
“Kita kenapa kesini ayah?” Hana menatap ayahnya dengan binar bingung.
Tak seperti biasa, malam ini Hoseok mengajak anaknya jalan-jalan keluar. Suatu hal yang di dambakan Hana. Selama kurang dari kurun waktu dua tahun ia tak bertemu dengan ayahnya, dan sekarang mereka bisa kembali bergandengan tangan dan berjalan keliling kota, berdua.
Hal yang sangat romantis bukan? Mengingat kesibukan keduanya serta masalah yang akhir-akhir menganggu keduanya.
Hoseok mengenggam tangan mungil anaknya. Menatap lembut mata bulat Hana. Mengelus sayang kepala Hana, serta terenyum cerah ke arah Hana.
Suatu hal yang sangat Hana rindukan dari sosok ayahnya.
Senyum cerah bagai mentari yang tak pernah pudar dimakan waktu. Kesabaran dan ketelatenan dalam merawatnya selama sisa hidupnya. Kasih sayang yang tak akan ada tandingannya. Hana bersyukur memilik ayah seperti Hoseok.
“Mau jalan-jalan sama anak ayah yang paling cantik.” Jawabnya sembari mengulas senyum ke arah Hana.
“Ayah mau duduk?” tawarnya.
“Ayah belum begitu tua untuk lelah berjalan jauh, nak. Kita jalan-jalan saja ya. Hana belum pernah kesini kan?” Dan gelengan kecil menjadi jawaban Hana.
Merapatkan mantel serta membenarkan posisi syal, Hoseok kembali menggenggam tangan Hana.
Berjalan pelan sembari menatap lampu-lampu yang dihias sedemikian cantik.
Garden of Morning Calm. Salah satu tempat yang menyajikan festival lampu indah di daerah Gapyeong-gun, Gyonggi-do. Pohon-pohon yang berada di Garden of morning calm seakan disulap menjadi sebuah tempat yang sangat indah dengan lampu-lampu yang menawan.
Taman yang indah, lampu-lampu yang cantik dengan berbagai warna, serta bagian tanah yang berselimut salju membuat taman itu bak negeri dongeng.
Tak jarang Hoseok memergoki anaknya yang terkagum karena keindahan lampu. Semua yang datang malam itu juga nampak tenang.
Ramai namun tak membuat bising. Membuat keduanya seolah merasakan keindahan serta ketenangan surga yang indah.
“Ditempat ini ayah dan bundamu pertama kali berkencan.” Ucapnya sembari menatap salju yang sedang Hoseok pijaki.
Hana menghentikan langkahnya. Menatap ayahnya yang masih sibuk menatap salju. “Apa ayah mau kita pulang?” dan setelahnya, Hoseok mendongak menatap anaknya.
Tersenyum lembut, lalu mengecup sayang kepala anaknya. “Tidak perlu nak.” Ucapnya. “Ayah sengaja mengajak kamu kesini untuk mengenang bundamu.” Senyum miris terpancar dari bilah bibir Hoseok.
“Ayah pasti sayang banget sama Bunda.” Tebak Hana sembari merapatkan badannya ke arah sang Ayah.
“Sangat.” Hoseok kembali mengajak Hana melanjutkan langkah nya pelan. “Ayah sangat menyayangi bundamu.” Kembali memutar bagaimana ia dan mendiang Eunbi memadu kasih bersama sebelum Hoseok memberanikan diri melamar Eunbi.
“Ayah keberatan menceritakan bunda?” tanya Hana hati-hati. Bagaimanapun, Hana tak ingin ayahnya bernostalgia namun berujung pada luka kehilangan yang belum kunjung sembuh.
“Tidak.” Dan jawaban Hoseok mampu membuat Hana tersenyum.
“Ayah dan bundamu bertemu waktu kuliah. Bundamu dulu galak sama ayah.” Kekehan kecil terdengar dari bibir Hoseok. “Dulu ayah sering dimarahin sama bunda.” Memutar kembali memori yang membuatnya jatuh hati pada sang istri.
“Paman Taehyung tahu kalo bunda galak yah?”
“Justru Paman Taehyung yang menjadi tempat curhat ayah tentang bundamu.”
Berbanding terbalik dengan Hana yang takut melukai hati sang ayah saat menceritakan masa mudanya dengan sang bunda. Justru Hoseok menceritakan semua nya dengan sangat antusias.
Eunbi yang galak, dan Hoseok yang selalu mengadu pada Taehyung.
Dulu Eunbi, Hoseok dan Taehyung adalah teman satu kampus. Satu fakultas.
Eunbi anak yang mandiri. Waktu muda, ia sering menghabiskan waktunya di perpustakaan kampus. Meskipun dirinya tak ada jadwal kuliah, ia akan tetap ke kampus hanya untuk mmbaca satu atau dua buah buku.
