
Yoongi berdiri di rooftop sekolah. Mata sipitnya menatap ke bawah pada murid-murid yang berlalu lalang. Kedua lengan nya saling bertumpu. Matanya berlarian tak tentu arah. Seolah mencari satu sosok yang membuatnya hilang arah akhir-akhir ini. Terlihat pula jika jiwa Yoongi ada di sekolah, tetapi pikirannya melayang jauh entah berantah kemana.
Entah hanya firasatnya saja atau memang keadaan benar-benar sudah berubah. Tidak ada lagi sosok gadis yang amat di cintainya. Sosok Hana tak lagi muncul di sekelilingnya. Hari-harinya terasa hampa. Tidak ada lagi mentari di balik salju yang membuat nya tersenyum atau sekedar menghangatkan hatinya.
Seminggu berlalu tanpa Hana di sampingnya membuatnya menutup diri dari keramaian. Mirip seperti Yoongi sebelum mengenal Hana. Pikirannya kacau. Yoongi ahkan menjadi lebih dingin dari sebelumnya.
Keluar rumah hanya untuk berangkat sekolah. Disekolah pun ia hanya berdiam di rooftop. Tidak ada lagi minat untuk bergurau dengan Seokjin atau mendatangi ayahnya lalu mengganggu kesibukan kepala keluarga. Seokjin sampai bingung bagaimana ia harus menghibur temannya satu itu.
Mengunjungi ruang musik pun sudah jarang. Jangan kan kesana, berkeliling koridor sekolah saja Yoongi enggan.
Sekolah ini, sekolah tempat ia bertemu dengan cintanya. Sekolah tempat dimana ia menemukan cintanya.
Nafas Yoongi berhembus plan. Telapak tangannya saling mengusap satu sama lain untuk meredakan dingin yang semakin memeluknya. Udara belum juga berganti. Bahkan semakin buruk karena kepergian cintanya.
Sosok Hana ada dimana-dimana. Tersebar di setiap sudut sekolah. Tidak banyak tempat yang dulu sering Hana singgahi. Tapi ada banyak tempat dimana Hana disiksa dan di permainkan teman-temannya.
Ada banyak kenangan di sekolah itu tentang sosok Hana nya. Ada banyak hal yang membuatnya selalu mengingat Hana. Dan hal itu sukses membuat Yoongi meremat kuat tangannya hingga buku jarinya memutih.
Hana tidak pergi. Sosok nya masih ada di dunia. Salahkan jarak yang membuat mereka harus terpisah. Salahkan waktu yang tega tidak mau berkompromi dengannya.
Yoongi rindu Hana. Yoongi ingin menatap Hana. Yoongi ingin melihat senyum Hana. Yoongi rindu Hana sampai rasanya bingung bagaimana ia harus mengutarakan rasa rindunya.
Tangannya bergerak menelusup masuk ke saku mantel. Mengambil ponsel nya yang jarang sekali ia buka. Ada banyak notif baik pesan maupun panggilan. Jangan tanya notif itu dari siapa. Karena semua notif itu berasal dari Hana, mengingat tidak banyak yang berhubungan dengan Yoongi.
Seminggu setelah perginya Hana, Yoongi sama sekali tidak member kabar kekasihnya. Bukan bermaksud ingin berbuat tega atau menggantungkan cintanya, Yoongi tidak ada niatan untuk meninggalkan gadis itu malah.
Yoongi hanya tidak ingin rindunya semakin membuncah lalu ia akan nekat terbang ke Jepang demi menemui Hana. Yoongi takut akan segila itu mengingat ujian kelulusan akan di laksanakan sebentar lagi.
Ia bertekad untuk lulus dengan nilai terbaik hingga nilainya bisa tembus ke salah satu universitas di Jepang. Ia akan menepati janjinya pada ayahnya juga Hoseok. Akan menjadi orang yang sukses dan melamar pujaan hatinya.
Pertanyaanya, apa Yoongi sanggup? Apa Yoongi bisa menunggu selama itu? Sementara baru seminggu di tinggal Hana saja Yoongi sudah ingin mati sampai tidak mau membuka semua notif pesan Hana.
Gila, katakana pada Yoongi kalau dia gila. Rindu tapi tidak sanggup mengakui. Gengsi? Lupakan tentang gengsi. Toh yang dia rindui adalah pacar sendiri bukan pacar orang lain.
