I Know I'M (Not) Perfect

I Know I'M (Not) Perfect
Episode 25



“Jadi bagaimana?” Tanya Hoseok saat dirinya sudah berada di ruangan pemilik sekaligus kepala sekolah. Jangan lupakan Taehyung yang turut ikut bersamanya serta Namjoon selaku wali kelas yang ikut duduk di antara mereka.


Sesuai yang di rundingkan Hoseok dan Taehyung, dua pria dewasa itu kembali datang ke sekolah. Kali ini bukan karena panggilan dari Namjoon Ssaem. Ia datang unuk menepati janjinya pada putri semata wayang, Hoseok akan menuntaskan semua kasus pembullyan putrinya selama ini.


Ditemani teman sedari SMA, Hoseok semakin mantap melawan sekolah. Tidak ada lagi ampun dari Hoseok untuk sekolah.


Meski ia harus melawan seluruh wali murid yang sebagian besar adalah orang bernominal tinggi, tak membuatnya gentar melawan mereka semua.


Jika hanya mengandalkan diskusi tanpa tindakan, ia yakin tak akan menemui titik terang. Para wali murid itu bisa menyuap dengan harga tinggi. Bukan tak mau beradu isi nominal. Meski segalanya membutuhkan jutaan won untuk menutup sebuah kasus, Hoseok cukup melek hukum untuk berani maju dan menuntut.


Gampangnya, jika mereka akan mengeluarkan puluhan juta won untuk menutupi kesalahan anaknya, maka Hoseok berani bertaruh ratusan juta won untuk membela anaknya.


Uang memang segalanya. Tapi bagi Hoseok anaknya jauh dari kata segalanya.


Warisan dari istri tercinta yang nyaris gagal ia lindungi. Titipan Eunbi yang tak ia jaga dengan baik hanya karena masih belum bisa menghilang dari jejak memori sang istri.


Mengabaikan banyaknya malam ia memikirkan sang istri, kali ini melawan ego untuk menolong sang anak bukan suatu kesalahan.


Bukan hanya dirinya yang terluka karena kepergian sang istri. Hana, yang bahkan belum sempat melihat rupa sang ibu juga sama terlukanya.


Lahir dan dibesarkan seorang diri oleh sang ayah membuatnya tak mau melukai hati ayahnya meskipun ia harus memeluk ribuan duri selama kurang dari panjang umurnya.


Menjadi orang tua tunggal bagi Hoseok bukanlah suatu hal yang mudah. Ia masih pria dewasa pada umumnya. Merasa kesepian bukan sekali dua kali menemani. Rasa ingin mencari pasangan baru selalu timbul dalam fikirannya.


Jika sosok sang anak tak mengingatkannya akan tanggung jawab besar, mungkin Hoseok sudah menikah lagi sejak Hana masih kecil.


Perbedaan antara ibu kandung dan ibu tiri jelas jauh berbeda. Beruntung jika Hoseok menemukan pasangan yang juga akan menerima Hana.


Perkiraan terburuk jika ia menemukan pasangan yang hanya menerimanya tanpa mau menerima anaknya. Perasaan Hana pasti akan hancur berkali-kali lipat.


Mengurungkan niat mencari pendamping baru, Hoseok lebih berminat untuk membesarkan Hana seorang diri dengan penuh kasih sayang.


“Pihak sekolah sudah menyelidiki kasus pembullyan pada siswa yang bernama Hana.” Mulai sang Kepala Sekolah. “Dan kami merasa menyesal telah mengabaikan tiap detail dari siswa kami.”


“Lalu apa tindakan sekolah pada anak saya serta pelaku pembullyan?”


Hening sejenak sebelum kepala sekolah melirik ke arah Namjoon yang juga sedang menatapnya. Sseolah sedang melakukan telepati, tatapan itu berlangsung selama beberapa detik. Sebelum kepala sekolah kembali menatap Hoseok.


“Tuan Jung, kami selaku pihak sekolah mohon maaf atas kasus bully yang menimpa anak anda. Tapi untuk saat ini sekolah belum bisa mengambil tindakan untuk menghukum pelaku pembullyan Hana.” Taehyung melirik Hoseok sekilas. “Ada masalah lain yang harus segera diselesaikan oleh pihak sekolah. Dan kami akan mengusut kasus itu terlebih dahulu.” Tegasnya yang dibalas seringai sinis dari Hoseok.


