I Know I'M (Not) Perfect

I Know I'M (Not) Perfect
Episode 37



“Biarkan begini. Tolong, sebentar saja.”


Hana tersenyum lembut. Tangannya masih mengelus punggung tangan Yoongi. Kedua nya masih di posisi yang sama. Tidak ingin berpindah meski faktanya kedua kaki sudah merasa pegal dan minta di selonjorkan.


Yoongi masih setia menyembunyikan wajahnya di balik punggung Hana. Gadis yang selama ini mencuri hati serta pikirannya, kini ada tepat di depannya.


Gadis yang seminggu ini pergi dan tidak sekalipun ia beri kabar, kini ada di dekapannya.


Yoongi ingin membalik tubuh Hana. Yoongi ingin menatap kedua mata Hana. Tapi Yoongi takut, kalau-kalau ia membalikkan tubuh, sosok Hana pergi bersama angin dingin yang sedari tadi berhembus di sekitaran tubuhnya.


Yoongi tidak ingin berhalusinasi terlalu jauh. Yoongi tidak ingin dirinya di ambil alih oleh rindu yang membuatnya harus berfikir jauh hingga ber-delulu bahwa Hana yang pamit ke Jepang sekarang berada dalam dekapannya.


Tunggu?


Jepang?


Yoongi melonggarkan pelukannya?


Pikirannya menjelajah mengingat percakapannya dengan Seokjin beberapa menit yang lalu.


Jepang?


Sedikit kasar, Yoongi melepas pelukannya. Membuka ikon lock pada ponselnya lalu membaca kata perkata dari pesan yang dikirim Hana sebelum kepindahannya.


Hana membalikkan tubuhnya. Mengamati Yoongi yang sibuk dengan layar ponsel nya. Alisnya menyatu dan dahinya berkerut, ia bingung dengan kelakuan kekasihnya saat ini.


Mata Yoongi menatap nyalang pada kata-kata yang di kirim Hana. Setelahnya ia menatap Hana dan layar ponselnya bergantian.


Jika seperti ini, Yoongi benar-benar terlihat seperti orang bodoh.


“Ini?”


“Kenapa?”


“Ini apa?” Yoongi menyodorkan ponselnya pada Hana. Namun, gadis itu hanya tersenyum sebagai jawaban.


“Bagaimana bisa?” Tanya nya lagi.


“Tidak bagimana-bagaimana?” Jawab Hana enteng sambil tersenyum.


Dahi Yoongi berkerut. “Gimana?”


“Tidak gimana-gimana.”


Yoongi menghembuskan nafas kasar. Berkacak pinggang sambil tertawa seperti orang gila, lalu kembali menubruk tubuh Hana dan memeluknya erat.


Hana terlonjak karena kaget. Kedua mataya membola atas tindakan tiba-tiba kekasihnya.


“Aku kira kamu terbang ke Jepang.”


Hana tersenyum lembut. Mengusap kepala belakang Yoongi dengan penuh sayang.


“Aku takut kamu pergi jauh Han.” Lanjut Yoongi.


Hana mencoba melepaskan pelukan Yoongi. “Jangan dilepas, aku masih rindu.” Dan kedua tangan Hana kembali terangkat memeluk erat tubuh Yoongi.


“Aku tidak kemana-mana Sunbae. Aku disini.”


Yoongi tertawa sarkas, “AKu kira..”


“Berhenti mengira-ngira jika Sunbae tidak tahu kenyatannya.” Potong Hana cepat.


“Kenapa tidak bilang?”


“Salah Sunbae tidak mau membaca pesanku.” Hana menggembuskan nafas panjang. “Lain kali, kalau ada apa-apa di bicarakan dulu baik-baik, cari bukti kebenarannya. Jangan asal kabur tidak jelas. Semua perkiraan buruk pada nyatanya tidak melulu berakhir buruk. Kita boleh menerka, tapi jangan sampai kita mengabaikan kenyataan.” Hana tersenyum, “Aku bahkan mengira Sunbae selingkuh.”


Mata Yoongi melotot. Dilepasnya pelukanya pada Hana, beralih mencengkeram kedua pundak Hana lembut.


“Kenapa harus berfikir selingkuh?”


“Habisya Sunbae tidak ada kabar.”


“Kenapa tidak mencariku? Mendatangiku seperti skarang, atau kau bisa… Yakk aduhh sakit!”


Cubitan bertubi-tubi pada lengan Yoongi menjadi hadiah dari Hana untuk Yoongi atas ucapannya.


“Aku itu masih siswa baru. Banyak hal yang perlu kuurus. Aku juga harus menyesuaikan diri di lingkungan sekolah yang baru. Egois sekali padahal Sunbae yang tidak ada kabar.” Bibir Hana mengerucut lucu.


“Hei, iya maaf Han, maafkan aku. Aku laki-laki, tapi aku terlalu pecundang untuk hal-hal percitaan seperti ini.” Tagannya berpindah mengusap kepala Hana. “Jadi kamu pindah dimana?”


