
Suara kaki yang saling beradu langkah terdengar di lorong sekolah. Banyak siswa menatap bingung pada Seokjin. Langkah terburu, mata melirik ke kanan ke kiri, mulut yang tak berhenti mengomel.
“Kau lihat Yoongi?”
Sudah tak terhitung berapa siswa yang ia tanya. Mencari satu sosok teman yang sedari lima belas menit lalu ia cari. Tak juga kunjung ia temui membuatnya mengacak rambut frustasi.
Kaki itu berjalan ke arah ruang informasi. Menyogok petugas dengan rayuan gombal andalannya agar ia bisa menggunakan ruangan itu untuk dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia langsung menuju pada mikrofon di tengah meja kecil.
Jari telunjuk mengetuk sebanyak tiga kali. Memastikan bahwa mikrofon itu menyala dan bisa ia gunakan untuk memanggil teman tersayang nya.
“Tes Tes”
Kembali mengetuk sebelum ia mulai meneruskan tujuannya.
“Panggilan kepada Min Yoongi dari kelas 12X untuk segera datang ke ruang informasi.” Petugas yang menjaga ruang informasi masih terus memperhatikan Seokjin. Seolah merasa tak berdosa, laki-laki itu menghembuskan nafas panjang sebelum berkata dengan nada yang lebih tinggi.
“Min Yoongi cepat datang ke ruang informasi!!” lanjutnya yang langsung mendapat tatapan tajam dari sang penjaga.
Seokjin meringis. Turun dari tempat nya lalu menghampiri penjaga. Menepuk pelan pundak penjaga sebelum ia melarikan diri dari ruangan.
Tak ada protes dari pak penjaga. Hanya tatapan tajam tanpa teriakan atau jeweran telinga. Karena ia sudah hafal betul bagaimana usilnya teman dari pemilik sekolahan itu.
Seokjin mendengus pelan. Tak ada tanda dari Yoongi muncul padahal sudah lima menit ia menunggu di depan ruang informasi. Langkahnya menuntut untuk kembali ke dalam ruang informasi. Memerintahkannya untuk memanggil dengan panggilan yang lebih keras. Namun terhenti, kala pundak nya di tepuk seseorang.
“Ada apa?”
Bukannya menjawab pertanyaan, Seokjin memilih memukul perut sang teman.
“Kau bersemedi di gua mana? Aku mencari mu di tiap sudut sekolah.” Omelnya yang hanya di jawab gelengan kepala oleh Yoongi.
“Ada apa?” Tanya nya santai.
“Hana dalam bahaya.” Harus menyebut nama Hana agar Yoongi bisa fokus. Meski diam menunggu penjelasan Seokjin, namun mimik muka sudah menunjukkan ekspresi marah. Tangan terkepal serta mata menyipit tajam.
“Aku tadi tak sengaja lewat depan ruang kelas Hana. Aku melihat Jisoo mengamuk pada Hana. Dan aku juga melihat anak-anak yang lain berdiri mengerubungi mereka. Hana menangis, dia terlihat kacau dan ketakutan. Jisoo tadi juga sempat menjambak rambut Hana. Dan tadi aku juga li…
Ya ya ya!! Yongi kau mau kemana!!” Belum selesai Seokjin memberikan informasi, Yoongi sudah meninggalkkan nya terlebih dahulu.
Yoongi pergi dengan tangan mengepal kuat. Urat-urat di tangan juga lehernya menyembul keluar. Nafasnya beradu dengan tatapan yang terlampau tajam. Kakinya melangkah mantap menyusul pujaan hati yang saat ini membutuhkan bantuannya.
Seokjin mengekor di belakang. Ia akan berjaga jika nanti Yoongi benar-benar hilang sabar lalu membuat kegaduhan. Terlampau hafal dengan sikap temannya. Meski terlihat tak peduli, tetapi sekali miliknya diusik tak mudah untuk Yoongi melepas begitu saja.
