
"Banyak orang yang menilai sebelah sisi. Tampa mau mengorek sisi lainnya. Hinga menyalahkan yang terlihat salah di
matanya."
~Kim Sohyun.
.
.
.
.
Sohyun PoV
Hari ini adalah hari yang sangat istimewa bagi diriku. Pasalnya, pangeran tampanku memasuki umur genap Tujuh tahun. Empat tahun aku tidak berada di sisinya. Dan empat tahun pula aku tidak bisa menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuknya.
"Selamat ulang tahun uri Jonghyun."
Huffft.....
Api-api kecil yang berada di puncak tujuh lilin dengan warna yang berbeda-beda bergoyang dan mati. Aku menghembuskan lilin dengan seribu doa untuk pangeranku. Senyum kecut terpantri di wajah naturalku. Aku merongoh tas kecil yang mana tersimpan kontak sedang berisi hadiah untuk Jonghyun.
"Eomma merindukanmu." Ucapku lirih dengan desakan air mata yang mengalir di ke dua sudut mataku.
Aku menanggis tersedu-sedu membekap kado yang tak pernah sampai di tangan putra tampanku. Di luar sana, salju semakin lebat turun.
Dulu, saat salju turun. Saat itu adalah kebahagian terindah bagiku. Di mana tangis kencang mengalun begitu nyaring. Menyuarakan keberadaan nya pada dunia. Air mata berserta senyum membaur menjadi satu.
Saat itu adalah saat pertama kali aku melihat nya. Melihat wajah putraku, dengan rengek kecil membahagiakan. Hatiku bergetar, aku menjadi seorang Ibu. Dan aku ingin memberikan dia kebahagian. Berharap lelaki yang dulu menjadi suamiku, akan bahagia.
Kim Jongin, namun lebih akrab di panggil Kai. Lelaki itu adalah Cinta pertamakku. Lelaki yang aku temui saat pemakaman ke dua orang tuaku. Saat itu aku berumur enam belas tahun. Saat ke dua orang tuanya menyambut hangat. Saat aku tidak punya pegangan. Kai memegang ke dua tanganku dengan erat.
Hinga aku jatuh. Ah tidak ! Lebih tepatnya aku tergila-gila padanya. Siapa yang tidak menyukai lelaki sesempurna Kai. Lelaki yang memiliki senyum hangat dan terlihat sangat sexsi saat sudah berhadapan dengan bola basket dan juga Dance.
Tidak aku sangka. Kai juga menyukaiku, meski tidak masuk ke dalam tahap Cinta. Namun karna ke gigihanku. Dia menjadi milikku sentuh nya. Banyak wanita yang iri dengan diriku.
Bagaimana tidak? Aku bukanlah anak orang kayak. Di tambah aku adalah anak yatim piatu. Yang di asuh oleh seorang Bibi yang janda tampa anak. Bibiku di ceraikan suaminya karna mandul. Aku hidup dengan seadanya dengan Bibi. Jika tampa uluran tangan orang tua Kai yang tak lain adalah Sahabat Ibuku. Maka aku tidak akan pernah bisa bersekolah di sekolah mewah.
Dan sekolah dengan gratis tampa memikirkan uang sekolah. Namun, keperluan seorang wanita sangat banyak dari pada lelaki. Dimana butuh biaya lebih untuk make up dan juga beberapa keperluan lainnya. Yang harganya tak bisa di bilang murah.
Aku Sempat bekerja paruh waktu. Merasakan betapa melelahkanya bekerja. Hanya untuk mendapatkan uang tambahan. Agar bisa membeli beberapa make up dan juga baju layak. Aku tidak ingin terus menerus menerima bantuan Kai Eomma.
Aku tau bagaimana rasanya di rendah kan. Bahkan oleh teman-teman Kai sekali pun. Di belakang Kai mereka mencibirku. Masih melekat jelas di ingatanku kata apa saja yang mereka katakan.
"Sohyun memang cantik tapi dia miskin. Tidak sebanding dengan kita."
"Jika bukan karna Kai aku tidak sudi gadis itu bergabung."
"Aku yakin, Kai hanya ingin tubuhnya saja. Setelah puas pasti Kai membuangnya."
Itu adalah segelintir ucapan yang aku ingat. Masih banyak lagi kata-kata yang menyakitkan diriku. Hanya Chanyeol Oppa saja yang menerimaku tulus. Hanya Chanyeol Oppa yang tidak membicarakan aku di belakang Kai. Dan aku bersyukur akan hal itu.
Kai lelaki yang baik. Dia akhir nya menyukaiku, karna aku begitu takut kehilanggan nya. Dan juga takut merasa ke sepian. Aku menjebak Kai, dengan obat perangsang. Katakanlah aku salah di sini. Aku akui itu, namun tidak satu orang pun tau. Bagaimana rasanya kehilangan.
