I To Be W

I To Be W
Pintar dikitlah



Mereka berempat fokus pada makanannya, sesekali saling menatap satu sama lain dengan kedipan mata yang tak disengaja dan disengaja, hening hingga isi dari mangkok mereka sudah tidak tersisa, dan hanya terdengar suara sendawa dari beberapa orang.


"Masih kurang" ujar Aryo tanpa sadar.


"BI, BUNGKUS MIE GORENGNYA 3 YA, eh lu mau juga Grace?"


"Gak kak, gue dah kenyang"


"Eh gue juga gausah" respon Aryo cepat


Niko mengabaikan jawaban Aryo dan berkata "OKE BI, MIE GORENGNYA BUNGKUS 3 BI" 


Bu kantin hanya mengangguk pelan, sambil mencatat semua pesanan Niko 


"Terima aja yo, mayan rezeki nomplok jangan ditolak," celetuk Grace.


Bu kantin mendekati meja Aryo dan teman, sambil membawa sebuah kresek putih yang terdiri dari 3 bungkus kertas nasi isi mie goreng.


"Eh yo, gue yang bayar makan mu ya," ucap Grace dan memberikan uang sesuai harga makanan Aryo dan Grace.


Aryo kembali menaruh uangnya ke dalam saku, kemudian menatap Grace dengan sendu, "Oke Grace, makasih banyak ya," 


"Eh kok lu bayarin punya dia? Ada cerita apa diantara kalian dua? Jadian? Atau apa?" Ceplos Niko membabi-buta.


"Semalam gue diajarin sama Aryo tugas kimia," jawab grace


"Gue juga mau dong dibayarin" gerutu Desi


"Eh bel masuk udah bunyi, kelas yok," ajak Aryo menghentikan percakapan mereka.


Keempatnya beranjak dari kursi, tidak hanya keempatnya hampir semua siswa yang ada di kantin mulai berhamburan keluar untuk masuk kelas. Dan hanya di depan kantin juga mereka sudah terpisah.


***


Grace memiliki rasa yang berbeda, dia terus melangkah maju dengan fokus dan kedua tangannya terkepal di sisi rok abu-abunya, "Gue harus bisa, gue harus bisa dipercaya sama mereka, setidaknya aku harus melakukan apapun agar mereka mau berteman denganku," batinnya terus mengabaikan teman sekelasnya yang melihat dirinya jijik.


Hingga tiba di sudut pintu kelas X IPA 4, Grace berhenti sesaat, memandangi seisi kelas yang belum sepenuh terisi, dengan kata lain, siswa X IPA 4 belum semuanya masuk kelas.


"Tengoklah dia, baru saja masuk udah bersikap angkuh," bisik cewek dengan rambut pendek disertai ekspresi jijik kepada siswi teman sebangkunya.


Ucapan tersebut sangat bisa didengar oleh Grace, kepalanya yang mudah panas serasa sedang menghantam sarafnya agar memukul sang siswi tersebut, tetapi badaninya sadar bahwa dia masih berada di kelas.


Grace memandang sinis sebagai balasan, tak ada yang lain dan tak akan mampu melakukan itu, sudah terlanjur dirinya menjadi orang yang salah tanpa melakukan apapun.


Sinta berjalan ke depan kelas dan mengetuk papan tulis lumayan keras, hal ini membuat seisi kelas menatapnya heran, "Woi dengar. Ada kabar baru loh," Sinta berhenti berbicaralah, dia memandang satu persatu setiap siswa yang ada dan berakhir menatap mata Grace secara intens.


"Lihat loh. Dia baru saja makan bareng anak IPA 2 yang suka dibully itu loh," matanya melirik Grace tanpa memutar kepalanya.


Semua mata siswa otomatis memandang Grace dengan muka yang pura-pura terkejut "Wow, Serius?" 


"Masih aja ada yang berteman ke seorang munafik ya," pancing Sinta.


"Lu emosi sudah?" Batin Sinta setelah melihat tatapan Grace yang berapi-api dan kemudian tersenyum sinis.


Sinta berjalan ke kursinya, dia sudah tahu siswa yang lain yang akan bertindak kepada Grace, dan dia membiarkan situasi tersebut, "Itu yang gue suka, lu tau gak?" Bisik Sinta kepada angin hingga tak terdengar.


"Btw, siapa orangnya Sin?" Lory mengangkat tangannya tinggi-tinggi.


