
"Lu ganti baju atau sedang olahraga jari?" Goda Desi dengan cengengesan
Mendengar pertanyaan Desi membuat Aryo menatap malas pada jendela kamarnya, dia beranjak dari kasur dan membuka pintu "apa?"
"Anterin gue cepat" jawab Desi dengan kecepatan bicaranya lumayan cepat.
Aryo sebentar menatap layar ponselnya, "sudah jam 15:10" batin Aryo.
"Tunggu gue di depan, bentar gue ambil jacket dulu" ucap Aryo lalu menutup pintu dengan pelan.
Desi langsung beranjak pergi dan menunggu di ruang tamu, dia mengambil ponselnya yang seingatnya tadi sempat berbunyi.
Notifikasi chat pun dia dapat, tentu membuatnya bahagia
["INF@ PINJ4M4N D4N4 @NLINE,
PROSES MUD4H/CEP4T,
PINJ4M4N MINIM4L 3JT S/D 500JT,
BUNG4 RENDAH 2% THN
MIN4T WHATSAPP.
082*********"]
"BANGSAAAAAAATTTTTTTT" teriak Desi dengan kesalnya.
"Kirain tidak perlu dibayar"
"Kenapa lu teriak? Ada setan yang gangguin lu ya?" Tanya Aryo ketika sudah sampai tepat di depan Aryo.
Desi hanya mendengus kesal menatap Aryo "Yuk anter gue Yo," Desi tidak menghiraukan pertanyaan Aryo
"Ayoooo!!" Ajak Aryo lalu berjalan menuju pintu mengikuti langkah Desi, Aryo pun mengunci pintu dan berjalan menuju samping rumah dimana motor Aryo terparkir.
Aryo melaju pelan menuju gerbang, sebab Desi sudah menunggu nya tepat di luar gerbang, dan berhenti tepat di depan Desi tanpa mengatakan sepatah kata.
Desi juga mendekati motor Aryo lalu naik, setelah memberi kode bahwa Desi sudah aman, Aryo pun menjauh dari rumahnya menuju kediaman Desi,
Sepi dan sunyi tanpa ada sapa tegur, hanya ada suara motor dan mobil beragam suara yang saling melintas.
"Udah sampai," Aryo memberitahu Desi yang masih murung dan terlihat badmood.
Meskipun Desi sudah mendengar ucapan aryo, Desi tidak berniat turun dari motor hingga beberapa menit motor Aryo pun bergetar lagi, tanda bahwa Aryo menyalakan kembali motornya.
"Stop disini," perintah Desi Ketika Aryo ingin memutar motornya.
"Dari tadi kek, makanya jangan murung, gue yang ikut kesal," ketus Aryo dengan nada datarnya, Aryo tidak berniat untuk berbicara panjang lebar dengan siapapun buat ni hari, sebab moodnya sudah berantakan dari Aryo bangun pagi, hingga tersirat dia ingin tidak sekolah. tapi apa daya, orang tua Aryo memaksa Aryo untuk sekolah. mau tidak mau, Aryo harus bergegas pergi sekolah dengan mood yang berantakan.
Desi tidak meladeni ucapan Aryo lagi, dia hanya turun dari motor dan berlalu tanpa mengucap salam ke Aryo. sama halnya dengan Desi, dia sedang badmood karena sikap Aryo yang tiba cuek tadi siang ketika makan dan chat yang tidak penting semakin menghancurkan moodnya, dia membuka pintu kamarnya dengan kasar dan meletakkan tasnya dengan kasar, Desi merebahkan dirinya dengan kasar juga di kasur, terakhir dia mengambil ponsel dari saku roknya lalu membuat mode pesawat dan mematikan dayanya. Desi ingin menenangkan moodnya dulu.
Aryo masih memandangi bagaimana sikap Desi yang spontan berubah, hingga tidak sadar kalau Desi sudah tidak ada lagi di depan pintu. Aryo langsung memutar kemudi motor dan pergi menuju toko lumayan bisa membantu ibunya.
--
Aryo melirik jam sudah pukul 07:20 masih terlalu pagi untuk bangun di hari libur, paling juga ayah ibunya baru keluar dari rumah dan tentu saja adik Aryo pasti masih di kamar.
Bosan dan gelisah menghantui kepala Aryo, dia pun mengambil posisi menjadi duduk menatap jendela kamar yang masih tertutup gorden, belum ada niat untuk membuka, Aryo langsung keluar kamar dan menuju kamar mandi untuk sikat gigi dan cuci muka.
