
"Mimpi di katakan sebagai Mimpi Buruk adalah dimana Mimpi itu hadir menyamai ke jadian di Dunia nyata."
~Kim Sohyun ~
.
.
.
.
.
Sohyun hanya terpaku menatap tubuh sang putri yang di obati oleh Hong Bin. Wanita tua itu mengobati ke dua lutut sang cucu yang terluka dengan telaten. Sudah satu jam mereka berada di Arpartemen. Satu jam pula, Hong Bin tidak mengatakan apa-apa pada Sohyun setelah menarik paksa tangan Sohyun.
Sulli terlihat sibuk memasak makan di dapur. Yang mana area dapur dan ruangan tamu hanya di sekat oleh lemari kaca yang tranparan. Sohyun hanya duduk diam melihat bagaimana wajah datar wanita yang sudah ia angab sebagai Ibunya sendiri itu.
"Cah ! Sudah selesai." Seru Hong Bin merubah wajah datarnya ke wajah ceria pada anak perempuan Cantik itu.
Jinna tersenyum. Dan memeluk leher Hong Bin, tangan Hong Bin membelai punggung belakang Jinna dengan penuh kasih sayang.
"Nenek !" Seru Jinna pelan.
"Ada apa cucu Nenek yang cantik?"
"Apa Jinna bukan anak Appa? Lalu di mana Appa kandung Jinna?"
Sakit. Sudah pasti, bukan hanya Sohyun yang merasa jantungnya di remas. Hong Bin berserta Sulli yang awalanya mengaduk makan terhenti mendengar pertanyaan Jinna. Sulli meremas sendok besi dengan keras. Ia merasa sakit hati mendengar perkataan Kai berserta tindakan.
Tampa berperasaannya Kai mengatakan hal itu. Jinna adalah anak yang masih sangat kecil. Ia tidak seharusnya di kasari, lalu kenapa Kai tidak tau akan hal itu. Hong Bin melepaskan pelukan Jinna. Ia menangkup ke dua belah sisi wajah kecil Jinna. Wajah penuh kerutan itu semakin mengerut saja.
"Mana mungkin begitu. Jinna tentu anak Appa, hanya saja mungkin Appa sedang dalam ke adaan marah saja." Tutur Hong Bin mencoba memberikan pengertian pada Jinna.
Hong Bin tidak bisa memberikan Jinna perasaan beracun. Perasaan benci pada Ayah kandung nya. Karna bagaimana pun, hubungan anak dan Ayah tidak boleh memburuk. Hong Bin tidak ingin Jinna mendendam. Ia saja yang merasakan perasaan itu.
"Tapi, Appa mengatakan nya sendiri. Jika memang Jinna bukan anak Appa. Tidak apa-apa, Jinna cukup punya Eomma saja seperti dulu. Karna di sini ada Nenek dan Bibi Sulli yang sayang Jinna." Tutur Jinna dengan begitu jujur.
Sudut mata Sohyun berair. Wanita itu menangis dalam diam nya. Hong Bin tersenyum lirih, ia menganguk. Dan tersenyum.
"Baiklah. Jinna tinggal dengan Nenek dan Juga Bibi Sulli di sini. Atau tidak kita tinggal di Busan seperti dulu." Usul Hong Bin dengan suara bergetar.
"Oh, Jinna tidak ingin lagi di sana. Jinna takut." Tutur Jinna dengan cicitan di akhir kalimatnya.
Cukup. Cukup sudah ! Sohyun tidak tahan lagi. Ia berdiri dari duduknya dan melangkah tergesa-gesa ke arah kamar. Ia roboh, pertahan kuat seorang Ibu roboh sudah. Ia jatuh di lantai dingin kamar dengan isakan tertahan. Ke dua tangannya menahan laju isakan yang akan mengalun.
Hati Sohyun tidaklah sekuat baja. Sohyun juga manusia yang bisa merasakan hancur. Dan kekuatan bertahan Sohyun sudah berada di ambang batas. Pintu berderit, Hong Bin menuntup pintu dan melangkah ke arah Sohyun. Ia memeluk Sohyun dengan erat.
"Menangislah yang kerasa. Jinna di bawa Sulli membeli es cream di mini market bawah." Tutur Hong Bin dengan elusan di punggung Sohyun.
Tangis Sohyun pecah. Ia meraung, hati Hong Bin merasa di himpit berton-ton beban berat. Di cabik-cabik mendengar tangisan Sohyun. Tangisan sama seperti empat tahun yang lalu.
Tidak ada suara di keluar kan oleh Hong Bin. Ia dengan mata nanar menatap dingin nya lantai. Satu jam posisi kini berubah. Sohyun tertidur di paha Hong Bin. Wanita paruh baya itu mengelus perlahan rambut Sohyun. Ia menghela napas kasar.
