
Hingga 10 menit menunggu baru saja Niko naik ojek yang berhenti di depannya, Aryo naik dan motor pun melaju pelan, dia duduk manis dan memandang ke depan, sambil menghirup udara nan segar yang sudah bercampur dengan asap kendaraan.
Melihat Aryo sudah naik dan motor sudah melaju, Niko pun mengikuti dari belakang dengan jarak yang lumayan dekat, Aryo tidak curiga, dia sudah tahu kalau Niko menunggu juga dan mengucap salam sebelum naik motor.
"Kenapa lu nyuruh dia buat pilihin siapa yang mau lu anter ni hari?" Tanya Desi to the point setelah motor Niko sudah melaju mengikuti ojek Aryo.
"Pengen aja sih," bohong Niko
"Tapi gimana kak Aurelia? Ntar cemburu trus marah sama gue, kan gak enak loh," celetuk Desi lagi
"Gue gak merasa dia gebetan gue sih, dia yang cuma pengen dekat ke gue jadi ya gue ladeni, kalau lu juga pengen deket sama gue pasti gue ladeni dan bawa."
"Dih ogah gue deketin sama anak genk yang sukanya ngebully, apalagi orang terdekat gue yang dibully," cerocos Desi memotong ucapan Niko.
"Gue gak pernah ngebully ya, gue cuma temenan doang sama mereka, cari aman cuy Des," Bela Niko
"Hadeh, gak habis pikir gue sih. kalau semisal aryo bakal pindah sekolah, kayaknya gue juga bakal ikut pindah sih, udah mau jalan 4 bulan Aryo masih tahan sama bullyan mereka yang gak main-main, lu juga gak bantu dia, malah ikut ngetawain bareng teman genk lu, kan babi emang," ujar Desi membabi-buta tanpa mengenal siapa lawan bicaranya.
Untuk sekarang status kakak kelas itu tidak berlaku bagi Desi, ya Niko juga tidak masalah, karena dia juga akan merasakan hal yang sama jika di posisi Desi.
Niko pun terdiam sesaat untuk mencerna semua ucapan Desi, dan sesaat juga menatap Aryo yang masih enteng diatas ojek tersebut, lalu mengalihkan pandangannya menuju jalan raya.
"Lain kali, mending lu anterin si Aurelia dan deketin dia, cantik dan baik gue lihat sih," ujar Desi lagi memecah keheningan yang tercipta diantara mereka.
"Ogah juga jadi pacarnya, gua gak ada rasa sama dia, gue aja ngajakin lu biar bisa menjauh dari dia Des," senyum Niko pun melebar
"Hah?" Desi menatap punggung Niko tidak percaya, "jadi dia cuma deketan sama Aurelia karna Aurelia lebih dulu deketin sama lu?" Batin Desi
"Nanti bakal lu tahu Alasannya kenapa gue pengen menjauh dari Aurelia," timpal Niko setelah melihat wajah heran Desi dari spion motornya.
"Pengen deketin sama yang lu suka?" Tebak Desi lalu menegakkan kepalanya
"Benar hehehe, gue mau bebas sama orang yang gue suka Des, makanya gue pengen dekat sama lu dan Aryo," Jawab Niko dengan perasaan haru, sedih dan senang bercampur lah,
"Tapi lu jangan ngasih tau ya sama Aurelia, gue Pengen dia peka seperti kata orang cewek tuh peka soal cinta, dan jangan ngasih tau ke siapapun gue pengen dekat sama lo,'" lanjut Niko lagi.
"Mungkin dia terobsesi kali," batin Desi heran.
Hingga saatnya mereka sudah tiba digerbang perumahan Aryo, lantas kedua motor tersebut berhenti dan Aryo senyum sesaat ke arah Niko dan Desi.
"Gue berhenti disini aja ya, gue mau belajar bareng sama Aryo," Desi langsung terburu turun dari motor Niko lalu menyerahkan helm milik Niko.
"Eh kontak lu bagi dong," ucap Niko pelan, Niko langsung merogoh sakunya dan membuka aplikasi telepon lalu menyerahkan ponselnya ke Desi,
Tanpa pikir panjang, Desi menerima ponsel itu lalu mengetikkan nomor kontaknya sendiri dan mengembalikan ponsel Niko.