“Kau menomor duakan putriku?” Tanyanya tak terima.


“Bukan bermaksud menomor duakan, Tuan. Hanya saja…”


“Kasus siswa atas nama Umji kan yang akan anda dahulukan?” Tebak Taehyung dengan suara berat.


Kepala sekolah dan Namjoon kembali melirik. “Tuan…”


“Mereka menuduh anakku sebagai pelaku kejahatan kasus Umji.” Nada bicara Hoseok mulai terdengar seperti menahan emosi. “Anda seorang ayah, sama seperti saya.” Tangannya mengepal di atas meja. Saling menumpu satu sama lain, meremat seolah ia sedang meremat kertas.


“Apa anda rela jika anak anda di perlakukan sama seperti anak saya?” Taehyung sedikit menggelengkan kepalanya. Susah meredakan Hoseok jika sudah menyangkut anaknya.


“Apa anda merawat anak anda seorang diri? Apa anda seorang single parent seperti saya?” Mata memerah karena emosi. Badan semakin mencondong kedepan seperti ingin menerkam mangsa di depannya.


“Tuan tolong tenang.” Tegas Kepala Sekolah. “Saya sama seperti anda. Saya juga single parent. Saya juga tahu bahwa anak saya dekat dengan anak anda. Tapi pihak sekolah juga punya rencana untuk menyelesaikan permasalahan dilingkungan sekolah.”


Hoseok menghela nafas kasar. Menyenderkan bahunya yang terasa tegang pada kursi. Taehyung masih memperhatikan wajah sahabatnya dari samping. Tak tega jika Hoseok sudah seperti ini.


Tak banyak yang Hoseok inginkan. Ia hanya ingin anaknya di beri keadilan yang selayaknya.


Ia membesarkan anaknya dengan penuh kasih sayang. Meski ia sempat meninggalkan anaknya dan menitipkannya pada Taehyung, tapi ia masih memantau anaknya dari jauh.


Dari pola makan bahkan jam tidur pun ia masih memantau dan memperhatikan.


Tidak pernah ia berfikir jauh perihal kehidupan anaknya. Semua fasilitas mewah bahkan barang-barang keluaran terbaru yang banyak di gandrungi anak remaja pun ia berikan.


Meski anaknya tak pernah meminta di belikan, serta di beri fasilitas lengkap nan mewah, namun Hoseok ingin memberikan treatment sebaik-baiknya untuk sang anak tercinta.


Ia sadar betul, hidup tanpa orang tua lengkap sesekali membuat Hana merasa iri. Akhir pekan yang tak pernah ia habiskan bersama Hana. Pagi hari yang tak pernah ia berikan ucapan selamat pagi, serta malam yang hanya berlalu begitu saja membuat nya terbayang betapa kesepiannya Hana selama ini.


Kesalahan terbesar menganggap hidup berbalut emas membuat anaknya berkecukupan dan bahagia. Toh, kebahagiaan tak hanya diukur dari materi. Percuma mempunyai dunia tapi dunia ternyata tak menganggapnya ada.


Merasa bersalah pula kepada sahabat yang berkali-kali menyuruhnya kembali namun berkali-kali pula ia menolak. Tak mendengarkan perintah Taehyung dan memilih tetap hidup dalam egonya sampai bau busuk mengingatkannya untuk kembali pada seseorang yang masih tegar berdiri menantinya pulang.


Jika satu rumah hancur, ada baiknya membangun kembali rumah yang baru. Bukan menangisi serta meratapi kehancuran rumah itu yang justru tak bisa kembali seperti semula.


Sang pencipta sudah memetakan takdir pada setiap makhluknya. Dan ada kalanya takdir bercanda dengan peta hidup manusia. Lalu, kenapa tidak mencoba memperbaiki bercandaan itu, dari pada terus meratap dan menyesal?


