I Know I'M (Not) Perfect

I Know I'M (Not) Perfect
Episode 31



Di depan pintu masuk sebuah taman bermain, Yoongi berdiri dengan senyum yang terpatri di wajahnya. Dirinya mengingat kembali saat mencium Hana di ruang musik. Ciuman yang ia berikan untuk gadis yang telah berhasil merebut seluruh atensi hati dan fikirannya.


Ia bahkan mengingat bagaimana merahnya wajah Hana setelah mendapat ciuman pertama dari Yoongi.


Hanya memikirkan Hana seperti itu saja sudah membuat Yoongi ingin gila. Rasanya, Hana benar-benar berpengaruh untuk hidupnya saat ini.


Jika boleh egois, Yoongi ingin sekaali menjadikan Hana miliknya. Namun kembali, Yoongi ingin membuat Hana nyaman dengan keberadaannya terlebih dahulu. Ia tidak ingin gegabah. Padahal hatinya sudah memerintahkan untuk mengungkapkan perasaannya.


Lalu, apakah Yoongi akan berani mengungkapkannya sekarang?


“Sunbae?”


Yoongi terkejut dari lamunannya. Di tatapnya seorang gadis yang kini berdiri menatapnya.


Rambut panjang sedikit ikal,baju hangat berwarna cream. Syal coklat menggantung indah di leher. Tas ransel kecil tersampir di pundak kiri. Pipi memerah karena kedinginan. Sungguh Yoongi ingin berucap…


“Cantik.” Ucapnya tanpa sadar.


“Sunbae sakit?” Tanya Hana dengan wajah polos dan tangan yang mengibas-ngibas di depan Yoongi.


Yoongi tersadar lalu berdehem gugup. Matanya liar menatap sembarang arah. Suhu tubuh tiba-tiba meningkat disekitarnya. Yoongi salah tingkah.


“Sunbae tidak apa-apa?” Tanya Hana lagi.


“O-ohh tidak. Aku baik kok.” Jawabnya lalu tertawa canggung.


Hana tersenyum melihat Yoongi. Ia tahu kalau kakak tingkat di depannya ini sedang grogi dan salah tingkah.


“Mau masuk sekarang?” Tawar Yoongi.


Mata Hana mengedar. Menatap taman bermain yang sepi. Ini musim dingin, wajar jika orang-orang tidak banyak datang.


“Tapi sepi Sunbae.” Yoongi mengikuti arah tatap Hana. “Ya memang. Terus kenapa kalau sepi?”


Hana menatap Yoongi. Matanya bahkan membulat. Yoongi pun membalas tatapan Hana dengan bingung. Setelahnya dirinya tertawa pelan. “Tenang saja. Aku tidak akan mencium mu lagi.”


Hana spontan memukul lengan Yoongi.


Yoongi mengaduh pelan. Mengusak pelan rambut Hana, setelahnya menarik tangan Hana untuk masuk bersama-sama.


Keduanya berjalan mengelilingi taman bermain yang sepi.


Jejak salju tidak banyak bercecer. Mungkin sudah di bersihkan oleh petugas kebersihan tadi pagi. Ini beruntung, jadi mereka tidak terlalu kesusahan berjalan di atas tumpukan salju.


Keduanya pun masih saling diam dengan tangan yang masih bertautan. Sesekali keduanya tersenyum. Menikmati udara dingin di sekitar taman bermain, dan menikmati kebersamaan keduanya yang jarang mereka dapatkan.


“Sunbae kenapa mengajak ku kesini?” Tanya Hana memecah keheningan.


Yoongi berdehem pelan sebelum menjawab pertanyaan Hana. “Hanya ingin.” Jawabnya singkat.


Jika boleh jujur, berjalan dengan bergandengan tangan bersama Hana tidak pernah sekalipun terbayang dalam fikirannya.


Meski di sekolah Yoongi sering menarik tangan Hana sembarangan, tapi kali ini rasanya benar-benar berbeda.