"Gue balik dulu ya, sampai jumpa besok," Salam Niko kemudian memutar motornya, melaju pelan menjauh dari depan Desi yang masih mematung.
Ingin Aryo menutup pintu, setelah membuka sepatu, namun pandangannya sesaat ke Desi yang masih mematung dan menatap jalan yang tidak lurus, Aryo tidak mengganggu sama sekali melainkan tetap ikut mematung dan menatap serius badan Desi.
"WOIII DESIIII, AWAS HANTUUUUU" Teriak Aryo dari ambang pintu,
Lantas desi menatap ke belakang dengan wajah yang sudah berubah cemberut, lalu berlari pelan ke arah Aryo.
"Lu kenapa bengong disitu?" Tanya Aryo tanpa membiarkan Desi mengatur nafas
"Gatau yo, aneh aja rasanya," balas Desi dengan tatapan yang tidak bisa didefinisikan
Aryo pun menatap heran kearah Desi yang wajah tidak bisa dideskripsikan, sebelum mereka jalan pulang, Desi dan Aryo tampak baik-baik saja setahu Aryo, trus kenapa Desi nampak sedang kehilangan sesuatu "Dan lu kenapa berenti disini? Niko ada sesuatu sama lo Des? Atau dia ngancam lo?" Tanya Aryo membabi-buta.
"Pokoknya gak ada masalah Yo, gue pengen berenti disini aja". Sebentar ucapan Desi berhenti lalu menatap Aryo yang menatap dirinya heran
"Gue agak kaget aja Niko mau nganterin gua," bohong Desi lalu membuang muka.
"Yaudah kita makan aja dulu, lalu gue anter lu pulang Des," Aryo berjalan menuju ruang tamu sebentar dan melanjutkan jalannya menuju kamar pribadinya untuk mengganti baju.
Sementara Desi yang mengikuti Aryo dari belakang, saatnya berhenti juga di ruang tamu, menunggu Aryo untuk ganti baju, namun karena waktu Aryo mengganti baju sangat lama dalam feeling Desi, Desi berjalan menuju dapur alias kamar mandi untuk menenangkan pikirannya yang lagi tidak bersahabat.
Aryo keluar dari kamar dan menuju ruang tamu untuk mengajak Desi, "orangnya tidak ada, tapi tasnya ada" batin Aryo, dia pun menuju ruang makan dan mendengar suara gemericik dari kamar mandi terdengar, Aryo pun merasa lega lalu menyajikan makan siang untuk mereka berdua, dan duduk manis menunggu Desi.
"Eh udah mau makan?" Tanya Desi setelah tepat di pintu ruang makan
"Gak!, mau turu sih Des," jawab Aryo tanpa menoleh Desi
"Yaudah turu aja deh," celetuk Desi hendak pergi dari ruang makan.
"Nanti gue tinggal lu disini ya, lihat aja!" Ancam Aryo
Desi hanya tertawa lebar dan kembali menuju meja untuk makan.
Aryo memandang Desi dengan tidak minat, "Cepetan makannya"
Desi tak menjawab apapun, dia hanya fokus pada makanannya.
Karena tidak ada jawaban atau suara dari Desi, Aryo memilih untuk diam juga, makan dengan santai dan terkadang melirik ponselnya yang tidak ada notifikasi chat, hanya ada notifikasi pinjaman online, hingga Aryo merasa geram dengan chat tersebut.
Tidak terlalu lama menghabiskan makan siang, mereka langsung mengumpulkan piring kotor ke wastafel dan mencuci hingga bersih nan kinclong.
•
"Udah siap?" tanya Aryo saat Desi sudah naik ke motornya, Aryo akan mengantar Desi untuk pulang dan Aryo akan kembali ke toko, karna jalur jalan mereka ada sama dan tepat berhenti di depan toko bu Aryo, untuk masuk ke area perumahan Desi.
"Sudah, jalan aja Yo," balas Desi singkat.
Aryo akhirnya melaku motor dan hanya Kurang 15 menit, mereka sudah sampai di toko, Desi langsung turun dan mengucap terimakasih, izin pamit dan berjalan pelan menuju rumahnya.
Aryo memasuki toko tersebut dan tidak lupa menyapa ibunya yang masih sibuk dengan Pelanggan, Aryo ikut melayani Pelanggan juga, membantu sang ibu.