I Know I'M (Not) Perfect

I Know I'M (Not) Perfect
Episode 24



Yoongi membawa Hana keluar dari area sekolah. Menggendong hingga parkiran lalu menuntunnya masuk ke dalam mobil hitam miliknya.


Hana masih terdiam. Tak berani menatap Yoongi sedikitpun. Isakannya sudah berhenti sedari Yoongi mengambil alih tubuhnya dari dekapan Jimin.


Menunduk menatap kedua tangan yang tak hentinya bergetar. Kedua telapak tangan yang gusar saling menggenggam. Menghasilkan warna kemerahan akibat mengepal terlalu kuat karena takut.


Sedikit dirinya melirik ke arah spion yang mengarah pada wajahnya. Mengamati wajah pucat mengerikan, warna biru keunguan di pelipis, jejak air mata yang belum mengering, serta wajah yang terpantul sangat kacau.


Membayangkan pulang dalam keadaan seperti ini membuatnya semakin takut. Takut jikalau sang ayah tersayang khawatir dan mengamuk kembali ke sekolah.


Sudah cukup dirinya membuat sang ayah khawatir. Tersirat janji yang harus di tepati untuknya tak lagi membuat sang ayah khawatir.


“Han..?” Panggilan lembut dari arah kemudi membuyarkan lamunan Hana. Diliriknya sekilas kakak tingkat yang sudah duduk di sampingnya dengan arah tatap menuju padanya.


Tersirat jelas raut khawatir dari mimik wajah Yoongi. Rasa bersalah kembali muncul. Lagi-lagi ia menyusahkan orang-orang di sekitarnya.


“Tak apa. Ada aku disini.” Tangan Yoongi bergerak menggenggam lembut telapak tangan sang adik tingkat. Tersenyum manis ke arah Hana. Membuat hati gadis itu sedikit menghangat.


“Maaf,” Kembali menunduk meski sempat menatap sebentar. Tangannya bergetar di genggaman Yoongi.


“Hei sudah.” Satu tangan Yoongi bergerak mengelus lembut pipi Hana. “Ada aku disini. Jangan takut lagi,” senyum semakin manis dan lembut. Hanya Hana. Senyuman itu ia berikan hanya untuk Hana.


Hana mendongak menatap lembut pada kakak tingkatnya. Mengangguk sebentar lalu kembali berucap, “Sunbae, aku tak ingin pulang.”


Yoongi cukup tahu alasan Hana tak ingin pulang. Ia cukup mengenal gadis itu. Alasannya hanya satu, tak ingin ayahnya khawatir.


“Kita singgah ke tempat Nenek Chan.” Ucapnya sebelum melajukan mobil mewahnya meninggalkan area sekolah.


Butuh waktu sekitar dua puluh menit untuk mereka sampai di tempat Nenek Chan. Toko bunga yang selalu terlihat indah dari musim ke musim.


Yoongi membukakan pintu untuk Hana. Menggandeng tangan Hana untuk turun dari mobil. Memapahnya masuk ke dalam toko Nenek Chan.


Dentingan lonceng di atas pintu terdengar nyaring. Seorang wanita paruh baya datang dari arah kasir menyambut keduanya. Mengenakan baju hangat berwarna biru laut serta apron putih bermotif burung dara pun menambah kesan manis meski umurnya sudah tak lagi muda.


Nenek Chan datang tergopoh-gopoh menghampiri keduanya. “Astaga, ada apa dengan cucuku?” pun kaget melihat Hana yang tak sanggup berjalan normal serta penampilan berantakan.


“Ada masalah sedikit di sekolah Nek.” Ucap Yoongi mencoba memberi pengertian pada Nenek Chan.


Nenek Chan membantu Yoongi memapah Hana duduk di atas sofa. Menangkup pipi putih Hana lalu menggerakannya pelan ke kiri dan ke kanan.


Berhati-hati membelai lembut rambut Hana. Gumaman dari bibirnya tak henti ia lantunkan dari semenjak Hana datang.


“Yoonji, kau duduk disini. Biar nenek ambilkan air hangat untuk membersihkan lukanya.”


“Sekalian obatnya nek.”


“Itu sudah satu paket anak nakal.”


Berlalu dari hadapan Hana dan Yoongi, Nenek Chan masuk ke salah satu bilik rumahnya. Mengambil beberapa perlengkapan untuk mengobati Hana.


Tak banyak bekas luka sebenarnya. Tak parah pula luka yang terdapat di tubuh Hana. Hanaya ada satu luka parah yang bersemayam di tubuh Hana. Luka yang semakin hari semakin menganga lebar.


“Sunbae, tolong jangan beri tahu ayah ku tentang ini semua ya?” Pintanya pada kakak tingkat yang masih sibuk melipat mantel hitamnya.


Yoongi tersenyum lembut. Memilih duduk di samping Hana. “Aku tidak janji Han. Mereka harus segera mendapatkan pelajaran.”


“Tapi aku tak ingin mereka terluka Sunbae.”


“Mereka akan terus menindasmu jika tak segera diberi pelajaran.” Tangannya bergerak mengambil telapak tangan Hana. Menggenggam dengan penuh sayang. Sorot mata lembut, serta senyum yang masih terukir manis. “Semua perbuatan pasti akan mendapat imbalan. Dan mereka harus siap mendapat imbalannya, sesegera mungkin.”


Jauh di lubuk hati Hana, sebenarnya ia juga menginginkan mereka semua yang menyakiti dirinya mendapat balasan. Minimal setara dengan apa yang ia rasakan. Namun jika kembali pada rasa ke tidak tegaannya, Hana hanya ingin mereka sadar. Bahwa perbuatan yang mereka lakukan selama ini sangat tidak benar.


