I Know I'M (Not) Perfect

I Know I'M (Not) Perfect
Episode 27



“Berhenti mremas kertasnya. Kertas itu akan rusak jika kau remas seperti itu.”


Seokjin dan Yoongi sedang berada di ruang musik. Keduanya sedang asyik berbincang sebelum ponsel Seokjin bordering.


Tak banyak perbincangan yang ia lakukan dengan orang di seberang telepon. Dirinya bergegas menemui orang itu setelah mengetahui siapa dan apa tujuannya menelpon Seokjin.


Selesai menemui orang itu, Seokjin kembali masuk ke ruangan musik.


Menyerahkan dokumen lain yang langsung di baca Yoongi.


“Kau menyelidiki tanpa sepengetahuanku?”


Seokjin merotasikan mata malas. “Itu karena kamu yang lebih mendahulukan emosi daripada otak.” Berjalan mengambil sebuah gitar berwarna coklat, “Lain kali kalau ada masalah jangan gegabah. Emosi boleh, tapi tetap jangan sampai emosi kita salah sasaran.”


“Manusia kalau emosi pasti nggak akan bisa berfikir jernih.”


“Aku tahu.” Meletakkan kembali gitar yang semula ia pegang, lalu menatap sahabatnya dengan tangan yang saling menumpu.”Tapi jika tidak kau kendalikan, emosi mu juga bisa melukai Hana. Kau tidak ingin Hana semakin terluka bukan?”


Membalas tatapan sahabatnya, Yoongi membenarkan perkataan Seokjin. Terekadang, dirinya menyesal karena lebih mendahulukan emosi. Tapi terkadang, ia berfikir manusia seperti mereka pantas menerima luapan emosi nya.


“Aku akan menemui Bambam.”


Seokjin menaikkan alisnya. “Kau tidak mengajakku?” tanyanya.


“Untuk apa?”


Tertawa remeh, Seokjin berjalan menghampiri Yoongi. “Hei bung, berterimakasihlah pada temanmu ini karena sudah membantu mu. Kalau aku tidak ada, siapa yang akan menjadi pawang emosimu?” Setelahnya berlalu berjalan mendahului Yoongi.


Yoongi tersenyum tipis. Sahabatnya itu selalu mengerti tentang dirinya. Kadang Yoongi bingung, bagaimana bisa Seokjin begitu mengenal dirinya, sementara dirinya sendiri tak pernah memahami Seokjin.


Dimantapkannya langkah untuk menemui Bambam. Laki-laki yang telah membuat kekacauan menjadai dua kali lebih kacau.


Mata awas menatap kanan dan kiri. Mencari satu sosok yang membuatnya mengepalkan tangan dengan emosi yang mendalam.


Jika hari ini Yoongi benar-benar melambaikan tinjunya pada seseorang, maka ia akan mengingkari janjinya pada ayahnya demi membela seorang gadis yang sangat dicintainya.


Bukan bermaksud menjadi anak pembangkang juga anak yang ingkar pada janji orang tua. Hanya saja, Yoongi ingin memberikan pelajaran bagi mereka yang sudah mengusik miliknya.


Tak peduli jabatan apa yang dimiliki orang tua dari si korban terpukul, Yoongi tak takut jika disuruh adu harta demi membela miliknya.


Berjanji untuk bersikap baik pada semua orang di sekolahan, bukan sekali tipe Yoongi. Lebih memilih menutup diri dan berteman dengan satu orang diantara banyak nya orang yang ingin berteman dengannya.


Yoongi bukanlah orang yang bisa dengan gamblang menunjukan sisi perhatiannya. Ucapan serta perkataan yang terlontar dari bibir tipisnya, kadang kala membuat orang yang tak sepemikiran dengannya menjadi sakit hati.


Alih-alih malas meladeni banyaknya permintaan maaf serta penuturan kejelasan dari setiap kata tajamnya, Yoongi lebih nyaman berbaur dengan Seokjin yang sudah menjadi temannya sedari SMP.


“Itu Bambam bukan?” Tunjuk Seokjin pada salah satu siswa yang berdiri di antara dua orang siswi.


Mata Yoongi sedikit menyipit. Menatap nyalang bukan hanya pada Bambam, tetapi pada salah satu siswi yang berdiri di samping Bambam. “Kenapa dia disana?” tanyanya.


Seokjin menatap satu siswi yang di maksud Yoongi, “Ohh..” katanya, “Bukannya adikmu juga menjadi salah satu tersangka?”


Mata Yoongi beralih menatap Seokjin. “Dia bukan tersangka. Dia hanya bodoh karena salah bergaul.”


“Ohh wow.. lihatlah, kau mulai perhatian dengan adikmu? Sejak kapan?” Tanya Seokjin sedikit, heboh.


Mengabaikan pertanyaan Seokjin, Yoongi kembali melanjutkan langkahnya menemui Bambam.


Contohnya, ia masih bisa menerima orang yang selama ini di elu-elukan sebagai “adik” itu untuk terus berada di bawah pengawasan keluarganya.


Langkah Yoongi memelan, seiring dengan mata Bambam yang menatapnya kaget. Satu tangan masuk ke saku celana. Tatapan tak teralih meski disekitarnya ada gadis cantik yang menatapnya penuh penasaran.


Satu tangan di luar saku mengepal kuat. Urat terlihat meski tak langsung ia layangkan pada laki-laki di depannya.


