
“Aku nyariin kamu dari tadi.”
Jisoo mendongak, menatap Joy dengan wajah datar tanpa ekspresi. Matanya tak teralih dari manik Joy. Membuat Joy sedikit gugup dengan aura yang diberikan Joy.
“E-emm maaf kalau aku mengganggu.” Joy sudaha mengambil ancang-ancang untuk pergi. Namun langkahnya terhenti saat suara Jisoo menginterupsi pendengarannya.
“Kenapa?” Joy berhenti. Menoleh kembali ke arah Jisoo yang kembali menundukkan kepalanya. Ini pertama kalinya Joy melihat Jisoo terpuruk seperti ini.
Melihat temannya terdiam syarat akan hancur membuat hatinya teriris. Sebegitu jahatnya kah dia pada temannya?
Banyak pertanyaan mampir di fikirannya. Joy dengan agak ragu mendekat pada Jisoo. Tangannya terangkat ragu sebelum mengelus punggung Jisoo.
Jisoo terdiam, menunggu Joy untuk menjawab perrtanyaannya.
“Jisoo maaf.” Joy mendudukkan dirinya di samping Jisoo. Melirik sekilas ke arah temannya sebelum tatapannya beralih ke depan. “Maaf aku sudah keterlaluan terhadapmu.”
“Kenapa aku? Apa ada hal yang membuatku menyakitimu?”
Joy terdiam. Fikirannya melayang jauh. “Aku hanya terbawa emosi. Maaf.”
“Hanya itu?” Jisoo bukan orang bodoh yang akan langsung percaya dengan ucapan Joy. Jisoo tahu, Joy sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Dan itu pasti sebuah kekecewaan terhadapnya.
“Kenapa kau tidak jujur?” Joy memejamkan mata. Sedikit menunduk dan menghembuskan nafas panjang. “Kenapa kau tidak jujur dengan kondisi ekonomi keluargamu?”
Jisoo menoleh. Menatap Joy dari samping, lalu tersenyum kecut. “Untuk apa?”
“Aku temanmu Jisoo. Kau harusnya mengatakan semuanya padaku.” Joy menatap Jisoo dengan tatapan kecewa. Begitupun Jisoo yang hanya membalas tatapan Joy dengan sedikit menggelengkan kepala.
“Tidak semua hal harus kamu tahu.”
“Tapi aku temanmu!”
Mata Jisoo membelalak kaget mendengar Joy membentaknya. Fikirannya yang kacau karena memikirkan betapa kecewanya ibunya nanti semakin kacau dengan gertakan Joy.
“Lalu, apa kehidupanku bisa kembali setelah aku bercerita denganmu?”
“Setidaknya kau bisa berbagi denganku.”
Jisoo berdiri. Menatap Joy sambil menggelengkan kepalanya. “Berbagi katamu?” Jisoo tertawa hambar. Berjalan kedepan beberapa langkah dengan mata menatap nanar ke depan. “Kau terlalu banyak mengalami masa sulit. Kau terlalu banyak merasakan luka. Mana bisa aku berbagi luka denganmu yang justru sudah merasakan luka lebih dari yang aku rasakan.”
“Jisoo…”
“Aku tahu semuanya Joy. Aku tahu kalau kau adiknya Yoongi Sunbae. Aku tahu semuanya waktu ibumu meninggal.” Badan Jisoo berbalik. Menatap temannya yang juga berdiri menatapnya. “Tapi aku tidak protes atau marah. Meskipun kamu tidak memberitahuku, aku tidak marah sama sekali. Karena aku tahu kalau kau tidak akan siap memberitahu itu.” Joy menggeleng pelan. “Meski kita teman, tidak semua hal harus kita tahu.”
“Jisoo…”
“Aku tahu kamu. Kamu tahu aku. Kita saling tahu tanpa kita harus bercerita panjang lebar!” Jisoo terduduk. Air matanya mengalir. Hatinya hancur. Entah apa yang membuatnya menangis. Sehabis berteriak tadi, air matanya langsung mendesak keluar. Membuat dirinya terduduk dan menangis di depan Joy.
“Ayahmu meninggal. Tidak lama setelah itu, ibumu menikah lagi dengan ayahnya Yoongi Sunbae. Aku tahu kau tidak di terima dengan baik oleh Yoongi Sunbae. Dan bukan hanya itu, tidak lama setelah pernikahan ibumu, kau harus merasakan hal yang lebih pahit lagi. Ibumu meninggal Joy. Mana bisa aku bercerita padamu saat dirimu pun terlalu banyak beban masalah. Mana bisa?”
Joy berlari kecil ke arah Jisoo. Memeluk tubuh temannya yang menangis. “Jisoo… maaf.” Ucapnya ikut menangis.
