I Know I'M (Not) Perfect

I Know I'M (Not) Perfect
Episode 8



“Han, maaf aku tidak bisa mengantarmu ke kelas. Aku ada janji sama Seokjin. Kau tak apa kan sendirian ke kelas?” Hana tersenyum menanggapi pertanyaan Yoongi. Mereka berdua ada di parkiran sekolah. Yoongi sekarang sering menjemput Hana. Meskipun Hana menolak, tapi Yoongi tidak pernah mengindahkan tolakan Hana.


“Sunbae tenang saja. Aku sudah terbiasa jalan sendiri. Sunbae bisa pergi sekarang. Aku tidak apa-apa kok.” Ucapnya tersenyum ke arah Yoongi.


Yoongi tersenyum tipis. Tangannya mengusap pelan kepala Hana. Membenarkan syal yang melingkar pada leher gadis itu. “Kirim pesan padaku jika kau sudah sampai di dalam kelas. Jika ada yang mengganggumu, beritahu aku. Aku akan langsung memberi pelajaran untuk mereka.”


Hana masih tersenyum. Sedikit mengangguk dengan permintaan dan perkataan Yoongi.


Yoongi sering sekali berkata seperti itu. Menyuruh Hana melaporkan siapa saja yang menyakiti dirinya. Tanpa Hana memberitahunya, sebenarnya Yoongi sudah tahu siapa saja pengganggu Hana. Ia hanya ingin Hana mengatakan tentang semua hal yang menganggu dan menjadi bebannya. Ia ingin Hana tahu, bahwa sekarang Hana tidak sendirian. Ada dirinya, yang akan selalu menemani Hana, kapanpun dan dimanapun.


Hana menatap kepergian Yoongi. Senyum yang tadi tercetak jelas di bibirnya, kini memudar. Ia menggenggam kuat tas ransel yang ada di kedua sisi pundaknya. Tangannya bergetar. Begitu pula nyali yang semakin menciut. Hana takut. Takut di bully lagi.


Mengumpulkan semua kekuatan yang tersisa. Gadis itu mulai berjalan memasuki area sekolah. Berjalan sambil menunduk. Tidak berani memandang ke arah samping ataupun ke depan.


Semua pasang mata memperhatikannya. Sampai akhirnya, langkahnya di hentikan oleh satu tarikan di lengan sebelah kirinya. Membuatnya terkejut dan berbalik menghadap sang pelaku. Matanya kian terkejut kala mendapati Sungjae yang langsung menarik tangannya dan menyeretnya ke arah rooftop sekolah.


Sungjae sendiri. Tidak ada Daniel dan Bambam. Juga Joy dan Jisoo.


Tangan besar Sungjae memang tidak menarik kuat. Namun cukup membuat Hana sedikit terhuyung. Mereka melewati banyak anak tangga hingga akhirnya mereka sampai di rooftop. Tempat berkumpulnya para begandul sekolah.


Rooftop terlihat kosong. Tidak ada orang satupun. Padahal biasanya, tempat ini selalu penuh dari masih pagi jam pertama pelajaran dimulai. Tempat yang pas untuk mereka yang selalu malas belajar. Atau lebih tepat di sebut tempat untuk membolos.


“Duduk.” Sungjae menyuruh Hana duduk di salah satu pagar. Hana melirik ke bawah. Pagar besi itu tepat di atas parkiran. Hana sedikit bergidik. Sebenarnya ia takut ketinggian.


Sungjae yang melihat Hana tak kunjung menuruti permintaannya, hanya bisa membuang nafas kasar. Setelahnya ia melangkah dan duduk di sisi pagar tempat Hana masih mematung.


“Kenapa?” Hana sedikit mendongakkan kepalanya. Menatap sebentar pada hazel indah milik Sungjae. Hana kembali menunduk kala ia tahu Sungjae juga sedang menatapnya.


“Bicaralah. Jangan seperti orang bisu.” Hana masih bungkam. Takut untuk mengeluarkan suaranya. Meskipun dipaksa oleh Sungjae sekalipun.


“Kau tampak sangat dekat dengan Yoongi. Apa kalian pacaran?” Hana kembali mendongak. Lantas kepalanya menggeleng.


