
“Jisoo!!”
Joy berlari kecil menghampiri Jisoo. Sementara gadis yang di panggil hanya merotasi matanya malas. Sudah menjadi kebiasaan mereka pulang sekolah bersama. Entah Jisoo yang mengantar Joy, atau Joy yang mengantar Jisoo.
Hanya saja akhir-akhir ini Jisoo jarang pulang bersama Joy. Menumpang pada Joy pun juga Jisoo sudah sangat jarang.
“Ada apa?” Tanya Jisoo malas.
Joy mengerucutkan bibirnya. Hari ini Namjoon Ssaem terlalu banyak memberi mereka tugas. Salah mereka sendiri sebenarnya karena sibuk mengobrol saat Namjoon Ssaem menerangkan.
Tugas full berbahasa asing yang harus mereka kerjakan sebelum bell sekolah berbunyi. Salah satu tugas yang membuat beberapa orang memilih tidur atau bermain game.
“Kau pulang sekarang? Bagaimana kalau kita main dulu?”
Jisoo menghentikan langkahnya. Menatap kebawah pada lantai marmer berwarna putih. Tatapannya kosong beberapa detik, sampai Joy menepuk pelan lengannya.
“Jisoo! Kau dengar aku kan?”
“E-ehh. Kau bicara apa tadi?”
“Kau ini! Kau kenapa? Sakit?” Jisoo menggeleng pelan. Melepas tangan Joy yang bertengger di lengannya. “Katakan sekali lagi.” Pintanya.
“Aku bilang, hari ini ada peluncuran tas baru, The Row Alligator Skin Backpack.” Joy kembali melangkah dan diikuti Jisoo disampingnya.
Jisoo mendengarkan penuturan Joy dengan seksama. Sesekali matanya membulat mendengar semua yang dikatakan Joy tentang merk tas yang baru saja di luncurkan.
Salah satu backpack yang di desain oleh si kembar Mary-Kate dan Ashley Olsen berwarna hitam mewah dan terbuat dari kulit black alligator. Setiap detail jahitan dan desain backpack dibuat menggunakan tangan. Harganya sudah otomatis mahal. Satu tasnya dijual dengan harga kurang lebih sekitar US$39.000.
Jisoo kembali menghentikan langkahnya kala ia mendengar betapa mahal dan mewahnya tas yang akan di beli Joy. “Kau yakin mau membelinya? Itu terlalu mahal untuk anak sekolah seperti kita.”
“Ohh ayolah Jisoo. Bukannya kau suka barang mahal? Lagipula, membeli satu tas itu tidak akan membuat orang tua mu bangkrut seketika.”
Jisoo menatap Joy sebelum bibirnya mengulas sebuah senyum cerah. “Call!! Kita beli.” Ucapnya girang.
Joy menanggapi dengan antusias yang sangat luar biasa. Bagi mereka, menghabiskan uang dengan membeli barang mewah sudah menjadi hal biasa. Ada kepusaan tersendiri saat mereka berjalan dengan barang-barang mewah yang menempel pada tubuh mereka.
***
Jisoo berjalan lesu. Hari ini ia lumayan lelah meski sekedar menemani Joy berkeliling pusat perbelanjaan. Bukan karena ia lelah berkeliling, alasannya karena ia tak bisa membeli setiap barang mahal yang menghipnotis matanya. Jisoo menginginkan itu. Barang mewah yang menggoda serta tas mewah seperti yang di beli Joy.
Hal lumrah jika wanita menginginkan barang yang berkilau dan juga mewah. Berlian, permata, mutiara dan sejenisnya pasti akan menggoda setiap mata wanita. Hanya saja, satu yang Jisoo lupakan. Ia seolah lupa dengan taraf hidupnya sekarang.
Gadis itu menaiki tangga satu persatu. Sesekali menatap kelangit, memejam dan menghembuskan nafas pelan. Cuaca semakin dingin. Mantel yang ia kenakan bahkan tak bisa menghalau dari rasa dingin yang memeluk tubuhnya.
Kaki jenjangnya terus menelusuri setiap anak tangga yang akan membawanya pada sebuah rumah yang sekarang ia tinggali bersama ibunya. Sebuah rumah yang jauh dari kata “mewah”.
Cklekk…
“Aku pulang…” ucapnya dengan nada lesu. Satu tangan kirinya menenteng paper bag kecil buah tangan dari pusat perbelanjaan. Satu tangannya lagi mendorong pelan pintu kayu berlapis cat putih. Matanya mengedar ke segala ruangan. Mencari satu sosok yang berhasil ia temukan sedang berbaring di atas kasur.
“Aku pulang.” Ucapnya sekali lagi pada wanita paruh baya yang menggigil kedinginan di atas kasur.
Jisoo meletakkan tas sekolah juga papper bag nya si atas meja kecil samping kasur. Melepas mantel hitamnya, lalu menggantungnya pada gantungan baju di belakang pintu. Melepas sepatu juga kaus kaki, lalu duduk bersila menghadap seorang wanita paruh baya yang masih menggigil.
“Kau kenapa?” tanyanya. Tidak ada nada khawatir pada pertanyaannya. Hanya pertanyaan biasa untuk sekedar berbasa basi.
“Aku sudah makan. Buat mu saja. Biar kau cepat sembuh dan bisa bekerja lagi.” Ucapnya ketus setelahnya beranjak masuk ke kamar mandi untuk sekedar membersihkan diri dan berganti baju.
“Nak, ibu mau bicara.” Langkah Jisoo terhenti. Membalik badannya lalu duduk di atas kursi kecil.
“Apa?” jawaban judes dengan ekspresi datar kembali ia berikan. Namun, wanita paruh baya itu tetap tersenyum.
