
Yoongi masih terdiam memandang sosok yang sedang menenangkan kekasihnya. Bodoh. Yoongi ingin teriak dirinya bodoh.
Semua bukan salah Hana. Semua bukan keinginan Hana. Jika Yoongi ingin protes, harusnya ia berlari pada Hoseok dan memohon agar tidak jadi memindahkan Hana.
Bukan malah meninggalkan Hana begitu saja tanpa mendengar penjelasannya terlebih dahulu.
Ini pertama kalinya Yoongi melihat Hana menangis setelah mereka resmi pacaran. Dan bodohnya, Yoongi lah penyebab Hana menangis hingga membuat satu sosok dengan lancang datang dan menenangkan Hana.
Yoongi itu tipe laki-laki kaku. Benar kata Seokjin. Yoongi terlalu datar dan dingin. kaku dalam mengekspresikan hatinya. Yoongi hanya pandai mengekspresikan dirinya lewat lirik yang selama ini ia tulis. Namun terlalu bodoh untuk mengakui kekhawatiran juga keinginannya dengan gamblang.
Ingat saat Yoongi menembak Hana di taman bermain? Ya… seperti itulah tidak jelasnya Yoongi. Terlalu bingung bagaimana mengakui cintanya. Terlalu bingung bagaimana menunjukkan sisi kepeduliannya. Namun terlalu posesif pada hal yang sudah di klaim menjadi miliknya.
Yoongi membenarkan semua penilaian Seokjin. Semuanya benar, dan Yoongi sadar itu. berkali-kali Yoongi berniat untuk mengubah dirinya. Ekspresi wajahnya minimal. Sayangnya, jika sudah watak mau bagaimanapun akan tetap susah di rubah.
Hana tidak pernah protes tentang dingin nya Yoongi. Hana tidak pernah protes bagaimana datarnya wajah Yoongi. Karena bagi Hana, Yoongi yang dingin dan datar adalah salah satu daya tarik yang dimilikinya.
Yoongi jelas tahu siapa laki-laki yang saat ini mengelus pelan punggung kekasihnya. Siapa lagi kalau bukan si brengsek Sungjae yang berhasil membuat Yoongi selalu naik darah.
Sudah tahu Hana itu milik nya, Sungjae masih saja terus mendekati Hana. Apakah Sungjae menganut paham, ‘sebelum janur kuning melengkung, dia masih bisa ku tikung.’ Ya mungkin Sungjae salah satu penganut paham itu. Buktinya, Sungjae masih tetap mendekati Hana meski Hana sudah menjadi milik Yoongi.
Yoongi menunduk. Meraub oksigen sebanyak-banyaknya dan menghembuskannya perlahan. Menetralkan emosi yang sudah naik ke ubun-ubun.
Rasanya Yoongi ingin sekali berlari dan menerjang wajah mulus Sungjae. Menghadiahinya dengan bogeman dari tangan kanannya. Memberi tanda cinta berupa lebam keunguan yang mungkin akan bertahan 3 atau 4 hari.
Sedikit memberi noda cinta beruba robekan di salah satu sudut bibir Sungjae. Atau paling parah membuat tanda kepemilikan berupa patah tulang hidung yang harus membuat Sungjae melakukan sedikit operasi kecil.
Ingin sekali. Yoongi sangat ingin melakukannya.
Namun kali ini, pikiran positif Yoongi lebih mendominasi di banding pikiran negative yang sedang di dukung dengan amarah yang meluap-luap. Yoongi melangkahkan kakinya kembali mundur. Bibirnya tersungging miring. Meninggalkan Hana yang masih terisak di bawah guyuran salju serta Sungjae yang datang mencari kesempatan.
Yoongi bisa menghajar Sungjae kapanpun. Besok, lusa atau seminggu kemudian juga bisa. Masih banyak waktu untuk Yoongi membuat perhitungan pada laki-laki itu.
Yang saat ini harus di selesaikan Yoongi adalah, mendatangi Hoseok dan meminta pada ayah kekasihnya untuk tidak memisahkan dirinya dan Hana.
Yoongi tidak bisa berpisah dengan Hana. Cintanya baru saja di mulai. Dan Yoongi tidak akan sanggup jika harus di pisah paksa begitu saja.
Dengan langkah lebar, Yoongi datang ke rumah Hana. Tidak jauh jaraknya, mengingat mereka bertemu di taman dekat rumah Hana.
Yoongi mengetuk pintu pelan. Menyapa para pelayan yang menyapanya sopan. Senyum terlihat kentara sangat di paksakan. Tatapan mata menajam yang harus ia rubah menjadi lembut saat melihat sosok Hoseok muncul dari tangga lantai dua.
