I Know I'M (Not) Perfect

I Know I'M (Not) Perfect
Episode 28



“Kau yakin tetap meminta ayah untuk menghukum Joy?”


Yoongi diam sejenak. Kejam, jika semua orang tahu bahwa dirinya sendiri yang mengadukan kejahatan adiknya pada ayahnya.


Joy memang bukan adik kandung Yoongi. Hanya adik tiri. Dulu Ayah Yoongi sempat menikah. Hanya dua tahun usia pernikahan mereka, karena setelahnya Ibu Joy meninggal akibat kecelakaan pesawat.


Joy yang hanya sebatang kara tanpa saudara, tetap di asuh oleh keluarga Yoongi. Karena meskipun saudara tiri, Joy tetaplah saudara Yoongi.


“Aku yakin ayah,” sedikit ragu dengan ucapannya. Namun apa boleh buat? Kejahatan tetaplah kejahatan. Masih beruntung Yoongi tak memukul Joy seperti Joy memukul Hana. Masih beruntung Yoongi tak memfitnah Joy seperti Joy memfitnah Jisoo. Dan masih beruntung Joy tidak di usir dari rumah Yoongi.


“Kau tidak akan menyesal, jika adikmu mendapat hukuman dari ayah?”


Sedikit menimbang perkataan ayahnya, Yoongi berujar pelan, “Apapun itu aku tidak akan menyesal yah. Terserah jika Joy juga harus dikeluarkan dari sekolah. Asal Joy mau sadar diri dan berubah, apapun akan aku lakukan.” Menghela nafas pelan, Yoongi menatap manik hitam ayahnya. “Aku hanya tidak ingin adikkku menjadi seorang kriminal.”


Mendengar Yoongi menyebut kata “adik” membuat sang ayah tersenyum lembut.


Kepala keluarga itu lantas berjalan mendekat pada putranya. Mengelus rambut putra nya pelan, tanpa sedikitpun melepas tatapannya.


“Sejak kapan kau tumbuh sebesar ini?” Tanya nya membuat Yoongi menatap ayahnya bingung.


“Kau ingat?” Satu tangan masuk ke dalam saku celana. Berjalan pelan ke arah foto besar di tengah dinding, foto dirinya dan Yoongi yang sedang bermain basket. “Dulu, waktu ayah pertama kali membawa Joy kemari, kau bersikeras menolaknya. Kau bahkan tidak mau mengakuinya sebagai adik.” Memutar kembali kenangan empat tahun lalu yang masih terasa segar di ingatannya. “Sampai ayah harus membeli apartemen baru untuk di tinggali Joy agar dia tetap bearada dalam jangkauan ayah.”


Yoongi menatap tubuh tegap ayahnya yang sekarang membelakanginya.


“Kau bahkan tidak mau menyapanya barang sebentar. Menatap nya seolah musuh yang sangat kau benci.”


“Aku hanya takut dia merebut ayah dariku.” Jujur Yoongi yang di jawab kekehan pelan sang kepala keluarga.


“Meskipun ada banyak anak yang ayah angkat, kau tetap putra kandung ayah. Sampai kapanpun tidak akan ada yang menggantikanmu, Yoonji.”


“Namaku Yoongi yah,” dan kekehan renyah kembali terdengar.


“Jadi, bagaimana dengan dua orang pelaku lainnya? Kau setuju dengan ide ayah?” Memutar tubuhnya kembali menatap Yoongi yang masih duduk di kursi, sembari kedua tangan terlipat di atas dada.


“Aku setuju dengan hukuman yang ayah berikan untuk Bambam. Tapi kalau untuk Jisoo..” menatap ke atap rumah di akhiri gelengan kecil dan hembusan nafas pelan, “…aku rasa Jisoo tidak perlu di keluarkan dari sekolah yah.”


Dahi kepala keluarga itu menekuk membentuk kerutan rapat, “Kenapa begitu?”


Yoongi menghela nafas kasar. Menumpu kedua tangannya di atas meja. “Selain Jisoo, ada banyak murid lain yang turut terlibat dalam kasus pembullyan. Bahkan Joy juga termasuk. Jika Jisoo dikeluarkan, maka Joy dan Sungjae pun juga harus dikeluarkan.”


Cekleekk…


Suara pintu terdengar terbuka. Menampilkan sesosok gadis berambut pendek dengan rok hitam selutut yang sedang menunduk. “Maaf mengganggu.” Ucapnya.