Dirinya bisa leluasa menautkan tangan tanpa perlawanan dari Hana. Tanpa ada orang yang menatap mereka. Tanpa Seokjin yang tiba-tiba datang mengganggu mereka.


Jika boleh, Yoongi ingin seperti ini seterusya. Berjalan berdua dengan Hana tanpa ada gangguan atau perasaan cemas sama sekali.


“Semuanya berakhir Han.” Ucap Yoongi. “Semua bullying yang menimpamu benar-benar berakhir.” Hana tersenyum menanggapi ucapan Yoongi.


“Semua berkat Sunbae. Terimakasih sudah mau berdiri di sampingku dan mengulurkan tangan saat aku benar-benar lelah.”


Yoongi tersenyum mendengar perkataan Hana. “Kalau boleh jujur, kamu tidak pantas mendapatkan semuanya Han.”


“Musibah tidak memandang pantas atau tidaknya Sunbae. Semua orang pasti mendapat musibah. Tidak terkecuali aku ataupun Sunbae.”


Dahi Yongi berkerut. “Bullying kok musibah.” Ucapnya lirih.


“Kenapa Sunbae?”


“A-ahh tidak. Aku tidak bicara apapun.” Yoongi mengelak.


Hana terkekeh geli melihat tingkah Yoongi. Sungguh menggemaskan.


Yoongi melirik ke kanan ke kiri. Mencoba mencari percakapan yang bisa menghentikan aksi canggung di antara keduanya. “Kau pernah punya pacar Han?” Namun, pertanyaan Yoongi justru membuat Hana membelalakkan matanya kaget.


“Sunbae pernah bertanya seperti ini sebelumnya.” Elak Hana. “Kalau Sunbae pernah punya pacar?” Dan Yoongi menggeleng sebagai jawaban.


“Pacaran hanya membuatku merasa kesepian.” Ucapnya membuat Hana menatap Yoongi bingung.


“Kenapa begitu?”


Yoongi menatap salju yang turun dari langit. Bola matanya memutar seperti berfikir. Kemudian langkahnya berhenti.


Hana spontan ikut berhenti. Menatap kakak tingkat yang sekarang juga menatapnya.


“Begini.” Ucap Yoongi memulai penjelasannya. “Kalau pacaran, semua atensi kita akan jatuh di pacar kita. Semuanya. Nah, kalau pacar kita sibuk karena sesuatu hal, otomatis kita akan kesepian. Jadi pacaran membuat kita kesepian. Ya.. seperti itu. Kamu mengerti?”


Hana mengerutkan kening bingung. Dari awal pertemuan mereka sampai sekarang, Hana belum bisa mengerti jalan berfikirnya Yoongi. Laki-laki itu terlalu unik untuk dimengerti.


“Tapi kan Sunbae masih ada teman untuk berbagi kalau pacar Sunbae sedang sibuk.” Balas Hana.


Bola mata Yoongi berputar kembali. “Iya juga sih.”


Mulut Hana terbuka kecil. Kaget dengan jawaban Yoongi. Serta kaget dengan ekspresi mengesalkan di wajah Yoongi. Buru-buru Hana memukul lengan Yoongi, lagi. “Sunbae tidak jelas.” Ucapnya dengan bibir yang maju beberapa senti.


Yoongi terkekeh melihat tingkah Hana.


Dirinya memang belum pernah berpacaran. Menyukai seseorang saja baru Hana. Sama sekali belum ada yang memasuki kehidupannya selain Hana. Dan hanya Hana yang berhasil mengetuk hatinya yang kaku.


Hal itu pula yang membuat Yoongi sigap melindungi Hana dari semua perlakuan buruk orang-orang yang menyakiti Hana.


Karena Hana lah yang berhasil meruntuhkan hatinya yang kaku dan membeku semenjak kepergian ibunya dulu.


