
Remaja jatuh cinta. Cinta monyet yang membuat hal kecil menjadi sesuatu hal yang bermakna nan bahagia, menjadi salah satu bentuk deskripsi dari asmara diantara Yoongi dan Hana.
Dua remaja yang saling mengagumi tanpa sengaja. Tidak pernah bertegur sapa sebelum takdir datang dengan sengaja untuk menyatukan mereka.
Sebuah hubungan yang tidak pernah tergambar juga terlintas difikiran keduanya. Cinta yang tumbuh dimulai dari rasa peduli juga rasa terimakasih. Semakin membara saat waktu semakin membuat keduanya menyatu.
“Akhirnya masa lajangmu berakhir.” Sindir Seokjin sembari memasukkan satu tangannya ke kantung celana.
Yoongi tersenyum menanggapi. “Aku bahkan masih belum menyangka bisa menyukai dan berakhir bersamanya.”
“Ya, aku tahu. Kau bahkan sangat dingin padanya waktu kalian bertemu pertama kali.”
“Jangan lupakan aku yang juga memantaunya, bung.”
Seokjin terkekeh pelan. Memainkan salju yang menumpuk di bawah kakinya. “Kau memantaunya karena ia selalu menjadi topik bullyan setiap hari.”
Yoongi tersenyum getir. Benar kata Seokjin. Meski Yoongi sangat dingin, tapi dirinya sering memperhatikan Hana. Bukan suka atau tertarik, hampir seluruh siswa di sekolahannya mengenal Hana karena Hana adalah korban bullying.
Foto Hana yang sering tertempel di madding. Tubuh Hana yang selalu kotor namun tetap berkeliaran di lingkungan sekolah, serta kabar Hana yang tak pernah luput dari cerca sedikitpun. Semua tahu Hana, bahkan Yoongi pun tahu Hana.
Meski tahu, mereka tak pernah memperdulikannya. Yoongi pun terlalu malas untuk berurusan dengan para siswa, termasuk Hana meski Hana menjerit meminta tolong padanya saat lokernya berisi penuh dengan ular karet mainan.
Siapa sangka, gadis yang tak pernah ada dalam daftar hatinya lah justru yang mampu merebut atensi seluruh hatinya.
Membuatnya tak pernah lepas dari bayang Hana sedikitpun. Tak mau jauh, meski jarak kelas memisahkan. Atau jika bisa, ia akan marah pada waktu karena waktu berlalu begitu lama saat mata pelajaran kimia dan matematika berlangsung.
“Kau akan menjaganya kan?” Yoongi menatap Seokjin sebelum bibirnya tersungging tersenyum manis. “Tentu.” Jawabnya, “Aku akan menjaganya, sampai tugasku menjaganya selesai.”
Seokjin membalas senyum manis Yoongi. Lalu setelahnya, keduanya tertawa bersama.
Seokjin tak menyangka, jika temannya yang sangat dingin itu mampu memberikan hatinya pada gadis manis yang sempat menjadi bahan hinaan teman-temannya.
Menanggung tanggung jawab hati yang selama ini hampir membeku dimakan usia karena tak pernah merasakan jatuh cinta.
Siapa sangka, hatinya yang beku mampu di cairkan oleh gadis penuh hinaan dari pasang mata yang memandang hormat pada Yoongi.
Dua orang yang berbeda, bisa dibilang. Hana korban bullying yang selalu dihina dan dicerca, sementara Yoongi anak pemilik sekolah yang banyak di hormati dan dikejar para siswi sekolah.
Nyatanya, takdir mempertemukan mereka untuk saling membantu dan merangkul. Sang pencipta bahkan memberi garis keduanya untuk saling menyapa dan berakhir saling menolong.
Hinaan dan cercaan, dua kata namun bisa membuat luka. Luka menganga yang bisa dibilang tidak mudah disembuhkan meski beribu obat merah di tuangkan sekaligus.
Ucapan kata bagai belati yang bisa membunuh seseorang tanpa luka yang bisa di tangkap kelopak mata.
Ucapan yang menurunkan rasa percaya diri manusia hingga bisa membuat manusia mengakhiri jalan takdir hidupnya hanya dengan tiga kata, “kau tidak berguna.”
Kini, semua itu sanggup Hana hadapi berkat dukungan dari orang terkasih di sekelilingnya. Memikirkan mereka yang tak menyukainya, tidak akan pernah ada habisnya. Karena jika di buat perbandingan ada 70% orang yang membenci Hana dan sisanya 30% menyayangi Hana.
Ibarat kertas putih dengan setitik tinta di tengahnya. Beribu banyaknya orang yang masih menyayanginya, akan kalah dengan mereka yang tidak menyukai dengan kata tajam yang menghina.
Hana hampir putus asa. Memilih jalan untuk ikut menyusul ibunya saat semangat tak lagi mendominasi hatinya, serta kurangnya pelukan dan dukungan dari orang sekitar.
Dua lengan mulus yang menjadi bahan sasaran sebuah benda pipih putih namun tajam yang berhasil di pergoki Yoongi saat Hana benar-benar telah sampai di titik lelahnya.
Beruntung, Yoongi bisa sedikit mengatasi mental Hana yang semakin down setiap harinya. Beruntung Yoongi selalu berjaga di sekitar Hana dan sigap memeluk Hana saat tubuh Hana hampir ambruk karena tidak kuat lagi menahan cerca dari teman sebayanya.
Yoongi bukan laki-laki yang kaya akan kata motivasi. Jika bisa Seokjin deskripsikan, Yoongi adalah laki-laki dingin dengan kata tajam menusuk yang bisa membuat lawan bicara nya diam saat beradu pendapat dengannya.
