I Know I'M (Not) Perfect

I Know I'M (Not) Perfect
Episode 22



“Awas dia lewat.”


“Memangnya benar?”


“Dia memang mirip iblis sih.”


“Nggak nyangka dia sejahat itu.”


“Jadi pembunuhnya dia?”


Jisoo terdiam. Kaki jenjang berbalut sepatu kets berwarna abu itu berhenti ketika telinganya mendengar beberapa siswa yang sedang membicarakan seseorang.


Membalikkan badan pada kerumunan siswa di belakangnya, serta menatap satu persatu siswa yang menunduk kala mendapat tatapan tajam dari Jisoo.


Memilih mengabaikan ucapan para siswa, ia melanjutkan kembali langkahnya menuju kelas.


Semakin cepat kala ia melihat pintu ruang kelas yang sudah tak jauh lagi dari jangkauannya.


Tanpa permisi atau mengetuk pintu terlebih dahulu, gadis itu membuka pintu dengan paksa. Membuat seluruh siswa yang berada di kelas berjengkit kaget. Beberapa ada yang berteriak karena merasa kegiatannya terganggu.


Tak mempedulikan protes dari teman-temannya, langkahnya mantap berjalan ke arah seorang gadis yang duduk di sudut kelas sendirian.


Tangannya mengepal kuat. Rahangnya mengeras. Semua siswa yang tadinya protes langsung diam saat menyadari Jisoo datang dengan membawa aura emosi.


Brakk!!!


Gebrakan pada salah satu bangku paling belakang yang berada di pojok membuat sang penghuni bangku bergidik ketakutan.


“Kau bilang apa?!”


Tak berani menjawab, Hana hanya diam menunduk. Ia bahkan bingung kenapa Jisoo bisa semarah ini padanya. Seingatnya, beberapa hari yang lalu setelah ia mendapat bingkisan tikus mati Jisoo menenangkan tangisnya dengan mengusap-usap pelan pundaknya.


Apakah sikap dan sifat seseorang bisa berubah secepat itu?


“Ku tanya, kau bilang apa?!!” Mata Jisoo memerah.


Semua siswa mundur. Takut dengan amarah Jisoo yang tak seperti biasanya.


Jisoo memang dikenal sebagai siswi yang jarang sekali menunjukkan ekspresi. Hanya ekspresi galak dan dingin yang terpancar dari raut wajahnya. Tatapan nya tajam serta mengintimidasi.


Jisoo hanya tertawa saat ia bersama dengan teman-teman yang sudah dikenalnya dari lama. Atau ia akan tertawa saat ia berhasil mengganggu Hana.


“Kalau aku bertanya dijawab!!” Reflek Jisoo menjambak rambut Hana. Membuat Hana mendongak dan merintih kesakitan.


“Ku tanya, kau berkata apa?!!” Jambakan itu semakin kuat seiring tangisan Hana yang terisak. Hanya kata ampun yang bisa keluar dari bilah bibir Hana. Siswa yang lain saling pandang. Tak ada yang berani menenangkan Jisoo dan menyelamatkan Hana.


“DASAR PEMBUNUH!!” teriakan lantang dari Jisoo menggelegar memenuhi isi ruang kelas. Bersamaan rambut Hana yang di cengkeram semakin kuat. Tanpa ada rasa kasihan sedikitpun.


Hana bahkan bingung dengan apa yang Jisoo maksud. Seingatnya, ia tak melakukan kesalahan apapun. Ia bahkan belum mengeluarkan suaranya hari ini.


“Hana!!” Jimin yang baru saja masuk kelas dikejutkan dengan kondisi Hana yang kesakitan karena jambakan Jisoo.


Laki-laki itu segera berlari. Mengenggam pergelangan tangan Jisoo, dan menatap Jisoo tajam. “Lepaskan Hana. Kau kenapa?”


Bukannya menjawab, Jisoo semakin memperkuat jambakannya pada rambut Hana.


Urat yang ada pada tangan Jisoo terlihat menyembul keluar. Mata merah menyalang dengan sedikit mengeluarkan air mata. Wajah memerah karena amarah. Buku kuku memutih menandakan jambakan yang semakin menguat.


Wajah Hana pun tak kalah merah karena menahan sakit. Bisa dipastikan akan ada banyak helaian rambut Hana yang tertinggal di genggaman Jisoo setelah gadis itu membebaskan rambutnya.


“Jisoo stop!” Teriakan sang ketua kelas tak didengar sama sekali.


Semua siswa bergidik ngeri menatap Jisoo. Amarah seolah mengambil alih tubuh Jisoo. Gadis itu bahkan terlihat seperti iblis yang sedang murka.


Haruskah Jimin menampar Jisoo?


PLakkk!!


Dan benar, satu tamparan melayang pada pipi kiri Jisoo.


“Kau kenapa?! Jangan berbuat gila. Kenapa bisa seperti ini?!” bukan Jimin yang menampar Jisoo. Tak akan tega laki-laki itu melukai seorang gadis.


Tamparan itu berasal dari Joy. Gadis itu berlari dari arah kantin menuju kelas setelah seorang siswa memberitahunya bahwa Jisoo mengamuk pada Hana.


Hal itu membuat Joy terkejut bukan main. Jisoo memang sering menyakiti Hana, tapi tak mungkin Jisoo mengamuk besar jika tak ada sulut api yang menantang Jisoo.


