
"Rasa sakit tidak akan pernah menjauh dari hidup manusia. Karna rasa sakit adalah bagian abdi dari kehidupan."
~Kim Sohyun~
.
.
.
.
.
"Jillo !!"
Ke tiganya menatap ke arah anak lelaki yang berlari ke arah mereka. Hong Bin merasa jantungnya di siram air es. Jonghyun tersenyum hangat pada Hong Bin dan juga Jinna.
"Hallo Nenek." Sapa Jonghyun dengan sopan membungkuk ke arah Hong Bin.
"Oh." Hanya kata itu yang dapat di keluarkan oleh wanita paruh baya itu.
"Kenapa kau menatapnya begitu adik manis?" Seru Jillo melihat Jinna menatap Jonghyun dengan heran.
"Oppa itu begitu tampan." Jawab Jinna polos.
Hal hasil Jonghyun dan Jillo terkekeh mendengar perkataan Jinna. Jonghyun mendekat dan mengelus pucak kepala Jinna dengan pelan.
"Siapa namamu adik imut?" Tanya Jonghyun.
Jika Jillo menganggab Jinna manis maka Jonghyun merasa Jinna begitu imut. Hong Bin merasa desiran sekaligus rasa iba melihat interaksi ke dua adik-kakak yang terpisah cukup lama.
"Kim Jinna. Namaku Jinna, nama Oppa berdua siapa?" Tanya Jinna dengan suara mengemaskan.
"Aku Kim Jonghyun."
"Aku Park Jillo."
Ke duanya menjawab serentak. Jinna menatap ke duanya bergantian. Ke dua pipi putih bersih itu semakin memerah. Karna udara dingin semakin terasa menusuk tulang meski pun mereka sudah memakai baju dingin.
"Anak-anak sebaiknya segera pulang. Karna salju akan turun cukup deras." Seru Hong Bin memberikan Nasehat.
"Sebentar lagi Appaku akan menjemput kami berdua Nenek." Jawab Jonghyun dengan ramah.
Keramahan Jonghyun sangat mirib dengan Kai. Saat pertama kali Kai mendatanggi Hong Bin, Lelaki itu begitu ramah. Belum sempat bibir Hong Bin membalas perkataan Jonghyun. Suara berat lelaki berkulit tan dengan jaket kulit tebal menggalun.
DEG !
Hong Bin merasa jantungnya berhenti berdetak. Suara berat sexsi itu adalah suara sang manatan suami sang Keponakan. Ke dua kaki Hong Bin merasa membeku. Ia bahkan tidak dapat bergerak, derap langkah semakin mendekat.
"Jonghyun ! Jillo mari pulang. Maaf Appa terlam..." Ucapan Kai terhenti.
Netra hitam Kai menangkap sosok yang sudah lama tak terlihat. Namun yang membuat ia semakin terdiam adalah wajah itu. Wajah yang menginggatkan dirinya pada wanita yang pernah hadir dan hilang. Wanita yang ia benci, sanggat !
"Jinna~ya. Ayo pulang." Ucap Hong Bin dengan meraih tangan cucu perempuan nya itu dengan gerakan terburu-buru.
Jillo dan Jonghyun menatap heran Wanita tua itu. Sebelum Hong Bin berbalik, tangan Kai menghentikan pergerakan Hong Bin. Dengan menahan tangan wanita tua itu. Meski Pun Kai dan Sohyun telah berpisah. Dan meski pun Kai membenci Sohyun namun. Bukan, berarti Kai juga membenci Hong Bin.
Wanita tua itu. Sudah di angab sebagai Ibunya sama seperti ibu kandungnya sendiri. Hong Bin merasa sangat sial dan bertambah sial lagi. Sohyun yang melambaikan tangan ke arahnya. Membuat mata Hong Bin membulat.
Kai merasa ekpresi yang di berikan oleh Hong Bin begitu aneh. Hinga membalikan tubuhnya ke arah belakang.
DEG !
DEG !
DEG !