Di lain tempat Kai di tatap dengan pandanggan murka oleh ke dua orang tuanya. Terutama oleh sang Ibu, wanita itu tidak rela anak dari sahabatnya di sakiti oleh putranya sendiri.
"Tidak ada yang mau aku jelaskan lagi." Tutur Kai dingin.
Hyemi mendengus. Wanita itu merasa ingin sekali menarik semua rambut anak lelaki pertamanya itu. Sedangkan tuan Kim hanya menatap Kai dengan pandanggan tak terbaca.
"Bagaimana bisa kau begitu pada anak Sohyun." Ucap Ilsung pada sang Putra.
"Aku hanya tidak ingin anaknya melukai anakku." Tutur Kai dengan wajah datar.
"Apa?!" Teriak lantang Hyemi syok hinga membuat ia langsung berdiri dari duduknya.
Ilsung mengeleng. Hampir saja sang Ibu melayangkan pas bunga kaca yang ada di atas meja jika Ilsung tidak mencegahnya. Hyemi bahkan membanting ke samping kana pas bunga yang ia pegang dengan geram. Kai hanya diam, Kai berdiri dari duduknya.
"Jika tidak ada yang di bahas lagi. Aku ingin melihat Jonghyun di kamarnya." Ucap Kai pamit.
"Menikahlah lagi dengan Sohyun." Seru Ilsung dengan suara mengelegar.
"Aku tidak bisa." Bantah Kai lalu melanjutkan langkahnya.
"Yaks ! " Teriak Hyemi menghempaskan semua barang yang ada di rumah sang putra.
Kai tak peduli. Toh ia masih bisa membeli barang-barang yang di rusak oleh sang Ibu. Wanita itu selalu melampiaskan amarahnya ke benda. Dan itu sudah menjadi hal biasa bagi Kai.
Di ambang pintu kamar. Nina menatap Kai dengan sedih. Ia menarik Kai masuk ke kamarnya dan mengunci pintu. Ia memeluk Kai dengan erat.
"Kita jujur saja pada ke dua orang tuamu. Agar mereka tidak lagi mendesakmu." Usul Nina.
"Hem. Kita akan mengatakan nya sebentar lagi." Jawab Kai dengan pelan.
"Terimakasih Oppa." Tutur Nina.
"Terimakasih juga sayang. Maaf aku membuat dirimu harus seperti ini." Tutur Kai lirih.
"Tidak apa-apa Oppa." Jawab Nina.
Ke duanya berpelukan. Seakan memberikan dukunggan untuk satu sama lainnya. Nina mencintai Kai, dimana lelaki itu menarik perhatian dirinya tiga tahun yang lalu. Lelaki itu begitu baik dan juga penuh dengan sesuatu yang tidak dapat Nina jelaskan.
Cinta datang untuk Kai begitu saja. Sama hal nya dengan Kai. Lelaki itu jatuh pada Pesona kesederhananan Nina. Gadis itu begitu sederhana dan penuh kasih sayang yang tidak di buat-buat. Hinga Kai memilih gadis itu sebagai pengasuh dan Ibu untuk putra nya. Terbukti, Jonghyun cepat akrab dan juga menyukai Jinna. Meski suka anak itu dalam taraf yang tak sama seperti ia menyikai sang Ibu.
****
flasback 4 Tahun lalu
Peluh menetes dengan cukup deras. Entah sudah hembusan napas keberapa yang ia hempas kasar. Menatap album foto besar yang ada di tanganya. Dimana di sana banyak sekali foto dirinya dan Kai. Mulai dari mereka duduk di SHS hinga foto menikah.
Jari lentik Sohyun menukar lembaran demi lembaran hinga masuk ke foto USG kehamilannya. Dimana Ia dan Kai merasa bahagia menyambut anak pertama mereka. Begitu banyak hal yang membuat mereka antusias. Bukan hanya Kai dan dirinya. Ke dua orang tua Kai juga begitu. Tentu termasuk Hong Bin sang Bibi.
Sohyun berdiri melangkah menuju balkon kamarnya. Dimana ia menatap halaman luas dan parkir di dalam rumah mewah miliknya dan Kai. Rumah yang di beli oleh orang tua Kai sebagai hadiah pernikahan.
Sohyun tersenyum kecut. Lelaki itu tidak pulang di saat waktu menuju kan pulul dua belas malam. Selalu saja begitu, ia di sibukan oleh Kuliah dan juga beberapa tugas kantor. Padahal pernikah mereka sudah berjalan tiga tahun. Banyak yang berubah dari mereka dan kehidupan mereka.
Sohyun tidak lagi mendapatkan sepenuhnya perhatian Kai. Karna lelaki itu sibuk di luar rumah. Tak lama mobil Kai memasuki rumah dan parkir di depan rumah. Sohyun tersenyum. Ia melangkah terburu-buru keluar dari kamar dan melangkah menuruni tangga dengan antusias untuk menyambut Kai.
