
Niko menikmati video gam permainannya, sesekali dia berkata, "Yeah, yeah, mampus kau bodoh, mampus kau baj*Ngan,"
Tiba-tiba layar komputer Niko menjadi gelap gempita, "lah kenapa?" Niko menekan tombol power untuk menghidupkan kembali. Tetapi sayang sekali hanya ada 'masukkan username dan password,' di layarnya.
Niko berjalan menuju operator yang sibuk melayani pelanggan, "Pak, komputer no 23 tiba-tiba mati," Ucap Niko ketika sudah tiba antriannya.
"Sudah habis waktu dek, mau nambah lagi?"
"Tidak Pak," Niko melihat jam dinding di atas pintu keluar-masuk warnet, "Tak terasa udah dua jam saja," Niko melangkah keluar dari warnet setelah membayar sewa komputer selama 2 jam.
Niko memasuki daerah parkir, memastikan mobil Grace masih dan benar saja, bahwa mobilnya masih ada.
"Mereka masih ada di toko buku kan? Katanya tadi mereka ingin ke toko buku buat membeli buku dan membaca," Niko berjalan agak menunduk agar tidak terlihat dari jendela toko, masuk dengan mengendap-endap juga hingga sampai di jajaran tak buku yang berdiri nan tinggi dengan segala jenis buku.
Berpindah dari rak ke rak lain, memastikan setiap orang yang berdiri atau duduk menyandar di rak buku adalah salah satu dari mereka.
"Grrrrrr, Grrrrrrr, Grrrrrr," Ponsel Niko bergetar ketika hendak menyelinap ke rak uku paling ujung di ruangan ini
"Kalian di mana?" Niko spontan berbicara seperti itu, tak terkecuali mata Niko memeriksa setiap orang yang ada di toko buku itu
Terdengar tertawa yang begitu keras, membuat Niko harus menjauhkan Ponselnya dari telinga, "Kamu nyari kami juga?"
"Hmm" balas Niko
"Main petak umpet aja ya kali kita Nik," pancing Desi dan mengedipkan satu matanya ke arah Grace.
"Alamak, jangan Doong, kalian dimana? Masa gue ditinggal sendiri di sini?"
"Siapa nyuruh main game Ampe dua jam, coba? Kita ada di samping toko buku, lagi makan. Restoran Amanda, meja no 17 ya," Desi memilih untuk mengalah dan memberitahu posisi mereka ada di mana.
Niko langsung mematikan telepon lalu berjalan santai keluar, gak guna lagi buat mengendap demi melihat aktivitas Aryo eh Desi tepatnya wkwk.
Niko berdiri tepat di samping meja "Kenapa masih tertawa lebar?" Tanya Niko kebingungan.
"Gimana gak tertawa? Lu sempat ngendap-ngendap gitu di jendela nya, jangan-jangan lu juga ngendap-ngendap di dalam toko itu?," balas Grace dengan tawa lebarnya.
"Lu nyari siapa?" Tanya Desi
"Atau Lu mau ngejutin kita kah? Gak main cuy hahaha, yang ada malah dikejutin balik," sambung Grace.
"Cukup sudahlah itu, Pesenin gue dong," rengek Niko sambil menatap Aryo yang masih fokus pada makanannya.
"Pesenin sendiri, habis gue capek ketawa, ngetawain lo aja gue belum bisa berenti," ketus Desi dengan mata sinisnya.
"Yo! Bagi dikit minumnya" Niko dengan sengaja meminta minum Aryo.
Lantas Aryo menyodorkan minumannya dengan tenang tanpa ada pikiran yang buruk……. masih polos nan kinclong maybe pikiran Aryo wkwk.
"Pesan gih Sono, yang punya aja masih kurang ini perut," keluh Aryo. Dia melihat kalau minumnya habis setengah diseruput oleh Niko.
"Hmm, abisin aja kali," batin Niko mengabaikan Aryo yang sudah siap menggeplak kepala Aryo.
