I Know I'M (Not) Perfect

I Know I'M (Not) Perfect
Episode 34



Hana duduk di taman dekat rumahnya. Sesekali telapak tangannya saling mengusap untuk meredam dingin yang belum juga berganti.


Mata Hana menelisik sekitar. Mencari satu sosok yang sudah berjanji untuk duduk bercengkerama bersamanya di bangku taman dingin bawah pohon yang tertutupi salju.


Ingatannya kembali berputar pada percakapan dirinya dengan sang ayah tadi malam.


Mengenai perpindahannya ke Jepang. Salah satu tujuan yang sangat ia inginkan dari dulu, sebelum bertemu Yoongi.


Tanpa persetujuan Hana terlebih dahulu, diam-diam Hoseok sudah mendaftarkan Hana ke salah satu sekolah favorit di Jepang. Semua keperluan dan kebutuhannya pun juga telah selesai Hoseok persiapkan.


Hoseok bahkan tidak berkonsultasi atau setidaknya bertanya terlebih dahulu pada Hana. Semua Hoseok persiapkan sendiri tanpa bantuan Taehyung.


Secepat itu Hoseok mempersiapkan semuanya, demi membebaskan putrinya dari jerat bully kesedihan yang menimpa putri semata wayangnya selama ini.


Tinggal Hana menyiapkan diri untuk pindah dan kembali membuka lembaran baru di Jepang.


Terkadang, nasib takdir selalu membingungkan tiap makhluknya. Saat berharap menginginkan suatu hal, hal itu tak kunjung juga datang bahkan terpenuhi. Namun, saat sudah tak diinginkan, hal yang dulu pernah diidamkan datang dan terjadi begitu saja.


Dulu, Hana sangat berharap ayahnya mau berbaik hati memindahkannya. Pergi dari lingkungan sekolah menyeramkan itu, juga membuka lembaran baru berdua dengan sang ayah.


Siapa sangka, saat keinginannya itu terpenuhi dirinya sudah tak lagi menginginkan perpindahan.


Ada Yoongi sekarang. Yoongi bisa ia andalkan dan akan selalu menjaganya. Keduanya bahkan baru saja menginjak jalin lebih jauh dari hubungan pertemanan.


Kisah cinta mereka masih hangat, seperti baru terjadi semalam. Siapa sangka bahwa keduanya harus terpisah jarak karena nasib yang menimpa pada salah satunya.


Bisa saja Hana merengek memohon pada Hoseok agar tidak jadi memindahkannya. Yang disayangkan adalah, Hoseok terlanjur menyiapkan semuanya dan Hana tidak ingin menyakiti juga membebani pikiran ayahnya.


Hana tidak ingin ayahnya terlalu khawatir karena dirinya yang masih ingin sekolah disini. Tinggal satu tingkat lagi dan Hana dinyatakan lulus SMA. Sebentar lagi memang, namun kalau sudah menyangkut rasa kekhawatiran orang tua pada anaknya rasanya akan mustahil untuk menolak.


Semua berkas perpindahan telah selesai Hoseok garap. Besok, Hana tidak perlu lagi datang ke sekolah. Karena memang besoklah Hana sudah harus meninggalkan Korea dan berangkat ke Jepang.


Hana juga sudah mengabari teman-temannya. Tidak banyak yang Hana beri kabar, hanya Jimin ketua kelas yang selama ini membantunya, serta Umji yang semenjak kejadian kasus waktu itu kini menjadi temannya.


Hanya dua orang itu, mengingat memang tidak ada yang ingin berteman dengan Hana.


Jimin syok saat Hana memberi kabar tentang perpindahannya. Bahkan Jimin sempat memohon agar Hana tidak jadi pindah dan tetap menetap di Seoul. Sebuah keputusan yang sulit bagi Hana. Saat kehidupannya di Seoul mulai membaik dengan teman-teman yang sedikit demi sedikit mulai menyapanya, kini ia harus meninggalkan mereka semua.


Saat Hana tidak mempunyai siapa-siapa, sekalipun tidak ada kesempatan untuk Hana mengeluarkan isi hati tentang dirinya yang ingin pergi jauh dari Seoul. Kini, giliran dirinya mempunyai kesempatan untuk pergi, niat kepergiannya tertahan karena teman yang tiba-tiba menunjukkan kepeduliannya juga cinta yang selama ini tak pernah ia sangka.


Kekuatan takdir yang memang sehebat itu. Sekalipun kita berprasangka baik pada takdir, justru takdir lebih memperlihatkan sisi ketidak adilannya. Dan ketika semua dirasa adil, takdir justru menjauhkannya. Semain-main itu untuk alasan yang katanya ‘akan indah pada waktunya’.