Bagai harimau yang diganggu tidur siangnya. Akan dibantai tanpa ampun jika musuh berani berulah. Mungkin bukan berulah dengannya, tapi mengusik salah satu miliknya sama saja menyerahkan nyawa dengan cuma-cuma.
Tanpa basa basi, sesampainya Yoongi dan Seokjin di ruang kelas Hana, kedua lelaki itu di suguhkan dengan keadaan Hana yang sangat memprihatinkan.
Rambut acak-acakan, mata sembab karena menangis, pipi merah bekas tamparan, serta raut wajah yang sangat kacau. Gadis itu berada dalam dekapan Jimin.
Didepannya, ada Jisoo yang terus berteriak minta di lepaskan. Berada dalam dekapan Sungjae tanpa ada niat untuk Sungjae melepaskan atau membawa Jisoo kabur.
Di tatapnya lagi seluruh siswa yang terfokus pada dua gadis yang sedang beradu amarah. Dicarinya satu sosok diantara kerumunan siswa. Menatap satu orang yang berdiri bingung dengan tangan gemetar. Bukan Yoongi namanya jika tak bisa marah. Diam saja ekspresianya sudah sangat menakutkan.
Brakkk!!!
Gebrakan pada pintu mengehentikan raungan Jisoo. Serta isakan dari Hana yang ikut berhenti dan memilih menelusupkan wajahnya semakin dalam pada dada Jimin.
“Apa-apaan ini?!!” tak takut dengan lawan,Yoongi berteriak lantang. Menatap satu persatu siswa yang ada di kelas. Teriakannya bahkan mengundang siswa yang ada di luar kelas untuk berkumpul.
Kakinya melangkah mantap ke arah Hana. Menatap tajam Jimin sebelum mengelus pelan kepala Hana. Meraih tangan Hana yang bergetar pada genggaman Jimin. Memberikan sentuhan lembut sembari menelisik warna kebiruan di pelipis akibat benturan.
Yoongi tersenyum lembut ke arah Hana. Menmgelus pelan pipi merah bekas tamparan, lalu mengembalikkan lagi tangan kurus itu pada genggaman Jimin.
Jimin mengangguk sebagai jawaban. Seolah perintah untuk Yoongi memberi pelajaran pada seluruh siswa. Dirinya tak peduli jika harus di benci oleh satu sekolah karena membela Hana.
Jimin terlampau paham bahwa diamnya selama ini tak merubah apapun. Mereka harus di gertak agar mereka sadar. Sedikit pelajaran mungkin tak akan menjadi masalah.
Yoongi berdiri. Menatap Jisoo dan Sungjae bergantian dengan tatapan tajam. Jisoo tak mau mengalah. Membalas tatapan itu dengan tatapan yang lebih tajam.
“Apa yang kau lakukan?” Tanya Yoongi dengan nada dingin.
Tak ada jawaban dari Jisoo. Gadis itu hanya memberikan senyum miring meremehkan.
“Apa yang kau lakukan?!” Sudah habis kesabaran Yoongi. Tak peduli bahwa lawannya kali ini adalah seorang wanita. Percuma jika ia harus bersikap lembut pada wanita yang mempunyai sikap iblis menjijikkan seperti wanita di depannya.
“Lepaskan aku.” Ucapnya sinis dan datar pada Sungjae.
Agak ragu untuk Sungjae melepaskan Jisoo. Takut jika gadis itu kembali menjambak dan menampar Hana.
Dengan berat hati, Sungjae melepaskan Jisoo. Sedikit mundur untuk memberi gadis itu ruang.
Jisoo maju satu langkah. Tangan bersedekap dada serta bibir yang tersungging meremehkan.
“Kau bertanya apa yang aku lakukan?” ucapnya mengulang pertanyaan Yoongi. “Tak ada yang aku lakukan. Hanya sedikit memberi pelajaran pada gadis tukang fitnah seperti dirinya.” Ucapan berakhir tajam. Sorot tatap tajam, membuat Hana beringsut semakin dalam pada dekapan ketua kelas.
