
"Berjuang untuk sesuatu yang pantas untuk di perjuangkan. Dan berkorban untuk Dia yang pantas menerimanya. Bukan Dia yang tak menghargai sebuah perjuangan dan
Pengorbanan."
~Kim Sohyun~.
.
.
.
.
Bibir Sohyun tak henti-hentinya mengembangkan senyum lebar. Melihat lelaki yang menjadi suami nya itu menyangupkan ajakannya ke Taman bermain. Jonghyun dan Jinna tertawa dengan lepas melihat pandanggan Kota Seoul dari atas Biang Lala yang mana posisi mereka yang kini berada di puncak.
Sohyun ingat dulu ia dan Kai selalu ke taman bermain selepas ujian sekolah. Senyum Sohyun luntur ketika ia menatap wajah datar Kai. Jinna dan Jonghyun masih asik dengan ke antusiasan ke duanya. Dimana Jonghyun mengatakan semua yang ia lihat di atas sana pada sang adik. Memberi tahu tempat apa saja yang mereka lihat.
"Woh ! Terlihat lebih Indah, dari pada yang di tayangkan di televisi." Seru Jinna dengan wajah mengemaskan.
"Sebelum nya apa Jinna tidak pernah kesini dengan Eomma?" Tanya Jonghyun heran.
Pasalnya tidak ada anak-anak yang tidak ke taman bermain. Di umur empat tahun Jonghyun pertama kali bermain di taman bermain. Hinga sampai sekarang. Jadi ia hapal apa-apa saja yang ada di taman bermain.
Wajah Jinna berubah muram. Dan menatap sekilas wajah sang Ibu. Yang mana Sohyun dengan wajah sedih menatap Kai. Kai terlihat mulai sibuk dengan Ponselnya. Hinga tidak terlalu menikmati libur keluarga yang ia lalui bersama Sohyun.
Jonghyun menatap Jinna lalu beralih menatap ke arah tatapan sendu sang adik. Jonghyun menatap Sohyun dan Kai bergantian. Lalu menghela napas berat. Ia mengenggam tangan sang adik dan menarik tubuh Jinna lebih rapat lagi dengan tubuhnya.
Ia membisikan sesuatu di telingga Jinna. Anak berumur empat tahun itu tersenyum dan mengangguk. Selepas turun dari dari Biang Lala Jonghyun menarik Kai, sedangkan Sohyun di tarik Jinna mengikuti Jonghyun. Kai hanya bisa pasrah di seret ke dalam foto boks. Dimana Jonghyun dan Jinna memaksa mereka untuk berfoto.
Tiga jam mereka habiskan di taman bermain. Hinga ke empat nya memutuskan pulang ke rumah karna letih. Di dalam perjalanan, Sohyun dan Kai hanya diam. Di tambah ke dua buah hati mereka tertidur di kursi belakang.
Sohyun melirik Kai yang terlihat begitu serius dengan kemudi. Sohyun mengenggam ke dua tangannya dan meremas pelan. Meski ingatakan tentang apa yang ia lihat masih saja berputar di benak Sohyun. Namun, sekuat tenaga Sohyun menepisnya.
"Kai~ah, apa kau ingat dulu kita saat di SHS bermimpi bersama-sama pergi bermain dengan anak-anak kita." Seru Sohyun mencoba memecahkan ke heningan yang tercipta.
Tidak ada suara. Kai hanya diam memantau laju kendaraan yang stabil dan ruas jalan yang terlihat ramai. Dimana akhir minggu membuat kota Seoul ramai dengan muda mudi dan juga para Keluarga yang berlibur bersama.
Sohyun menghela napas. Ia menoleh menatap ke dua buah hatinya sebentar. Lalu beralih lagi menatap Kai yang masih terlihat sama saja.
"Kenapa kau begitu dingin padaku Kai~ah?" Tanya Sohyun lirih.
Butir bening itu mengalir. Rasa sesak dari rasa kecewa dan amarah yang ia berusaha tekan menciptakan air mata. Sohyun bukanlah wanita yang mau mengeluarkan air mata atau pun rengekan. Namun, ke adaan saat ini membuat ia perlahan mulai muak.
Apakah di sini hanya dia yang mencoba mempertahan kan rumah tangganya. Apa di sini hanya dia yang ingin Kai bisa kembali padanya. Meski sebenarnya apa yang Sohyun pertahankan adalah sebuah kesalahan. Apa yang Sohyun korbankan hanyalah pengorbanan semu.
"Aku lelah, bisakah kita membahasnya di kamar saja. Aku tidak ingin Jonghyun mendengar perkataan dirimu." Tutur Kai dengan suara dingin.
Sohyun tersenyum lirih. Dia tak tau apakah hanya Jonghyun yang berarti di mata Kai. Lalu Jinna?! Apakah ia tidak berarti. Sudah seminggu Kai tidak menunjuk kan perubahan. Dimana terlihat jelas hanya Jonghyun yang lelaki itu perhatikan.