Yoongi dan ayahnya saling pandang.


“Apa Ayah dan Kak Yoongi tidak mau meringankan hukuman Jisoo?” Pinta Joy dengan wajah masih tertunduk. “Aku tahu Jisoo kejam. Tapi biarkan ia tetap bersekolah. Jika ada yang harus dikeluarkan, biar aku saja yang keluar dari sekolah. Asal jangan Jisoo.” Pintanya lebih jelas.


“Kenapa tiba-tiba?” Tanya Yoongi sinis.


Entah karena tabiat atau entah karena memang dasar tak bisa menutupi sikap. Yoongi yang kadang hangat di belakang Joy, serta perhatian dan cemas kala Joy belum pulang bermain dengan temannya seketika lenyap saat dirinya berhadapan langsung dengan Joy.


Perasaan adik yang tak di gubrisnya selama ini kadang muncul saat sosok Joy tidak ada di sekitarnya. Namun hilang saat Joy menampakan diri di depannya.


“Jisoo butuh sekolah Kak, Jisoo masih butuh sekolah untuk melanjutkan masa depannya.”


“Lalu kau? Kau tak butuh sekolah demi masa depanmu? Begitu?”


“Jisoo masih punya ibu yang harus ia jaga di masa depan. Meski terkadang sangat menyebalkan, tapi Jisoo sangat sayang pada ibunya.” Menghentikan ucapannya lalu menatap Yoongi lebih dalam. “Aku tidak punya siapa-siapa. Percuma aku masih terus melanjutkan hidup sementara aku tidak punya semangat hidup sama sekali. Biarkan Jisoo tetap sekolah, dan aku akan menggantikan Jisoo untuk keluar dari sekolah.”


“Siapa kamu beraninya berbicara begitu di depan aku dan ayah?” Yoongi bangkit dari duduknya. Menegakkan badan dan berjalan pelan ke arah Joy.


“Maksutmu kau hidup hanya sebatang kara?"


Diam tak menjawab, Joy masih menatap manik Yoongi.


“Meskipun benar tidak ada aliran darah ayah di tubuhmu, tapi ayah rela menampungmu dan membiayai hidupmu selama ini. Semua fasilitas mewah bahkan dengan cuma-cuma ayah berikan hanya untukmu.” Pelan tapi menusuk.


Mencoba mengontrol kata agar nadanya tidak meninggi. Yoongi masih waras untuk tidak membentak Joy di hadapan ayahnya.


“Kau dengan mudahnya memberikan hak sekolahmu pada orang lain yang bahkan telah salah memberimu jalan. Kau memikirkan orang lain yang bahkan kau tidak tahu dia memikirkan mu atau tidak. Joy, jangan rusak masa depanmu hanya untuk menyelamatkan seseorang yang belum tentu menyelamatkanmu dari atas jurang.”


Joy diam. Maju satu langkah dengan mata berkaca-kaca. “Apa peduli mu Kak? Kau bahkan tidak tahu bagaimana kesepiannya hidupku selama ini. Kau beruntung masih punya ayah yang bisa kau ajak cerita, kau beruntung masih punya Seokjin Sunbae yang bisa kau mintai pendapat, dan kau beruntung punya Hana yang mencintaimu tanpa pamrih sedikit pun. Kau beruntung Kak Yoongi.”


Air mata Joy mulai menetes. Tangan yang semula terkulai di sisi badan mulai ikut maju dan menunjuk dada Yoongi. “Pernah tidak kakak mikirin gimana perasaan aku? Kesepiannya aku, kakak pernah tidak mikirin?”


Menghapus air mata secara kasar, Joy kembali melanjutkan ucapannya. “Bunda pergi ninggalin aku. Bunda lebih memilih tinggal di surga daripada tinggal denganku disini. Dari awal aku datang kau tidak pernah mau menerimaku, menatapku saja kau tidak sudi. Ayah lebih mendengar perkataan mu daripada aku.


Aku sadar aku bukan anak kandung ayah. Aku tahu aku disini orang lain. Aku bukan siapa-siapa kalian. Aku tahu aku hanya benalu di keluarga ini. Tapi aku juga seorang remaja yang masih labil dan butuh banyak arahan. Aku bahagia punya Jisoo. Aku bahagia punya teman seperti Jisoo. Tapi aku sedih saat Jisoo ternyata membohongiku. Aku kecewa saat semua orang tidak ada yang berpihak dan berteman dengan ku secara tulus. Aku benci saat semua orang hanya memakai topeng demi menutupi status agar citranya terlihat sempurna di mata publik.”