Yoongi bahkan tidak tahu sejak kapan dirinya menyukai Hana. Perasaan takut kehilangan dan perasaan ingin melindungi tumbuh begitu saja seiring dirinya sering bersama Hana.


“Kalau kamu? Apa kamu pernah menyukai seseorang?” sedikit was-was Yoongi menanyakan hal itu pada Hana. Takut jawaban Hana menyakiti hatinya. Namun apa boleh buat, pertanyaan itu terlanjur meluncur begitu saja dari bibirnya.


“Pernah.”


Dan benar, mendengar jawaban Hana berusan membuat Yoongi langsung menekuk wajahnya.


Dirinya terlalu percaya diri bahwa Hana menyukainya sama sepertinya. Baahkan Yoongi terlalu percaya diri bahwa Hana tidak berinteraksi dengan laki-laki lain selain dirinya. Benar-benar sebuah ironi tragis yang menimpa kepercayaan diri seorang Min Yoongi.


“Sunbae kenapa?” Tanya Hana setelah mmengetahui raut wajah Yoongi yang berubah sendu.


“Memangnya aku kenapa?” Jawab Yoongi sinis. Membuat Hana semakin mengerutkan dahinya. “E-ekhemm.” Dehemnya. “Ngomong-ngomong siapa laki-laki yang kamu suka?” Tanya Yoongi penasaran.


Yoongi masih berharap jika jawaban Hana adalah dirinya. Min Yoongi. Dirinya berharap Hana mengatakan satu nama itu.


“Jungkook Sunbae.” Dan setelah Hana mengatakan satu nama itu, Yoongi melepaskan tautan tangannya dari tangan Hana lalu mempercepat langkahnya meninggalkan Hana di belakang.


“Sunbae tunggu!” Teriak Hana lalu berlari mengejar Yoongi.


Bukannya berhenti atau menunggu Hana, Yoongi justru ikut berlari semakin menjauh.


“Sunbae kalau berlari lagi aku pulang.” Ancam Hana yang sukses membuat Yoongi menghentikan langkahnya. Berbalik lalu menatap Hana yang berdiri dengan naafas tersenggal.


Dengan setengah hati, Yoongi berbalik menghampiri Hana. Mengulurkan tangan lalu menggenggamnya erat.


“Kenapa suka sama Jungkuuk?” Tanya Yoongi dengan raut wajah datar.


“Namanya Jungkook, bukan jungkuuk.”


“Terserah.”


Hana menatap Yoongi heran. Kenapa lagi dengan kakak tingkat nya satu ini?


Hana menyenderkan tubuhnya pada besi pembatas. Kakinya memainkan salju yang berserakan di sekitar sepatunnya. “Jungkook Sunbae temanku waktu kecil. Dia satu-satunya temanku saat itu. Aku tidak punya teman lagi selain dia.” Hana mulai menceritakan kisahnya denganJungkook. Dan Yoongi dengan setengah hati mendengarkan kisah cinta dari gadis yang dicintainya itu.


Pelan-pelan Hana menceritakan masa lalunya dengan Jungkook. Sesekali Hana tersenyum mengingat bagaimana baiknya seorang Jeon Jungkook.


Samar-samar Yoongi merasakan hatinya semakin sakit.


Mendengar cerita Hana, membuat wajah Yoongi semakin masam. Yoongi bahkan membandingkan dirinya dengan Jungkook.


Jungkook baik, dan Yoongi merasa dirinya juga baik. Tapi, Jungkook hangat sementara dirinya dingin. Jungkook mudah tersenyum, sementara dirinya hanya… hanya ekspresi datar yang terus di tampakkan hampir setiap hari. Jungkook pintar bernyanyi, sementara dirinya?


Setiap ia bernyanyi dirumah, ayahnya akan protes karena nada yang ia keluarkan selalu sumbang. Semua nadanya Do. Dirinya bahkan bingung, kenapa ia yang cerdas membuat musik namun sangat buruk dalam beryanyi.