Contohnya saja, saat Jonghyun mengatakan lapar Kai dengan sigap memintakan pembantunya memasak makan atau menghidangkan makan. Saat pergi ke kantor, Jinna ingin di peluk dan di cium. Kai hanya membelai kepala Jonghyun dan mengandeng tangan Jonghyun saja.
Miris ! Sohyun melihat air mata di sudut mata Jinna. Anak itu menangis tampa suara. Ia merasa Kai membenakan kasih sayang. Seolah-olah Kim Jinna bukanlah anak nya. Hinga perlakuan antar Jinna dan Jonghyun begitu berbeda.
"Oh, maaf." Ucap Sohyun lirih.
Ia mengalah. Ia tak ingin Jinna dan Jonghyun mendengar kan pertengkaran ke duanya. Hanya butuh waktu dua puluh menit. Mereka sampai di runah. Saat keluar dari mobil, lagi dan lagi. Kai hanya memperhatikan Jonghyun. Ia membawa Jonghyun dalam gendongannya. Tampa menoleh kebelakang di mana Jinna masih tertidur lelap di kursi.
Sohyun meraih tubuh sang Putri. Meluknya dengan erat. Seolah mencari ke kuatan untuk bertahan. Saat ia sampai di ruangan tamu megah milik Kai. Di sana ia melihat Kai menyerahkan Jonghyun pada Nina. Nina tersenyum dan mengendong Jonghyun dengan elusan di punggu lelaki itu.
Sohyun merasa begitu terbakar melihat senyum Kai untuk Nina. Senyum lembut seolah-olah ke duanya adalah sepasang kekasih. Ah tidak ! Mungkin ke duanya seolah mengatakan bahwa ia adalah Ibu dan Ayah dari anak berumur tujuh tahun itu.
"Eomma." Seru Jinna mengucek ke dua matanya.
Ke dua mata Sohyun menatap wajah imut Jinna yang terlihat masih belum terkumpul seluruh ke sadarannya.
Sohyun tersenyum, ia mengelus rabut hitam legam sebahu milik Jinna. Dan melangkah menuju kamar Jinna yang terletak di sebelah kamar Jonghyun.
Ia menidurkan tubuh kecil Jinna di kasur. Dan menyelimuti sang putri hinga batas dada. Saat Sohyun akan berdiri Jinna menahannya. Membuat ke dua mata Sohyun menatap wajah Jinna. Seakana bertanya apa yang di mau oleh Jinna.
"Tudurlah bersama Jinna di Sini Eomma. Jinna takut sendiri." Pinta sang Putri memelas.
"Baiklah. Eomma akan di sisi Jinna dan tidur di samping Jinna." Ucap Sohyun lalu merebahkan tubuh lelahnya di samping Jinna.
Dengan perlahan Sohyun bernyanyi pelan. Menepuk perlahan dada Jinna dan satu tangan lagi mengusap puncak kepala Jinna. Hanya lima menit saja ke dua mata kecil itu tertutup sempurna. Hembusan napas teratur dan wajah yang mengemaskan.
KLIK !
Drreet !
Bunyi pintu berderit terbuka terdengar. Membuat Sohyun mengalihan tatapan dari Jinna ke arah ambang pintu. Jonghyun tersenyum. Ia melangkah masuk menutup pintu dan melangkah setengah berlari ke arah ranjang.
"Jonghyun ingin tidur dengan Eomma dan Jinna." Tutur Jonghyun langsung mengambil tempat di sebelah kiri Sohyun.
"Eomma nyanyikan lagu tidur untukku." Pinta Jonghyun.
"Bukan nya tadi Jonghyun sudah tidur?" Tanya Sohyun membalikan tubuhnya ke arah kiri.
"Ya, tapi Jonghyun terbangun saat mendengar suara Eomma. Jonghyun ingin tidur dengan nyanyian seperti Jinna." Ucap Jonghyun jujur.
Sudah lama Jonghyun tidak merasakan perasaan bahagia. Berkumpul dengan keluarga dan di nyanyikan ketika tidur. Ia ingin sang Ibu berada di sisinya selamanya bersama dengan sang adik.
"Hem. Baiklah, Eomma akan menyanyikan lagu untuk pangeran." Tutur Sohyun.
Jonghyun tersenyum dan masuk ke dalam pelukan Sohyun. Wanita cantik itu menepuk belakang pungung Jonghyun dengan perlahan. Di temani nada-nada mampu mengantarkan lelaki tampan itu menuju mimpi indah.
Di luar kamar Nina hanya terdiam. Sejauh apa pun dan sekeras apa pun Nina menunjukan kasih sayang pada Jonghyun. Anak lelaki itu tetap akan berlari pada Ibu kandung nya. Nina mencintai Jonghyun begitu tulus.
"Aku berharap kau akan memanggil aku Eomma suatu saat nanti Jonghyun. Sama seperti kau memanggil Sohyun. Meski aku bukan Ibu kandungmu, tapi aku juga tulus mencintaimu." Ucap Nina Sendu.
***
Sohyun berlari. Ia membungkuk membantu Jinna yang terjatuh hinga tempurung lututnya berdarah. Sedangkan Kai dan Nina membantu Jonghyun yang hanya lecet sedikit saja. Jonghyun bersikeras ingin mengonceng Jinna. Namun naas ia terjatuh.
