
Niko menyimpan ponselnya ke saku celana, menatap Aurelia yang masih berdiri, seolah-olah habis dihukum oleh guru, padahal sudah lebih 5 menitan berdiri, "Aurelia masih betah berdiri mungkin" batin Niko lalu menyuap baksonya yang masih tersisa.
Mendengar suara dentingan sendok pada mangkok Niko, Aurelia menoleh ke Niko yang asyik memakan baksonya tanpa memperhatikan dirinya, Aurelia pun kembali duduk setelah menenangkan pikirannya yang kacau.
Diaam dan hening, Niko memilih diam dan Aurelia memilih tidak bersuara hingga keheningan tercipta di antara mereka, Aurelia berpikir kalau sifatnya membuat mood Niko menurun, selama mereka di kantin tidak ada sapa dan tegur. Dan keduanya pergi ke kelas setelah menghabiskan makanan mereka.
Aryo terdiam lemas di kursinya, menatap buku tulis yang tercoret rumus kimia, Desi hanya bisa mengusap wajah dan punggung Aryo, untuk membuat semangat Aryo kembali ke tubuhnya, pandangan seisi kelas menuju Aryo dan Desi. Ya tentu saja mereka heran, karena ada orang yang berani ganggu gebetan Niko yang menjadi superstar di sekolah ini, tidak lupa saling berbisik dan masih menatap sinis aryo dan desi.
•
Aryo dan Desi sudah berdiri tepat digerbang, menunggu angkutan atau ojek yang lewat.
"Yo, gue pulang bareng Niko lagi gimana? Tanya Desi pada Aryo yang sedikit menunduk.
Desi sedikit tergganggu dengan sikapnya tadi siang di kantin, namun rasa Percaya dirinya untuk saat ini masih lebih tinggi daripada rasa takutnya, meskipun keduanya pernah dibully tapi Desi berani mengancam lawan bicaranya, berbeda dengan Aryo yang lebih dulu diancam hingga tidak bisa berbuat apa-apa selain mengeluarkan uang dari sakunya.
"Silahkan, gue bisa naik ojek atau angkutan, lu jaga sikap ya sama dia, takutnya dia marah nanti," balas Aryo khawatir.
"Yaudah, gue tunggu sampai angkutan lu datang," ujar Desi sambil menyandarkan punggungnya ke dinding gerbang.
Niko datang menghampiri keduanya dengan muka kecewa, tatapannya seolah-olah sedang baru marah, Aryo yang melihat Niko mendekatkan mulutnya ke telinga Desi, "Des muka Niko kayak baru marah, takutnya dia marah sama lu Des," bisik Aryo dengan suara masih bisa didengar Desi.
Lantas Desi menoleh ke Niko sesaat dan berpikir "Apakah ada sangkut pautnya dengan kejadian tadi siang?", Desi pun berpikir sesaat sedang mengumpulkan ucapan yang cocok dengan suasana hati Niko,
"Gue bisa naik angkutan umum Nik" ucap Desi setelah berdiri tepat di samping Niko, Niko yang baru sadar dari lamunannya langsung menoleh Desi dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
Niko kemudian mengubah ekspresi nya "Jangan!! Gue anter pokoknya, tunggu Aryo jalan dulu," balas Niko dengan tenang.
Seseorang tepat berhenti di depan Aryo. Niko heran, berbeda dengan Desi yang sudah mengetahui siapa yang menjemput Aryo, Desi langsung naik ke jok belakang motor Niko, dan dilakukan juga oleh Aryo dan berjalan santai.
"Nik!" Panggil Desi pelan
"Iya" balas Niko singkat, sikap dinginnya kembali hadir untuk saat ini, dia tidak semangat berbuat apa-apa.
"Lu ada masalah? Muka lu kek kecewa pas Aryo liat tadi" Desi menatap punggung Niko.
Terkejut! Begitulah Niko. memang benar, bahwa Aryo lebih dulu melihat Niko tadi, "Dia merhatiin gue?" Tanya Niko pada batinnya disertai dengan senyum sumringah yang dia harapkan Aryo bisa mempercayai dirinya.
"Ya, sama dengan orang yang lu lawan tadi di kantin," balas Niko dengan senyum tulus nya,
Mau gimana lagi? Aryo sudah melihat wajah kesalnya, tidak ada lagi yang harus disembunyikan.