Bakan ! Bukan, hanya Kai saja yang merasa jantungnya berdebar. Wanita yang tadinya mengembangkan senyum dengan langkah lebar ikut membeku. Bahkan gadis itu hanya mampu berdiri di Zebracros yang mana lampu hijaunya mulai menghitung mundur.
Meski pun Sohyun memakai penyaran. Menutup wajahnya dengan masker. Namun ke dua netra hitam bening itu tidak pernah di lupakan oleh Kai. Tidak sedetik pun Kai melupakannya. Meski sudah Empat tahun tidak pernah bertemu.
"Eomma !!" Teriak Jinna lantang.
Seakan waktu bergerak slow mention Membuat ke dua mata Kai membulat. Hong Bin terkanga.
TIIIIN !!!!!!!!!!
BRAK !!
"Eomma !!!" Pekikan nyaring dari Jinna membuat Kai berlari tampa ada Perintah dari siapa pun.
***
Tiga Jam, lampu biru ruangan operasi menyala. Hong Bin meremas tanganya dengan wajah ketakutan. Derap langkah kaki di lorong hinga berhenti di depan ruangan Operasi. Sulli ngos-ngosan, menghirup udara agar memenuhi pasokan oksigen untuk paru-parunya.
Jiina menangis. Anak kecil itu menangis segegukan di pelukan Hong Bin. Sulli melangkah mendekati Hong Bin dengan pandanggan sedih.
"Apa yang terjadi Ajhuma?" Tanya Sulli dengan wajah takut.
"Sulli~ah." Hanya seruan lirih terdengar.
Kai menyandarkan tubuhnya di dinding rumah sakit. Jillo dan Jonghyun hanya menatap Kai dan dinding pintu operasi. Ke dua tangan bahkan jaket mahal Kai ternodai oleh bekas darah.
Jinna turun dengan ke dua kaki kecilnya. Jinna berdiri tepat di pintu besi. Ia menyentuh dingin pintu besi rumah sakit.
"Eomma !" Ucapnya dengan suara parau.
Jonghyun merasa terenyuh melihat anak yang muda empat tahun di bawahnya. Ia turun dari kursi melangkah mendekati Jinna memeluk Jinna dan mengelus pungung belakang Jinna.
Kai menatap Jinna dengan pandangan sulit di artikan. Setiap kali menatap netra hitam bening itu. Hatinya seakan bergetar. Sulli masih bicara dengan Hong Ajhuma. Namun dengan suara yang sangat kecil. Kai merasa tak kuat lagi melihat interaksi ke duanya.
Ia melangkah mendekati Jinna. Dengan ke dua kaki di tekuk. Kai menyapu ke dua air mata yang mengalir di ke dua pipi cuby Jinna. Jika anak perempuan di depan nya ini adalah anak Sohyun. Dengan lelaki lain, Kai tidak akan memberikan kebencian pada anak imut di depannya ini.
"Eommamu pasti baik-baik saja." Seru Kai dengan memberikan Senyum pada Jinna.
Ke dua mata berair itu menatap Kai dengan pandanggan polos. Tangan suci tanpa dosa itu memeluk leher Kai. Ia terisak, pelukkan hangat Kai membuat hati lelaki berkulit tan merasa sesuatu yang asing. Sesuatu yang tidak pernah ia rasakan bahkan saat memeluk Jillo anak dari temanya sekaligus asistennya.
Sulli dan Hong Ajhuma menatap ke duanya dengan pandanggan berbeda. Jika Sulli menatap Kai dengan pandanggan kasihan. Maka Hong Ajhuma menatap Kai dengan perasaan benci memuncah. Semua rasa sakit Sohyun adalah karna Kai. Lelaki itu sangat ia benci. Rasa sayang dan rasa kagum itu tidak lagi tersisa di hati Hong Bin. Ia tidak menyukai Kai. Sungguh sangat tidak Suka.
