok, nyari angin kek,"
^^^"Maaf, saya tidak bisa. Saya mau istirahat di hari libur ini, lu ajak aja yang lain dulu,"^^^
Niko mematikan panggilan itu dengan sepihak, dan kemudian mematikan notifikasi dari Aurelia.
"Gue lagi gak mood mau keluar, kecuali kalau Desi atau Aryo yang ngajak," ucapnya di depan ponsel.
Niko beranjak dari kursi tersebut, memasukkan motornya kembali ke garasi dan terakhir masuk ke kamar untuk tidur siang.
**
"Anjir, apasih yang nganggu gue nyari kenyamanan di hari ini?" Niko meletakkan Stik PS nya dengan kasar, karena terganggu dengan suara bel gerbang yang terus menerus berbunyi.
"Nikooo, keluar nak, teman mu datang,"
Belum sampai Niko membuka pintu kamarnya, ibunya sudah terlebih dahulu memberitahukan.
"Siapa itu Ma,?
"Lihat aja, dia udah nunggu kau dari lama, cepat turun,"
Niko kembali ke kamar, mengganti celana pendek yang dia pakai, biar gak terlihat paha mulusnya di depan mata orang.
Niko sedikit bertindak lebih lama, dia tidak ingin menemui orang lain di hari ini, berharap sang tamu segera pulang saja.
"Lah kok lu datang?" Niko dengan terkejut ketika Aurelia sudah duduk manis di ruang tamu.
"Kenapa? Ada masalah kalau aku datang?" Balas Aurelia dengan senyum sinis dan mata yang otomatis sipit ketika tersenyum.
"Buat apa, coba?" Niko ikut duduk di samping Aurelia,
"Masa sih gak peka? Buat jalan yok,"
"Gue lagi gak niat buat apa-apa, cuma pengen ngerjain tugas aja, lu ajak aja yang lain. Masih ada Sevan,"
Aurelia mengubak objek pandangannya, yang awalnya menatap Niko berubah menatap jendela yang ada di belakang Niko, Aurelia seperti mengumpulkan sesuatu yang tidak bisa ungkapkan.
"Ini makan dulu," Ibu Niko datang dari dapur dengan dua porsi seblak buatannya.
Aurelia langsung berdiri dan mengambil alih nampan yang ada di tangan ibu Niko dan kemudian meletakkan dengan pelan "Gausah repot-repot tant,"
"Gak repot kok Nak, dimakan dulu ya baru keluar," Ibu Niko menatap Niko dengan tajam dan berlalu ntah kemana.
"Gue udah bisa makan?" Aurelia dengan tatapan khasnya tanpa berkedip membuat Niko salah tingkah.
"Silahkan makan saja, aku juga mau makan soalnya,"
Niko sesekali membuat dentingan itu lebih kuat dan bersuara keras, Aurelia hanya bisa menatap senyu kepada Niko yang mulai dingin.
"Gue pengen bicara Ama lu," tegas Aurelia, gaya bahasanya kini sudah berubah,
Lantas membuat Niko menatap tanpa alasan kepada Aurelia, "Ngomong di sini aja bisa," Niko melanjutkan makan seblak yang masih tersisa.
"Bukan di sini, ini perihal kita dua saja, bagaimana dengan orang rumah yang mendengar?"
"Mama ku gak bakal denger, dia gak bakal mau ikut campur dan pasti dia udah tidur,"
"Itu tidak akan membuat segalanya nyaman, gue pengen di luar jauh dari orang dan biar gue bisa bebas ngomong,"
Kini, Niko menegakkan kepalanya dan memandang Aurelia dengan tatapan berbeda "Apa bedanya di sini dengan di sana?"
Aurelia semakin bingung dan bimbang, tatapan Niko kali ini berbeda dari sebelumnya, dia tahu apa penyebabnya dan dia mau masalah itu segera selesai. "Bisa gak sih di luar aja? Dekat kok ke taman kota, gak perlu juga naik motor,"
"Lu aja yang pergi, lu udah selesai makannya? Biar gue bawa ke dapur,"
"Udah habis, gue udah cukup, dan gue aja yang bawa,"
Aurelia ingin mengambil mangkok kosong milik Niko, tetapi sudah lebih awal diangkat oleh Niko, "Gue aja yang bawa," dengan gesit mengambil mangkok milik Aurelia juga.