“Aku tidak ingin membuatmu semakin terluka. Aku tidak ingin menambah beban fikiranmu dengan masalahku. Aku tidak ingin membuat temanku bersedih. Aku hanya ingin melihatmu bahagia Joy.” Ucapan Jisoo mampu membuat hati Joy berasa di remat.
Jisoo yang selama ini terkenal angkuh dan cuek ternyata sangat perhatian padanya. Sekarang, apa kabar dengan dirinya yang telah melukai Jisoo sampai mengancam masa depan Jisoo?
“Maaf aku membuatmu semakin kacau. Maaf Jisoo…” Joy mengelus pelan punggung Jisoo. “Aku tidak tahu kalau kamu memikirkan aku sampai begitunya. Aku justru…” suaranya terputus dengan isakan.
Joy teringat betapa jahatnya dia yang justru telah memfitnah Jisoo padahal Jisoo sangat perhatian padanya. Joy teringat, dirinya yang menyuruh Bambam untuk mengaku bahwa penyebab Umji jatuh adalah Jisoo. Joy teringat tentang percakapan Yoongi dan ayahnya tentang mereka yang akan mengeluarkan siswa pembuat masalah.
Bayang-bayang itu mampir di fikiran Joy. Membuatnya semakin merasakan sakit yang sangat luar biasa di hatinya.
Menghianati teman yang ternyata sangat memikirkannya lebih dari apapun.
“A-aku justru…” Joy semakin terduduk di atas salju. Isakannya semakin kencang. Jisoo dibuat kaget dengan tangisan Joy.
Buru-buru Jisoo memeluk tubuh Joy. “Sudah sudah. Aku tahu waktu itu kau kecewa karena aku berbohong padamu tentang statusku. Aku minta maaf.” Ucap Jisoo menenangkan Joy.
Joy mendongak menatap Jisoo. “Tapi aku jahat. Aku jahat karena memfitnahmu. Aku jahat karena aku menyuruh Bambam untuk menuduhmu. Aku jahat!”
Jisoo menggeleng pelan. “Tidak ada yang salah disini. Kita sama-sama salah paham. Kita terlalu terbuai dengan perasaan kecewa, sampai kita tidak memikirkan akibat dari perbuatan kita kedepannya.” Jisoo memeluk Joy dalam. “Sudah, ini akan jadi pembelajaran buat kita.”
Joy mengangguk di dalam pelukan Jisoo. Berkali-kali mengucapkan maaf. Jisoo pun juga sama. Tak hentinya dirinya juga menggumam maaf pada Joy.
Keduanya saling mengadu perasaan bersalah. Mengabaikan dua tatap manusia yang menatap mereka sedari tadi.
Ia tidak menyangka, Jisoo yang selama ini keras kepadanya ternyata mempunyai sisi yang lembut. Watak yang mirip dengan mendiang ayahnya dulu.
“Jisoo…”
Jisoo terkaget. Mendongak, menatap wanita paruh baya yang berdiri tak jauh darinya dengan seorang laki-laki di belakangnya. Jisoo melonggarkan pelukannya. Berdiri kaku diikuti Joy yang juga ikut berdiri.
“Ibu…” Jisoo mendekat ke arah ibunya. Menatap wanita paruh baya yang telah melahirkannya itu dengan tatapan sendu.
Ibu Jisoo hanya tersenyum lembut ke arah anaknya. Merentangkan kedua tangannya yang langsung di balas oleh Jisoo.
Jisoo berlari memeluk ibunya. Menubruk tubuh ringkih ibunya dengan tangisan yang semakin kencang.
“Ibu.. maaf.” Ibu Jisoo diam dan hanya mengelus rambut sang anak. “Maaf Jisoo membuat ibu susah. Maaf Jisoo menyakiti hati ibu. Maaf Jisoo membuat ibu kecewa.”
Ibu Jisoo mengangguk pelan. “Kamu anak ibu. Seberapa banyak kesalahanmu, ibu tetap akan memaafkanmu.”
“Tapi kesalahanku fatal bu.” Jisoo melonggarkan pelukannya. Menatap wajah ibunya yang semakin menua setiap harinya. “Aku mengganggu Hana. Aku mengganggunya setiap hari. Aku membentak ibu. Aku tidak berbakti pada ibu. Dan sekarang aku semakin membuat ibu kecewa akibat kebodohanku. Ibu aku minta maaf.”
Jisoo berjongkok. Berlutut dan menangis di kaki ibunya.
Joy menghapus air matanya yang terus keluar. Sementara Sungjae hanya diam dengan mata memerah.
“Jisoo, anak ibu.” Ibu Jisoo berjongkok. Mengambil tangan anaknya dan menggenggamnya. Mengawati wajah Jisoo yang sekarang tumbuh menjadi gadis cantik.