Hana termenung menatap sekitar taman yang tertutup salju. Terlalu banyak kenangan disini. Terlalu banyak kenangan di Seoul. Dari dirinya yang lahir dan besar disini, semua kisah sedihnya, rasa rindu pada mendiang sang ibu, sampai perasaan kesepian yang selama ini menyelimutinya.


Akan ada hal indah setelah badai yang menghadang. Ya, kata itu sering sekali terlontar dari mulut mereka yang hampir putus asa namun masih mempunyai setitik semangat. Dan Hana percaya dengan kata itu.


Meski niat dan perasaan ingin pergi sudah tidak lagi ada, namun jika keinginan orang tua lebih kuat membawanya untuk segera pergi, Hana bisa apa?


Melawan? Kedengarannya mustahil.


“Melamun apa?” Suara yang terdengar sedikit serak masuk menyapa tanpa permisi. Hana diam sesaat. Menatap kakak tingkat yang sekarang berganti status menjadi kekasihnya. Min Yoongi, yang saat ini menatap ke arahnya dengan senyum tipis serta kedua tangan yang masuk pada saku mantelnya. “Menunggu lama ya? Maaf.” Lanjutnya kemudian ikut duduk di samping Hana.


Hana menggeleng pelan. Memberi tanda bahwa dirinya tak apa menunggu Yoongi. Permasalahannya, apa Yoongi mau menunggu Hana yang akan pergi ke Jepang? Atau Yoongi akan memutuskan hubungan mereka saat ini juga?


Hana memejamkan matanya. Mengais udara untuk mengisi paru-parunya serta mengeluarkannya perlahan.


Tangannya saling menggenggam menandakan dirinya gugup. Takut melihat reaksi Yoongi saat Hana jujur bahwa dirinya harus segera pergi.


“Sunbae,” Ucapnya. “Maaf aku banyak menyusahkan Sunbae.” Yoongi mengernyit kan dahi. Tertawa renyah sembari tangannya mengusak kepala Hana pelan. “Sudah ku bilang, berhenti bicara seperti itu. sampai kapanpun kau tidak menyusahkanku.” Ucapnya dengan senyum yang masih mengembang.


Hana meringis. Melihat senyum Yoongi yang akhir-akhir ini terus mengembang di bibir tipisnya. Hana mulai membayangkan jika Yoongi kecewa dan senyumannya akan hilang lalu kembali pada Yoongi yang datar dan ketus seperti sebelumnya.


Hana kembali mengais sisa oksigen di sekitarnya. Mengumpulkan keberanian untuk mengatakan nya pada Yoongi. Lebih baik dirinya mengatakan langsung daripada harus pergi tanpa pamit dan meninggalkan Yoongi begitu saja.


Hana tidak ingin membuat Yoonginya kecewa. Membuat laki-laki yang sudah disayangnya itu sendirian dan kecewa. Sungguh, Hana sama sekali tidak menginginkan itu.


“Sunbae,”


“Hmm..”


Tawa renyah terdengar dari bilah Yoongi. Tangannya kembali terulur mengusap pipi Hana yang memerah. “Hey.. kau kenapa? Katakan saja jika ingin mengatakan sesuatu.” Ucapnya masih dengan tangan yang mengelus perlahan.


“Emmm…” Hana tidak tega mengatakan semuanya pada Yoongi. Takut jika kekasihnya itu akan kecewa karena kepergiannya. Bagaimana jika nanti Yoongi tidak setuju dan marah padanya?


“Kenapa?”


“Emmm…”


Yoongi masih setia menunggu Hana berbicara. Tangannya masih mengusap pelan pipi gembul Hana.


“Maaf jika terkesan mendadak, tapi Sunbae..” Hana kembali diam, mengumpulkan keberaniannya. Menatap Yoongi yang mulai tidak lagi mengelus pipinya. Gerakannya terhenti meski tangannya masih menangkup pipi Hana.


“…Sunbae aku harus pergi.” Finalnya sambil memejamkan mata.


Yoongi menatap lurus ke arah Hana. Senyum yang sedari tadi mengembang di bibirnya, kini mulai memudar di gantikan dengan ekspresi datar seperti dulu.


Yoongi menurunkan tangannya dari pipi Hana. Menatap lekat kedua manik Hana hingga membuat Hana yang sudah membuka matanya menunduk takut.


“Kemana?” Tanyanya dengan nada suara yang datar dan dingin.


“J-Jepang.” Jawab Hana takut-takut.


“Kapan?” Hana ingin menangis. Perubahan sikap serta nada bicara Yoongi kentara sekali membuat dirinya menelan ludah susah payah.


“B-besok pagi Sunbae.” Jawabnya lagi.


Yoongi total mengalihkan tatapnya dari Hana. Tak lagi menatap seseorang yang akhir-akhir ini selalu ia puja. Tak lagi menatap kekasihnya yang masih berada di sampingnya.


