I Know I'M (Not) Perfect

I Know I'M (Not) Perfect
Episode 21



Mendengar pengakuan Umji, membuat emosi Hoseok semakin memuncak. Orang tua mana yang tak akan marah jika tahu anaknya di fitnah. Terlebih yang memfitnah adalah seorang laki-laki.


Dimana-mana laki-laki itu harusnya melindungi perempuan. Bukan membahayakan perempuan. Ya, seharusnya memang seperti itu.


Perubahan dunia serta cara bergaul manusia zaman sekarang mungkin bisa menjadi salah satu perubahan kodrat yang telah di tentukan dari sang pencipta. Yang seharusnya laki-laki melindungi, kini berubah menjadi melukai.


Hoseok meninggalkan Hana di rumah sakit. Menitipkan anaknya pada Taehyung, sementara dirinya datang kembali ke sekolah.


Sengaja hari ini Hana tak masuk sekolah untuk menemui Umji. Dan sengaja pula Hoseok membolos kerja demi menemani sang anak tercinta.


Bukannya Hoseok tak peduli dengan pekerjaan. Berhubung perusahaan adalah miliknya sendiri, jadi ia bebas mengambil cuti kapanpun yang ia mau.


Kaki jenjang berbalut celana bahan berwarna hitam dengan sepatu kulit berwarna senada itu berjalan semakin dalam memasuki area sekolah. Pandangannya menatap lurus ke depan. Mengabaikan tatapan siswa yang menatapnya kagum juga heran.


Semua siswa tahu bahwa Hoseok adalah ayah Hana. Mungkin semua siswa berani dengan Hana, namun berbeda jika berhadapan dengan Hoseok. Mereka justru lebih memilih diam atau melarikan diri.


Aura yang di pancarkan Hoseok sangat tajam dan kuat. Meski Hoseok terkenal baik dan ramah, berbeda kala ia sudah berhadapan dengan orang –orang yang menyakiti anaknya. Tak ada lagi kebaikan juga keramahan. Yang ada hanyalah Hoseok yang tegas, tajam, dan menakutkan.


Kaki itu sampai pada sebuah pintu yang sengaja ia tuju untuk datangi. Mengetuk pintu dengan lantang, setelahnya ia masuk kala mendapat izin dari sang punya ruangan.


“Ohh.” Namjoon sedikit terkejut, berdiri dari duduknya lalu membungkuk pada seorang ayah yang berdiri di ambang pintu. “Selamat siang, Tuan Jung.”


Hoseok menatap Namjoon tajam. Membalas sapaan Namjoon dengan ekspresi datar yang ia buat. Jika seperti ini, Hoseok benar-benar terlihat menakutkan.


Kadua pria dewasa itu duduk saling berseberangan setelah Namjoon mempersilahkan Hoseok untuk duduk. Keduanya terdiam dan saling pandang. Hoseok dengan aura wibawanya, dan Namjoon dengan aura kecerdasaannya.


“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” sebisa mungkin Namjoon mengabaikan aura negative yang dibawa Hoseok. Memilih tetap tenang karena ia bisa menebak alasan Hoseok datang menemuinya.


“Bebaskan putriku dari semua tuduhan.” Namjoon mengernyitkan keningnya bingung. “Putri ku tidak bersalah.” Bukan hanya Hoseok yang berkata seperti itu. “Ada siswa lain yang memakai nama putriku untuk menutupi kesalahannya.” Namjoon semakin mengernyit bingung.


“Maaf Tuan. Saat ini tersangka masih dalam penyelidikan pihak sekolah. Kami sudah berjanji pada orang tua korban untuk segera menuntaskan masalah ini.”


“Pelakunya satu kelas dengan putriku.”


Namjoon menghembuskan nafas pelan. Seolah perkataannya tak didengar dan di abaikan begitu saja. “Kami berjanji akan segera menuntaskan kasus ini. Kami juga berjanji akan menghukum pelakunya, dan membersihkan nama putri anda jika benar putri anda terbukti tidak bersalah.”


Mata Hoseok menatap tajam. “Pelakunya salah satu siswa laki-laki.”


