
"Kita hidup dengan menyalahkan banyak orang atas derita yang kita alami. Tampa sadar, kita menyudutkan orang yang salah.
~Kim Jongin"~
.
.
.
.
Kilatan lensa kamera terus mengambil gambar. Senyum dari ke dua sejoli itu tidak pernah luntur. Sohyun tersenyum dengan ke dua mata tak henti-hentinya menatap lelaki yang merangkul pingang ramping nya.
Sulli mengarahkan para reporter ke luar dari gedung konfersipers. Sohyun menghela napas lega. Saat itu Rowoon mengulurkan sapu tanggan yang ia bawa ke arah wanita cantik itu. Sohyun menerima saputangan hitam dari lelaki tampan itu.
Ke duanya kini duduk di kursi yang sempat menjadi saksi dari pernyataan resmi ke duanya. Yang mana dua bulan lagi akan di adakan pesta pernikahan. Antara Kim Sohyun dan Kim Rowoon. Artis favorit dengan pengusaha Sukses.
"Apa kau yakin akan melakukan hal ini dengan ku tuan Kim?" Tanya Sohyun pelan.
Entah sudah berapa kali Sohyun memastikan jika lelaki itu tidak akan berubah pikiran. Rowon menyadarkan pungung belakang nya di kursi senyaman mungkin.
"Aku tidak akan mundur. Karna apa yang aku perjuangkan telah tidak ada gunanya." Ucap Rowoon pelan.
Sohyun mengerti. Cukup mengerti mungkin lebih tepatnya. Ia dan Rowoon berada di Posisi yang sama. Tidak ada harapan untuk mundur atau pun maju.
Setidaknya ia dan Rowoon bisa berbagi luka yang sama. Sohyun menyingkirkan dendam itu. Karna dendam tidak akan membawa ia pada kebaikan. Terbukti kesalahan yang ia lakukan membuat trauma bagi sang Putra.
Kim Jonghyun. Anaknya masih belum bisa bersuara setelah dua bulan keluar dari rumah sakit. Meski anak itu tidak menunjukan kekosongan di ke dua matanya. Tetap anak itu masih takut dengan Kai. Ia takut jika sang Ayah berada di sisinya. Ia takut dengan darah. Dan ia takut saat bangun tidak menemukan Sohyun di samping nya.
Untuk bisa mendapatkan hak asuh penuh. Sohyun harus punya keluarga utuh. Sama halnya dengan Kai. Lelaki itu beberapa bulan lagi akan menjadi Ayah bagi tiga orang anak. Meski ke dua anaknya saat ini tidak ingin bertemu dengan nya. Bahkan takut padanya.
"Baiklah, jika itu sudah menjadi keputusan bulat untuk Anda." Ucap Sohyun formal.
Rowoon menoleh. Ia menatap lama wajah cantik Sohyun. Wanita di sebelah nya begitu sempurna. Memiliki mata bulat bening, bulu mata yang letik, hidung bangir dan wajah yang cuby menambah kesempurnaannya.
"Jangan memandangku seperti itu tuan. Nanti Anda bisa jatuh pada pesonaku." Goda Sohyun dengan senyum lembut.
Rowoon tersenyum. Ia medesah pelan, ia sudah berpikir berulang kali dengan rencana nya. Untuk melupakan orang yang kita Cintai tidaklah mudah. Tidak seperti membalikan telapak tangan. Namun akan tambah sulit lagi jika kita tidak melangkah menjauh dari ingatan masa lalu. Hinga kata terjebak dalam kata Susah Move on. Akan terjadi, dan untuk melakukan nya. Kita harus punya seseorang yang bisa mengantikan posisi orang tersebut. Tidak peduli jika itu di namakan pelampiasan.
Sebenarnya orang-orang salah dalam kata itu. Pelampiasan itu sangat berbeda dengan melupakan. Dimana jika Pelampiasan itu terjadi di kala kita itu mengangab Orang yang kini berada di samping kita adalah orang yang bisa membuat kita melupakan dia yang menguasai hati. Melupakan adalah dimana kita beralih pada orang lain. Dalam tujuan menyebuhkan hati yang patah. Itulah beda dari dua hal yang kadang di salah artikan oleh banyak orang.