“Saya bertemu Umji beberapa waktu lalu. Berdua bersama anak saya.” Hoseok mengatur nafasnya. Meredam emosi yang meskipun susah ia redam. “Gadis itu berkata bahwa pelakunya dalah Bambam. Namun warga sekolah lebih percaya bahwa pelakunya adalah Hana, anak saya.”


“Dan parahnya, Hana di sebut sebagai pembunuh.” Suara Namjoon membuat Hoseok melirik ke arahnya.


Menahan kepalan tangan untuk tak menghancurkan sekolah, Hoseok kembali berucap. “Ini berarti sama saja tetap menyeret anak saya. Lagi-lagi anak saya yang menjadi korban.” Hoseok menarik berat nafasnya. Menghembuskannya sembari menunduk perlahan. “Tolong segera tuntaskan. Setelahnya saya akan memindahkan Hana dari sekolah ini.”


Hal itu sontak membuat Namjoon dan Kepala Sekolah sedikit membulatkan matanya. Terkecuali Taehyung yang memang setuju dengan ide Hoseok untuk memindahkan Hana.


“Tuan Jung, tapi anda mendengar sendiri bahwa Bambam berkata jika pelaku aslinya adalah Jisoo.” Dan Namjoon sebisa mungkin memberi pengertian agar orang-orang dewasa itu tak salah menuduh.


“Apa anda yakin itu benar ulah Jisoo?” Tanya Taehyung dengan badan condong ke arah Namjoon.


“Jisoo memang sering mengganggu Hana, Tuan Taehyung.”


“Kali ini korbannya bernama Umji, saya ingatkan Tuan Namjoon jika anda lupa.” Kebiasaan Taehyung jika sedang berkata dengan orang lain adalah dengan menatap kedua mata lawan bicaranya tanpa berniat mengendurkan pandangan.


“Umji sang korban berkata bahwa pelaku adalah Bambam. Dan Bambam berkata bahwa ia disuruh oleh Jisoo.” Taehyung menjeda kalimatnya. “Apa anda sudah bertanya pada Jisoo tentang tuduhan dari Bambam?”


“Sudah. Sebelum anda kemari.” Jawab Namjoon tanpa memutuskan pandangan dari Taehyung. “Dan Jisoo menjawab ia bukan pelakunya.”


Terdengar helaan nafas dari Hoseok, “Semua akan mengelak menjadi tersangka Tuan Namjoon. Tak ada yang berani mengakui kejahatan mereka, terlebih mereka adalah remaja yang masih dalam proses pertumbuhan. Mereka, para pelaku aslinya pasti akan ketakutan dan tak akan mengakui perbuatannya.”


“Simpel nya dari perkataan Hoseok, pelaku sebenarnya tak akan langsung mengaku karna ketakutan. Dan lebih memilih berlindung di balik punggung orang lain.” Jelas Taehyung yang mendapat lirikan dari Kepala Sekolah.


“Tuan, saya paham maksud anda sampai disini.” Ketiga pria dewasa itu serempak menatap Kepala Sekolah. “ Saya akan membuat panggilan pada anak-anak yang terlibat kasus pembullyan dan kasus Umji. Saya sendiri yang akan turun tangan, setelahnya baru saya akan mengadakan rapat komite secara keseluruhan.”


“Apa ini tak akan membuat sekolah Heboh?” Tanya Namjoon memastikan.


“Sekolah kita sudah heboh Ssaem. Dan saya tak mau ambil resiko lebih jauh dari kasus ini.” Terang Kepala Sekolah.


“Ini semua berkaitan. Kecerobohan mereka yang sebenarnya malah menjatuhkan mereka atau pelaku aslinya.” Namjoon menumpu kedua telapak tangan. Saling beradu dan meremat. “Jisoo – Hana – Umji – dan berakhir Bambam. Serta kembalinya tuduhan pada Jisoo.” Namjoon tersenyum miring.


“Masih kecil sudah belajar menjadi kriminal.” Lirih Taehyung.


“Mereka belum bisa berfikir jauh, Taehyung.” Desis Hoseok tak kalah lirih.


“Saya akan mulai hal ini besok. Dan akan mengumpulkan wali murid sesegera mungkin.” Final Kepala Sekolah yang mendapat anggukan dari Hoseok, Namjoon dan Taehyung.


* * * * *


Hoseok



Taehyung