
"Kalian tau apa yang paling kejam di dunia ini?! Yang kejam di dunia ini adalah. Dimana saat kau Ingin memperbaiki ke salahan. Namun waktu tak memihakmu."
~Kim Jongin~
.
.
.
.
Dokter cantik dengan rambut bergelombang itu meletakan botol obat terakhir di atas nangkas. Kai hanya menatap hampa ke arah layar lebar bergambar dengan tampilan wanita yang sangat ia kenal. Wanita yang menjadi cinta pertama dan wanita yang menjadi Ibu dari anak-anak nya.
"Apakah kau akan melepaskan nya begitu saja?" Tutur Ga Eun menatap wajah pucat Kai.
Lelaki itu mengalihkan tatapan matanya ke arah Ga Eun. Ia tersenyum tipis dengan bibir menghitam.
"Lalu aku harus merebut nya dari lelaki itu. Dan berkata aku sakit, aku mencintai nya dan meminta dia kembali padaku?" Tutur Kai dengan suara serak.
Ga Eun mendesah. Ia menatap Kai dengan tatapan kasihan. Bunyi pintu di geser menarik perhatian ke duanya. Wanita paruh baya itu masuk dengan wajah tak terbaca. Ga Eun menatap wanita itu sesaat lalu memilih meninggal kan ke duanya.
"Ajhuma." Seru Kai dengan palan.
Hong Bin membuang wajahnya kesamping. Ia mengenggam kuat ujung tali tasnya. Lalu melangkah mendekati Kai. Ia menarik kursi di samping tempat tidur Kai. Dengan perlahan ia duduk di samping Kai.
"Apa yang ingin kau lakukan lagi? Semua nya telah aku lakukan untukmu. Kau mau apa lagi?" Tutur Wanita paruh baya itu dengan suara serak.
"Terimakasih." Seru Kai dengan lirih.
Hong Bin berdecek kesal. Tidak ! Mungkin lebih tepatnya. Wanita itu merasa benci sangat Membenci lelaki di depannya itu. Lelaki yang sudah membuat keponakan nya menderita. Jika saja Sohyun tidak di pertemuan kan dengan Kai maka ia tidak akan merasakan sakitnya di tinggalkan bukan? Sakitnya di campakan dengan cara yang kejam.
"Bodoh. Kenapa kau masih kejam Kai? Tidak bisakah kau mengakhiri semuanya. Wanita tua ini letih Kai. Biarkan aku melepaskan semua nya." Tutur Hong Bin pelan.
"Tidak. Biarkan aku menyimpan rahasia ini sampai mati Ajhuma." Pinta Kai dengan bibir bergetar.
Mata tua itu basah. Ia tidak tau harus bagaimana. Kekejaman lelaki yang berbaring itu membuat ia muak. Namun ia tidak punya pilihan lain selain menuruti permintaan lelaki itu. Membuat Sohyun jauh darinya. Membuat Keluarga nya benci padanya. Membuat ia sendiri.
Benci?! Pada Kim Sohyun?! Ingin rasanya Hong Bin tertawa lantang. Bagaimana bisa lelaki itu mengatakan benci jika semua yang terjadi adalah sandiwara nya. Semuanya adalah sandiwara lelaki itu. Sandiwara yang membuat Hong Bin murka.
Kim Jongin. Lelaki berkulit tan itu tidak pernah membenci Kim Sohyun. Ia tidak pernah membenci wanita nya. Masih bisakah ia mengatakan Kim Sohyun wanita nya. Setelah apa yang ia lakukan pada wanita itu.
Dari awal. Ia bersandiwara, rasa sakit itu semakin melilitnya. Ia bekerja keras untuk tidak membuat wanita itu ikut jatuh bersamanya. Berselingkuh yang jelas ia tau jika wanita itu tidak pernah lakukan. Setelah sang Putra sembuh dari demam berdarah Hong Bin menceritakan semuanya pada Kai.