Masih di ruang makan, Aryo harus mendapat sebuah gift yang sudah diduga dan tidak harapkan, adalah sebuah selembar kertas yang terpampang jelas dan tergeletak di meja, sebuah pesan untuk Aryo.
" Sayang aryo. Jaga adik, jangan lupa sarapan dan buat makan siang tolong masak ya, Ferdinand udah mama bawa ke toko. gausah datang ke toko, istirahat dan masak juga buat makan malam"
Sayang mama~~
Begitulah pesan itu, sekali lagi, meskipun ada ponsel mereka pegang masing-masing, sebuah surat seperti itu adalah kesenangan dalam keluarga ini, ponsel hanya dilakukan untuk chat atau telepon mendadak.
Aryo pun meletakkan pesan itu dan pergi ke kamar mandi untuk ritual pagi, hehehe.
Ferdinand adalah adik bungsu Aryo, laki-laki dan berumur 1 tahun.
"ALSAYYYYYYYYY, AYO SARAPANNNNN" panggil Aryo dengan suara keras setelah keluar dari kamar mandi dan langsung menyiapkan sarapan buat mereka.
Aryo tidak mau lelah, cukup memanggil saja, nihil? Oh tentu saja iya!! Ini hari libur! Siapa yang tidak mau lebih lama berkencan dengan kasur apalagi guling?. Alsay dan Mercy belum keluar dari kamar tidurnya, "pasti masih tidurrr, hadeh" kesal Aryo sambil menghentakkan kakinya melangkah dari ruang makan.
hingga tiba saat Aryo tepat berdiri di depan kamar Alsay "ALSAAAYYYYYYY" teriak Aryo disertai dengan ketukan keras pada daun pintunya, oh tentu saja nihil!!! Ingat aryoo ini libur!!! Pasti sedang tidur kebo.
Mendapat hasil yang tidak memuaskan, Aryo membuka pintu kamar Alsay dan tepat masih tidur dengan posisi memeluk bantal dan kamar yang gelap karena jendela belum dibuka, ya tentu saja Aryo tahu kalau adiknya sama sekali belum bergerak dari kasur, Aryo menghampiri kasur dan menarik kasar selimut Alsay dan Mercy.
"ALSAAAA MERCYYYYY BANGUNNNNN" Teriak Aryo kembali dengan semakin keras.
"MAMAAAAAAAAAAA" teriak Alsa tidak mau kalah mendengar suara yang hampir memecah gendang telinganya.
"Kakak ini main kasar aja, libur kak libur" peringat Alsa dengan muka kesalnya lalu merebahkan tidurnya lagi.
"Makan dulu baru tidur lagii, atau perlu kakak siram pakai air panas?" Ancam Aryo melihat adiknya ingin memilih tidur lagi.
Mendengar ancaman itu, Mercy langsung berdiri dan keluar kamar diikuti Alsay dengan langkah gemulai.
"Kakak main ancam teruss, gak bisa santai kek" gerutu Alsay
"Ini udah jam berapa Al, lu yang suka telat tapi gue yang dimarahi mama papa nanti, ya gue gakmau dimarahi, lagian kakak udah panggil dari tadi" jelas aryo dengan muka yang tidak kalah kesal.
Mercy yang baru keluar dari kamar mandi langsung bergerak menuju meja makan, sementara Alsay masih berjalan santai menuju kamar mandi.
"Cepetan tuh cuci mukanya, betewe kami duluan ya serapan nya, udah lapar nih perut" ucap Mercy membuka penutup makanan itu.
Ya tentu saja tidak ada balasan, karena kedua manusia modern itu sedang badmood bersamaan, hanya ada dengusan kesal yang sesekali terdengar, Alsay tetap berjalan menuju kamar mandi dan Aryo mengambil duduk.
Aryo mengambil makannya, dan menaruh tepat di depannya, "kalian begadang tadi malam?" Tanya Aryo dan menatap adiknya yang sudah melahap nasi itu.
"Kak Alsa begadang kak" jawab Mercy tanpa menghentikan kegiatannya dan tentu saja tanpa menoleh Aryo
"Halah" ketus Aryo lalu melahap serapan nya juga.
"Tuh makan cepat, mukanya diganti biar gak murung mulu" ejek Aryo ke arah Alsay yang baru berdiri tepat di pintu ruang makan.
Alsay hanya mengikuti kegiatan adik kakaknya, duduk dan makan.