Pria dewasa yang di klaim sebagai ayah kekasihnya itu tersenyum lembut saat melihat Yoongi berdiri menatapnya. Satu tangannya masuk ke saku celana. Hoseok terlihat bugar seperti baisa. Mengenakan kaus putih agak kebesaran, serta celana bahan warna hitam yang selalu menjadi andalan stylenya.
Hoseok berjalan pelan ke arah Yoongi. Memeluk laki-laki yang sudah berhasil merebut hati anaknya.
“Ohh Yoongi, apa kabar?” Sapa Hoseok basa basi sembari memeluk Yoongi.
Yoongi tersenyum dan membalas pelukan hangat Hoseok. “Baik Paman.” Jawabnya.
“Kan sudah dibilang, jangan panggil paman. Panggil ayah aja Yoon.”
Seperti biasa, Hoseok selalu hangat pada siapapun. Terutama bagi mereka yang baik pada nya serta anaknya. Hoseok pasti akan membalas kebaikan itu berkali-kali lipat.
Hoseok hangat, baik juga perhatian pada siapa saja. Itulah mengapa Taehyung sangat betah berteman dengan Hoseok. Beda cerita jika Hoseok sudah marah. Taehyung akan memilih diam tanpa mau ikut campur, kecuali Hoseok yang membuatnya harus ikut campur.
“Ahh.. iya baik ayah.”
“Ada apa Yoon malam-malam kesini? Tadi Hana pamit katanya mau ketemu kamu. Kalian sudah ketemu?”
Yoongi terdiam sebentar. Pikirannya kembali teringat tentang Hana yang menangis di taman dengan Sungjae. Dari sekian banyak orang kenapa harus Sungjae?
Tapi lebih baik dari pada harus Jimin. Yoongi tidak tega jika harus membuat wajah imut Jimin babak belur.
“Ayah..” mulai Yoongi. “Maaf aku datang kemari. Tadi aku sudah bertemu Hana di taman.” Jeda Yoongi mengambil nafas. “Ayah.. boleh aku berterus terang?”
Dahi Hoseok mengernyit bingung.
“Yah.. aku minta maaf jika aku telat melindungi Hana. Aku minta maaf karena aku telat datang menyelamatkan mental Hana. Dan aku minta maaf karena aku lancang menyukai Hana.”
Hoseok terdiam mendengar penuturan Yoongi.
“Yah.. selama aku kenal Hana, Hana banyak memberi perubahan dalam cara berpandang ku. Aku orang yang kaku, sangat kaku sampai aku pilih-pilih buat berteman. Aku orang yang tidak peduli pada sekitar. Aku hanya peduli pada orang-orang yang memang berarti untukku...”
“...Aku jarang menyapa orang. Aku terkenal dingin dan acuh. Orang-orang malas menyapaku karena aku hampir tidak pernah tersenyum. Ayah kandung ku bahkan bingung bagaimana cara merubah watak anaknya yang sangat susah di artikan kemauannya.” Yoongi mendongak menatap Hoseok.
Hoseok pun masih membalas tatapan dari mata sipit Yoongi.
“Semanjak Hana datang, semenjak Nenek Chan menyuruh ku menjaga Hana, semua nya berubah. Aku tidak tahu apa yang membuat ku peduli padanya. Aku tidak tahu kenapa aku perhatian padanya. Dan aku tidak tahu kenapa aku marah saat ada yang mengganggunya.” Yoongi menghela nafas berat.
“Aku belum pernah jatuh cinta. Aku tidak tahu cinta itu apa. Perasaan ku bahkan mati saat ibu meninggal dan ayah menikah lagi. Dan perasaan ku semakin mati saat ibu tiriku ikut pergi meninggalkan kami. Semua orang pergi, semua orang mati. Dari situ aku benci di tinggal. Aku benci sendirian. Aku benci kesepian.”
Hoseok menatap Yoongi semakin dalam.
“Aku takut bersosialiasi. Aku takut berteman dan aku enggan berinteraksi. Karena menurutku semakin aku banyak teman aku akan semakin sering terluka karena kehilangan. Aku tidak mau melihat mereka yang dekat denganku pergi satu per satu. Aku tidak siap itu, ayah.” Mata Yoongi mulai berair.
“Aku baru menemukan yang namanya cinta. Aku baru dibuat jatuh cinta.” Yoongi menarik nafas dalam. “Selama aku hidup, aku baru menemukan kembali cintaku setelah kepergian dua ibuku. Mereka pergi dan meninggalkanku. Aku sendirian. Dan aku tidak ingin di tinggal cintaku untuk yang ketiga kalinya.”