***
Ruangan putih itu terasa hangat. Sehangat suara tawa dari anak-anak di dalam ruangan. Satu minggu adalah waktu yang tidak singkat. Setelah Sohyun bangun dari tidur cukup panjang dan menakutkan bagi Hong Bin dan Sulli.
"Aku tidak menyangka. Jika aku dan dirimu sudah punya anak yang cantik dan tampan." Ucap Sohyun dengan wajah tidak percaya.
Kai yang menampilkan senyum masam. Saat ke dua matanya bertemu dengan mata Hong Bin. Wanita tua itu menatap Kai dengan tajam. Jonghyun tersenyum lebar, sangat lebar. Ia tak menyangka jika ia bertemu dengan Ibu kandung nya sendiri.
"Oh." Hanya itu jawaban dari Kai.
Dokter Cantik itu memeriksa ke adaan Sohyun dengan seksama. Lilitan kain kasa putih di dahi Sohyun terlihat jelas.
"Ke adaan Ny.Kim sudah membaik. Usahakan jangan berpikir terlalu berat. Dan secepat Ny.Kim akan bisa pulang kerumah." Ucap Dokter bername tag Cho Ahra itu.
Sohyun tersenyum lebar. Ia tidak sabar kembali ke rumahnya. Ke dua netera Sohyun bertemu dengan Sang Bibi. Hong Bin tersenyum mengangguk.
Flasback on
Dokter menjelaskan situasi yang terjadi. Kim Sohyun, ia kembali ke masa lalu. Dimana masa Kim Sohyun masih menjadi istri sah Kai. Dimana Sohyun masih baru menikah dengan Kai. Hong Bin meremas ujung bajunya.
Kai menatap wanita dengan seribu kerutan itu dengan pandangan tak terbaca. Ke duanya duduk di caffe di dekat rumah sakit.
"Lakukan itu." Ucap Hong Bin dingin.
"Aku tidak bisa Bibi. Aku dan Sohyun sudah bercerai dan tidak ada urusan lagi dengan nya." Jawab Kai masih dengan nada sopan.
Hong Bin tersenyum sinis. Lalu memberikan selembar kertas yang talah kusam. Dahi Kai berlipat, ia mengambil keras yang di sodorkan oleh Hong Ajhuma.
"Apa isi kertas ini?" Tanya Kai dengan wajah penasaran.
"Bukalah."
Dengan perlahan, Kai membukanya. Ke dua mata Kai membulat sempurna.
"Jika Kau tak ingin kehilanggan Jonghyun. Maka berpura-pura lah menjadi suaminya. Perlakuan Sohyun dengan baik, mengengai Jinna. Dia adalah anak angkat Sohyun. Ingat Kai, aku akan membuat hidupmu berserta Wanita itu hancur ! Jika keponakanku hancur lagi. Maka kau dan dia akan ikut hancur. Aku memang tidak punya ke kuasaan. Tapi satu kata yang keluar dari bibirku. Maka itu lebih menakutkan dari ke kuasaan yang kau miliki." Ancam Hong Bin lalu berdiri dari duduknya.
"Temui besok Sohyun." Tak mau mendengar kan jawaban Kai.
Hong Bin melangkah menjauh. Kai menatap nanar pungung Wanita tua itu. Hong Bin mengarang banyak banyak cerita. Hingga Kai hanya tau Jinna adalah anak angkat. Kartu as yang ia miliki mampu membuat hati dan ego Kai runtuh.
Flasback off
"Istirahatlah Sohyun." Jawab Kai menarik selimut hinga batas dada Sohyun.
"Eoh." Jawab Sohyun menuruti perkataan Kai.
Jonghyun menaiki tempat tidur dan masuk ke dalam selimut di ikuti oleh Jinna. Di sebelah kanan Jinna dan sebelah kiri Jonghyun. Ke dua tidur bersama Sohyun tampa ada bantahan. Sohyun tersenyum.
Hong Ajhuma tersenyum. Ia merasa bahagia. Karna ini adalah pertama kalinya ia melihat senyum dan wajah ceria tampa kepalsuan. Dimana Sohyun nya yang dulu telah kembali.