Itulah kenapa Hana bisa sangat cerdas. menurun dari ibunya.
Hoseok yang tidak suka membaca bahkan harus mulai menyukai buku demi mendapatkan hati sang pujaan.
Hoseok sering mengikuti Eunbi. Bukan bermaksud mengunit, ia hanya penasaran dengan sosok Eunbi yang tenang dan tegas.
Berkali-kali dirinya mencoba mengakrabkan diri. Entah basa basi bertanya tentang letak buku sejarah, bertanya tentang mengapa matahari bisa sangat cerah, atau lebih konyolnya bertanya mengapa rambut Eunbi bisa sangat hitam.
Bukan bermaksud ingin terlihat bodoh. Hoseok yang terlanjur salah tingkah bingung harus berbuat apa saat mata cerah Eunbi menatapnya.
Alih-alih menerima ajakan kenalan Hoseok, Eunbi justru mengusirnya. Menyuruhnya pergi dan jangan pernah mengikutinya lagi.
Hoseok tentu kecewa. Ia di campakkan sebelum ia mengakui perasaannya.
Sampai akhirnya, ia mengakui perasaannya sewaktu wisuda.
Jika mahasiswa lain berpidato mengucapkan terima kasih serta impiannya di masa depan kelak di atas podium. Hoseok justru dengan percaya dirinya mengungkapkan perasaannya pada Eunbi.
Hal itu sontak membuat seluruh undangan termasuk Eunbi dan Taehyung kaget. Pasalnya, itu adalah ide gila Tahyung.
Tidak bermaksud mengerjai temannya. Taehyung dibuat gemas oleh curhatan Hoseok yang seperti anak gadis baru memulai kisah cintanya.
Dan siapa sangka jika ide gilanya benar-bnar di lakukan oleh Hoseok.
“Lalu apa bunda menerima ayah saat itu?”
Tawa Hoseok mereda. Tertinggal senyum samar yang menghiasi bibirnya. “Bundamu menolak ayah?”
“Serius yah?”
“Iya. Bunda menolak ayah saat itu. Tapi waktu ayah keluar dari aula wisuda, bunda menunggu ayah di depan pintu.” Senyum Hoseok kembali mengembang. “Bunda memukul perut ayah. Sambil bilang, iya bunda menerima cinta ayah.” Lanjutnya.
Hana sangat antusias mendengarnya. Sesekali tertawa dan terkadang gemas dengan tingkah ayah dan bundanya.
“Setelah itu ayah langsung pacaran sama Bunda?”
“Kenapa?!” Tak bermaksud berteriak, Hana hanya bingung mengapa ayahnya menghilang.
“Ayah bingung harus bereaksi apa.” Senyum dan tawa tak pernah pudar sedari ia menceritakan kisahnya. “Waktu ayah menghilang, Paman Taehyung datang dengan bundamu. Mereka marah sama ayah. Ayah bingung, dan reflek memeluk bundamu.”
“Lalu Paman Tahyung?”
“Hanya menonton.”
“Ckk ck ck... kasihan sekali Paman, hanya dijadikan obat nyamuk sama ayah.”
Hoseok menatap anaknya kaget. “Hei, bukan begitu nak. Paman mu saja yang tak mau mencari pasangan. Tampang boleh ganteng, tapi kalau tak laku sampai skarang buat apa?”
“Ishh.. memangnya Paman Taehyung belum pernah pacaran yah?”
Hoseok berfikir sejenak. “Pernah dulu. Dan mungkin sampai sekarang.” Lanjutnya diakhiri tawa miris.
Hana menatap ayahnya lekat. Jika boleh jujur, ia juga sangat penasaran dengan kisah cinta pamannya. Tapi ia tak mau bernostalgia dengan kenangan, jika kenangan itu adalah sebuah kesakitan.
Hoseok memutar sedikit badannya. Menatap anaknya, yang sibuk bermain salju dengan kakinya. “Kalau anak ayah, kisah cintanya bagaimana?”
Sontak mata bulat Hana menatap ayahnya. Hoseok tertawa melihat reaksi anaknya. Remaja yang masih malu-malu.
“Kenapa menatap ayah seperti itu?” tanya Hoseok masih di sela tawanya.
“E-emm enggak..”
Hoseok kembali tertawa. Mengelus pelan kepala anaknya. “Ayah rasa Yoongi anak yang baik.”
Hana kembali menatap ayahnya, sebelum ia menundukan pandangannya. “Hana tak pantas bersamanya Ayah.”
Dahi Hoseok mengernyit. “Kenapa?”
“Hanya tidak pantas.” Ulangnya.