Aurelia menatap ponsel Niko yang nganggur di atas meja, senyum iblisnya langsung muncul dan menatap punggung Niko, "Nik, kalau lu mau hp lu kembali, lu harus ikut gue," ujar Aurelia dengan sedikit keras ketika Niko berjalan beberapa langkah.
Aurelia lantas berlari keluar rumah dan menunggu Niko di depan gerbang.
"Ah vangke," umpat Niko,
Dia masih meneruskan untuk membawa mangkok tersebut ke wastafel. Niko menggusak rambutnya dan pergi untuk menemui Aurelia.
Aurelia menyimpan ponsel Niko di tas, dan menggapitnya di bawah ketiaknya agar tak bisa di rebut seketika oleh Niko
Niko mengikuti langkah Aurelia dengan santai, pasrah sudah sekarang jiwanya, karena dia juga tidak rela Aurelia membuka ponsel apalagi membuka aplikas.
"Mau kemana sih?" Niko berhenti sesaat dan menggerakkan kakinya yang sudah sedikit kram
Aurelia segera berbalik ketika mendengar ucapan Niko, sesaat dia memperhatikan kondisi Niko, "Rasain, dari tadi gue bilang baik-baik gak mau, habis di ancam baru mau," batin Aurelia dengan tatapan sedihnya yang palsu.
"Kita ke taman, bentar lagi ini nyampe. Bertahan aja sebentar lagi," balas Aurelia dlsembari berjalan mundur.
"Lu mau ngomong apa sih sampai harus ke taman?"
Aurelia tidak menanggapi apapun, dia terus menatap Niko yang mulai kelelahan, "kasihan sih sebenarnya," tetapi dia memilih untuk berbicara di taman.
**
Taman kota yang biasanya sepi kalau siang hari menjadi hal biasa, orang yang berada di taman kota di siang hari kemungkinan cuma beristirahat atau menikmati hembusan angin. Berbeda dengan suasana taman sore apalagi malam hari, di situ suasana taman sangatlah ramai anak muda yang lagi kencan buta dan para keluarga ada yang gabutnya di taman kota.
"Itu kursi kosong, jauh juga dari orang lain," tunjuk Niko pada kursi yang berada di tengah taman.
Niko sudah sangat pasrah, dan iya-iya saja ketika Aurelia memberi perintah, pada akhirnya duduk di depan Niko
"Gue butuh air," Niko menggibaz mukanya dengan tangan
"Ini, lu bisa minum," Aurelia dengan tidak ikhlasnya menyerahkan minuman yang dia bawa.
Niko dengan senang hati meneguk minuman yang masih memiliki sekat, pertanda bahwa Aurelia belum meminum sama sekali, "Lu mau ngomong apa?"
"Seburu itu kah?" Gak bisa lebih santai kah?"
Niko mendengus kesal, meletakkan kepalanya di meja, di depan sana membuat dia fokus untuk memandang lebih lama lagi.
"Maaf gue salah kemarin,"
Ucapan itu membuat Niko mengalihkan pandangan, dia melihat Aurelia menatap ujung pohon tersebut.
"Ada salah apa kemarin?"
"Kalau emang beneran gak tau," Aurelia berhenti sedikit dan membalas tatapan Niko, "Aku nyari masalah di kantin dan di kelas yang memaksamu untuk mengantarku,"
"Gue gak ada masalah perasaan, kalau cuma itu doang berarti udah selesai kan?"
Aurelia dengan sikap jengkelnya mengembalikan ponsel tersebut, keinginan untuk berbicara lebih jauh ternyata tidak bisa, "sungguh di luar ekspektasi," batin Aurelia dan melepaskan ponsel tersebut.
Niko berdiri "Gue izin pulang duluan ya, makasih waktu kebersamaannya," dan akhirnya Niko berjalan menjauh dan meninggalkan Aurelia di taman dengan sendirinya.
Aurelia hanya bisa menatap punggung tersebut dan tak terasa air matanya sudah menetas.