“Di SMA XXX. Tidak jauh dari rumah, tapi lumayan jauh kalau dari sekolah ini. Aku butuh perjuangan kesini.” Dengus Hana kesal.


Yoongi tersenyum mendapati ekspresi Hana yang di rasa sangat menggemaskan. Ingin gigit saja rasanya. Namun setelahnya, mata Yoongi membola kaget. “Loh Han! Ini kan masih jam sekolah. Kau kenapa bisa kesini? Kamu bolos?”


“Aku tidak membolos. Ada beberapa berkas yang harus aku urus disini. Tadi aku sudah izin sama pihak sekolah, dan mereka mengizinkanku. Makanya aku kesini, dan sekalian saja bertemu dengan Sunbae yang tidak jelas ini.” Jawabnya ketus di akhir kalimat.


Yoongi mengangguk paham. “Terus semua berkasmu sudah selesai di urus?”


“Kau bertemu dengan mereka?”


Tatapan Yoongi berubah khawatir, dan Hana tahu betul apa yang membuat Yoongi nya khawatir. Mereka yang di maksud Yoongi, Hana sudah tahu siapa jawabannya tanpa perlu berkata untuk memperjelas.


“Hanya beberapa.” Di tatapnya mata Yoongi, dan tatapan itu masih belum melunak. Sorotnya masih kentara khawatir. “Tapi mereka menyapaku dengan baik. Mereka tidak menggunjing ku lagi. Sunbae tenang saja.” Jelas Hana tersenyum di akhir kalimat.


Yoongi mengangguk, menyelipkan anak rambut yang berlarian di sekitar pipi Hana. “Pacarku manis sekali.” Ucapnya yang berhasil membuat pipi Hana merona.


“Yang manis begini jangan di sia-siakan seharusnya.”


Hana dan Yoongi sontak terdiam. Keduanya menoleh pada satu suara yang datang dari balik punggung Hana.


“Hai,” perusak suasana sepertinya datang.


“Ada perlu apa?” Tanya Yoongi ketus.


Yang di tanya hanya tertawa renyah tanpa dosa. “Kenapa? Takut Hana aku ambil?” Hembusan nafas terdengar berat dari lawan bicara. “Aku datang hanya untuk menyapa Hana. Kabar datang nya Hana ke sekolah menyebar dengan sangat cepat. Dan aku terlampau paham kemana Hana pergi jika sudah berada di sekolah ini.”


“Tentu saja menemuiku. Pacarnya.” Tekan Yoongi di akhir kalimat. Membuat Sungjae kembali tertawa. “Kalau pacar masih bisa di rebut kan?”


Yoongi sudah berancang-ancang untuk maju. Tangannya mengepal kuat hingga urat-urat nya tersembul. Namun pergerakannya tertahan karena Hana menahan lengannya untuk tidak berlaku jauh.


Hana tidak ingin ada keributan. Kedatangannya ke sini hanya ingin bertemu Yoongi. Alasan klasik saat berkata datang demi mengurusi beberapa berkas yang tertinggal. Toh yang mengurus semuanya Paman Taehyung, semua ia jadikan alasan agar dirinya bisa bertemu sang pujaan hati yang menghilang hampir 7 hari.


Jadi tidak perlu repot meladeni Sungjae atau orang lain yang sama sekali tidak bergunanya. Fokusnya hanya Yoongi, dan ia tak ingin fokusnya di ganggu atau terganggu.


“Sunbae, kita pergi saja dari sini.” Bisik Hana lembut.


Yoongi melirik Hana. Wajah Hana masih terlihat sedikit takut. Jelas, laki-laki yang di depannya ini dulu sering menjahilinya. Meski tidak separah Joy atau Jisoo, tetap saja laki-laki ini ikut andil  dalam membuat gadinya merasakan trauma.


Membuang nafas kasar, Yoongi melangkah terlebih dahulu diikuti Hana di belakang. Baru dua langkah pergi, langkah nya di cegat begitu saja oleh Sungaje.


“Beri aku waktu untuk bicara dengan Hana.” Tidak menatap, tidak menghadap, Sungjae berujar tanpa melirik Yoongi sedikitpun.


Yoongi tersenyum remeh, “Berani meminta izinku?”


“Kau bisa menunggu sedikit jauh. Aku tidak akan macam-macam. Atau paling tidak, beri aku waktu 5 menit untuk berbicara dengan Hana.”


Yoongi kembali melirik Hana yang saat ini menunduk. Tangannya gemetar, dan Yoongi hanya menghembuskan nafas pasrah. Pindah sekolah pun belum membuat Hana hilang dari traumanya.


Di genggamnya tangan Hana yang bertengger di lengan kanan, mengusap pelan selagi kepala merunduk mengintip wajah manis pacarnya.