Menyebalkan. Untuk Yoongi.


“Apa kau masih menyukainya sampai sekarang?” Hana menoleh ke samping. Menatap Yoongi yang juga menatapnya sedari tadi. “Kau sangat bahagia menceritakan tentang dia. Apa kau masih menyukainya?”


Hana tersenyum. Menggeleng pelan menanggapi pertanyaan Yoongi.


“Aku sudah tidak menyukainya. Mungkin suka ku sekarang sudah berbeda.” Jawab Hana jujur.


Yoongi masih terus mengamati raut wajah Hana. Dirinya tidak mau terlalu percaya diri lagi. Mungkin hatinya sedikit lega saat tahu Hana tak lagi menyukai Jungkook. Tapi ia ingat, masih ada Jimin dan Sungjae yang juga menyukai Hana.


“Jungkook Sunbae orang yang baik. Tapi sekarang dia jauh. Aku yakin, Jungkook Sunbae mendapatkan cinta yang baik juga disana.” Lanjut Hana sembari menatap butiran salju yang turun dari langit.


“Kau kecewa?”


Hana menggeleng. “Aku terlalu bersyukur untuk kecewa.” Yoongi mengernyit bingung. “Karena aku punya Sunbae sekarang.” Dan jawaban Hana membuat Yoongi kehilangan setengah kesadarannya.


“K-kau? Kau juga menyukaiku?” Tanya Yoongi spontan berdiri dan menghadap Hana. Membuat Hana sedikit berjengkit kaget.


“Hana, kau menyukaiku juga?” Entah apa yang dilakukan laki-laki itu. Hana bahkan bingung dengan sikap Yoongi yang tiba-tiba berdiri lalu mencengkeram bahunya erat. Matanya bahkan tak teralih menatap mata Hana. Ekspresi wajahnya pun sulit diartikan.


“Emm… memangnya Sunbae menyukaiku?”


“Sangat! Aku sangat menyukaimu!” Yoongi memekik girang. Mengabaikan Hana yang membola matanya kaget. “Emm maaf.” Yoongi menurunkan tangannya. Berdehem pelan, lalu kembali bersandar pada pagar pembatas.


Hana terkekeh melihat tingkah Yoongi. Kakak tingkatnya itu terlalu menggemaskan kalau sedang salah tingkah.


“Jangan tertawa. Aku malu.” Jujurnya dengan wajah datar yang membuat Hana semakin tertawa kencang.


Yoongi mendengus pelan melihat tingkah Hana yang menyebalkan. Sudah tahu dirinya salah tingkah. Malah dengan usil menertawakannya. Ingin membenamkan wajah ke tumpukan bantal saja rasanya.


Tawa Hana mereda. Berganti dengan senyum lembut yang terpatri di bibir tipisnya. “Iya.” Ucapnya sambil menatap Yoongi. “iya, aku juga menyukai Sunbae, boleh kan?” Dan jawaban Hana berhasil membuat Yoongi membolakan matanya.


Kaget dengan jawaban Hana. Dan Hana yang langsung menunduk. Keduanya saling diam beberapa saat, sebelum Yoongi kembali bertanya.


“Kau benar-benar juga menyukaiku?” Tanya Yoongi, kali ini dengan suara lembut tidak berteriak seperti tadi.


Hana pum menunduk malu sebelum ia mengangguk mengiyakan.


“Serius?!” Pekik Yoongi. Berubah dari pertanyaan lembut beralih dengan pernyataan seru, itulah Min Yoongi.


Hana tersenyum lalu mengangguk lagi.


Dan setelahnya, dengan sangat tidak tahu malu Yoongi berteriak dan meloncat dengan sangat bahagia. Mengabaikan Hana yang menatapnya dengan senyum malu karena tingkah Yoongi yang tidak pernah ia duga.


Akhirnya, cinta Yoongi tidak bertepuk sebelah tangan seperti dugaanya.