"Jonghyun tidak apa-apa?" Tanya Sohyun khawatir dimana di pelukan nya Jinna merintih pelan.
Kai menatap Sohyun dan Jinna nyalang. Kai tidak pernah membiarkan sang putra tergorgores sedikit pun. Namun melihat Jonghyun meringis dan berkaca-kaca membuat Kai murka.
"Kau kenapa merengek pada Jonghyun untuk membawa bersepeda." Teriak Kai membuat Jinna terkejut begitu juga dengan Sohyun.
Kai memberikan Jonghyun pada Nina. Sohyun menatap Kai tidak percaya. Bagaimana bisa Kai menyalahkan Jinna yang tidak tau apa-apa. Dan ayolah, di sini luka Jinna lebih parah dari pada luka Jonghyun. Tapi Sohyun tidak murka. Karna terluka saat bermain adalah hal biasa.
"Kai~ah. Kenapa kau menyalahkan Jinna?! Mereka bermain sepeda jatuh dan tergores adalah hal biasa." Ucap Sohyun tak terima Kai menyalahkan Jinna.
Jonghyun di bawa masuk oleh Nina. Meski anak lelaki itu tidak mau. Jinna memeluk leher Sohyun. Wanita bermata bulat itu tau sang Putri menanggis tampa suara. Tubuhnya bergetar.
"Kau lebih membela anak itu?" Tutur Kai tidak percaya.
"Jinna bukan anak itu Kai ! Dia anak kita dan memiliki nama." Teriak Sohyun tak terima.
"Oh, begitu." Ucap Kai penuh remeh.
Sohyun menatap Kai dengan tatapan marah. Ia muak dengan cara Kai memperlakukan Jinna. Tidak ada kelembutan dan kasih sayang.
"Eomma." Rengek Jinna pelan.
Sohyun memeluk Jinna dengan erat. Cukup sudah ia bersabar dengan tingkah kelewatan Kai. Sekaan Jinna tidak berharga di mata Kai.
"Apa yang salah dengan mu eoh! Kau begitu tidak menyukai Jinna? Dia anakmu Kim Jongin." Tutur Sohyun marah.
Kai tersenyum sinis. Anak? Yang benar saja, Kai hanya memiliki satu anak saja dengan wanita di depannya ini. Hanya Kim Jonghyun bukan Kim Jinna.
"Dia hanya anakmu bukan anakku." Tutur Kai tampa berprasaan.
DEG !
SAKIT !
Sohyun merasa tertampar dengan apa yang di katakan oleh Kai. Air matanya meleleh, tidak kah ia berpikir dan memiliki sedikit hati saja. Anak yang dia katakan bukan anaknya ada di antara mereka sekarang.
"Apa?" Tanya Sohyun tak percaya.
"Ya, dia hanya anakmu bukan anakku. Jadi jangan biarkan anakmu itu melukai anakku." Tutur Kai dengan latang.
Belum sempat bibir Sohyun meluapkan lahar panas yang kini bergejolak di hatinya. Ia di kejutkan dengan ke adaan yang terjadi saat ini.
PLAK !
PLAK !
Dua tamparan yang mendarat ke dua sisi wajah Kai membuat Sohyun mematung. Bahkan ke dua orang tua Kai ikut mematung. Sulli melangkah lebar, di antar ke ketiganya tidak lagi sama.
Di tengah-tengah Hong Bin menjadi pemisah ke duanya. Ke dua mata Hong Bin menatap nyalang Kai.
"Brengsek ! Kau lebih rendah dari pada bintang." Ucap Hong Bin dengan napas memburu.
Tampa respon dari Kai yang terdiam. Hong Bin menarik tangan Sohyun menuju parkir mobil Sulli. Sulli menatap Kai dengan mata penuh benci lalu berlari mendekati Sohyun yang di tarik oleh Hong Bin. Tuan dan Nyonya Kim menatap sang Putra dengan pandanggan tak bercaya. Hampir saja tubuh Ny.Kim terjengkal kebelakang.
Untung Tn.Kim menahannya. Wanita paruh baya itu mendengar perkataan Kai dan Sohyun. Ia tidak percaya kata-kata itu keluar dari bibir putanya. Awalanya ia bahagia mendengar Sohyun di rumah Kai. Saat sampai ia bertemu Hong Bin adik ipar dari sang Sahabat. Namun ke duanya terhenti saat perkataan kasar Kai keluar.
Kai masih mematung. Sedangkan Sohyun telah masuk ke mobil Sulli dengan paksaan Hong Bin. Sulli membawa mobil dengan cepat karna Perintah Hong Bin.
"Eomma !!!" Teriakan lantang Jonghyun yang keluar dari rumah mengejar mobil sedan hitam itu membuat ke sadaran Kai kembali.
Nina mengejar Jonghyun. Menghentikan Jonghyun yang mengejar mobil Sulli. Dimana mobil itu sudah tidak lagi berada di depan mata Jonghyun. Anak itu menangis keras.