Namun kata terlambat membuat ia tidak bisa maju lagi. Terakhir ia pingsan saat kepergian Wanita itu. Ia menerima kertas terlambang rumah sakit. Dimana di sana dengan seenak nya rumah sakit mengfonis jika ia menderita gagal ginjal. Meski dalam tahap satu. Aktifitas padat membuat ia kekurangan nutrisi dan juga gizi. Termasuk pasokan air putih yang kurang.
Membuat ia harus menderita gagal ginjal. Karna tak ingin Wanita yang sudah ia hina kembali padanya. Ia meminta dan bersujud pada Hong Bin untuk menjauhkan dirinya dari Sohyun. Dengan dalih ia mencintai Wanita lain. Bodohnya wanita tua itu percaya.
Awalnya ia pikir dengan menjauhkan Sohyun darinya. Ia akan bisa fokus pada pengobatan dan sekolah nya. Ia malah semakin terpuruk. Ia merindukan Sohyun setia saatnya. Membuat penyakit nya semakin parah. Diam-diam ia mengomsumsi allhol.
Menikahi Nina bukanlah rencana. Namun karna meterpurukan. Ia menjadikan Nina sebagai tamenganya. Tameng untuk menghalau kehadiran Sohyun. Yang sangat jelas ia tau akan pulang ke Korea. Kim Jinna, anaknya. Putri yang selalu ia temui diam-diam.
Tidak mudah melakukan kekejaman kepada darah dagingnya sendiri. Jika saja Hong Bin tidak mengancam dengan surat usang tentang penyakitnya yang telah wanita tua itu dapat entah dari mana. Mungkin Kai tidak akan menarik Sohyun kembali ke dalam hidupnya.
Lelaki itu bodoh. Dan karna itulah Hong Bin semakin membenci Kai. Ia pikir Kai akan memperbaiki kesalahan nya. Dan mau membuka hati kembali untuk membuat Sohyun dan Jinna bahagia. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Lelaki itu malah mendorong Sohyun dan Jinna jauh darinya.
"Aku tidak mungkin bertahan lebih lama lagi Ajhuma. Karna itu terimakasih atas bantuan Ajhuma selama ini. Dan terimakasih telah mau menyembunyikan kekejamanku." Tutur Kai dengan senyum lirih.
Pintu tergeser pelan. Di mana Nina masuk dengan mengenggam tangan seseorang di belakang tubuhnya. Kai menatap Nina dengan raut wajah bertanya.
"Ayo. Sapa Appamu sayang." Seru Nina membuat wajah Kai menegang.
"Appa." Seru Jinna yang melangkah pelan menuju ranjang rawat Kai.
Hong Bin mengulur tanganya agar Jinna semakin mendekati mereka. Jinna di berikan pengertian oleh Nina dan Hong Bin jika sang Appa tengah sakit dan merindukan Jinna. Mereka mengatakan jika Kai tidak akan marah karna merindukan Jinna.
"Appa." Seru Jinna untuk ke dua kalinya ketika ia dudukkan di pingir ranjang Kai oleh Hong Bin.
Kai menoleh. Ke dua mata Kai basah. Lelaki itu menangis tampa suara. Jinna merasa sedih melihat wajah pucat Kai. Entah kebernanian dari mana ia memeluk leher Kai. Tangan Kai mengawang. Ia tidak tau harus bagaimana mana. Karna itu merupakan pelukan ke dua antara dia dan Jinna.
"Appa jangan sakit. Jinna sedih jika Appa sakit, tidak apa-apa Appa marah. Tapi jangan sakit Appa." Tutur Jinna dengan polos nya.
Isakan itu keluar dari lancar dari bibir Kai. Inilah yang Kai takutkan ia takut membuat orang-orang yang ia sayangi menangis dan sedih melihat ke adaanya.