“Cihh katakan. Aku seperti berbicara dengan orang bisu.” Sungjae menyunggingkan satu senyum remeh pada Hana.


“T-tidak. Kami hanya berteman.” Katanya takut-takut.


Sungjae masih menatap Hana. Keduanya sama-sama bungkam. Tidak ada lagi percakapan setelahnya. Hana masih berdiri di posisinya dengan menunduk. Dan Sungjae yang masih setia duduk di pagar besi dengan mata tak lepas menatap gadis didepannya.


Aksi tatap Sungjae di buyarkan kala bell tanda masuk kelas berbunyi. Hana mendongak menatap Sungjae. Dan mata itu tetap pada posisinya. Menatap dan tidak ada rencana untuk beralih.


“Sudah bell. Apa aku boleh pergi?” Tanya Hana pelan.


Sungjae menoleh kesamping. Menatap ke sembarang arah dan membuang nafas kasar. “Bawakan tas ku. Kita ke kelas bersama.” Ucapnya sambil melempar tas ranselnya ke arah Hana lalu berjalan mendahului Hana.


Hana mengekor di belakang Sungjae. Menuruni anak tangga dan berjalan di koridor mengarah ke kelas. Hampir seluruh siswa yang melihat Hana menatap aneh kepadanya. Hana hanya menunduk. Tidak bergeming. Menoleh, atau membalas menatap. Dirinya hanya berjalan dengan diam. Meskipun perasaan takut mendominasi seluruh hati dan fikirannya.


Bukan seperti ini yang Hana inginkan. Masa remaja yang sangat mengerikan. Dulu, waktu Hana masih kecil, ia pernah di bully. Tapi tidak separah ini. Waktu SMP bisa dibilang Hana mampu bernafas lega. Karena, teman-teman sekolah dasarnya dulu tidak ada yang satu sekolah dengannya.


Sampai akhirnya, masa SMA datang. Dan beberapa dari teman sekolah dasarnya dulu satu sekolahan dan bahkan satu kelas dengannya. Jisoo dan Sungjae. Dua orang yang dulu dan sekarang kembali membully Hana.


Saat ia masuk kelas bersama Sungjae. Dirinya dikejutkan dengan banyaknya tumpukan sampah di atas mejanya. Bahkan semua siswa dikelasnya hanya menutup hidung dan menatap sampah juga Hana secara bergantian. Seolah-olah Hana adalah bagian dari sampah busuk yang berserakan di atas mejanya.


Tidak sampai disitu. Satu tikus mati tergeletak mengenaskan di tengah tumpukan sampah. Hana ingin menangis. Hatinya seolah menjerit. Sudah tidak sanggup dengan perbuatan teman-temannya. Kakinya berjalan melangkah mundur. Sebelum satu ember berisi air kembali mengguyur badannya.


Hana sontak terkejut dan menoleh. Jisoo pelakunya. Gadis itu menyiram Hana tanpa ada rasa kasihan sama sekali. Semua terjadi di dalam kelas. Terjadi begitu saja tanpa ada yang membela dan membantunya.


Hana mundur. Air mata yang semula ia tahan terjun bebas begitu saja di pipinya. Matanya menatap ke arah Jisoo. Kali ini, ia benar-benar muak dengan kelakuan teman-temannya. Gadis itu berlari meninggalkan kelas diiringi tawa nyaring dari bibir Jisoo dan Joy. Juga beberapa siswa sekelasnya memilih menyingkir seolah member jalan untuk Hana keluar dari ruang kelas terkutuk itu.


Hana berlari menyusuri koridor sekolah. Tangannya gemetar. Kakinya terasa kaku. Ini bukan main-main. Ia sangat kedinginan. Hana melangkahkan kaki keluar dari area sekolah. Berjalan tak tentu arah sampai akhirnya ia berada di salah satu gudang tak terpakai tepat di sudut sekolah.


Jika bukan karena salju, sudah dipastikan gudang itu penuh dengan debu. Hana duduk di depan gudang. Berjongkok, dan menyembunyikan wajahnya di antara perpotongan kedua lengannya. Gadis itu menangis sekencang-kencangnya.


Tidak peduli raungannya akan terdengar oleh seluruh penghuni sekolah. Ia benar-benar tidak peduli. Hatinya terlalu sakit. Mentalnya terlalu lelah menghadapi sikap kejam teman-temannya. Untuk apa ia terlahir jika harus merasakan ini semua?