Jika orang-orang di luar sana mengatakan mencintai tampa memiliki adalah bukit ketulusan. Maka aku akan berkata sebaliknya. Karna mencintai tampa memiliki, itu bukanlah Cinta. Karna Cinta itu akan selalu memiliki. Karna Cinta itu egois, dan jika kalian bertanya kenapa aku melepaskan lelaki itu.
Saat ini aku tidak akan mengatakan banyak hal. Yang bisa aku katakan adalah, itu adalah keputusan terbaik untuk diriku dan dirinya. Dan Kenapa aku tidak merebut hak asuh Jonghyun? Karna aku tidak ingin putraku tau bagaimana rasanya hidup miskin. Dia harus hidup mewah, dengan keluarga Appanya. Jika dengan diriku, maka ia akan kesepian.
Seperti sewaktu ke dua orang tuaku pergi. Aku tidak ingin nanti dia menyalahkan aku. Seperti aku yang menyalahkan ke dua orang tuaku. Yang pergi meninggalkan aku di dalam kemiskinan. Aku ingin Jonghyunku hidup bagaimana Putra mahkota. Bukan putra dari Wanita yang tak punya apa-apa.
"Hyun~ah !" Tepukan di bahuku membawa aku kembali ke alam sadarku.
Aku tersenyum hambar. Sulli Eonni melangkah duduk di samping tubuhku. Mengusap perlahan punggung belakangku. Hanya Sulli Eonni yang aku punya di sampingku. Dan juga beberapa orang yang berharga bagiku.
"Aku telah mengirimkannya kado ulang tahun. Aku yakin pilihanmu kemarin akan di sangat di sukai oleh." Seru Eonni dengan belaian lembut di punggungku.
"Ya, aku yakin dia akan menyukai hadiah dari Eommanya yang jahat ini." Jawabku dengan nada begitu lirih.
Lagi ! Air itu jatuh lagi. Eonni membawa tubuhku masuk ke dalam pelukannya. Aku semakin menangis kencang. Rindu itu semakin lama semakin tak tertahan kan. Namun perasaan buruk kian menghantuiku. Aku tidak ingin putraku mengetahui seberapa buruk ibunya ini.
Aku takut ia akan membenci diri ini. Aku takut ia akan menolak cinta ini. Dan aku tidak punya ke beranian itu.
A
Sohyun Off
Sulli mengelus pelan surai artis asuhannya itu. Sulli merasa begitu kasihan dengan Sohyun, ia merasa Sohyun hanya korban dari ke hidup yang keji. Tidak sedikit pun Sulli memojokan keputusan Sohyun. Karna dia melihat ke dua sisi berlainan bukan hanya satu sisi saja.
Sulli pun tidak bisa menyalahkan Kai dengan apa yang terjadi. Ia tau ke duanya terlalu muda saat memutuskan menikah. Hinga pemikiran ke duanya belum cukup matang untuk tau luar dalam hal di dalam mahligai rumah tangga. Hinga semuanya menjadi kacau.
***
Nina mengusap pelan rambut hitam legam tuan mudanya. Ia tau Jonghyun begitu lelah setelah seharian merayakan pesta ulang tahunnya. Anak itu terlihat tidak bersemanggat. Namun karna menghargai tamu yang datang membuat Jonghyun mau tak mau tetap tersenyum dan menjalani proses ulang tahunnya.
Nina menarik selimut bergambar bola hinga batas dada Jonghyun. Ia mengecup dahi Jonghyun dan keluar dari kamar Jonghyun. Nina mengurung niat nya untuk turun ke lantai bawah. Karna melihat Kai yang berdiri di balkon. Dengan senyum lembut Nina menghampiri Kai yang terlihat memejamkan ke dua mata hitam nya dari gemerlap malam.
Tangan mulus gadis bermarga Lee itu melingkar di perut berotot Kai. Membuat lelaki itu mau tak mau membuka ke dua matanya. Ia mengelus pungung tangan Nina dengan lembut.
"Apa yang Oppa pikirkan?" Tanya gadis berlesung pipi itu dengan lembut.
"Bukan apa-apa. " Jawab Kai tak kalah lembut nya.
"Sudah tiga tahun aku mengasuh Jonghyun. Dan menyembunyikan statusku dari Eomma dan Appamu. Kapan kita akan mengatakan bahwa kita telah menikah Oppa. Aku ingin sekali menjadi istri sahmu secara hukum Oppa." Ujar Nina membuat Kai membalikan tubuhnya.