“Ibuku, ibu tiriku, Hana. Ketiganya adalah wanita yang sangat aku cintai. Ketiganya berarti, sangat berarti. Kalau boleh aku bahkan ingin melamar dan memiliki Hana sepenuhnya saat ini juga. Aku bisa nekat jika ayah mengizinkan kami. Tapi aku yakin ayah tidak akan mengizinkan kami...”
“...Aku sayang Hana. Aku cinta Hana. Hana berarti, aku tidak akan sanggup jauh dari nya.”
Yoongi semakin merapatkan tubuhnya di kedua kaki Hoseok. Masih bersimpuh sedari Yoongi memulai pembicaraannya.
“Ayah.. akan percuma jika aku memohon dan meminta pada Hana. Sampai kapanpun Hana tidak akan membantah perintah ayahnya. Jadi aku datang kemari. Aku datang ke ayah untuk meminta dan memohon agar ayah membatalkan semua rencana perpindahan Hana.”
Hoseok sudah membuka mulutnya. Namun, sebelum Hoseok mengeluarkan ucapannya, Yoongi kembali menyela ucapan Hoseok.
“Ayah Yoongi mohon. Yoongi janji akan selalu jagain Hana. Yoongi janji akan selalu setia di samping Hana. Yoongi janji akan bikin Hana bahagia. Yoongi janji yah..” mohon Yoongi.
Hoseok menghela nafas dan tersenyum. Menarik tubuh Yoongi yang bersimpuh di hadapannya agar kembali duduk ke sofa samping tempatnya duduk.
“Yoon, dengar ayah.” Hoseok memegang dua bahu Yoongi dan menatapnya dalam. “Kebahagiaan orang tua adalah melihat anaknya bahagia. Ketenangan orang tua adalah dengan melihat anaknya hidup dengan layak dan nyaman. Semua orang tua hanya ingin melihat anaknya hidup bahagia dan sejahtera.”
“Ayahh..”
“Yoon dengar ayah. Ayah maupun ayahmu pasti menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Kami tidak mungkin memberikan hal buruk pada anak-anak kami Yoon.”
“Yahh Yoongi mohon.”
Hoseok menggeleng pelan. “Kebahagian kalian itu yang utama untuk kami. Semua hal yang menyangkut kalian, kami orang tua pasti berusaha keras agar kalian bisa mendapat yang terbaik.”
Hoseok memeluk tubuh Yoongi. “Ayah berterimakasih karena Hana bertemu dengan laki-laki seperti kamu. Ayah sudah tahu dari awal kalau kamu anak yang baik dan bertanggung jawab.” Hoseok melepaskan pelukannya, “Tapi maaf.. untuk rencana perpindahan Hana, ayah tidak bisa mengabulkan permintaanmu. Hana akan tetap pindah. Dan besok Hana resmi keluar dari sekolahan kamu dan pindah di sekolah yang baru.”
Mata Yoongi memerah. Tangannga mengepal tanpa sadar. Yoongi ingin marah. Yoongi ingin mengamuk. Yoongi ingin menangis. Lagi, ia harus terpisah dengan orang yang di sayangnya. Lagi, Yoongi akan di tinggalkan sendirian lagi.
Yoongi menatap pancaran mata Hoseok nanar. Ada rasa kecewa yang jelas ia pancarkan dari sorot matanya. Untuk kali ini, hati Yoongi benar-benar diselimuti perasaan kecewa dan takut.
Pikirannya melayang memikirkan hal buruk yang akan terjadi pada hubungannya dan Hana di masa depan.
Setelah sekian lama hati Yoongi membeku, setelah sekian lama hatinya kesepian, kini Yoongi harus kembali merasakan kesepian hatinya untuk kesekian kalinya.
Hatinya mati setelah kepergian ibunya. Dan Hana berhasil masuk dan mengetuk kesepian hatinya. Hana berhasil memberi afeksi aneh pada dirinya. Hana berhasil mengambil alih semua hati dan pikirannya.
Sayangnya, belum genap sebulan mereka bersama secara sah sebagai pasangan kekasih, mereka harus terpisah karena jarak.
Jepang dan Korea, akan menjadi saksi perjalanan cinta mereka apakah berlanjut pada keinginan Yoongi sampai menikah, atau harus berpisah karena Yoongi yang tidak bisa menjalani hubungan jarak jauh.
Semua akan terjawab saat Hana benar-benar akan pergi, esok hari.