
Pagi ini sekolah tampak lebih ramai dari biasanya. Banyak mobil mewah terparkir di lingkungan sekolah. Beberapa siswa terlihat berlalu lalang dan mengobrol dengan orang tuanya, meski tak sedikit siswa yang memilih diam di dalam kelas.
Sesuai kesepakatan sekolah, hari ini rapat komite perihal jatuhnya Umji dari tangga serta kasus pembullyan di gelar. Semua akan di bahas dalam rapat, dan yang salah akan di beri sanksi dari sekolah.
“Hana tunggu ayah saja ya. Jangan pulang sebelum ayah selesai. Nanti pulang nya bareng ayah.”
Hana mengangguk menjawab pertanyaan ayahnya. Ia sadar, ia tidak akan bisa lari. Seperti siswa lain, Hana pun sebenarnya juga takut dengan rapat yang di gelar hari ini.
Hana sudah memaafkan mereka semua yang mengganggunya. Mereka yang membullynya. Hana benar-benar sudah memaafkan kejahatan mereka yang selama ini mengganggunya.
Awalnya, Hana tidak setuju dengan rapat yang di gelar hari ini. Hana bukan gadis pendendam yang menyimpan dendam pada mereka yang mengganggunya.
Hoseok mengajarinya untuk selalu berfikir positif pada semua hal yang terjadi padanya. Hoseok tidak pernah mengajarinya untuk mendendam. Hoseok selalu mengajari putrinya untuk berbuat baik meski dirinya terkadang gemas dan ingin meninju semua orang yang mengganggu putrinya.
Hal wajar jika orang tua tidak terima anaknya di sakiti. Namun tetap, Hoseok tidak menunjukan rasa bencinya pada mereka yang menyakiti putrinya di depan Hana.
Ia selalu mencoba bersikap tenang dan baik-baik saja meski sebenarnya tangannya sudah gatal ingin meninju wajah mereka.
“Hana nanti kalau lapar ke kantin saja ya. Minta di temani Paman Taehyung, kalau Hana takut sendirian.”
“Memang nya paman kesini yah?”
Hoseok berfikir sejenak, “Tidak sih.”
Hana mendengus kesal. Ayahnya terlalu khawatir pada dirinya yang sebenarnya baik-baik saja.
“Selamat pagi ayah.” Sapa seseorang yang langsung mendapat perhatian penuh dari Hoseok dan Hana.
“Ohh Yoongi. Pagi calon mantu. Kebetulan kamu datang, sini dulu saya mau bicara sama kamu.” Hoseok merangkul dan mendekat pada tubuh Yoongi.
Sementara Hana menahan diri agar tidak tersenyum lantaran ayahnya dengan sembarangan memanggil Yoongi dengan sebutan “calon mantu”. Padahal pacaran saja mereka belum.
“Nanti bisa saya minta tolong jaga Hana?” Hana melotot ke arah ayahnya. “Saya tidak tega meninggalkan Hana sendirian. Jadi boleh saya minta tolong?”
Yoongi melirik ke arah Hana. Sementara Hana hanya terus menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah.
Terkekeh pelan, Yoongi tersenyum manis ke arah Hoseok, “Ayah tenang saja. Saya akan selalu siap siaga untuk menjaga Hana.” Ucapnya membuat Hoseok tersenyum lega dan Hana semakin menundukan kepalanya.
“Hana, nanti kamu jangan jauh-jauh dari Yoongi. Sepertinya rapat akan sampai sore. Terus sama Yoongi sampai ayah selesai rapat. Kamu mengerti kan?”
“Iya ayah,” menjawab dengan suara lirih dan tatapan mata masih ke bawah menatap lantai marmer.
“Anak ayah kok nunduk? Coba lihatin wajah imut nya. Ada Yoongi masa nunduk terus.”
Hana menyikut pelan lengan ayahnya. Membuat Hoseok dan Yoongi tersenyum gemas.
Hoseok mengusak rambut Hana pelan. Mencium kepalanya sebelum pamit untuk masuk ke aula dan bergabung dalam rapat.
Sepeninggal ayahnya, Hana terdiam. Bingung mencari topik pembicaraan. Ia takut salah bicara. Ditambah, Yoongi yang terus menatapnya sedari tadi.