“Han, sebentar saja ya, aku disini kok. Dia akan mati jika berani kurang ajar.” Hana mendongak menatap Yoongi, matanya pun sudah berkaca-kaca membuat Yoongi tidak tega. “Aku mengawasi dari sana.” Dikecupnya kening Hana, lalu Yoongi menatap tajam ke arah Sungjae. “3 menit, dan selesaikan urusanmu.”


Yoongi beringsut mundur dari tempatnya. Mengawasi Hana dari balik punggung sang gadis. Yoongi bukan laki-laki gila yang akan membiarkan Hana berdua dengan mantan pembullynya. Yoongi masih waras untuk tidak membangkitkan trauma Hana semakin jauh.


Sesekali Hana melirik ke belakang, memastikan Yoongi tidak meninggalkannya. Dan sebodoh-bodoh nya Yoongi, ia tidak akan mungkin melakukan hal itu.


“Han,” Hana semakin menunduk kala Sungjae memanggil namanya. Tangannya gemetar bukan main. Sungjae mukin tidak menyadari, tapi Yoongi sagat menyadari meski Hana membelakangi dirinya.


“Han, aku…”


Ucapan Sungaje terhenti kala Yoongi kembali datang dan menggengggam telapak tangan Hana erat. “Katakan, aku akan menulikan pendegaranku.” Tegas Yoongi.


Sungjae menghela nafas pasrah. Tidak ingin berdebat lagi, mengingat dirinya hanya di batasi waktu 3 menit. Meski sering membangkang, tapi Sungjae cukup waras untuk tidak melawan anak pemilik sekolah itu.


Berkali-kali Sungjae mengatur nafas, menahan sakit hati melihat Yoongi yang sekarag merangkul Hana. Posesif sekali, batinnya.


“Aku bertemu Bambam belum lama ini. Daniel yang mencari laki-laki itu, dan aku berhasil menemuinya.” Helaan nafas terdengar lebih berat. Mata menatap Hana yang membalas tatapannya takut-takut.


“Aku tahu kau mungkin susah memaafkannya. Aku tahu kau mungkin susah melupakan kejahatannya, mengingat kau di fitnah sampai satu sekolah membencimu. Kau di tuduh melakukan sesuatu hal yang sama sekali tidak pernah kau lakukan…”


“…Tindakan kriminal yang berujung pada pemfitnahan. Meski bukan hanya kamu korbannya, tapi aku merasa wajib harus mendapat maaf dari laki-laki itu untuk mu.”


Yoongi melirik Hana sekilas.


“Aku tahu aku tidak berhak mencampuri urusan orang-orang, dan itu pun bukan sekali tipe ku. Tapi serius, aku tidak tenang saat aku sadar dosaku padamu jauh lebih banyak dan menumpuk. Aku tidak tahu yang aku lakukan ini baik atau tidak, tapi aku hanya ingin tenang mengingat sekarang Yoongi selalu menjagamu.”


Dahi Yoongi berkerut, “Kau ini adik tingkatku. Bisa sopan sedikit?” Dan Sungjae telak mengabaikannya.


“Bambam menitip pesan padaku. Tidak banyak yang laki-laki itu katakana, karena laki-laki itu terlihat sangat hancur. Tidak tahu apa yang telah di laluinya setelah ia di keluarkan dari sekolah. Bambam sekarang pendiam, bahkan waktu aku dan Daniel datang, dia langsung kabur. Sempat susah membujuknya, tapi akhirnya ia keluar dan hanya memberikan ini pada kami.” Disodorkannya bugkusan kecil yang di keluarkan Sungjae dari balik mantelnya.


Dengan ragu, Hana mengambil bingkisan itu. Tangannya yang gemetar smpat tidak sanggup menggenggam bingkisan jika Sungjae dan Yoongi tidak sigap memegang tangan Hana, sudah di pastikan bungkusan itu akan jatuh ke tanah.


“Aku sudah membukanya terlebih dahulu. Maaf lancang, aku hanya ingin memastikan isi bungkusan itu bukan hal yang aneh-aneh. Aku tidak ingin dia berbuat gila dengan bungkusan itu, makanya aku memeriksanya.” Sungjae menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.


“Itu saja yang ingin aku katakan. Maaf mengganggu waktu kalian. Aku akan kembali menemui mu Han, tapi akan ku pastikan Yoongi sedang tidak bersamamu.”


Yoongi melotot, “Dan maaf, aku tidak akan meninggalkan Hana sendirian.” Balas Yoongi sarkas.


Sungjae tertawa lepas sebagai jawaban, menepuk pelan kepala Hana 2 kali sebelum tangannya di kibas kasar oleh Yoongi.


Terkesan posesif? Biarkan saja. Yoongi memang tidak suka miliknya di usik. Apalagi asal di pegang di depan mukanya. Yoongi bisa langsung menonjok pipi Sungjae jika Hana tidak berada di sampingnya. Memberi laki-laki itu pelajaran karena dengan gamblang menyentuh kekasihnya.


Enak saja di sentuh-sentuh, Hana itu milik Yoongi.