"Hmm, maaf ya, maaf juga dari Aryo, gegara kami lu sama gebetan lo berantem lagi," ujar Desi dengan wajah sedihnya
"Eh, lu udah lupa alsan gue dekat sama kalian?" Singgung Niko, bagaimana bisa secepat ini Desi harus lupa? Baru saja 3 minggu dia jujur kenapa dia harus menjauh dari Aurelia, "aneh" satu kata yang berhasil keluar di batin Niko.
"Oiya, gue hampir lupa,"
"Gapapa, biarin aja, lagian lu juga keras banget, gue suka," ucapan Niko berhenti sesaat
"Pengen aja itu menjauh, lama-lama gue malah benci, jujur" lanjut Niko sembari memperhatikan Aryo yang masih duduk tenang.
"Kalo gue sih gapapa, gue itu takutnya Aryo malah jadi sasaran mereka, karna kata Aryo bekas bullyan yang kedua kali itu belum hilang, katanya itu yang paling menyedihkan selama ini, dan itu yang membuat dia gampang takut dan gak berani buat ngelawan. nah, ketika dia dipalak sama genk itu, Aryo akan ke ingat moment itu jadi dirinya seolah melemah, mau tidak mau dia kek spontan mau mau aja. Aryo tidak mau hal itu keulang, belum lagi ditambah bullyan dari mereka," jelas Desi panjang lebar.
Tatapan kosong Desi menatap Aryo juga. Teringat waktu Aryo curhat begitu dengan air mata yang bercucuran membuat Desi juga seperti merasakan hal yang sama, sedih dan luka.
"Menyedihkan bukan?" Tanya Desi spontan.
Niko tidak mengatakan sepatah kata pun, Niko bungkam, susah untuk mencerna penjelasan Desi, belum lagi ekspresi dan tingkah Aryo tadi di kantin.
"Eh Des, semisal Aurelia tanya lu, bilangin gue sepupu lu ya, bilangin kalo selama ini kita kek jaga jarak, dan bilangin mama gue yang nyuruh gue ngantar lu Des," Niko mengalihkan topik mereka.
"Siap lah itu, asal gue sama Aryo tenang dah," ucap Desi.
Mereka sudah tiba di depan rumah Aryo, berhenti dan turun, kedua sang pembawa motor akhirnya berlalu pulang sementara tumpangan mereka masuk ke rumah Aryo, tidak jauh dari istirahat lalu makan siang.
Aryo menatap Desi makan dengan santai, tenang dan lahap seperti biasanya. "Des, gue mau tanya!"
Desi berhenti dari suap-menyuapi, kembali menatap Aryo "Apa?" Tanyanya singkat lalu menoleh ke makanannya.
"Lu gak di apa-apain sama Niko kan? Atau like diinterogasi?" Aryo meletakkan sendoknya dan menyilangkan tangannya di meja.
"Gue gak di apa-apain. Cuma buat kenal sama lu aja, dia pengen tahu diri lu, aneh bukan? Ya gue juga gak bisa gak jujur," bohong Desi, padahal Desi sendiri juga menceritakan tanpa Niko minta.
Desi tertawa dalam hati melihat sikap Aryo yang bingung karena ucapan Desi atau keingintahuan Niko?
"Yaudah selesikan makannya, biar gue anter,"
"Lah itu makanmu masih banyak,"
"Udah kenyang" Aryo membawa piringnya ke wastafel dan mencuci.
Desi menatap sinis dengan Aryo, "Tumben Aryo terburu makan atau sama sekali gak selera?" Padahal Desi masih ingin mengobrol panjang dengan Aryo mengenai Niko, tapi pupus sudah harapan itu, hingga tiba Aryo lewat dari ruang makan hanya menatap lurus kedepan tanpa menoleh Desi.
Tentu saja sikap Aryo membuat Desi mendengus kesal dan memakan nasinya buru-buru, kemudian membawa ke wastafel dan mencuci sampai kinclong. Desi keluar dari dapur dan mencari keberadaan Aryo.
"Tok tok tok" hanya suara pintu yang terdengar tanpa Desi membuka suara.
"Ganti baju" jawab Aryo bohong, dia sedang scroll video pendek tiktok.
Desi menatap heran daun pintu yang berwarna kecoklatan, sudah lama dia keluar dari dapur masih aja sedang ganti baju, "Lu ganti baju atau sedang olahraga jari?" Goda Desi dengan cengengesan.