Namjoon kembali menghembuskan nafasnya, “Tuan---,”


“Namanya Bambam.” Dan tuduhan itu sukses membuat Namjoon menelan kembali ucapannya.


Ia kenal Bambam. Laki-laki itu memang satu kelas dengan Hana. Teman dekat Sungjae. Yang membuatnya kaget adalah, disaat Sungjae dan siswa lain membully serta menganggu Hana, Bambam biasanya hanya diam. Tertawa karena kelakuan teman-temannya dan hanya menatap kelakuan teman-temannya.


Namjoon bahkan belum pernah melihat atau mendengar Bambam menyakiti Hana. Laki-laki itu hanya tertawa karena perbuatan temannya. Tidak pernah turun tangan untuk ikut menindas Hana.


“Tuan ma---,”


“Umji yang mengatakannya.”


Namjoon terdiam. Menatap curiga pada kedua manik Hoseok. Mencari titik bohong pada garis tatap pria itu. “Jangan menuduh tanpa bukti, Tuan. Kau bisa menghancurkan siswaku.”


Hoseok tersenyum mendengar perkataan Namjoon. “Lalu, apa Hana bukan siswamu? Kau serta siswa yang lain menuduh Hana sebagai pelaku padahal tidak ada bukti yang mengarah pada Hana. Jadi, mengapa kau bisa menyalahkan Hana tapi tak bisa menyalahkan Bambam? Sementara kita semua belum tahu siapa pelaku aslinya.”


Telak dengan ucapan Hoseok. Namjoon memilih bungkam. Namjoon memang terkenal sebagai guru yang cerdas. Namun bukankah dibalik kecerdasan seseorang terdapat orang lain lagi yang lebih cerdas?


Begitu pula dengan orang licik. Diantara ribuan orang licik yang berkumpul, akan ada satu orang yang jauh lebih licik untuk membunuh orang licik lainnya.


“Panggilkan Bambam. Tanyakan pada siswamu itu kebenarannya.”


“Tuan, Tapi??”


“Kenapa?” Untuk kedua kalinya Hoseok memotong ucapan Namjoon. “Kau tak mau memanggilnya?” Namjoon terdiam. Meski mata masih sanggup menatap, namun untuk saat ini sepertinya diam jauh lebih baik.


Bukan karena tak mampu menjawab. Terkadang diam bisa menjadi salah satu jawaban dari beberapa pertanyaan. Seperti saat merasa ragu, menahan dan mengontrol emosi, atau agar bisa membumbung tinggikan orang sombong.


“Kenapa kau tak mau memanggilnya?”


“Ini beda kasus Tuan,” Suara dibuat setenang mungkin. Hanya mata yang semakin menajam. Namjoon tahu menghadapi orang yang emosi, tidak dibalas dengan emosi pula. Namjoon sangat peka dengan wali murid yang sedang emosi karena kesalahan anaknya. Terlebih, ini bukan kesalahan yang bisa di kategorikan main-main.


Hoseok mengernyitkan dahinya. “Apanya yang berbeda?”


“Hana dicurigai karena Hana berada di lokasi saat kejadian. Sementara Bambam tidak ada disana saat itu.”


“Maaf Tuan, tapi kami harus tetap mencari bukti.”


Hoseok kembali tersenyum remeh. Sedikit mencondongkan badannya, membuat Namjoon menatapnya bingung. “Berapa banyak orang tua yang membayarmu, Tuan Namjoon yang terhormat?”


Namjoon menyipitkan matanya. Sedikit terkejut dengan ucapan Hoseok. “Apa maksud anda Tuan?”


Hoseok kembali mundur dan menegakkan duduknya. Menatap ke sembarang arah, seolah pemandangan lain jauh lebih indah dari pemandangan di depannya. “Aku baru tahu jika orang tua murid selalu memberi bingkisan pada guru demi menspesialkan anaknya.” Hoseok berdiri. Berjalan mengitari ruangan Namjoon. “Haruskah aku membayarmu sepuluh kali lipat agar kau bisa menjaga anakku?” Dahi Namjoon semakin berkerut.