“Sini coba cerita sama ayah.”
Hana menatap ayahnya takut-takut.
“Yoongi Sunbae orang yang baik. Meskipun ia terlihat dingin dan acuh, tapi sebenarnya hatinya sangat lembut. Yoongi Sunbae juga sangat perhatian.” Akunya yang mendapat respon senyum dari Hoseok. “Tapi Hana tak akan pantas untuknya.”
Mata Hana menatap ke arah langit malam. “Ayah pasti tahu masalah Hana di sekolah. Dan Hana tak mau merepotkan Yoongi Sunbae selagi ia berada di dekat Hana. Yoongi Sunbae pantas bahagia ayah. Mendapat teman yang lebih banyak, bermain dan berkumpul bersama temannya, juga…”
Hana mnghentikan ucapannya, tersenum miris sebelum ia melanjutkan kalimatnya. “…juga mendapatkan cinta yang sempurna.”
“Hana yang banyak di benci oleh orang-orang tak akan pernah pantas bersanding dengan Yoongi Sunbae yang dicintai semua orang.”
Hoseok merasakan perasaan miris yang saat ini dirasakan anaknya. Tak mau salah memberi pengertian, Hoseok hanya menggenggam tangan mungil anaknya dengan hangat.
“Tak ada yang di benci di dunia ini nak. Semua pembenci, pasti juga merasakan rasanya dibenci.”
Menghela nafas ksar, lalu melanjutkan ucapannya. “Kau tahu? Tidak semua orang menyukai salju. Apalagi jika salju datang bersamaan dan membuatnya menjadi badai.”
Hembusan nafas terdengar teratur dan pelan. “Tapi bagi mereka yang belum pernah melihat salju, rasanya ingin sekali mereka menjumpai salju.”
Hana masih menatap sang ayah.
“Jika di sekolah tak ada yang menyukai mu, maka pulanglah. Dirumah akan ada banyak yang menyukaimu.” Tangan Hoseok bergerak memeluk sayang badan anaknya.
“Hidup itu seimbang nak. Seperti musim, yang sebentar lagi akan berganti menjadi musim hangat. Benci dan cinta pun seperti itu. Jika ada benci, pasti ada cinta. Tergantung sisi kita bagaimana menyikapinya...
... Hana mungkin dibenci sama teman sekolah Hana, tapi jika Hana bersama ayah, Paman Taehyung, Nenek Chan, Yoongi, Hana justru mendapatkan cinta yang berkali-kali lipat.
Berbeda dengan mereka. Bisa saja mereka yang membenci Hana justru tak pernah merasakan indahnya cinta dari keluarga atau orang sekitar.”
Pelukan Hoseok mengerat. “Jangan patah semangat hanya karena mereka yang terlihat di mata begitu membencimu. Coba rasakan di sekitarmu. Masih banyak yang peduli dan sayang padamu, nak. Kami semua ada untuk menyayangi Hana.”
Dikecupnya kepala sang anak dengan sayang. “Meski bunda sudah jauh, meski disini hanya ada ayah, tapi Hana tidak boleh sedih. Jangan merasa sendiri lagi nak. Yoongi dan Paman Taehyung juga akan berada di sisi Hana. Cintai mereka, maka mereka akan mencintai Hana. Jangan membalas kebencian dengan kebencian. Semua keadaan buruk Hana selama ini, pasti akan pergi seiring berjalannya waktu.”
Air mata turun dari mata indah Hana. Tak pernah ia berfikir positif seperti ayahnya. Ia terlalu takut dengan dunia yang selama ini menyiksanya. Haruskah Hana merubah cara pandang pikirnya?
Lengan yang tergolek di sisi badan sang ayah kembali mengingatkan nya tentang Yoongi. Laki-laki yang tanpa permisi sudah masuk terlalu dalam di hidupnya.
Terbesit rasa bersalah pada mereka yang sudah berusahan membela nya. Tak seharusnya ia putus asa secepat itu. Masih ada waktu. Masih ada waktu untuk nya bersuara tentang hidupnya yang selama ini menjadi bahan gunjingan.
Jangan kembali lemah. Ia harus membuktikan pada mereka semua, bahwa dirinya tidak selamah itu.
Mereka akan tertawa jika tahu ia melukai dirinya sendiri akibat bully yang menimpanya. Ia harus lebih kuat untuk membuktikan pada mereka yang telah menghinanya selama ini.
Hana mendongak, menatap sang ayah lalu mengecup sayang dahi ayahnya.
“Hana sayang ayah.” Ucapnya lalu memeluk erat tubuh ayahnya.
“Ayah juga sayang Hana.” Balas Hoseok semakin mengeratkan pelukannya.
* * * * *
Hana
Hoseok