“Gadis yang kau agung-agung kan itu, tak lebih dari seorang pemfitnah!” Ucapan berakhir bentakan, juga tangan yang melayang ke udara bersiap untuk menampar.
Cekatan Yoongi menangkis tangan kurus yang sekarang di cengkeramnya kuat. Tak ada lagi ampun untuk siapapun yang mengusik Hana.
Siswa sekolah macam apa yang hanya bisa membuat keributan. Mereka disekolahkan untuk belajar agar pandai. Menjadi orang berguna di masa depan. Bukan untuk bersaing kecantikan atau kekayaan. Juga bersaing siapa kuat dalam kasus pembullyan serta penghinaan.
“Buang kalimat kotormu untuk Hana.” Suara menyimpan emosi. Terdengar menggeram dan menakutkan.
“Ohh… mau berlagak bagai seorang pahlawan, Yoongi Sunbaenim?” Bibir masih tersungging remeh. Tak takut berurusan dengan anak pemilik sekolah.
“Gadismu berkata pada seluruh siswa bahwa aku tersangka penyebab jatuhnya Umji dari lantai dua. Apa kau bisa terima jika di fitnah seperti itu?!” kembali membentak dengan tangan mengepal yang masih di genggam Yoongi.
“Aku tak terima di fitnah sebagai pembunuh oleh manusia pembawa sial seperti dirinya!!” Mengacungkan jari telunjuk lantang ke arah Hana. Tangan di genggaman di cengkeram lebih kuat oleh Yoongi. Sebelum tangan itu di sentak dan di lepas secara kasar.
“Berhenti berkata jika kau tak tau siapa penyebab rumor sebenarnya!” Tak takut di cap buruk, Yoongi membalas bentakan Jisoo dengan bentakan serupa.
“Apa kau yakin Hana pelaku penuduhan kasus Umji terhadapmu?” Nada bicara kembali normal. Namun dingin menusuk dari nada terlontar, tak bisa lagi di buat normal.
Jisoo menatap Yoongi tajam. Diam mematung saat Yoongi melanjutkan ucapannya. “Tanyakan pada temanmu yang bernama Bambam siapa pelaku rumor penuduhan kasus Umji.” Setelahnya membuang muka dan menarik Hana dari pelukan Jimin.
Diangkatnya tubuh Hana yang bergetar. Berjalan angkuh tanpa mempedulikan tatapan dari seluruh siswa.
Belum mencapai lima langkah, niatnya di tahan kala Jisoo menggenggam lengan yang tertekuk karena menggendong Hana. “Apa yang kau katakan?” tanyanya tanpa berniat melirik.
Senyum sinis di hadiahi sebelum menjawab pertanyaan Jisoo. “Tanyakan pada seluruh anggota geng mu. Jangan apa-apa langsung menuduh dan menyalahkan Hana. Apa kau tidak tahu jika banyak orang yang menusuk dan berbohong di belakangmu. Contohnya…” kembali melirik pada satu siswa yang berdiri kaku. “…teman paling terdekatmu.” Setelahnya Yoongi menarik nafas panjang.
Tangan Jisoo terlepas dengan mata yang melirik tajam ke arah Yoongi. Mengabaikan tatapan tajam Jisoo, Yoongi memilih mengatur nafasnya. Mengeratkan gendongannya pada Hana sebelum kembali berbicara.
“Kalian semua yang berbuat ulah. Siap-siap mendapatkan surat panggilan untuk orang tua kalian. Sekolah akan mengadakan rapat komite besar. Dan juga…” menghentikan ucapannya lalu berbalik. Mengamati seluruh siswa yang menontonnya sedari tadi.
“…persiapkan diri kalian untuk mendapat hukuman dari perbuatan kalian.” Lanjutnya lalu berjalan meninggalkan ruang kelas.