Hoseok menghentikan langkahnya. Berdiri menghadap Namjoon dengan kedua tangan yang dimasukkan ke saku celana. “Panggilkan Bambam. Jika perlu panggilkan seluruh siswa. Aku akan menginterogasi mereka semua.”


Namjoon berdiri dari duduknya. Menatap Hoseok sambil melepas kacamatanya. “Jangan jadikan siswaku seperti penjahat kriminal, Tuan Jung yang terhormat.”


“Dan jangan jadikan anakku sebagai tersangka kriminal tanpa bukti yang jelas, Tuan Namjoon yang terhormat.”


Tangan Hoseok mengepal di dalam saku celana. Begitu pula Namjoon. Keduanya sama-sama terdiam dengan tatapan yang sama tajamnya. Namjoon yang tak terima anak didiknya di tuduh, dan Hoseok yang tak terima anak kandungnya di jadikan tersangka tanpa bukti.


Namjoon mengakui, memang beberapa guru ada yang di beri amplop demi menspesialkan siswanya. Hal ini tentu di luar pengetahuan pemilik sekaligus kepala sekolah. Jika tahu, mereka akan mendapatkan hal yang setimpal. Dikeluarkan tanpa hormat dari sekolah.


Sudah habis kesabaran Hoseok dengan lingkungan sekolah menjijikkan itu. Jika kasus ini selesai, dan terbukti Hana tak bersalah Hoseok sudah siap membawa Hana keluar dari sekolah terkutuk itu.


Hoseok berencana memindahkan Hana ke sekolah yang lebih bisa menghargai keberadaan anaknya. Buat apa bersekolah di tempat yang mewah dan mahal jika hanya merusak mental dan masa depan anaknya.


Belajar bisa dimana saja. Asal orang itu punya keinginan kuat untuk belajar. Tidak peduli bertempat mewah atau bertempat kumuh. Karena bersekolah di tempat mewah pun tak selamanya membawa nasib baik pada diri seseorang.


Jari Namjoon mengetik beberapa nomor dengan lincah. Tak menunggu waktu lama sampai panggilannya terhubung. “Panggilkan Bambam dari kelas 11X. suruh keruangan saya sekarang.” Setelahnya ia kembali menutup panggilan. Menatap Hoseok yang masih menampilkan wajah datarnya.


Bagaimanapun Hoseok harus bisa menyelesaikan permasalahan putrinya. Membuat semua orang yang terlibat segera meminta maaf pada putrinya. Memutus benang merah yang melilit di leher putrinya. Serta membuat putrinya kembali ceria seperti dulu.


***


Tak butuh lama setelah Namjoon menghubungi seseorang untuk memanggil Bambam. Siswa laki-laki itu sekarang berada di ruangan Namjoon dengan raut muka yang sulit diartikan.


Bambam duduk di depan Namjoon. Hoseok lebih memilih berdiri di samping sang guru. Mengamati raut wajah Bambam yang terlihat menunduk sejak kedatangannya ke ruangan Namjoon.


“Kau tahu aku?” masih dengan tatapan tajamnya. Hoseok menatap Bambam dengan ketus.


Bambam tak berani menatap balik Hoseok. Ia lebih memilih menunduk dan memilin ujung seragamnya. Tak menjawab walau hanya dengan gelengan.


Namjoon menghembuskan nafas kasar. Terlalu jengah dengan sikap Hoseok yang tidak sabaran. Bukan seperti ini memperlakukan anak-anak. Apalagi mereka dalam tahap pertumbuhan remaja. Belum menjadi dewasa. Emosi mereka masih belum stabil, jika salah pengucapan kata dan mereka salah mengartikan, bisa fatal akibatnya.


“Bambam, kamu tahu kenapa saya memanggilmu kesini?” masih terdiam meski itu pertanyaan dari Namjoon. “Hana dan ayahnya baru saja menjenguk Umji.” Mendengar nama Umji disebut, Bambam langsung menengadahkan kepalanya. Menatap Namjoon dengan mata sedikit membulat.


