I To Be W

I To Be W
Cabut



Desi menatap Grace yang sedang bercanda dengan Aryo, menaruh curiga dan perhatian yang lebih dalam, mengingat jika Grace pernah dekat dengan mantan ketua OSIS yang disegani di sekolah itu.


Desi menyeruput es teh dinginnya, "Grac," panggil Desi yang membuat ketiganya langsung menatap Desi.


"Maaf dulu ya. Kenapa lu mau temenan ama kita?"


"Sepertinya aku udah pernah ngejelasin, kalau Gue gak punya teman di kelas Des, gue bahan olokan mereka, dan gue pengen nyoba buat menjauh dari mereka,"


"Lu ada masalah juga di kelas?" Tanya Niko


"Kemarin karna gue sempat akrab sama ex ketos itu sih, trus cewek di kelas gue bikin hoax saja.sayangnya, yang buat hoax itu teman sekelas ku pula, kupikir itu sampai ke kelas kalian,"


"Kagak kedengaran sama sekali, yang gue tau kalau ex ketos itu berantam sama cowok lain gegara cewek di belakang sekolah,"


"Nah itu bukan urusan gue lagi,"


"eh, Kalau gue pindah ke kelas kalian bisa gak sih?" Tanya Grace


"Sepertinya bisa tapi ada syarat mungkin, coba omongin sama wali kelas atau bu kom sebagai bagian kesiswaan," Niko memberi seadanya meskipun tidak tahu, tetapi demi pangkat sebagai kakak kelas dia harus pura-pura bisa dan terlihat cool.


"Kalian beruntung bisa temenan, gue karna hoax tersebut sahabat gue malah ngejauh dari gue, sedih beh padahal kalau dia minta tolong ke gue, gue selalu mau aja, tapi pas gue suruh dia percaya sama gue malah dia nya bilang lebih percaya info beredar itu, bangsat benar yang buat hoax itu," curhat Grace.


"Yo! Lu mau kan temenan ama gue? Jangan risih ya please, maaf ya gue agak maksa" Grace melempar senyum simpulnya.


"Gue gak risih kok, cuma banyak orang antara memiliki pengalaman yang sama atau pengalaman yang berbeda," balas Aryo


"Makasih ya, gue benar-benar pengen pindah dari Ipa 4, gak tahan gue, itu juga ex ketos yang deketin gue, tapi iya, gue juga ke goda sama kegantengannya hahahaha," curhat Grace lagi.


Ketiganya menatap Grace dengan sedih, apalagi Aryo yang tahu rasanya jadi bahan olokan tanpa dasar, untung dirinya tidak dipenuhi berita hoax seperti kata Grace.


"Sabar Grac" ucap Aryo tanpa sadar


----


kedekatan Grace dengan Aryo semakin erat, meskipun Desi selalu waspada dengan sikap Grace yang tidak tahu bagaimana dia di belakang.


Aryo - Desi dan Grace berkumpul di taman sekolah yang lumayan sepi, hampir kebanyakan siswa berada di lapangan olahraga atau ruang seni untuk melihat acara yang berlangsung, sebab sekolah sedang melakukan liga OSIS yang rutin dilaksanakan setiap tahunnya,


Ketiga siswa ini awalnya pengen cabut, tapi yang jadi hambatan adalah dimana-mana ada Osis yang lagi berjaga, dan berakhir di taman sekolah menunggu sampai Osis yang berjaga pergi kemana pun, dan jangan lupakan doa mereka saat ini


"Semoga Osis nya disuruh kumpul bentar".


"HOIIIIIIIIIII" teriak Niko berdiri tepat dibelakang mereka.


"BANGSAAAAAAATTTTTTTT" Teriak Desi tak mau kalah.


Aryo dan Grace hanya mengelus dada pelan setelah tahu siapa yang ada dibelakang mereka.


"Untung jantung gue gak pindah" ketus Grace.


"Kalian ngapain disini? Tanya Niko


"Ada deh," balas grace


"Mau nunggu Osis nya pergi. soalnya mau cabut, bosan disini juga, lagian kelas kita udah pada kalah" jujur Aryo.


Desi menyenggol lengan kiri Aryo dan menatap Aryo dengan tajam.


"Gue juga pengen cabut," timpal Niko.


"Mau ke warnet?" sambung Niko.


