I To Be W

I To Be W
Overthinking



"Lu terlalu takut ya?" Tegur Niko yang spontan membuat Aryo menghentikan aktivitasnya dan berbalik melihat Niko


"Iya, soalnya temen lu juga kan pernah ngelakuin hal yang sama, ngajak gue buat meet tapi ujungnya malah gue dibully, dipalak pula" Aryo dengan cengiran kudanya, entah apalah maksudnya ekspresinya


"Gue udah gampang takut dan susah Percaya, cuma karna lu yang ngajak meet semalam ini makanya gue ikut, kalau orang lain sih gue gak akan pergi, karena alasan GENK LU, gue gatau gimana buat nolak permintaan genk lu, bahkan temen genk lu juga, itu kenapa gue setiap kali dipalak langsung kasi" lanjut Aryo dan keringat semakin mencair


"Lap dulu keringatnya, gausah takut, gue gak ngerencanain hal buruk, gue cuma pengen biar lu bisa ceria lagi" ujar Niko dengan jujur


Aryo hanya mengangguk pelan dan tibalah pesanan mereka di atas meja.


Aryo sedikit gak enakan, sebab makanan request Niko tidak masuk akal dan sulit dipercaya, "Pasti mahal" batin Aryo kembali menatap Niko dengan wajah tenangnya menyantap makanannya.


"Makan aja, gue yang bayar pasti, pokonya tenang bersama gue ya Yo," "gue juga pengen lu percaya sama gue Yo" lanjut nya dalam batin Niko.


Aryo mengangguk pelan lagi, tidak tahu apa yang harus diucapkan.


Sekitar 15 menit mereka menikmati makanan itu dengan sepi dan hening, sesekali mereka saling menatap dan membuang muka, berhenti lalu menyantap lagi, begitulah hingga makanan tidak tersisa lagi.


"Yo," Niko mendekatkan kepalanya ke wajah Aryo


"Iya," jawab Aryo pelan nan lembut dengan suara khasnya membuat Niko pengen mendekatkan wajahnya ke wajah Aryo tapi sadar! Niko belum apa-apa buat Aryo.


"Nih uang buat lu kasi kapan-kapan buat mereka," Niko menjulurkan uang lima puluh ribuan sebanyak dua lembar.


"Gausah sih, hehe," jawab Aryo dengan sedikit tertawa, siapa sih yang tidak mau dikasih uang sebanyak itu? Tapi berbeda dengan Aryo yang harus mencoba kuat dulu untuk sesaat.


"Ambil aja, tapi lu jangan ngasih langsung sebanyak itu, entar kasi lima ribuan aja setiap kali mereka malak lu yo, dan jangan bawa uang banyak kesekolah, dan tentunya lu udah pasti tau gimana nyimpen uang gojek buat pulang sekolah," tutur Niko sembari mendekatkan uang itu ke hadapan Aryo.


"Terlalu banyak itu kak, lu udah bayar makan dan ngasi uang pula, gak deh gausah kak," Aryo sedikit memohon dan kurang percaya kalau dia akan diberi uang dengan cuma-cuma apalagi sudah dikasi makan gratis, "bahagia banget gak sih?"


"Belum seberapa dibandingkan uang yang lu kasi!" Tegas Niko


"Makasih kak," Niko akhirnya mengambil uang itu dengan senang hati, lumayan mengurangi pengeluaran nya minggu ini.


"Tapi ini gak ngaruh ya buat bully gue? Istilahnya ini gak ada sangkut pautnya buat besok?" Aryo kembali mode kurang yakin dan overthinking.


"Hehe" Niko kembali setengah tertawa menatap Aryo yang curiga,


"Tenang aja gue bilang" lanjut Niko.


"Pulang yuk" ajak Niko


Hmm balas Aryo sembari merapikan ponsel dan tas kecilnya, sekilas Aryo menatap jam ponselnya 21:20, hampir dua jam sudah dia bersama Niko, meskipun tidak menemukan hal yang buruk dan membuatnya sedikit senang.