Sebelumnya, Yoongi belum pernah menghadapi gadis yang menangis atau merajuk. Kedepannya, mungkin ia akan sedikit kerepotan dengan pacarnya. Namun, jika sudah cinta, semerepotkan apapun itu akan tetap di lakukan bukan?
“Sunbae?” Perhatian dua laki-laki yang sedang mengobrol itu teralihkan dengan suara lembut dari arah kanan Seokjin. Hana datang dengan kotak bekal di tangannya.
“Ohh Hana! Apa kabar? Bagaimana harimu?” Seru Seokjin saat menyadari Hana datang menyapa mereka.
“Baik Sunbae.” Hana masih mempertahankan senyumnya. Berbeda dengan Yoongi yang sudah kepalang canggung dan bahkan bingung harus cemberut atau tersenyum pada pacarnya itu.
Hana melirik sekilas ke arah Yoongi. Namun Karena dirinya juga malu, Hana langsung memalingkan wajahnya menghadap Seokjin.
“Seokjin Sunbae, maaf baru menemuimu. Aku ingin berterimakasih pada Sunbae, karena Sunbae ikut membantu mencari bukti tentang kasus Umji saat semuanya menuduhku sebagai tersangka. Terimakasih sudah membantu dan menolongku.” Hana tersenyum lalu membungkuk hormat pada Seokjjin.
“A-ahh tidak perlu Han. Aku melakukan itu karena..” Seokjin sedikit berfikir. “Karna harus.” Kekehnya di akhir kalimat. “Tidak perlu sungkan untuk meminta tolong. Datang saja padaku jika kau membutuhkan pertolongan.” Tawa renyah Seokjin kembali terdengar, namun setelah tendangan kasih sayang dari Yoongi mengenai kaki kiri Seokjin, tawa nyaring itu berubah dengan aduh yang berkali-kali terlontar.
Yoongi berdehem mencairkan suasana. Niat hati ingin menyapa sang pacar, namun melihat senyum manis sang pacar saja sudah membuat tubuhnya kaku dan mulutnya terkunci.
Hana menunduk saat menyadari Yoongi mencuri lirik darinya. Buru-buru ia sodorkan satu kotak bekal untuk Seokjin membuat Seokjin memasang wajah bingung.
“Ini kue lapis. Sebagai rasa terimakasih ku untuk Sunbae yang sudah membantuku.” Ucapnnya sebelum tangan Seokjin mengambill kotak bekal dan mmengucapkan terimakasih pada Hana.
Posisi tubuh Haana menyerong menghadap Yoongi. Gadis itu masih setia menunduk. Tak mau beradu tatap dengan Yoongi meski mereka sudah resmi berpacaran. Rupanya, di awal mula masa pacaran sedikit membuat keduanya malu-malu.
“Dan ini untuk Sunbae. Terimakasih sudah memberiku semangat setiap hari.” Ucap Hana sembari menyodorkan kotak bekal satunya pada Yoongi.
Yoongi masih terdiam. Belum berniat mengambil kotak bekal itu sama sekali. Membuat Hana sedikit mendongakkan kepalanya, dan netranya langsung bertemu dengan netra Yoongi.
Yoongi menatap Hana. Masih belum menyangka bahwa gadis manis di depannya kini sekarang menjadi miliknya.
“Lain kali tidak perlu repot membuat bekal. Kau akan kelelahan bangun pagi untuk ini.” Ucap Yoongi lalu mengambil bekal dari tangan Hana.
“E-emm aku tidak lelah kok Sunbae.”
“Tetap saja, lebih baik kita makan di kantin bersama dari pada harus membuat bekal.”
Hana mendongak menatap Yoongi. “Kue lapis itu tidak aku kasih racun kok. Jadi Sunbae tidak perlu khawatir.”
“Aku tidak menuduhmu menambah bumbu racun di kue ini. Aku tetap akan memakannya meski kau beri racun. Aku hanya tidak ingin gadisku kelelahan.”
“Hoekk…”
Serempak Yoongi dan Hana menatap Seokjin. “Maaf, tiba-tiba aku mual.” Akunya sambil menyengir pada sepasang kekasih yang menatapnya heran.
Yoongi menarik lengan Hana mendekat. “Jangan dekat-dekat dengan dia. Nanti kamu ketularan tidak jelas.” Ucap Yoongi sembari mengarahkan dagunya ke arah Seokjin.
“Hey Bung! Tidak jelas begini juga temanmu dari kecil. Jika bukan aku yang menemanimu, siapa yang akan mau menjadi temanmu? Kutanya siapa?!” Protes Seokjin yang justru menimbulkan gelak tawa dari Yoongi dan Hana.
Yoongi masih merangkul pundak Hana. Gadis dalam rangkulan Yoongi pun juga masih tertawa-tawa karena tingkah Seokjin juga cerita-cerita Seokjin yang berhasil mengocok perutnya dan membuatnya tertawa.
Yoongi memperhatikan Hana dari samping. Dirinya bersyukur Hana sudah bisa tersenyum lebar setiap saat.
Tidak ada lagi perasaan khawatir yang mendominasi juga takut yang selalu menemani. Meski perlahan menghilangkan rasa trauma dari lingkungan sosial Hana, setidaknya Yoongi sudah berhasil membuat Hana tertawa langtang terlebih dahulu.
Biarkan Hana menikmati kebahagiaan yang selalu di idam-idamkan nya. Biarkan Hana tersenyum dan tertawa lepas tanpa khawatir setelah ini ia akan menangis. Biarkan sebentar, sampai Yoongi berhasil mengambil dan membawa Hana untuk hidup bahagia selamanya.