"Yok kita cabut aja lewat belakang kelas XII Ipa, tadi Osis gak ada berjaga disitu," ajak Niko


"Kok bisa Osis gak ada disitu? Gak adil banget anjir" kesal Desi.


"Kalian udah bawa tas kan?" Tanya Niko


"Itu" tunjuk Aryo pada sudut dindiing yang masih bisa tersembunyi dari pandangan Osis.


"Ikut gue aja yok, tapi kita naik apa nanti? Tanya Niko lagi.


Entah apa yang membuat Niko lebih banyak tanya untuk hari ini.


"Tenang kalau soal itu, Mobil gue ada, tadi sengaja diparkirin di luar sekolah, soalnya tadi malam Desi ngajak kita buat cabut," Jawab grace


"Wow, tak disangka juga ya anak yang terlihat alim ternyata bisa seketika brilian juga, Bagus dungs. sekarang ikut gue dan hati-hati kalian pada,"


Niko berjalan melewati toilet laki-laki diikuti oleh Aryo dan teman, pelan dan terkadang menunggu Osis tidak menatap jalan yang mereka lewati, terkadang menunduk dan berjongkok menghindari pengawasan dari pak satpam, hingga aman sudah mereka dijalan darurat yang kelas XII Ipa buat.


Meskipun anak Ipa, yang sering kali terdengar anak alim, baik dan penurut atau yang sejenisnya. Tapi berbeda dengan sekolah ini, mau Ipa mau Ips, kelakuan tetap sama, gak ada bedanya.


Grace menekan tombol on pada remote mobilnya dari jarak yang sudah ditentukan, mereka berlari dan masuk dari pintu kiri mobil sambil menunduk di antara celah mobil.


"Yuhui, aman juga dong," seru Grace ketika mereka sudah masuk ke mobil.


Grace mengalah soal siapa yang akan duduk di samping Grace, tadi Grace sempat menyuruh Aryo untuk duduk di depan, tapi dengan cepat Niko menarik Aryo untuk duduk di belakang bersama Niko dan menyuruh Desi untuk di depan dengan alasan biar cowok yang dibelakang.


Desi dan Aryo berubah posisi tanpa harus keluar mobil lagi, Desi tentu sangat senang, sebab dari awal dia pengen di depan, untung saja Niko mungkin peka kepada dirinya, sekilas Desi melirik kebelakang kalau Aryo dan Niko sudah aman.


"Yok jalan, aku tak sabar sampai di toko buku," ajak Desi.


"Tumben. anak pintar bisa bolos juga ya? Gak ada bedanya sama ana ips," celetuk Niko lantas membuat muka ketiganya berubah warna dan ekspresi, "mungkin malu" batin Niko.


"Lu aja juga ikut bolos" Aryo tidak mau kalah


Niko menatap Aryo yang menatap dirinya juga "Itu karna gue udah tahu kalian mau bolos jadinya gue ikut aja deh, lagian bosan cuma di sekolah," cengir Niko.


Mobil Grace berjalan pelan, melewati beberap komplek perumahan dan persawahan. jendela mobil terbuka sedikit untuk mengundang angin masuk ke dalam mobil, Des minta levih enak terpaan angin daripada AC mobil, Sehingga dengan senang hati juga Grace memperbolehkan dengan jendela mobil terbuka sedikit kalau terbuka lebar takutnya Guru atau siswa lain melihat mereka.


"Dah sampai" ucap Grace ketika mobilnya sudah terparkir rapi si parkiran toko buku.


"Oh disini" celetuk Niko


Desi keluar dari mobil diikuti oleh Aryo sebab dari sebelahnya Niko dan Grace juga sudah keluar "Itu di depan ada warnet Nik," ujar Desi.


Niko mengikuti arah pandang Desi dan mengangguk pelan "Nanti kabarin gue kalau udah mau pulang ya, anterin gue juga ke sekolah, motor gue soalnya ada di sekolah,"


"Oke, ayo jalan guys, tasnya ditinggal aja di mobil" Grace memberi arahan.


Aryo dan Niko kembali menaruh tas ke mobil Grace lalu menutup pelan, tidak lupa Grace juga menekan tombol off untuk mobilnya, ketiganya memasuki toko buku sementara Niko sudah menyeberang jalan untuk masuk ke warnet.