Kembali menghapus air mata yang semakin deras mengalir di pipi. Sang kepala keluarga hanya diam mendengar ucapan anak tirinya. Begitu pula Yoongi yang hanya diam tak bereaksi selain menatap Joy dengan tatapan sendu.


“Pernah tidak saat salju turun dengan sangat lebat kalian memikirkan ku apakah aku kedinginan atau tidak? Pernah tidak kalian secara terang-terangan menanyakan apa aku bahagia?” Sekali lagi, Joy mengatur nafasnya.


“Harta yang selama ini kalian berikan, tidak pernah sekalipun melunturkan sakit hati dan kesepianku. Aku tidak butuh harta yang hanya bisa membutakan setiap mata manusia. Aku tidak butuh itu! Aku hanya butuh di anggap. Aku juga manusia yang punya perasaan!”


Berucap dengan nada tinggi di akhir, Joy bersimpuh dengan menutup kedua matanya.


Air mata semakin deras, serta tangis yang semakin terdengar memilukan.


Hidup yang kadang terlihat adil di beberapa pasang mata, namun nyatanya tak pernah adil di beberapa perasaan.


Harta yang selalu di cari manusia pertama kali. Harta yang selalu di puja demi memuaskan nafsu duniawi, nyatanya tak sebanding dengan kasih sayang yang tulus antar saudara dan keluarga.


Banyak orang menginginkan untuk hidup bahagia dan bergelimang harta. Nyatanya, hidup kembali lagi pada pilihan sang pencipta.


Bukti bahwa mereka yang tidak punya apa-apa juga berhak dan bisa jauh lebih bahagia di banding mereka yang bergelimang harta namun sangat miskin kasih sayang.


Yoongi berjongkok di hadapan Joy. Mengambil alih pipi Joy yang bersembunyi di balik tangan putihnya. Tak ada ekspresi yang keluar dari raut Yoongi. Kecuali mata yang tak beralih dari wajah sang adik.


“Biarkan aku pergi, daripada aku ada tapi tidak pernah kalian anggap sama sekali.” Kata yang keluar dengan nada yang menyakitkan seperti tersayat benda yang amat tajam.


Joy menunduk mengabaikan kepala keluarga dan kakak yang terus menatapnya.


“Kau adikku. Sampai kapanpun kau adikku.” Jelas Yoongi membuat Joy menatapnya dengan mata sembab.


“Adik?” tanyanya. “Hhh jangan pernah anggap aku adik jika itu hanya perasaan kasihan darimu untukku.”


Yoongi menggeleng pelan. “Aku dan ayah selalu memperhatikanmu. Kami selalu ada di sekitarmu meski tidak pernah menampakkan diri di hadapanmu.” Menghela nafas pelan, Yoongi meraih tubuh Joy dan mendekapnya penuh sayang. “Aku minta maaf karena gagal menjadi seorang kakak. Aku janji akan lebih memperhatikanmu secara terang-terangan. Kau tidak sendirian, kau adikku. Dan sampai kapanpun akan tetap menjadi adikku.”


Terlepas dari darah yang mengalir di tubuh dan perbedaan status antara si kandung atau si tiri, semua manusia adalah saudara. Tidak memandang apakah ada ikatan batin atau tidak.


Pencipta menciptakan setiap makhluknya saling berhubungan untuk saling membantu. Tidak ada perbedaan dari mereka. Sudah seharusnya mereka saling merangkul dan membantu.


Sang kepala keluarga ikut berjongkok. Mengelus pelan kedua punggung anaknya. Mengecup sayang masing-masing kepala anaknya. “Kalian anak ayah. Sampai kapan pun tidak akan ada yang berubah. Kalian anak-anak ayah.”


Ikut merengkuh tubuh buah hati yang saling memeluk. Sampai kapanpun, meski tidak ada pasangan yang menemaninya, cukup bersama anak-anaknya sang ayah akan sangat bahagia.


Kebahagiaan dari orang tua melihat anaknya tumbuh dengan baik, berbakti dan saling mengasihi satu sama lain.


Selintas pun tidam pernah terbayang Yoongi akan mengakui perasaan sayang nya pada adik tirinya. Namun sekarang, tidak peduli semua orang akan berteriak apa padanya. Joy adalah adiknya, dan selamanya akan menjadi adiknya.


Gadis kedua yang akan ia jaga setelah Hana.