“Masih berani muncul di sekolah?” tanyanya dengan satu bibir melengking ke atas. “Aku kira, kau sudah tak punya nyali.” Lanjutnya dengan mengibas satu kaki ke tanah.


“S-sunbae?” Ucapan Bambam sedikit terbata. Meskipun ia sering mengganggu siswa lemah, tapi jika sudah berhadapan dengan Yoongi laki-laki itu akan gugup dan terlihat ketakutan. Alasanya simple, Yoongi anak dari pemilik sekolah. Semua akan tunduk di bawah kekuasaan ayahnya. Segampang itu, membuat anak nakal luluh di hadapan Yoongi.


“Kenapa?” Pertanyan ringan, namun tegukan air liur terdengar nyaring syarat akan gugup. “Kau mau mencoba menjadi kriminal dini?”


“S-sunbae?” Ulangnya.


“Kenapa?!!” Daripada mengotori tangannya dengan memukul Bambam, Yoongi lebih memilih mengotori tenggorokannya dengan berteriak lantang pada Bambam. Tangannya masih tersimpan di samping kanan dan kiri badannya. Menunggu aba-aba perintah sebelum melayang bebas.


“Sunbae, sudah. Lebih baik kau kembali.”


“Kembali? Kenapa?” Tanya Yoongi yang ikut menyeringai tajam. Raut wajah Joy mulai gugup.


“Hey, Joy dengar aku.” Lirikan tajam tepat mengenai netra Joy. “Tak peduli apa status mu, atau apa status kita. Kau bersalah, dan aku juga akan memasukkan nama mu pada daftar orang-orang yang bersalah.”


“Status?” Satu suara menginterupsi. “Status apa?”


Seokjin mendekat. Maju satu langkah membuat tubuh tingginya sejajar dengan tubuh Yoongi. “Ku kira kau temannya. Tapi kenapa kau tidak tahu hubungan Yoongi dan Joy?” muka dibuat memelas. Mata terpancar prihatin. “Ahh.. mungkin kau hanya teman dalam status, tapi tidak dalam hubungan.” Kepala menggeleng pelan, “aku turut prihatin.” Ejeknya.


“Joy? Bisa kau jelaskan?” Tanya Jisoo, namun Joy hanya menunduk tanpa berniat menjawab pertanyaan Jisoo.


“Joy!” Bentakan Jisoo membuat Joy sedikit tersentak. Bambam pun turut tak mengerti atas situasi yang terjadi.


“Berhenti membentak dan berhenti bertanya.” Yoongi kembali melangkah pelan mendekati Bambam hingga tubuh mereka hanya berjarak 2 jengkal kaki orang dewasa. “Aku datang kesini untuk memberitahu laki-laki ini.” Sinisnya pada Bambam.


“Kejahatan yang kau tutupi atas nama orang lain, hasilnya akan percuma. Kau bisa membodohi seluruh siswa sekolah ini, tapi kau tidak akan bisa membohongi kami terutama ayahku. Kau terlalu menyepelekan kecanggihan zaman dengan alih-alih menutupi kejahatan dengan fitnah. Kau terlalu bodoh untuk menutupi bangkai yang aroma busuknya sudah menguar dan meluas. Kau terlalu bodoh menutupi sebuah kasus hanya dengan mengandalkan ide gila saat kau tertekan karena ketakutan. Kau..” maju satu langkah membuat Bambam menunduk semakin dalam.


“… berani memfitnah Hanaku dan Jisoo demi menutupi perbuatan kejimu. Kau yang berbuat maka kau yang harus tanggung jawab. Jika kau berani kabur, kupastikan hidupmu tidak akan tenang sampai nafas terakhirmu.”


Sedikit merinding mendengar penuturan Yoongi. Memang beda jika yang berujar adalah manusia bermulut bisa sepertinya. Namun, keadilan tetaplah keadilan.


Meskipun timbunan nominal serta elakan bukti palsu mampu menutupi bangkai kesalahan, akan ada saat dimana kesalahan itu terungkap.


Jika pun bangkai kejahatan mampu tertutupi sebanyak umur yang tersisa. Percayalah, hidup sang penjahat tak akan tenang separuh dari umur nya yang tersisa.


“Maksutmu?” Tanya Jisoo dengan mata yang berkaca-kaca.


“Bambam pelaku aslinya. Kau bisa membantah sebanyak yang kau mau. Jangan takut, kita akan membantumu.” Ucap Seokjin menatap kedua manik Jisoo.


“Aku tak menyuruhmu berubah atau apapun. Karena aku tidak melakukan ini semua untukmu. Tapi aku melakukan ini semua untuk Hanaku.” Lanjut Yoongi melanjutkan ucapan Seokjin.


“Dan kau..” beralih mendekat menatap Joy yang masih menunduk. “Masih bagus aku tak mengusirmu. Berhenti bertingkah, dan akui kesalahanmu. Ayah akan sangat kecewa jika tahu putri tirinya kejam dan licik seperti ini.”


Memandang ketiga orang dihadapannya yang masih bungkam, Yoongi mengelus pelan pundak Joy sebelum menginggalkan ketiganya.


“Aku kira, satu diantara kalian akan mendapat elusan tajam dari tangan Yoongi.” Sindir Seokjin, “Berbahagialah, karena tak di pukul oleh laki-laki dingin itu.” Lanjutnya sebelum mengikuti langkah Yoongi meninggalkan ketiganya.