"Awas Nik, tangan Aryo udah siap itu," Grace memberitahu dan lantas Niko menghentikan, seketika Aryo melihat tangan Aryo yang sudah di atas kepalanya terkepal sempurna.
Niko membawa kentang goreng, ayam goreng crispy, dan mie goreng spesial.
Niko menaruh sebuah minuman yang sama dengan minuman Aryo sebelumnya tepat di depan Aryo, "Ini buat Lo, makasih tadi udah ngizinin numpang minum dari minuman lu,"
"Trus bagian kita mana?" Grace memandang tajam kepada Niko.
"Ya gak ada dong, karena aku kan mengganti minuman Aryo yang gue minum tadi,*
"Lu minum sedikit tapi gantinya satu gelas penuh, mana Combe extra pula, yaudah minum ini dikit juga trus ganti satu gelas ukuran biasa aja,"
Dengan senyum tipis, Niko akhirnya membalas rayuan Desi "Big no lah Des, lain kali aja ya, duit Abang sudah nipis,*
"Anjir, Abang? Jenis Abang apa kau ini?"
"Udah, udah. Nih minum aja deh," Aryo menggeser minuman itu ke tengah meja.
Desi dengan cepat meraih botol itu sebelum tangan Niko yang ikut meraih botol tersebut, "Apa lu? Dia udah ngasih loh. Bagus dong, harus begitulah. Namanya berbagi ya kan Grac," tangan Desi yang gatal segera menusuk sedotan itu pada penutup botol, kemudian menggeser sedotan itu agar lebih lebar sobekannya.
"Aku juga mau," Grace tak mau kalah, dia menaruh botolnya yang di samping botol Desi.
Niko tak sadar mencuri perhatian kepada Aryo yang mengamati buku tersebut, melihat betapa seriusnya Aryo dalam membaca buku tersebut, dengan earphone bluetooth yang terpasang di telinganya, "Bagaimana sih lu bisa senyaman itu di antara teman lu yang berisik?" Batin Niko dan tak sengaja menyenggol lengan Aryo.
"Kenapa, ada yang salah dengan gue?"
"Enggak Yo, gak sengaja ke senggol sih, tapi gue juga penasaran dengan judul buku yang lagi lu baca,"
Aryo menutup buku itu sesaat, menatap Niko yang membaca judul buku, "Itu judulnya, udah tau kan? Gue bisa baca lagi?"
Niko mengangguk pelan, sambil mengunyah mie goreng spesialnya itu.
"Pulang yok, 30 menit lagi dah bel pulang kayaknya" Aryo membuka suara di keheningan yang sudah berlangsung lama, karena semuanya sibuk; ada yang membaca novel ada yang main game dan ada yang scroll sosmed.
"Ayoklah" Niko lebih dulu merespon dan mengangkat pantatnya yang susah hampir kesemutan diikuti oleh Grace dan Desi.
Mobil kembali menjauh dri parkiran toko, mereka harus kembali lagi ke sekolah, sebab di sana masih terparkir motor Niko.
"Lain kali bilangin dong kalau mau keluar, gue juga mau ikut dan gue bisa parkir motor di luar kan,"
"Tidak boleh, ini khusus untuk anak kecil. Orang dewasa tidak diperbolehkan ikut-ikutan," Desi menjelaskan kalimat itu berlagak seperti seorang guru.
"Halah, sok-sokan anak kecil, cuma beda umur satu tahun doang, heleh,"
"Beda satu tahun itu jaraknya sangat jauh juga, dia belas bulan, seribu dengan duaribu aja jaraknya beda jauh,"
"Eh Yo, gue nganter lu nanti pulang ya," Niko sudah lengah menanggapi Desi, sebab itu tidak akan ada habisnya.
"Desi mau lu kemanain? Dia cewek, dia yang harus lu anter gih, gue mah bisa naik angkutan umum," balas Aryo tanpa mengalihkan pandanganya dari buku tersebut.
"Gak mau, males banget, hari ini debat Mulu Ama dia, ntar debat juga di motor dia kan gak lucu, gue mau naik angkot aja Yo, dia yang nganter lu pulang titik,"