“Maaf harus mengatakan ini. Tapi, Umji mengatakan kalau ia jatuh dari lantai dua karena ulahmu.” Namjoon menjeda kalimatnya. Mengehembuskan nafas pelan sebelum ia melanjutkan ucapannya. “Bambam, apa benar itu kesalahanmu?” masih menatap Namjoon. Bambam tak memberikan jawaban kecuali matanya yang semakin membulat.


Namjoon dan Hosoek mengamati raut wajah Bambam. Mimik muka yang tadinya sulit diartikan itu, kini sedikit berubah. Keringat mulai terlihat di sekitar pelipis. Kedua tangan yang ada di bawah meja terlihat saling meremat satu sama lain.


“Bambam, tak apa. Katakan saja. Jika ia, kami akan membantumu menyelesaikan masalah ini.” Namjoon mencoba untuk menengahi. Ia tak mungkin langsung menuduh dan menghukum Bambam meskipun Umji telah memberi kesaksian.


“Hei nak. Coba katakan sesuatu, jangan jadi pengecut yang bersembunyi dibalik topeng orang lain.” Namjoon sontak menatap ke arah Hoseok. “Tuan, lebih baik anda menunggu di luar. Biar saya saja yang berbicara dengan Bambam.”


Hoseok tersenyum kecil dengan tatapan yang menatap sepatu hitam mengkilatnya. Setelahnya, lirikan tajam membuat Namjoon menghembuskan nafas perlahan. “Aku sendiri yang akan mengusut tuntas kasus ini. Jadi aku akan tetap berada di sini. Atau perlu ku panggilkan detektif agar sekolah ini semakin terkenal? Atau harus ku beberkan pada media tentang kasus pembullyan di sekolah sementara guru-gurunya hanya diam dan menjadi penonton?”


Telak untuk kedua kalinya. Namjoon memilih diam dan kembali menatap Bambam. “Katakan,” Ucapnya pasrah. Tak mau menyulut emosi Hoseok lebih lagi.


Bambam masih terdiam. Kakinya bergerak gelisah.


“Kenapa masih diam?” Hoseok berjalan mendekat. Duduk di samping kursi Bambam. Menatap laki-laki itu dari atas sampai bawah. “Kau kan sering menertawakan anakku saat anakku di ganggu. Kenapa tinggal menjawab iya dan tidak saja kau tak sanggup. Kau hanya perlu menjawab, jangan ketakutan seperti itu. Jika kau tak salah, lawan saja. Katakan dengan keras kau tak salah dan bukan kau pelakunya.”


“Tuan…”


“Katakan nak. Kau laki-laki kan, kenapa susah sekali mengaku. Jika bukan perbuatan mu kau hanya perlu mengatakan tidak.” Atmosfir di ruangan Namjoon semakin mencekam. Hoseok bahkan harus menahan tinjunya mati-matian agar tak melayang pada pipi remaja laki-laki di sampingnya. “Anakku saja yang berada di samping korban saat korban jatuh bisa mengatakan tak bersalah dengan lantang. Karena dia memang tak bersalah. Makanya dia berani berkata tidak.”


“Tuan, bisakah anda bersabar?” kali ini Namjoon sudah menipis kesabarannya untuk tak mengusir paksa wali dari Jung Hana tersebut.


“Diamlah jika kau tak punya anak dan belum merasakan menjadi seorang ayah!” Hoseok membentak dengan mata memerah nyalang. Bambam sedikit berjingkat. Menatap takut pada dua pria dewasa yang saat ini berada di samping dan depannya.


Namjoon pun lebih memilih diam dan mengepalkan tangannya. Memang benar ia belum menjadi seorang ayah, tapi tidak dengan emosi juga untuk menghadapi seorang anak. Entah anak itu bersalah atau tidak, akan lebih baik jika memberinya ucapan yang mampu mereka mengerti.


‘S-saem…” Bambam menatap Namjoon takut-takut. Kedua pria dewasa itu spontan menatap Bambam, menunggu jawaban yang akan di berikan Bambam. Setelahnya, keduanya sama-sama terkejut kala Bambam menceritakan kejadian aslinya.