
“Sendirian?”
Jisoo menoleh. Menatap sorang laki-laki yang berdiri tak jauh darinya membawa tiga tangkai bunga mawar merah di tangannya.
“Kenapa kesini?” Tanya Jisoo.
Sungjae berjalan ke arah nisan di hadapan Jisoo bersimpuh. Ikut berjongkok pada salju dingin lalu meletakkan tangkai bunga mawar di depan nisan. “Hanya ingin berkunjung.” Ucapnya.
Mata Jisoo menjelajah sekitar. Memastikan apakah Sungjae datang sendirian atau tidak.
Semilir udara dingin menyapa tengkuk Jisoo yang terekspos akibat tidak memakai syal.
Dirapatkannya jaket tebal yang membungkus tubuhnya. Sepasang mata kembali menatap nisan di depannya sembari menghembuskan nafas pelan.
“Bambam di keluarkan.” Ucap Jisoo memecah keheningan.
“Aku tahu.”
Helaan nafas kembali terdengar agak berat. Jisoo kembali mengelus makam dingin yang ada di depannya. “Kita di skors.” Lanjutnya.
“Aku juga tahu.”
Mata saling fokus ke arah makam. Tak berniat saling tatap meski kata saling bersahutan.
“Orang tuamu kecewa?” Pertanyaan Jisoo mengingatkan Sungjae pada perlakuan orang tuanya semalam.
Orang tua Sungjae terlalu kaget mengetahui polah anaknya yang ternyata suka membully di sekolah. Bahkan satu pukulan dari tangan sang ayah lolos begitu saja pada rahang Sungjae.
Tak mengindahkan betawa kecewanya orang tua padanya, Sungjae memilih pergi ke rumah Daniel dan belum ada niatan untuk pulang kembali kerumahnya.
Dirinya terlalu sakit hati dengan kedua orang tuanya. Bisa dibilang durhaka, mungkin. Tapi kali ini, Sungjae merasa tidak perlu meminta maaf lebih kepada kedua orang tuanya.
Ayah dan ibunya terlalu sibuk dengan pekerjaan. Mengabaikan Sungjae yang hidup dan tumbuh sendirian tanpa bimbingan. Lalu, saat Sungjae hampir salah jalan, mereka saling menyalahkan dan lebih parahnya memukuli Sungjae. Bukannya mengajari mana yang benar dan mana yang salah, justru Sungjae di cap sebagai anak pembangkang yang tidak tahu diri.
Ironis. Namun garis takdir jelas tidak ada yang tahu.
Jisoo menatap Sungjae yang tak kunjung memberinya jawaban. Gadis itu kembali menghela nafas. Ia sadar, dirinya salah bertanya. Hal seperti itu harusnya tidak perlu dipertanyakan lagi. Jawabannya sudah pasti, kecewa.
“Ibuku kecewa padaku.”
Mata Sungjae beralih menatap Jisoo. “Aku tahu.”
“Cihhh.” Decih Jisoo sembari terkekeh pelan. Teman laki-laki nya itu nampaknya tahu segala hal tentang dia.
“Hallo bibi.” Sapa Sungjae pada makam di depannya. “Namaku Sungjae. Aku teman satu kelas anak Bibi, Jung Hana.”
Jisoo terdiam. Menatap Sungjae yang memperkenalkan diri dengan sopan dihadapan makam Bunda Eunbi.
“Mau disini sendiri? Kalau iya, aku akan pergi sekarang.” Tawar Jisoo pada Sungjae.
Bukan tidak mau menemani, Jisoo hanya tidak ingin keberadaannya membuat Sungjae tidak nyaman.
“Disini saja. Aku tidak suka sepi. Temani aku, sebentar.” Ajak Sungjae sembari menatap manik Jisoo lekat.
Jisoo tersenyum singkat kemudian mengangguk. Memposisikan dirinya duduk lebih nyaman di depan makam bunda Eunbi yang beralaskan salju dingin.