"Mungkin saja. Nanti aku bisa mencintaimu, karna tidak ada yang tidak mungkin bukan di dunia ini Sohyun ~ah !" Tutur Rowoon membuat Sohyun menghilang kan senyum nya.
"Bolehkan aku memangilmu seperti itu. Dan bisakah kau memanggil ku dengan Panggilan Oppa. Karna aku merasa tidak nyaman dengan Panggilan formalmu padaku. Bukankah kau saat ini adalah calon istriku." Tutur Rowoon dengan menatap lurus ke arah netra hitam bening itu.
Sohyun membeku. Ia tidak tau jika Kim Rowoon adalah lelaki yang begitu serius. Lelaki yang memiliki pendirian teguh. Sekali lelaki itu memutuskan untuk maju. Ia akan benar-benar maju. Dan saat ia kini memutuskan untuk melupakan masa lalu. Maka ia akan melakukan itu semua.
"Hem."
Sohyun hanya berdehem dan menganguk pelan. Rowoon tersenyum ia menarik tangan Sohyun yang berada di atas paha wanita berambut sebahu itu. Lalu ia mengengam nya dengan erat.
"Aku mohon buat aku jatuh Cinta padamu." Pinta Rowoon dengan mata coklat dalam miliknya.
"Aku tidak tau apa aku bisa membuatmu jatuh padaku. Tapi aku akan berusaha melakukan nya." Jawab Sohyun penuh keyakinan.
"Aku juga mohon. Bantu aku melupakan rasa sakit masa lalu. Dan Rowoon Oppa, bantu aku untuk jatuh Cinta padamu juga." Lanjut Sohyun dalam hati.
Rowoon mendekatkan Wajahnya ke arah Sohyun. Tubuh Sohyun terasa membeku saat melihat pergerakan Rowoon. Genggam tangan ke duanya terasa mengerat dengan semakin dekat nya wajah Rowoon ke wajah Sohyun.
"Hyung ! Kita pulang saja." Ucap Kai dengan membalikan tubuhnya di ikuti oleh Chanyeol.
Sebelum melangkah Chanyeol menyempatkan diri untuk membungkuk pada Sulli. Gadis itu ikut membungkuk membalas Chanyeol. Sulli menatap kepergian ke dua lelaki itu dengan tatapan kasihan.
Sulli tidak tau kenapa ia jadi mengasihani Kai. Melihat wajah lelaki itu saat berdiri di abang pintu masuk. Melihat bagaimana Sohyun tersenyum bersama Rowoon. Dimana Rowoon mengenggam tangan Sohyun. Dan berakhir Rowoon mendekatkan wajahnya ke arah Sohyun.
Sulli mendesah. Ia masih melihat langkah gontai Kai di ikuti Chanyeol. Hinga pungung ke duanya menghilang di belokan gedung Hotel.
"Aku benci dengan Kai. Tapi aku juga merasa kasihan padanya. Ah ! Aku merasa jadi galau jika berdiri di tengah. Melihat ke duanya tersakiti dengan ke egoisan. Tapi aku tidak bisa menyudutkan siapa yang salah. Karna aku hanya orang luar yang melihat dua sisi." Tutur Sulli pening."Dan seperti nya ke duanya akan punya Cerita berbeda. Ah ! Sudahlah aku bisa pusing sendiri jika begini. " Lanjut nya dan meninggal kan ruangan Aula Hotel.
Ia tidak ingin menganggu Sohyun dan Rowoon. Karna ke duanya butuh waktu untuk lebih akrab. Karna ke duanya memutuskan untuk menyembuhkan luka sama lain. Tidak ada yang tau bagaimana bisa ke dua memutuskan untuk menikah.
Di lain tempat lelaki berkulit tan itu menegak alkhol seperti minum air putih. Chanyeol tidak bisa mencegah menginggat apa yang telah terjadi.