Bullying bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Korban akan merasa teracuhkan. Merasa sendiri meski sebenarnya ada beberapa orang yang memihak disekitarnya.


Kebanyakan mereka yang di bully akan merasa asing pada dirinya sendiri. Tak mengenali siapa dirinya, padahal ia adalah orang yang sama. Menganggap perkataan orang tentang buruknya dia adalah benar.


Melupakan sang pencipta yang bisa menolongnya kapanpun ia butuhkan. Berakhir pada jalan yang tidak semestinya.


Melarikan diri pada hal yang menurutnya benar padahal hal itu adalah salah. Hilang rasa respect. Perasaan menghitam, dan apapun yang ia lakukan seolah tak lagi berasa. Menggores tega tubuh atau lebih mudahnya menyakiti tubuh tanpa merasakan rasa perih.


“Han, ini apa?” Selagi Hana melamun menatap Yoongi. Diam-diam Yoongi menyibak pergelangan lengan Hana. Pergelangan yang akhir-akhir ini sering ia tutupi dengan mantel panjang.


Tak ada yang curiga, karena memang musim sangat dingin akhir-akhir ini. Sudah sewajarnya orang-orang memakai pakaian panjang dan tertutup guna menghangatkan tubuhnya.


Buru-buru Hana menarik lengannya dari genggaman Yoongi. Menurunkan kembali lengan mantel yang baru saja di lipat.


Yoongi menatap Hana bingung. Sorot khawatir Nampak jelas di matanya.


Oksigen terasa hilang begitu saja. Dunia bagai runtuh. Menenggelamkan Yoongi yang selama ini tak pernah berfikir sedikit lebih jauh.


Kembali teringat akan percakapan Ayah Hoseok dan Dokter Taehyung. Perihal Hana yang mengidap GAD, gangguan kecemasan yang muncul bahkan ketika tidak terjadi apa-apa.


Memori Yoongi kembali berputar. Memaksa mengingat semua hal yang terjadi pada Hana akhir-akhir ini.


“Kenapa kalian saling diam?” Suara Nenek Chan membuyarkan aksi diam di antara mereka.


Hana duduk dengan kikuk. Sementara Yoongi masih dengan posisinya. Duduk menghadap Hana. Tangan masih menggantung di udara bekas ia memegang lengan Hana. Serta bola mata yang bergerak seolah mencari sesuatu.


“Jangan bertingkah aneh seperti itu. Hana bisa takut kepadamu.” Gertak Nenek Chan pada Yoongi.


Yoongi segera menegapkan badannya. Mengambil paksa tas sekolah Hana. Mengobrak abrik meski Hana sudah melarangnya.


“Sunbae jangan. Kau mencari apa?” Mengabaikan ucapan Hana, Yoongi masih sibuk mencari sesuatu di dalam tas.


“Yoonji jangan bertindak tidak sopan. Kembalikan tas Hana.” Bahkan Nenek Chan harus turun tangan memperingati Yoongi.


Hana menarik tasnya. Tak terima jika tasnya di geledah paksa seperti itu. Hana gadis baik-baik. Meski mentalnya sedikit terganggu akibat bully dari teman sebayanya, tapi Hana masih waras untuk tidak menggunakan barang-barang terlarang.


Tak mungkin ia menggunakan Ganja atau Narkoba di usianya yang masih belia. Tak mungkin juga ia mengecewakan ayahnya dengan bertindak bodoh menggunakan barang-barang tersebut.


Kecuali satu. Jika benar pemikiran Yoongi saat ini, sudah dipastikan Hana dalam kondisi tidak baik-baik saja.


Yoongi menarik kuat tas pada genggaman Hana. Tak peduli rintihan Hana karena tarikan paksa. Tak peduli atas omelan Nenek Chan yang menyuruhnya berhenti.


Sampai akhirnya ia menemukan sesuatu yang membuatnya tak tenang setelah melihat lengan Hana.


Benda itu, benar ada di dalam tas Hana.


Hana menunduk. Air mata tak sengaja turun. Pikirannya kacau. Semua orang akan mengira dirinya aneh. Semua akan benar-benar menjauhinya. Yoongi akan menjauihinya. Begitu pemikiran Hana sebelum Yoongi menarik tubuh Hana kedalam pelukannya.


Nenek Chan diam. Ia tahu, remaja zaman sekarang punya banyak masalah yang mungkin mengganggu mentalnya. Ia diam, memperhatikan cucu laki-laki yang memeluk Hana didepannya.


Mata Yoongi memejam. Mengelus punggung Hana lembut selagi Hana terisak di pelukannya.


Terlalu bodoh Yoongi tak memikirkan hal ini. Hana bukanlah gadis kuat seperti perkiraannya. Apalagi bully yang selama ini ia alami. Sudah pasti Hana merasa lelah. Merasa takdir tak pernah berpihak padanya.


Yoongi mengendurkan pelukannya. Menatap lembut pada gadis yang masih menunduk di hadapannya.


Yoongi menatap Nenek Chan. Tersenyum dan mengangguk jawaban dari Nenek Chan untuk Yoongi.


Dengan hati-hati ia menangkup pipi Hana. Memaksa kedua mata Hana beradu tatap dengan matanya. Sisa air mata ia singkirkan perlahan dengan ibu jari. Gerakan yang lembut membuat Hana memejam sebentar.


“Everything will be alright.” Ucapnya lembut. Mendekatkan wajahnya pada wajah Hana. “All suffering, will go away.” Lanjutnya lalu mencium pangkal hidung Hana.