Tapi tahu? Rasa senang itu hanya sementara, di sepanjang jalan pulang, Aryo sibuk melirik setiap jalanan yang mereka lewati, memastikan kalau ini jalan pulang ke rumah Aryo, kalian tahu? Overthinking kembali merasuki pikiran aryo.


"Makasih kak ni" Aryo langsung turun dari motor Niko setelah sampai tepat di depan rumah aryo, tidak di persimpangan.


Niko hanya memberi anggukan dan senyum tipis laku memutar motornya "jangan lupa besok bareng gue pulangnya" Niko mengingatkan Aryo, dan dibalas dengan anggukan, Niko pun melaju motornya dengan pelan


----


Berbeda dengan Aryo yang masih duduk santai di kursi, Yianne teman sebangku Aryo sudah pulang lebih dulu setelah meminta izin dari Aryo pulang terlalu cepat, hingga tersisa hanya seorang Aryo masih ada di kelas, yang piket biasanya suka kerja di pagi hari jika sepulang sekolah tidak piket.


[Tunggu gue, sebentar aja]


[Lu dimana?]


Pesan dari Niko membuat Aryo merogoh ponselnya dari saku


^^^[Di kelas]^^^


[Tunggu gue]


^^^[Y]^^^


Aryo kembali ke posisi semula, tidur dengan memeluk tas sebagai bantal (sebutnya apa ya kalo tiduran seperti itu?).


Hingga beberapa menit saja dia menelungkupkan kepalanya, tak terasa akan membawa dia dalam mimpi, namun langkah kaki yang seperti tergesa-gesa membuat dia menegakkan kepalanya dan melihat objek tersebut baru saja duduk di samping Aryo, Dan dibalas dengan senyum tipis oleh Niko.


"Eh gue kira lu tidur, makanya gue gak panggil lu dari tadi," ujar Niko


Aryo hanya membalas dengan cengiran lalu menatap ponselnya lagi.


"Ayo pulang, maaf bikin lu nunggu lama, tadi ada urusan penting," tutur Niko sambil berdiri dan mengambil tasnya yang tergeletak di meja.


Aryo tidak membalas satu kata pun, dia hanya mengikuti tingkah Niko, mengambil tas, berdiri dan mengikuti Niko ke parkiran sekolah hingga terakhir duduk di jok belakang motor Niko, saatnya Niko membawa Aryo pulang ke rumahnya.


**


Aryo turun dari motor Niko, " Makasih udah nganterin" 


Namun batin Aryo bergejolak ingin rasanya mengajak masuk ke rumah dulu, tapi rasa waspadanya masih terlalu tinggi, hingga Aryo pun tidak membalas tatapan Niko yang dari tadi menatap dirinya.


"Kalo gue jemput besok pagi mau?" Tanya Niko sedikit keheranan dengan sikap Aryo yang tiba-tiba berubah


"Gausah kak," jawab Aryo cepat lalu menatap ke Niko lekat


"Yaudah gue pulang, see you in the school Yo," Salam Niko sembari menyalakan motornya lalu menjauh dari pekarangan rumah Aryo,


Aryo memasuki rumahnya, dia melihat semua surat di meja makan, itu hal biasa jika ada keperluan yang tiba-tiba, mereka semua punya Handphone tapi kalau soal begini mereka lebih menyukai surat menyurat, layaknya seorang dengan pacarnya.


"Kak, datang ke toko ya bantu mama sebentar sekalian jaga adik disini, dan jangan lupa bawa buku,"


^^^-Mama^^^


Aryo bergegas untuk pergi, ganti baju, makan siang Lalu tidak lupa membersihkan dapur, dan terakhir beristirahat.


Aryo memilih buku yang harus dia bawa, tentu saja buku yang diperlukan untuk besok, hari selasa, dan pergi mengambil motor lalu melaju sedang.


"Sore ma, Aryo datang," sapa Aryo langsung pergi tanpa menunggu balasan menuju ruang belakang, disitu ketiga adiknya sudah berada sambil menikmati tayangan yang berasal dari layar televisi.