“Sejak kapan anak ibu tumbuh secepat ini?” Ucapnya. “Dulu tangan ini kecil. Kecil sekali. Sekarang ukurannya sama seperti tangan ibu.” Ibu Jisoo terkekeh pelan. “Lihat wajah ini.” Tangan ibu Jisoo mengelus sayang wajah anaknya. “Sejak kapan wajah anak ibu semakin cantik?” Tangan Ibu Jisoo beralih mengelus surai anaknya. “Rambut mu juga semakin panjang nak. Dulu kamu belum bisa menata rambutmu. Sekarang kamu bisa menatanya sendiri.” Ibu Jisoo tersenyum. “Anak ibu tumbuh dengan baik rupannya.”
“Ibu…” Jisoo menubruk tubuh ibunya lagi. Memeluk wanita yang melahirkannya itu dengan sangat erat.
“Tidak apa-apa. Tidak apa-apa berbuat salah. Semua manusia pasti berbuat salah nak. Ibu pun sama. Kita semua pernah berbuat salah. Kalau kita tidak pernah salah, kita tidak akan pernah tahu yang namanya belajar.” Ibu Jisoo melonggarkan pelukan anaknya. “Dari sini, Jisoo bisa belajar untuk lebih menyayangi sesama. Menyayangi semua yang Jisoo punya. Menyayangi semua yang sayang sama Jisoo.”
Wanita paruh baya itu masih tersenyum. Menyeka air mata putrinya dengan hati-hati. “Ibu juga minta maaf karena ibu belum bisa menjadi ibu terbaik untuk kamu. Kita semua punya kekurangan masing-masing nak. Jangan terlarut dengan kesalahan. Semua akan baik-baik saja jika kita mau belajar dari kesalahan dan mau memperbaikinya.”
“Tapi Jisoo salah besar disini bu. Ibu pasti kecewa sama Jisoo kan?”
Ibu Jisoo kembali tersenyum. “Kecewa itu pasti. Asal jangan terlalu larut dengan kekecewaan. Semua kesalahan ada sebabnya nak. Kalau kita bisa menjelaskan sebabnya dengan jujur dan mau memperbaikinya, semua akan berubah baik-baik saja.”
Ibu Jisoo kembali menggenggam kedua tangan anaknya erat. “Sekarang, Jisoo mau meminta maaf pada Hana kan?”
Jisoo menatap ibunya. Ibu luar biasa yang selama ini selalu ia marahi karena tidak sanggup mengembalikan kehidupannya yang dulu.
Ibu yang telah berjuang siang malam demi menuruti semua keinginan Jisoo.
Melihat ibunya kini bersimpuh dan menggenggam tangannya erat, membuatnya sadar betapa besar cinta ibunya meskipun telah ia sakiti berulang kali.
Jisoo bahkan tidak bisa berfikir bagaimana besarnya rasa sayang ibunya pada dirinya yang sudah sangat durhaka. Dirinya tidak pernah mengerti kenapa ibunya bisa dengan gampang memaafkannya atas semua kesalahannya selama ini.
Bukankah Jisoo sepantasnya mendapat bentakan atau tamparan dari sang ibu? Namun yang di dapat Jisoo justru perasaan hangat termaafkan dan pelukan hangat berbalut sayang.
Dirinya merasa bodoh telah menyakiti hati ibunya berulang kali. Mengabaikan perasaan sayang ibunya dan membalasnya dengan perlakuan yang sangat tdiak pantas.
“Aku akan minta maaf ibu. Aku akan minta maaf sama Hana.” Ulangnya membuat Ibu Jisoo tersenyum.
“Jangan meminta maaf karena ibu ya nak. Meminta maaflah dengan tulus karena kamu merasa bersalah.” Ucap Ibu Jisoo setelahnya mengecup sayang pada Jisoo.
Jisoo mengangguk mengiyakan.
Ibu Jisoo menuntun Jisoo untuk bangun kembali. Salju dingin yang mereka duduki bahkan sampai tidak terasa dingin sama sekali.
Salju dingin yang harusnya menusuk kulit bahkan tulang karena dinginnya, terasa hangat saat sang ibu memeluknya dengan perasaan sayang yang meluap.
Sungjae yang menyaksikan adu sayang antara anak dan ibu itu memilih mengalihkan tatapannya. Menatap sembarang, sebelum akhirnya matanya menatap sesosok gadis manis yang juga sedang menatapnya.
Dari jauh Sungjae bisa melihat jelas ada Hana yang sedang menatap mereka.
Meski dari kejauhan, Sungjae dapat melihat mata Hana berair. Tapi dari jauh pula Sungjae bisa melihat Hana mengulas senyum yang sangat lembut.
Mata Sungaje bahkan terpaku dengan senyum manis Hana yang selama ini disembunyikan. Tanpa sadar Sungjae membalas senyuman Hana.
Senyum seorang gadis yang selama ini ia ganggu namun akhir-akhir ini berhasil merebut hatinya.
Sungjae semakin sadar, ia menyukai gadis itu.
Ia menyukai Hana.