"Hyung !" Seru Kai dengan serak.
"Eoh ."
"Kenapa rasanya sakit sekali?" Tutur Kai dengan menunjuk dadanya. Lalu ia terkekeh pelan.
"Itu tandanya kau masih menyimpan dia di dalam sana Kai~ah." Jawab Chanyeol pelan.
Kai tertawa kesetanan. Sedetik kemudian ia menangis. Kai bukanlah lelaki cengeng yang mudah mengeluarkan butiran air mata. Melihat Sohyun dengan lelaki lain rasanya ia hancur.
"Hyung !" Panggil Kai lagi di sela tangisnya. "Ke dua anakku membenciku. Wanita yang aku cintai akan menikah dengan lelaki lain. Lalu aku harusnya bagaimana? Aku mencintai nya Hyung. Aku mencintai nya melebihi apa pun. Saat dulu melihat ia bercumbu dengan lelaki lain hatiku mendidih Hyung. Hinga aku tidak ingin mendengar penjelasan nya. Hyung ! Sakit."
Kai kembali menegak minuman. Chanyeol mengeleng pelan. Lalu menjauh kan minuman dari jangakau Kai. Dengan gerakan mata Chanyeol meminta bartender tidak lagi meletakan minuman di meja.
"Berikan minuman itu padaku Hyung." Pinta Kai masih dengan air mata.
"Tidak Kai. Kau bisa kembali sakit kau lupa penyakit mu bodoh." Teriak Chanyeol delapan oktaf dengan suara seraknya.
Beruntung bar yang mereka kunjungi memang di tutup oleh Chanyeol. Lelaki bertelinga caplang itu meminta pemilik bar tidak menerima tamu lagi.
Kai terkekeh perih. Lengkap sudah daritanya.
"Hyung ! Aku akan mati dengan kehampaan bukan?" Tanya Kai dengan wajah memerah.
"Siapa bilang." Bantah Chanyeol dengan wajah sendu.
"Nuna bilang. Aku tidak akan lagi mempunyai waktu banyak. Karna itu aku melakukan nya. Aku kejam padanya Hyung. Aku lebih kejam lagi pada Nina. Aku menjadikannya tameng agar Sohyun pergi dariku." Runtuh sudah.
Kai tidak dapat lagi mempertahankan rahasia yang ia jaga satu tahun lebih. Chanyeol merasa lemas. Ia tidak bisa menjawab perkataan Kai. Lelaki itu ingin sekali Chanyeol memukul nya. Jika saja ia tidak ingat dengan apa yang istri nya katakan. Maka Chanyeol sudah memukul Kai.
"Bodoh !" Umpat Chanyeol.
Air mata membesahi pipinya. Park Chanyeol menangis, dengan langkah lemah Nina memasuki bar dengan perut buncitnya. Ia memeluk Kai dengan erat. Kai tercekat.
"Jangan begini. Oppa membuat aku takut. Kita bisa berpisah Oppa tapi aku mohon lakukan operasi itu." Ucap Nina dengan isakan pelan.
Chanyeol menatap Nina dengan tatapan tak percaya. Sedangkan di ambang pintu Ga Eun menatap Nina dan Kai dalam diam. Ia sudah putuskan, Nina harus tau agar wanita itu tidak terluka terlalu jauh. Dan agar Nina bisa membujuk Kai untuk melakukan Operasi.
"Nina~ah, kenapa kau di sini?" Tanya Kai yang masih memiliki ke sadaran.
"Jangan tanyakan apa-apa Oppa. Aku mohon lakukan itu. Aku.. Aku akan mundur. Kita akan bercerai, aku akan membuju Rowoon Oppa untuk tidak menikahi Sohyun. Tapi dengan syarat aku mohon Oppa tetap hidup." Tutur Nina dengan suara bergetar.
Kai tidak menjawab. Ia lebih memilih bungkam. Chanyeol mengedarkan padangannya. Hinga mata basah miliknya menatap wajah sendu sang Istri di ambang pintu masuk.