Jisoo terdiam. Kedua tangan mengepal di sisi tubuhnya. Tatapan mata tak pindah dari Hana. Mengabaikan desisan sakit dari bilah bibir Hana.


Seolah tak peduli di mana dirinya berada saat ini. Jisoo kembali berjalan mendekat ke arah Hana. Menarik satu kursi tanpa melepas tatapannya. Menjajarkan dirinya dengan Hana yang beringsut ke takutan.


Tangannya menengadah meminta tas sekolahnya. Seorang siswi mendekat dengan takut dan memberikan tas ransel hitam mengkilat milik Jisoo.


Disambarnya tas tanpa dosa itu. Tangan kiri mengelus pelan permukaan tas. Sementara tangan kanannya bergerak memegang dagu Hana.


Jimin sudah bersiap jika saja Jisoo melakukan tindakan gila. Kali ini, ia akan menampar Jisoo jika gadis itu berani melakukan kekerasan.


Jisoo mengelus dagu Hana. Membuat tubuh Hana bergetar takut. Elusan itu berubah menjadi cengkeraman. Bibir tersungging miring. Menatap jijik pada gadis sebaya di depannya.


Tangan yang semula ia gunakan untuk mengelus tas punggung sekolahnya, bergerak mengelus pipi kanan Hana. Menyelipkan anak rambut yang jatuh pada pipi Hana. Sesekali menarik satu persatu helaian anak rambut dan mengabaikan rintihan pelan dari sang punya rambut.


“Jisoo, sekali lagi aku beritahu. Jangan main-main. Lepaskan Hana. Ada masalah apa sampai kau terus-terusan mengganggunya?” Jimin berujar pelan. Menarik pelan tangan Jisoo pada pipi Hana, meski pada akhirnya tangan Jimin di tangkis dengan mudah.


“Diamlah Jim. Aku hanya ingin bertanya pada teman tersayang mu ini.” Cengkeraman yang semakin menguat, serta elusan yang berubah menjadi tepukan kecil.


“Aku dengar dari siswa lain, katanya kau baru bertemu Umji. Benar begitu, Jung Hana?” bisikan dari teman sekelas mulai terdengar. Hana memejamkan matanya. Rasa nyeri dari dagu yang di cengkeram Jisoo benar-benar menyakitkan.


“Dan aku dengar, Umji sudah memberi tahu padamu siapa pembunuh sebenarnya?”


Terlalu ambigu jika disebut sebagai pembunuh. Karena sebenarnya sang korban bisa di selamatkan dan sekarang kondisinya mulai membaik.


“Tapi kenapa gossip tentang pelaku sebenarnya tak beredar sebagaimana harusnya?”


Jisoo adalah salah satu gadis tercantik di sekolah. Sudah pasti ia akan merawat kecantikan tubuhnya. Termasuk kuku-kukunya. Jadi sudah bisa dipastikan cengkeraman pada dagu Hana akan meninggalkan bekas kuku dari sang pemiliki tangan.


Cengkeraman itu semakin menguat. Jisoo bahkan bisa merasakan tangannya yang mulai sedikit basah. Basah karena darah mulai keluar akibat kuku yang menembus kulit.


“Kenapa kau bilang aku pelakunya?!!” bentakan selanjutnya di ikuti oleh tangan Jisoo yang melepas dagu Hana secara kasar. Kepala Hana terdorong ke samping. Membentur tembok putih yang langsung menyambut kepalanya. Jangan lupakan tamparan yang ikut mendarat di pipi putih Hana.


“Jisoo!!” Jimin segera mengelus kepala Hana. Membawa kepala itu pada dekapan hangatnya. Menatap galak pada seorang gadis yang sifatnya sudah tidak bisa dikategorikan sebagai manusia.


“Kenapa?!” tak mau kalah, Jisoo berdiri dan membentak Jimin yang sibuk menenangkan Hana. “Kau tak terima jika Hana aku sakiti? Iya?!”


Bisikan demi bisikan mulai terdengar di dalam kelas. Beberapa siswa bahkan ada yang mengeluarkan ponselnya lalu dengan tega merekam amukan serta cacian Jisoo pada Hana.


Mengabaikan bagaimana hancurnya perasaan mereka yang sedang di fitnah dan di adu domba. Yang terpenting bagi mereka adalah popularitas serta views yang akan mampir di akun social media, serta menjadi orang pertama yang dengan bangga menyebarkan berita yang berujung pada kebencian.


“Dia memberitahu semua orang bahwa pelaku jatuhnya Umji dari lantai dua itu aku. Aku yang tidak tahu apa-apa tapi aku yang di tuduh!” Jari telunjuk menuding tanpa perasaan. Mata yang sudah mulai basah.


“Aku tahu aku sering mengganggunya. Dia boleh benci dan membalasku. Tapi tidak dengan cara memfitnahku!!” Bentakan demi bentakan terus di lontarkan Jisoo. Mengabaikan ada satu siswa yang berdiri kaku dengan kaki gemetar di seberang pintu. Sebelum akhirnya seorang siswa lain datang dan memeluk tubuh Jisoo dari belakang.


“Jisoo tenang!” bukannya diam karena pelukan, Jisoo lebih memilih memberontak dan kembali menyerang Hana.


Jimin tentu menangkis tangan Jisoo yang akan kembali memukul dan menjambak Hana. Sudah cukup gadis itu di sakiti. Sekarang saatnya memberikan balasan pada semua orang yang menyakiti Hana.