Yoongi mengusap rambutnya kasar. Memendam rindu sampai rasanya ingin mati. Padahal untuk meredam rindu ia bisa langsung telpon lalu mengucapkan kata rindu sebanyak-banyak nya. Bukan malah menghilang dan menghindar dari kabar sang pacar.
Sebodoh itu Yoongi dengan cintanya. Laki-laki tapi terlalu banyak pikir. Salah langkah saja Hana bisa jatuh ke tangan orang lain jika ia terus seperti ini.
“Kenapa? Kangen Hana?”
Yoongi melirik ke kanan. Ada Seokjin ternyata di sampingnya. Sejak kapan laki-laki itu berdiri disampingnya? Lupakan, Yoongi bahkan tidak peduli.
“Arrgghh!!” Yoongi menggerang dan mengusap rambutnya kasar. “Kenapa sih harus ada jarak?! Kenapa harus ada rindu?! Kenapa harus berpisah?!” Teriak Yoongi frustasi.
Seokjin menggeleng pelan melihat kelakuan temannya itu. Benar-benar mirip orang gila kalau seperti ini.
Ya… Gila karena cinta.
“Kalau rindu kan tinggal ketemu. Hal mudah jangan dibikin susah.” Cibir Seokjin.
Mata Yoongi mendelik ganas. “Jepang Jin! Jepang! Masa iya aku harus terbang ke Jepang? Jepang itu jauh, harus naik pesawat. Belum lagi cari alamatnya, terus…”
Pletakkkk
“Aduhh! Hey bung! Kenapa aku dipukul?”
Seokjin menatap Yoongi jengah. Temannya itu benar-benar bodoh ternyata. “Kau ini kenapa? Kalau cinta ya berjuang. Datangi Hana, peluk dia kalau rindu.”
“Hey! Hana itu di Jepang.”
“Jepang mana nya?” Tangan Seokjin berkacak pinggang. Sungguh, rasanya ia benar-benar ingin meninju temannya satu ini. “Dengar, kau mengantar Hana kebandara?” Yoongi diam lalu menggeleng.
“Kau sudah mengirim pesan atau membuka pesan Hana?” Yoongi melirik ponsel yang masih ia genggam. Dan Seokjin tahu jawabannya. Pasti belum.
Dan setelahnya…
Bughhh!!!
Satu bogeman benar-benar melayang di rahang Yoongi. Membuat Yoongi oleng beberapa langkah ke belakang.
“MIN YOONGI BODOH!” Maki Seokjin.
Yoongi berdiri tidak terima. Mengambil ancang-ancang untuk mengembalikan bogeman Seokjin. Namun, gerakannya tertahan setelah ucapan Seokjin selanjutnya.
“YANG BILANG HANA KE JEPANG SIAPA! KAU INI AARRGGHH!!!” Telak Yoongi mematung bingung.
Wajah Seokjin memerah. Tangannya bergerak-gerak di udara seolah ingin meremas Yoongi. Berkali-kali Seokjin mengumpati Yoongi. Mengatainya bodoh dan ya.. memang benar Yoongi bodoh.
Mendahulukan emosi dari pada pikirannya.
Jika hati, emosi dan pikiran mempunyai jalan berbeda, harusnya pertemukan dulu ketiganya lalu di rundingkan agar menemukan jalan pintasnya. Bukan asal mengambil keputusan yang bahkan membuatnya terlihat semakin bodoh.
Mengambil kesimpulan sebelum mengetahui fakta nyata dan penjelasan detail. Mengambil kesimpulan hanya dari beberapa kata tanpa terlebih dahulu mendengarkan sampai perkataan selesai. Apa bagus seperti itu? Tentu jawabannya tidak. Hati-hati, nanti bisa kaya Yoongi.
“Maksutmu?” Wajah datar, dahi berkerut, alis menukik. Yoongi sukses di buat bingung oleh perkataan Seokjin.
“Kau ini bagaimana? Kau ini benar-benar suka dan peduli pada Hana atau tidak? Kenapa aku bisa berteman dengan orang bodoh seperti mu?” Maki Seokjin tak hentinya.
“Hei bung berhenti mengumpatiku. Jelaskan sedetailnya padaku. Hana tidak??”
“Lihat ponselmu! Buka semua pesan Hana! Kau akan menemukan jawabannya!”
Alis Yoongi semakin menukik tajam. Seokjin berjalan mundur. Baru beberapa langkah, Seokjin memutar kembali badannya menghadap Yoongi.
“Temui gadismu. Jangan buat dia terlalu lama menunggu. Atau Hana benar-benar akan ku berikan pada Sungjae.”