Kaki Yoongi berjalan mendekat. Hana semakin gugup karena jarak mereka yang semakin dekat. Hana bahkan baru menyadari bahwa Yoongi tidak memakai seragam sekolah. Laki-laki itu memakai seragam olahraga. Mungkin, ia akan bermain basket dengan Seokjin setelah ini.
“Kenapa nunduk terus?”
Hanya mendengar suara Yoongi saja membuat debaran di dada Hana semakin tidak karuan. Muka nya bahkan memerah waktu Yoongi mengangkat dagunya guna melihat wajahnya.
Takut semakin gugup, Hana memilih memejamkan mata. Menghindari kontak mata langsung dengan Yoongi. Takut debarannya semakin mengacau.
Yoongi terkekeh pelan melihat wajah Hana yang memerah. Membuat nya dengan sengaja mencubit kedua pipi Hana karena gemas.
“Kenapa? Malu ya?” Ledeknya.
Hana menggeleng. Membuka matanya perlahan, dan mendapati Yoongi yang menatapnya dengan senyum yang sangat manis.
Reflek, Hana mundur beberapa langkah sambil memegang dadanya. Hanya di tatap Yoongi dengan senyum saja sudah membuatnya berdebar tidak karuan.
“Kamu kenapa?” Yoongi semakin terkekeh geli melihat tingkah Hana. Gadis itu semakin hari semakin menggemaskan saja. “Mau ikut aku? Disini dingin.”
Hana melirik sekilas. Raut wajah Yoongi sudah berubah seperti biasanya, tidak senyum-senyum seperti tadi. “Mau kemana Sunbae?”
Yoongi mengambil pergelangan lengan Hana. Menggenggamnya lalu berbisik pelan. “Ke ruang musik.”
Keduanya lantas berjalan ke ruang musik dengan bergandengan tangan. Beberapa siswa menatap mereka, dan beberapa lainnya memilih mengabaikan mereka.
Tidak mau mengganggu lagi mungkin. Mencoba untuk acuh dari pada mendapat masalah dengan anak pemilik sekolah.
Yoongi bukan orang bodoh yang tidak tahu gugup nya Hana saat berjalan dengannya. Bukan gugup dalam artian berdebar atau semacamnya. Melainkan gugup karena menjadi pusat perhatian murid-murid sekolah.
Meski hari ini rapat digelar dan semua pembully akan mendapat hukuman, tetap saja beberapa di antara mereka masih menatap Hana dengan tatapan sinis.
Sebenarnya, Yoongi bingung kenapa semua orang membenci dan membully Hana.
Hana bukan berasal dari keluarga kurang mampu. Bisnis Hoseok bahkan berkembang pesat baik di Korea maupun di Jepang. Hana juga cantik, sangat imut bahkan. Otaknya pun juga cerdas. Lalu apa yang membuat mereka membenci Hana?
Apa karena mereka iri dengan kehidupan Hana?
Katanya, mereka membenci dan membully Hana karena Hana lahir tanpa ibu. Maksudnya, Hana lahir dan setelahnya ibunya meninggal.
Sungguh tidak masuk akal hal itu menjadi alasan bullying untuk Hana.
Eunbi meninggal karena memang dari awal ia mengandung, kandungannya sudah sangat lemah. Dokter bahkan menyarankan untuk menggugurkan kandungannya agar tidak membahayakan Eunbi dan bayinya.
Namun, Eunbi tetap bersikeras mempertahankan janin di perutnya dan memilih merelakan hidupnya untuk anaknya.
Hampir kebanyakan ibu pasti akan melakukan apapun untuk kebahagiaan anak-anaknya. Rela tidak makan demi melihat anaknya makan. Rela tidak tidur demi melihat anaknya terlelap dengan nyaman. Bahkan beberapa ibu rela sakit agar anaknya terus sehat. Dan itu di buktikan dengan cara Eunbi yang rela menukar hidupnya demi nyawa anaknya.
“Kita sampai.” Hana menatap sekeliling ruangan. Ada banyak sekali peralatan musik di ruangan itu. Hana mengamatinya satu persatu.
“Sunbae bisa bermain musik?” Tanya Hana saat Yoongi melepas tautan tangan mereka dan berjalan kearah piano di sudut ruangan.