“Maaf, aku melukai anak bibi.” Ucap Sungjae. “Maaf aku terlalu lama mengganggu anak bibi. Maaf, aku membuat Hana kesulitan selama ini.” Jujur Sungjae dengan tatapan lurus menatap nisan di hadapannya.
“Aku juga bi. Bukan hanya Sungjae. Tapi aku juga. Dan aku juga minta maaf karea sampai sekarang belum berani mengucap maaf pada Hana secara langsung.” Sesal Jisoo di iringi helaan nafas panjang di akhir.
Sungjae menatap Jisoo lekat. Gadis di depannya yang sudah bersamanya sedari kecil. Keduanya berteman dari masih kanak-kanak. Sungjae tahu betul peranggai jisoo.
Dari dulu sampai sekarang Jisoo jarang sekali mengucap kata maaf. Kecuali, ia benar-benar menyesali kesalahannya.
Dan sekarang, ia mendengar langsung Jisoo mengucap maaf untuk Hana dan ibunya di depan makam ibu Hana langsung. Itu menandakan seberapa menyesalnya Jisoo pada kesalahannya.
Jisoo tersenyum lembut. Akhir-akhir ini gadis itu sering sekali tersenyum. “Aku mengikuti Hana diam-diam.” Sungjae menatap kaget ke arah Jisoo. Apa yang akan ia lakukan sampai harus mengikuti Hana ke makam?
“Aku melihat Hana pulang sekolah dengan ke adaan kacau. Dia pulang sendiri. Dan aku mengikutinya.” Terang Jisoo. “Aku mengikutinya sampai disini, dan aku mendengar aduannya pada ibunya.” Jisoo menatap ke langit. Menatap salju yang masih turun meski tak sebanyak tadi malam.
“Terkadang, aku heran dengan rencana pencipta.” Gumam Jisoo mengalihkan perhatian Sungjae padanya. “Rahasia nya benar-benar sangat luar biasa.”
Sungjae mengerutkan kening heran. “Kau bicara apa?” Tanyanya tak mengerti.
Jisoo terkekeh dan menggeleng kecil. “Aku iri.” Akunya. “Aku iri pada Hana yang sangat hangat dengan ayahnya.” Mata Jisoo menatap hamparan salju di sekitar makam. Mengingat memori Hana yang memang sangat dekat dengan ayahnya.
“Dulu, waktu ayahku masih hidup aku juga dekat dengannya. Sangat dekat bahkan. Dan semenjak ayah pergi meninggalkan aku dan ibu, aku seperti kehilangan ayah. Aku seperti tidak tahu lagi kemana hidupku harus berlabuh. Aku tidak begitu dekat dengan ibu. Aku bahkan jarang berinteraksi dengannya...
...Tapi, setelah mendengar curhatan Hana dengan ibunya, aku mulai membuka diri dan menatap ibuku layaknya ibu pada umumnya.” Sungjae masih diam mendengar cerita Jisoo. “Aku jahat. Aku anak yang tidak berbakti. Aku hanya bisa menuntut. Aku selalu merasa kurang dan tidak pernah merasa puas. Kau tahu itu. Tapi sekarang, aku bisa melihat bagaimana kerasnya ibuku menghidupiku.”
Sesekali helaan nafas Jisoo tedengar sangat berat.
“Dari dulu ibumu sangat menyayangimu.” Komentar Sungjae. Dan anggukan Jisoo menjadi tanda bahwa ia setuju dengan ucapan Sungjae.
“Ibuku sangat perhatian. Ibuku sangat sayang padaku, tanpa aku sadari.” Sesalnya.
“Masih belum terlambat untuk berubah. Kau bisa berbakti pada ibumu. Orang tuamu tinggal satu, ibumu. Apa salahnya mencoba menjadi anak yang baik demi membahagiakannya?” Nasehat Sungjae mengalihkan tatap mata Jisoo.