Ia menunduk menatap wajah Nina. Wanita yang resmi menjadi istri nya tiga tahun yang lalu. Tinggi Nina yang sebatas dada Kai membuat lelaki berkulit tan itu menunduk untuk mengecup bibir ranum Nina.
"Bersabarlah. Sampai ke dua orang tuaku, merasa ketulusanmu pada Jonghyun. Saat itu akan kita katakan. Sedikit lagi, karna orang tuaku terlihat masih tidak menerima wanita lain selain Sohyun. Kau jelas tau bukan? Sohyun adalah menantu sekaligus anak dari Sahabat Eommaku." Jelas Kai untuk ke sekian kalinya.
"Ya, aku tau." Jawab Nima menunduk lemah."Tapi bukankah Jonghyun sudah menyukaiku dan mengangab aku Ibunya sendiri. "Ucap Nina menguatkan hati Kai untuk bisa membawanya. Untuk berdiri di samping Kai bukan di belakang lelaki itu.
"Aku tau, bersabar sebentar lagi." Tutur Kai membawa Nina masuk ke dalam pelukannya hangat Kai.
Tampa ke duanya sadari Jung Hena menatap Tuannya dan Wanita yang berstatus sebagai Baby Sister dengan wajah tak percaya. Ia bahkan tak menyangka jika kecurigaan dirinya benar. Jika Tuannya telah menikah setelah perceraiannya dengan Nyonya Kim.
"Astaga !" Ucap Jung Ajhuma dengan membawa semakin ke dalam membenamkan dirinya ke dalam gorden pintu di kaca samping balkon.
Awalnya ia ingin mengantarkan kado untuk tuan mudanya. Karna ia sanggat tau, tuan mudanya akan sangat senang jika tau kado dari siapa yang ia bawa. Namun saat melihat gelagat mencurigakan dari Nina. Ia mengikuti Nina dan lihat !!!
Kejutan yang tak terduga yang ia dapatkan. Mulai dari pelukan, Ciuman dan kata-kata dari ke duanya membuat wanita paruh baya itu membeku.
"Tuan muda yang malang. Bagaimana jika tuan Jonghyun tau jika wanita yang merawat nya adalah Ibu tirinya. Tuan mudah pasti sangat marah dan kecewa." Hanya kata itu yang dapat ia katakan dengan suara lirih.
Sedangkan di tempat lain, Kim Sohyun memasang wajah sumringah saat tepuk tangan meriah dari ekting nya. Begitu banyak pujian yang di lemparkan untuknya. Sulli memberikan tisu pada sang artis saat Sohyun telah menyeselaikan adegan terakhir.
"Eonni aku lelah." Keluh Sohyun dengan wajah mengemaskan.
"Nanti akan Eonni masakan udah telung kesukaanmu." Rayu Sulli sambil menyodorkan tabung air meneral ke arah Sohyun.
Sohyun menerimanya dengan senyum. Ia menegak air mineral nya bahagia. Pasalnya hari ini Bibinya akan mendatanggi Seoul. Hinga ia memaksa Sulli mengantarkan nya pulang ke arpartemen nya.
Sulli pasrah, ia dan Sohyun pulang terlebih dahulu. Tampa merayakan pesta bersama artis lainnya. Dengan alasan ada kepentinggan mendadak.
Sohyun melangkah dengan setengah berlari.
"Yaks !!! Jangan berlari di lorong. Kau bisa jatuh !!" Teriak Sulli mengema di lorong arpartemen mewah.
Sohyun sama sekali tidak mengindahkan teriakan Sulli. Ia menekan tombol kunci arpartemen nya dengan tergesa-gesa. Dari kejauhan Sulli hanya mengeleng kepalanya melihat tingkah laku Sohyun.
Sohyun masuk dengan teriakan kencang. Kalau dia sudah sampai di rumah.
"Aku pulang." Teriak Sohyun lantang membuat pergerakan wanita paruh baya itu terhenti dan berbalik tersenyum.
Wanita paruh baya itu menyusun makanan di atas meja. Dimana di sana makanan ke sukaan sang keponakan.
"Eomma !!" Teriakan lantang dari anak berumur empat tahun itu membuat senyum Sohyun semakin lebar.
Sohyun berlutut menyambut tubuh anak perempuan cantik yang keluar dari kamarnya. Hinga anak perempuan itu masuk ke dalam pelukan hangat sang Ibu.
"Eomma ! Jinna Rindu Eomma." Ucap Jinna dengan suara lucu.
"Eomma sanggat-sanggat rindu uri Jinna~ya." Ucap Sohyun dengan pelukan erat.
Tampa suara tangis. Sohyun menanggis pelan. Sulli yang baru sampai di pintu arpartemen yang terbuka menatap haru ke duanya. Bibi Song hanya menatap ke duanya dengan air mata.