Kenapa ia sendiri? Kenapa tidak ada satu orang pun yang menemaninya? Ayahnya bahkan lebih memilih berbisnis di Jepang. Paman Taehyung pun semakin sibuk dengan pekerjaan dokternya. Dan Yoongi?


Lupakan tentang siapa Yoongi. Hana bahkan tidak yakin apa Yoongi tulus menjadi temannya atau tidak. Sudah banyak orang yang membencinya. Tidak ada yang membelanya sama sekali. Bisa dipastikan mungkin Yoongi tengah menjebaknya dan merencanakan sesuatu yang jauh lebih buruk.


Semua orang membencinya. Bahkan dunia pun tak berpihak padanya. Untuk apa ada Hana, jika tidak satupun di antara mereka yang bisa menerima kehadirannya.


Sedang asyiknya menangis, Hana kembali dikejutkan dengan sebuah tangan besar yang bertengger di pundaknya. Hana tak menggubris. Tak peduli jika itu hantu atau apapun. Ia hanya ingin menangis sekarang.


“Ikut aku.” Suara itu membuat Hana menoleh. Orang itu sedikit menunduk. Meskipun tidak ikut berjongkok. Hana kembali mengarahkan pandangannya kedepan. Membuang nafas kasar sebelum ia kembali menangis jauh lebih kencang.


Sungjae mematung mendengar tangis memilukan dari bibir seorang gadis manis yang selalu ia ganggu itu. Tangan besarnya yang semula di pundak Hana, merembet dan menggenggam pergelangan tangan Hana.


“Ikut aku.” Ulangnya.


Hati Hana semakin hancur. Namun apa yang bisa ia lakukan, disaat tangannya sudah di seret paksa oleh Sungjae. Bahkan, Sungjae seperti tidak berperasaan sama sekali. Menyeret Hana, membawanya ke parkiran, lalu menyuruhnya untuk masuk ke dalam mobil mewah miliknya.


Di dalam mobil, air mata Hana masih terus mengalir. Sedikit terisak. Tapi ia mencoba menahan agar isakan dan air matanya bisa berhenti. Sesekali Sungjae melirik ke arah Hana. Melihat bagaimana raut hancur dari teman satu kelasnya itu.


Sungjae membawa Hana ke rumahnya. Rumah yang sangat mewah, namun terlihat sepi. Mata Hana membengkak akibat terlalu lama menangis. Hidungnya membesit merah. Wajahnya pun terlihat sangat murung.


“Turun.” Hana hanya menurut. Tidak menolak. Dalam hati, gadis itu sudah sangat pasrah. Jika nantia ia harus mati di tangan Sungjae pun ia pasrah.


Hana mengikuti Sungjae yang melangkah masuk ke dalam rumah. Tidak ada percakapan diantara mereka. Sungjae diam, begitupun Hana.


Hana mendudukkan dirinya di atas sofa lembut. Masih menunduk. Badan kecil yang sedikit menggigil akibat kedinginan. Sungjae menghela nafas, sebelum ia kembali melangkahkan kakinya masuk lebih jauh ke dalam rumahnya berniat mengambilkan Hana minum dan juga mantel baru yang lebih tebal dan hangat.


Satu bulir air mata kembali menetes. Hana meremat kuat dada nya. Rasanya sakit. Teramat sangat sakit. Gadis itu lelah. Lelah akan takdir yang sangat menyiksanya. Perlahan, tangannya terulur mengambil ponsel yang berada di dalam tasnya. Mencari satu kontak yang sangat ia rindukan. Satu nama itu. Hanya satu nama.


Setia menunggu sampai akhirnya panggilan itu terhubung. Mendengar suara “Hallo” dari seberang panggilan membuat hati Hana semakin sakit. Semakin kuat meremat dada nya, lalu berbisik dengan sangat pelan.


“Ayah pulang. Hana sudah nggak sanggup.” Ucapnya terakhir sebelum Hana melepaskan genggaman ponsel dan berakhir dengan bersender nyaman pada punggung sofa. Mata tertutup rapat, wajah pucat dengan suhu badan yang terbilang sangat tinggi. Hana pingsan.