"Ituloh, yang pernah dibully Ampe nangis, hahahaha," 


Grace menepis semua suara itu, dia menganggap bahwa itu hanya sebuah ilusi, meskipun sejatinya hati kecilnya sedang ingin marah, tapi bagaimana mungkin dia bisa melawan 10 orang? Mustahil.


Sepasang siswi sengaja berjalan tepat dari samping Grace dan ingin memancing Grace agar emosi, "Kok bisa ya ada yang mau makan bareng Ama dia?"


"Iya loh, apa mereka gatau gimana kelakuan dia di kelas ini?" Balik lagi berjalan


***


Grace mengangkat tangan setelah sang guru selesai menjelaskan sebuah topik pelajaran, dan membuat sang guru menatap Grace, "Saya izin ke toilet Pak,"


"Silahkan Ce," 


Grace keluar kelas dengan keinginan yang tak biasanya, "cabut ah," matanya melihat sekelilingnya dan berakhir pergi ke kantin seberang.


Sebelum ingin pergi ke ruang belakang kantin, Grace pura-pura memegang perutnya.


"Kau kenapa?" Sang penjaga keheranan dengan sikap Grace yang tiba-tiba memegang perutnya.


"Akhhh, sakit Pak," Grace meletakkan pantatnya di kursi dekat pintu agar bisa lebih dipercaya bahwa dia sakit.


Sang penjaga tersebut lantas mendekati Grace, memegang lengan Grace, "Ke UKS gih,"


Grace melepaskan pegangan, "tidak usah pak, mau ruang dalam," tunjuk Grace yang maksudnya ke ruang belakang kantin.


"Boleh, perlu saya bantu nak?"


Grace berdiri, "Gausah Pak," dan berjalan tertatih-tatih.


Baru beberapa langkah kemudian, Grace melihat bahwa sang penjaga tidak melihat dirinya lagi, dia pun berjalan dan bersikap seperti biasanya, "Akting yang bagus sayang," senyumnya dan menepuk kedua tangannya secara pelan.


Sadar bahwa dirinya sudah lumayan lama di ruang tidur, dia segera keluar dari pintu belakang dan kembali ke depan untuk membeli sesuatu.


"Lah, dia malah ke kantin?" 


Suara itu tidak aneh di telinga Grace, dia tidak menghiraukan suara tersebut. Dan mengambil uang dari saku untuk membayar jajan.


"Emang lu suka nipu ya?"


Grace berjalan untuk ke kelas dan tentunya akan melewati orang tersebut, Grace berhenti sesaat di samping Sinta dan bilang, "Sorry, gue lagi fire untuk ngeladeni orang, tapi sadar bukan level gue," Grace melangkah maju dan meninggalkan Sinta bersama dua temannya.


Lilis yang melihat sikap Grace berubah ekspresi dan ingin rasanya menjambak Grace, "Balik aja yok, lapor sama Pak Agus," 


Dengan diam, Sinta berjalan pertama kali kemudian diikuti oleh Lilis dan Rani dari belakang, mereka mempercepat langkah kakinya agar bisa ketemu Grace di pintu kelas.


"Grace!" Panggil Sinta ketika Grace tiba di ambang pintu.


Grace lantas berhenti dan melihat ke arah Sinta dengan muka kesal, lantas membuat sang Guru bersama seisi kelas  menatap Grace keheranan, "Grace, ada apa?" 


"Hmm, kurang tahu Pak,"


"Grace dari kantin Pak," cerocos Sinta ketika sudah sampai di belakang Grace.


Grace melipat tangannya dan menunggu sampai Sinta selesai berbicara,


"Apa bener Grac?*


"Bapak gak nanya dia lalu darimana saja barusan?" Grace malah memberi pertanyaan balik kepada sang guru


"Anda jawab dulu!"


"Iya saya dari kantin, habis dari toilet saya langsung ke kantin ingin membeli jajanan karena perut saya sudah lapar,"


"Lalu, lu mau ngapain ke kantin juga Sin?" Lanjut Grace yang membuat Sinta dan kedua temannya gelagapan.


"Sejak kapan kami mau ke kantin?" Rani membela diri.


"Lu kalau mau bohong yang pintar dikit," ucapnya sedikit pelan dengan tatapan tajam kepada Rani. Dan tanpa berkata lagi, Grace sudah menuju kursinya dengan meninggalkan rasa marah di hati ketiga orang tersebut dan rasa heran di dalam pikiran sang guru.