Kai masih ingat. Dimana Sohyun menanggis tersedu-sedu. Seakan ia akan mati. Kehilanggan orang yang wanita itu cintai membuat ia rapuh. Kai dapat melihat apa yang ingin di lakukan oleh Sohyun saat remaja. Diam-diam Sohyun mengengam pisau kecil di tanganya.
Sohyun ingin bunuh diri. Wanita itu ingin mengakhiri hidupnya. Karna ia tidak bisa hidup tampa ke dua orang tuanya. Jika Kai tidak memeluknya saat itu. Maka Sudah pasti Sohyun melakukan aksinya. Kai memberikan Sohyun semanggat dan Cinta. Hinga wanita itu bangkit lagi.
Dan Kai tau, Sohyun tidak akan bisa menerima kepergian nya. Sohyun pasti akan berbuat nekat lagi. Terbukti bukan? Hanya karna cemburu wanita itu bahkan menusuk dirinya sendiri. Itulah yang Kai takutkan. Jika Sohyun tidak lagi mencintai nya. Maka kematian Kai tidak akan memberikan pengaruh untuknya.
"Jinna~ya."
Pada akhirnya Kai kalah oleh naluri seorang Ayah. Ia tidak kuat lama-lama menjadi kejam pada putrinya.
***
Sohyun menatap pantulan tubuhnya di cermin. Gaun putih menyapu lantai, rambut pendeknya di tata dengan tiara di atas kepalanya. Ia terlihat begitu cantik.
Tirai di buka oleh sang pelayan butik. Rowoon mengalihkan pandanggan nya ke arah Sohyun. Ia tersenyum melihat betapa Cantik nya wanita itu. Namun Rowoon tak kalah dengan Sohyun. Di bakut taxsedo berwana putih tulang dengan rambut di tata rapi. Ia terlihat seperti seorang pangeran.
"Wah. Nona Kim dan Tuan Kim terlihat begitu cocok. Aku menjadi iri." Seru sang pemilik butik.
Ke dua nya hanya melemparkan senyum. Sohyun menunduk malu dengan tatapan memuja dari Rowoon. Hanya sepuluh menit sebelum Sohyun kembali menukar baju Penganti dengan gaun biru yang ia pakai sebelum menguji coba beberapa gaun pengantin.
Sohyun menatap wajahnya dengan pandanggan sedih. Dulu, ia begitu antusias memakai baju pengantin. Dimana Kai memakai Jas hitam membuat lelaki itu terlihat tampan. Di sana begitu banyak orang yang mendampingi nya.
Sohyun merasa jantungnya berdebar. Bukan karna berdebar bahagia namun berdebar karna rasa resah. Hatinya terasa begitu resah.
"Ada apa Sohyun? Kenapa wajahmu terlihat tidak nyaman?" Seru Sulli yang memasuki ruangan ganti.
Sohyun menoleh ke arah Sulli.
"Entahlah Eonni. Jantungku berdebar dengan rasa takut yang kuat Eonni." Tutur Sohyun dengan suara pelan.
"Mungkin perasaanmu saja." Tutur Sulli pelan.
"Ah ! Mungkin saja." Tutur Sohyun dengan wajah pias.
Ponselnya bergetar. Jari lentik Sohyun mengeser tombol hijau yang mana di atas layar tertera nomor yang tak ia kenal. Sohyun menempelkan benda persegi panjang itu di telinga sebelah kanan. Sebelum bibir Sohyun mengeluarkan suara. Suara di seberang sana membuat Sohyun menyeringit.
Hanya lima menit sebelum benda pipih itu menghantam lantai. Wajah Sohyun terlihat memucat. Sulli melangkah dengan cemas. Tubuh Sohyun ambruk ke lantai.
"Sohyun !" Teriak Sulli panik.
"E...eonni." Seru Sohyun sebelum kehilanggan kesadaran.
"Sohyun~ah ! Sohyun~ah !" Teriak Sulli panik.
Ke dua mata itu terpejam kuat. Tubuh terasa begitu dingin. Membuat Sulli beteriak histeris.