Kai tersenyum tipis. Sohyun mengandeng tanganya membawa lelaki itu ke kamar mereka. Kai masuk kamar mandi sedang Sohyun memasukan baju kotor Kai ke keranjang.
Bunyi ponsel bergetar membuat Sohyun penasaran. Jari jemari Sohyun menari membuka kunci dan membuka pesan masuk. Sohyun terpekur melihat pesan dari wanita yang ia yakini adalah teman kampus Kai. Dan Sohyun yakin seratus persen, jika gadis itu menyukai Kai.
Sohyun menghapus pesan yang gadis itu kirim. Ia keluar dari kamar tidur menuju ruang belajar. Ia membuka media sosialnya mencari beberapa nama. Dan saat nama yang ia cari terlihat. Sohyun hanya dapat tersenyum perih. Gadis bernama Yoon Hye Ri itu begitu cantik. Anak dari menteri pertahanan Korea.
Begitu banyak hal yang menarik dari gadis itu. Mulai dari latar belakang orang tuanya sampai ke fisiknya. Jika gadis itu ikut casting maka sudah pasti ia akan di terima melihat betapa sempurna fisik gadis itu.
Lalu Sohyun menatap ke kaca. Wajah Sohyun terlihat begitu kusut dengan tubuh yang sedikit melar. Kantong mata hitam. Dia hanyalah seorang Ibu yang tidak terurus. Ia ingat apa yang di katakan oleh sahabat nya. Jika ia harus merawat dirinya. Tapi masalah nya adalah waktu nya tersita penuh oleh Jonghyun sang putra.
Banyak orang mengatakan bahawa Sohyun tidak pantas bersanding dengan Kai. Lelaki itu begitu sempurna, mulai dari fisik,otak berserta latar belakang keluarga. Lalu Sohyun? Jika Sohyun tidak menjebak hamil dengan Kai. Maka belum pasti ia akan menjadi istri Kai saat ini bukan.
"Aku rasa harus berubah. Jika tidak ingin rubah betina itu merebut Kai akan harus bisa terlihat pantas dengan Kai." Ucap Sohyun pada dirinya sendiri.
Satu bulan setelah itu semuanya berubah. Kai dan Sohyun malah sering cekcok. Sohyun yang merasa amarah nya tak terkontrol membuat ke salahan pahaman terjadi. Hinga pertengkaran besar tidak terelakkan. Kai yang letih dengan rutinitas menjadi ikut terpancing.
Hinga puncaknya adalah perceraian. Kim Sohyun tidaklah menginginkan kebebasan yang ia agung-agungkan pada Kai. Ia ingin bisa berkuliah dan ada waktu untuk mengurus dirinya. Karna wajar ketakutan seorang wanita. Dimana ia melihat ketidak pantasannya.
Apa lagi jika wanita yang mendekati sang suami adalah gadis yang lebih dari dirinya. Apakah ada wanita atau seorang istri yang tidak kalang kabut saat di hadapi ke adaan seperti itu. Dan pengaruh kehamilan membawa emosi Sohyun naik turun.
Meski ke dua orang tua Kai sudah meminta ke duanya untuk berdamai. Namun ke duanya bersikeras untuk tidak mau. Kai yang merasa letih dengan tingkah Sohyun. Tidak ada niat untuk meninjau kembali akar dari permasalahan. Darah muda yang membara dan ke egoisan membuat Kai tidak bertanya.
Bagi Kai, Sohyun butuh kebebasan. Wanita itu tidak ingin merawat Jonghyun lagi. Dan Kai terluka harga dirinya saat sang Istri terus merengek hal yang tidak penting. Untuk lelaki mungkin tidak tapi bagi wanita itu adalah hal yang penting.
Kai yang benar-benar tidak bermain api. Dan benar-benar tidak punya masalah selain lelah dengan tingkah Sohyun. Hinga membenci wanita itu yang membuat bebannya semakin hari semakin bertambah. Kai rindu Sohyun nya yang sederhana, Sohyun yang tidak pernah menuntut banyak hal.
Namun gadis itu berubah. Dan Kai tidak Suka perubahan itu. Di perburuk oleh kata-kata yang keluar dari bibir Sohyun. Yang mana hanya kata-kata keluar saat sedang emosi saja. Itulah alasan kenapa Kai membenci Sohyun. Benci yang tidak pernah ia tinjau dari mana akar perubahan itu terjadi.
Flasback Off
Di bandara mewah, lelaki memiliki senyum lembut keluar dengan wajah segar. Sudah lama ia tidak berada di tanah kelahiran nya. Kini ia sudah siap mencari wanita yang ia Cintai.
Senyum itu begitu tulus. Ke dua matanya berbinar seperti bintang di langit malam.