“Ibu sudah dapat pekerjaan. Besok, ibu bisa mulai bekerja. Jika ibu pulang larut, kau langsung saja makan dan tidur. Jangan tunggu ibu ya nak.” Senyum masih terpatri di bibir pucatnya. Tak luntur walau sang anak membalasnya dengan ekspresi datar dan judes.
“Baguslah. Kumpulin uang yang banyak. Aku nggak mau hidup susah lama-lama.” Jisoo berdiri. Menuang segelas air putih lalu di tenggaknya hingga tuntas. “Ohh iya. Ada tas keluaran terbaru. Joy tadi membelinya. Dan aku mau ibu membelikanku tas itu.”
“Tas apa? Tas sekolahmu masih bagus nak. Jangan hidup boros. Kita harus bisa hidup prihatin mulai sekarang,” pintanya pada anak semata wayangnya.
“Prihatin?” Jisoo tersenyum remeh. “Ibu saja yang hidup prihatin. Jangan ajak-ajak aku. Aku harus tetap melanjutkan hidup mewahku seperti dulu.”
“Nak,”
“Ibu tahu nggak sih?! Aku kecewa sama ibu. Kecewa sama ayah. Kenapa sih harus bangkrut?! Kenapa ayah harus punya banyak hutang? Kenapa ayah harus mati dan meninggalkan kita dengan segudang hutang pada rentenir?!!” Jisoo berteriak lantang pada ibunya. Sang ibu hanya bisa memejam dengan air mata yang mulai keluar dari mata indahnya.
“Ibu tahu nggak?! Aku tuh malu!! Aku malu jika sampai anak-anak sekolah tahu kalau kita sudah bangkrut!! Ditambah ayah mati bunuh diri!! Mau dikata apa aku disekolah bu??!!!”
“Ibu tahu? Tadi waktu aku pergi dengan Joy, dia banyak memamerkan barang mewahnya padaku. Aku ingin itu bu. Aku ingin kehidupanku kembali seperti dulu!!”
“Jisoo!! Berhenti nak. Jangan bicara seperti itu. Ayahmu sudah tenang.” Air mata masih meleleh di pipi keriput sang ibu.
“Tenang? Hahaha tenang???” Gadis itu berjalan ke arah ibunya. Kedua tangannya bersedekap di depan dada. Senyum miring masih terlukis indah di bibirnya. “Iya! Dia tenang karena dia lebih milih mati! Sementara kita susah disini!!”
“Aku tidak bisa membayangkan jika semua orang tahu keadaanku yang sekarang. Orang tua bangkrut. Ayah bunuh diri. Hutang dimana-mana. Dan terlebih, anak dari seorang KORUPTOR!! Menjijikkan.”
Plakk…
Tidak ada niat menyakiti dari seorang ibu pada anaknya. Tidak ada niat jahat dari seorang ibu untuk anaknya. Semua terjadi karena reflex yang menekan mentalnya. Seperti saat ini, ibu Jisoo yang merutuki kesalahannya karena menampar anak kesayangannya. Tapi kembali lagi. Kekurang ajaran seorang anak pada ibu, pantas untuk di tegur. Bahkan jika perlu di pukul agar membuatnya tersadar.
“Jangan pernah bicara seperti itu! Ayahmu korupsi dan berhutang untuk memenuhi kehidupan dan keinginan mewahmu. Jika kau tak meminta segala hal yang mewah, ayahmu tidak akan korupsi!!” sebuah bentakan setelah satu tamparan Jisoo dapatkan untuk pertama kalinya dari ibu yang telah melahirkannya.
Mata Jisoo memerah. Tangan kirinya mengepal selagi tangan kanan nya mengelus sakit pada pipi yang menjadi bahan sasaran kemarahan ibunya.
“Ohh.. jadi ibu menyelahkanku? Kemiskinan, kebangkrutan, juga meninggalnya ayah karena kesalahanku? IYA?!! IBU MENYALAHKANKU?!” satu yang harus kita tahu. Jika orang tua marah, harusnya kita meminta maaf dan berjanji tidak mengulanginya. Bukan membalas mencaci dari cacian yang diberikannya.
“Jisoo, nak. Maafkan ibu. Bukan itu maksud ibu nak.”
“Aku benci sama ibu! Aku benci kita bangkrut! Aku benci hidup susah!!!”
Jisoo mengambil mantelnya dengan kasar. Membanting pintu dan keluar dari rumah meninggalkan ibunya yang berteriak memohon agar anaknya kembali pulang dan mendengarkan penjelasannya.
Sepeninggal Jisoo, tubuh kurus sang ibu merosot ke lantai. Pundaknya naik turun karena menangis. Air mata bahkan tak sanggup lagi untuk terjun keluar. Bibir pucat tak henti-hentinya menggumam kata maaf juga memanggil nama anaknya.
Maaf karena ia tak sanggup membahagiakan anaknya. Maaf karena ia tak bisa menuruti keinginan anaknya. Maaf karena ia tak bisa mengembalikan kehidupan mewah anaknya. Sang ibu memukul dadanya yang terasa sesak.
Kehidupan inipun bukan ia yang minta. Sekuat tenaga ia mempertahankan perusahaan dengan sang suami. Kehidupan yang selalu bergelimang harta. Apapun yang Jisoo inginkan akan sanggup ia dan suami berikan.
Namun kenyataan takdir selalu bisa merubah jalan kehidupan manusia. Tidak selamanya manusia yang kaya akan terus kaya. Ada saat dimana ia akan menjadi miskin. Mungkin bukan miskin harta, tetapi bisa karna miskin ilmu juga miskin kasih sayang.