“Aku hanya bisa dasarnya, tapi tidak begitu jago.” Ucapnya sembari menekan tuts piano. “Kau bisa bernyanyi Han?”
Berfikir sejenak sebelum Hana menggeleng pelan.
“Jangan berbohong. Aku pernah mendengar kau bernyanyi.”
Hana sedikit melotot. Darimana Yoongi tahu kalau Hana suka menyanyi saat sendirian?
Seolah mendengar pertanyaan dari isi hati Hana, Yoongi kembali melanjutkan ucapannya. “Waktu itu aku tidak sengaja mengikuti mu pulang. Kau berjalan dan sesekali bersenandung.”
“O-ohh itu… itu hanya untuk mengusir sepi saja kok Sunbae.” Jawabnya sembari meringis.
Yoongi mengangguk pelan. Membenarkan posisi duduknya menghadap depan piano. “Mau mendengar aku bermain piano?”
Sedikit ragu, namun Hana mengiyakan. Hana takut membuat Yoongi tidak nyaman. Namun Hana juga penasaran dengan ke ahlian Yoongi dalam bermain piano. Banyak siswa mengatakan kalau Yoongi sangat jago dalam bermain piano. Salah satu keahlian Yoongi selain bermain basket adalah bermusik.
Bahkan Hana mendengar kalau Yoongi juga jago dalam menciptakan lagu. Meski Hana belum pernah mendengar Yoongi menyanyi, namun Hana sering melihat laki-laki itu keluar masuk ruangan musik.
Yoongi mulai menekan nekan tuts piano. Mencari nada sampai akhirnya satu lagu terlintas di fikirannya.
Yoongi memejamkan matanya saat tangannya mulai menari indah di atas tuts piano. Memainkan satu lagu berjudul “I Need U” salah satu lagu dari boy grup BTS dengan penghayatan yang sangat luar biasa.
Hana terdiam mendengar lantunan nada dari piano yang Yoongi mainkan. Mengamati wajah Yoongi yang seperti sedang bercerita lewat lagu itu.
Jari-jari bergerak sangat lincah. Di ruangan itu hanya terdengar lantunan piano dan aura Yoongi yang terlihat seperti malaikat.
Kulitnya yang putih berbalut baju olahraga berwarna senada. Sepatu dengan warna putih serta rambut yang baru saja di cat kemarin dengan warna coklat membuatnya terlihat seperti malaikat yang sedang bermain piano.
Hana terbuai dengan lagu yang di mainkan Yoongi. Bahkan tatapannya tidak beralih seincipun dari Yoongi.
Semakin Yoongi menekan tuts piano membuat dada Hana semakin berdebar. Hana terlalu larut dengan lagu Yoongi, sampai tidak menyadari bahwa Yoongi selesai memainkan musiknya.
Yoongi berbalik menatap Hana. Tersenyum ke arahnya lalu menghampirinya.
Hana masih menatap Yoongi, bahkan sampai Yoongi berdiri di depannya. Tidak berniat mengalihkan tatapannya sama sekali.
Yoongi pun sama. Membalas tatapan Hana tanpa berniat sedikitpun memutus tatap di antara mereka.
Yoongi mengikis jarak diantara keduanya. Memegang pipi Hana lembut membuat Hana sedikit mendongak dan melebarkan matanya seolah berkata, “apa?”.
Keduanya terdiam cukup lama. Tidak ada yang berniat membuka percakapan. Tangan Yoongi pun masih setia mengusap lembut pipi Hana.
Hana tak menolak sama sekali. Membiarkan Yoongi mengelus sayang pipinya. Hal ini bukan sekali atau dua kali Yoongi lakukan. Sering Yoongi mengelus kepala dan pipinya, seperti sudah kebiasaan.
Sampai akihrnya, Yoongi kembali maju dan semakin mengikis jarak. Terhitung tinggal beberapa inci Yoongi mendekatkan wajahnya pada wajah Hana. Membuat Hana spontan membelalakkan matanya.
Yoongi tersenyum sebelum bibir Yoongi bergerak mengucap kata yang membuat Hana semakin berdebar tidak karuan. Yoongi berucap pelan tepat di depan bibir Hana, “Izinkan aku mencintaimu sebanyak yang ku mau.” setelahnya wajah Yoongi kembali maju dan mengecup bibir Hana lembut.