Mendengar nama Sungjae di sebut, Yoongi sudah bersiap untuk maju. Namun langkahnya terhenti kala ponsel di tangannya bordering.
Mata Yoongi menyipit membaca satu nama yang tertera di ponselnya. Hana menghubunginya.
Dengan sedikit ragu dan hembusan nafas panjang, Yoongi menggeser ikon hijau hingga ia bisa mendengar suara dari seberang panggilan.
“Yoongi Sunbae!”
Yoongi menjauhkan ponselnya. Tangannya mengorek telinga. Hana membentaknya? Apa salah Yoongi? Kenapa di bentak?
Jelas salah. Jangan lupa kau mengabaikan kekasihmu seminggu penuh Min Yoongi.
“H-Hana?” Panggilnya terputus.
“Kenapa pesanku tidak kau balas sama sekali? Kenapa kau menghilang begitu saja? Yakk Sunbae, kau selingkuh eoh?”
Selingkuh?
“Ya.. Hana. Selingkuh bagaimana. Aku hanya punya kamu. Kau tahu sendiri bagaimana perasaanku. Kenapa menuduhku?”
“Lalu kenapa tidak membalas kabarku? Kenapa menghilang tanpa kabar?”
Yoongi terdiam. Salahnya memang mengabaikan Hana. Padahal sudah dikatakan berulang kali, bukan keinginan Hana untuk berpisah jarak dengan Yoongi.
“Sunbae!”
Yoongi mengerjap. Lagi-lagi Hana berteriak. Hana nya yang manis bisa galak juga ternyata.
“Ya Han, aku disini.” Yoongi menunduk. Meremas kuat tangannya. Mendengar suara Hana dari sebrang panggilan saja rasanya dia ingin menangis. Sebegitu rindunya ia pada pencuri hatinya.
“Disini dimana? Aku mencarimu dari tadi. Kau ini dimana Sunbae?”
Yoongi mengerjap, lalu tertawa.
“Beri tahu aku Sunbae sekarang dimana?”
“Aku di…”
Mata Yoongi membola. Menatap kearah bawah satu objek yang tengah mengengok ke arah kanan dan kiri seolah kebingungan.
Yoongi berlari sampai di depan pagar rooftop. Mengusap kedua matanya. Menepuk-nepuk pipinya lalu mencubit kedua pipinya. Ini bukan mimpi? Yang di lihatnya di bawah itu?
“Han kau dimana?!” Teriak Yoongi frustasi.
Tuuttt tuttt tuttt
Panggilan terputus, Yoongi mengumpat pelan. Matanya kembali mengedar ke bawah. Tidak lagi ia menemukan sosok Hana. Yang ada hanya murid-murid berlalu lalang tidak jelas.
Yoongi menyipitkan penglihatannya. Jika ia salah, maka ia benar-benar gila. Tapi Yoongi berani bersumpah bahwa yang ia lihat barusan benar-benar Hana.
“Sunbae!”
Yoongi berjengkit kaget. Kini, dihadapannya terlihat jelas seorang gadis yang dirinduinya. Gadis yang ia abaikan selama seminggu penuh. Gadis yang membuatnya hampir mati karena menanggung rindu. Hana, ada di depannya?
“Sunbae?” Tidak ada jawaban dari Yoongi.
Yoongi mematung. Diam tidak menjawab panggilan Hana. Matanya lurus menatap sosok yang ada di depannya.
Hana merinding mendapati sorot mata Yoongi. “Emm maaf jika mengganggu. Aku… permisi.” Pamit Hana lalu membalikkan badan.
Bukan apa, Yoongi jika diam seperti itu benar-benar menakutkan. Hanya diam dan menatap, tapi aura mengerikannya jelas terasa sampai menembus tulang.
Baru beberapa langkah Hana mundur bermaksud pergi, tubuhnya di tubruk oleh Yoongi dari belakang. Tidak ada kata, tidak ada kalimat, Yoongi memeluk Hana erat.
Yoongi menyembunyikan wajahnya di balik punggung Hana. Mencium aroma tubuh yang membuatnya hampir gila tertelan rindu.
Yoongi memeluk erat seolah takut yang saat ini dipeluknya hanya ilusi dan akan menghilang setelah ia tersadar.
Matanya memanas saat dirasa punggung tangannya di elus pelan. Yoongi hampir menangis saat merasakan tangan Hana berpindah mengelus kepalanya. Ini nyata kan? Yoongi tidak berhalusinasi kan? Yoongi tidak gila kan?