“S-sunbae..” Ucap Hana takut-takut. “M-maaf aku baru memberi kabar Sunbae sekarang. A-ayah ku yang merencanakan dan mengurus semuanya.”  Hana menarik nafas dalam. “Aku juga tidak ingin pindah Sunbae, aku sudah membicarakan pada ayahku. Tapi ayah tetap memaksa da aku… Sunbae!”


Hana spontan berteriak dan berdiri.


Yoongi pergi begitu saja. Pergi meninggalkan dirinya yang bahkan belum selesai menjelaskan alasan ayahnya memindahkannya.


Air mata Hana mengalir. Dadanya terasa sangat nyeri. Hana sudah tau konsekwensinya sebelum ia mengatakannya pada Yoongi. Hana sudah tahu Yoongi akan marah. Tapi Hana tidak habis pikir Yoongi akan langsung pergi tanpa mendengarkan alasannya terlebih dahulu.


Hana ingin sekali egois. Sangat ingin bahkan. Tetap diam di Seoul sampai dirinya lulus SMA lalu akan kuliah ke Jepang seperti permintaan sang ayah. Hana ingin itu, tapi jika sang ayah sudah mempersiapkan semuanya, Hana bisa apalagi?


Hana bukan tipe anak pemberontak dan pembangkang. Hana sangat nurut, terlebih pada ayahnya. Hana tidak ingin membuat ayahnya khawatir terus menerus. Tidak ingin menolak permintaan orang tua satu-satunya itu.


Tapi Hana juga tidak bisa pergi begitu saja. Yoongi sudah banyak membantunya. Yoongi selalu menemaninya bahkan tanpa ia minta. Dan sekarang, Hana jelas tahu bagaimana kecewanya Yoongi saat tahu Hana akan pergi meninggalkannya.


Jarak Korea dan Jepang memang tidak begitu jauh. Tidak seperti jarak Kore dan New York dimana Jungkook berada. Meski tidak sejauh itu, tidak mungkin kan Yoongi akan setiap hari terbang ke Jepang demi menemui sang pujaan hati?


Yoongi juga bukan tipe laki-laki yang suka menjalin hubungan jarak jauh. Jarak hanya akan membuat sebuah hubungan terlalu banyak salah paham. Dan ketika ada sebuah masalah, akan sangat sulit menyelesaikannya. Begitu menurut Yoongi. Hanya orang-orang hebat yang bisa melalui hubungan dengan jarak yang memisahkan mereka.


Jika Hana di Korea, Yoongi akan dengan gampang menemuinya. Dan jika mereka terlibat perselisihan, mereka akan bisa menyelesaikannya dengan bertatap muka tanpa terganggu waktu dan tempat.


Belum lagi dengan gosip yang mungkin akan membuat hancurnya hubungan mereka. Siapa yang akan mengawasi Hana dari pasang mata laki-laki yang mengincar Hana?


Hana cantik, manis dan imut. Laki-laki mana yang tak akan jatuh hati padanya? Dekat dari jangkauan Yoongi saja Sungjae dan Jimin berani terang-terangan mengakui kalau mereka menyukai Hana. Bagaimana kalau jauh nanti?


Kalau Hana menangis siapa yang akan menghapus air mata Hana? Yoongi tidak sudi membagi miliknya dengan orang lain. Dan Yoongi tidak akan rela jika ada orang lain yang menghapus air mata Hana atau membuat Hana tersenyum. Hanya Yoongi yang boleh membuat Hana tersenyum. Hana milik Yoongi dan seterusnya akan menjadi milik Yoongi.


Yoongi menghentikan langkahnya. Mengepal kuat dengan mata terpejam menetralkan amarah. Hati dan fikirannya berperang. haruskah ia marah pada Hana? Tapi ini bukan keinginan Hana.


Sedikit tidak rela, Yoongi kembali berjalan mundur. Membalikkan badannya dan berlari kembali ke arah Hana. Memacu kecepatan langkah agar bisa berhadapan dan segera merengkuh tubuh gadis yang sangat di cintainya.


Namun, langkah Yoongi terhenti saat matanya menatap sebuah tubuh yang dengan telaten menepuk serta mengelus pelan punggung Hana.


Tangan Yoongi kembali terkepal. Matanya menyipit marah. Urat-urat di tangannya menyembul keluar, siap untuk melayangkan tinju pada seseorang yang dengan lancangnya berani mengusap pelan punggung Hana.


Baru di tinggal sebentar saja sudah ada orang lain yang sigap mengganti posisinya. Bagaimana jika lama?


Hana menangis, dan ada laki-laki lain yang menenangkan nya. Hal yang sangat di benci dan di khawatirkan Yoongi. Ada orang lain yang menghapus air mata kekasihnya serta menemaninya. Dan itu bukan dirinya.