“Tidak ada yang salah. Akan aku coba menjadi yang terbaik untuk ibuku.” Ucapnya tersenyum di akhir kalimat. “Lalu kau bagaimana?” Tanya Jisoo dan Sungjae kembali tediam.
Menatap bunga yang di letakkannya di atas makam Eunbi, Sungjae berujar pelan. “Sekeras apapun aku mencoba menjadi anak yang berbakti, selamanya orang tuaku tidak akan melihatku.”
Jisoo menghela nafas pelan. Terlampau paham kondisi teman kecilnya itu. Dari dulu sampai sekarang, yang diinginkan Sungjae hanya satu. Tidak berubah meski zaman terus berkembang dan berubah.
Impian mempunyai keluarga utuh tanpa ada pertengkaran setiap harinya.
Pertengkaran dalam lingkup rumah tangga memang hal wajar dan sering terjadi. Tapi apakah bertengkar setiap hari juga termasuk hal yang wajar?
Sungjae sudah mencoba sedari kecil untuk memahami kondisi orang tuanya. Dijodohkan dan tidak ada perasaan saling menyayangi satu sama lain.
Katanya, cinta tumbuh karena biasa. Tapi mengapa kedua orang tuanya tak pernah merasakan cinta bahkan sampai umur Sungjae genap 18 tahun? Apa pribahasa itu masih bisa dipakai, jika kenyataan nya bertolak belakang?
“Orang tuamu akan paham suatu saat nanti.”
Sungjae tersenyum menanggapi ucapan Jisoo. Terlalu banyak ucapan semacam itu keluar dari mulut orang-orang demi membuat perasaannya membaik. Sampai dirinya mulai bosan dengan kata-kata seperti itu.
Karena meski beribu kata bijak menghampiri demi menenangkan hatinya yang kacau, faktanya tak pernah sekalipun kata bijak itu menemui kebenaran dari kenyataannya.
Orang tuanya masih sama. Masih belum bisa akur. Dan waktu yang banyak diucapkan untuknya bersabar, nyatanya tak segera menemui tepatnya.
“Kau berencana menemui Hana?”
Sungjae mengangguk pelan menanggapi pertanyaan Jisoo. “Mungkin. Aku harus meminta maaf padanya secara langsung agar aku bisa tenang.”
Jisoo mengangguk setuju. Rencananya pun sama. Mengumpulkan keberanian dan ego untuk bisa menemui Hana dan meminta maaf.
Keduanya kembali menatap makam Eunbi yang dingin. sesekali menyeka salju yang turun menutupi nisan. Mengusap pelan menghapus bulir putih yang turun dengan sengaja.
Dari kejauhan, Hana dan ayahnya memandang Sungjae dan Jisoo yang saling mengadu salah dan meminta maaf. Sesekali Hana tersenyum dan menatap ayahnya. Meski Hoseok hanya membalas senyum anaknya dengan senyum getir.
Dalam hati Hoseok, ia benar-benar merasakan nyeri yang luar biasa. Merasa bersalah pada anak-anak yang mengganggu anaknya namun ternyata juga korban dari kurang nya kasih sayang orang tua.
Hoseok merangkul anaknya. Mengelus pelan pundak anaknya, dan berjanji pada anaknya untuk terus menjaga dan merawat anaknya sampai suatu saat nanti dirinya siap menyerahkan Hana pada seorang laki-laki yang siap menggantikannya.
Matanya menatap langit nanar. Tersenyum getir seolah sedang menatap mendiang istrinya.
Dalam hati, Hoseok berucap, “Eunbi, maaf terlambat membuat anak kita bahagia. Kau bisa menyerahkan Hana sepenuhnya padaku. Percayakan Hana padaku. Aku akan menjaganya sepenuh hatiku. Aku akan membuat mu bangga karena mempunyai suami sepertiku. Eunbi… kau bisa tenang sekarang. Berbahagialah di surga dengan tunangan Taehyung. Biarkan aku yang menyelesaikan sisanya di sini. Bersama anakmu. Anak kita, Jung Hana.”