I Hate You, Mom & Dad

I Hate You, Mom & Dad
Bab 7



"Saat Kita Jatuh Cinta. Kita akan memberikan apa pun untuk Dia yang kita Cintai. Namun saat ia yang kita Cintai hanya menorehkan luka! Saat itu kita hanya akan menerima kata


duka."


~Kim Sohyun~


.


.


.


.


Gelap kini mewarnai langit. Deru napas teratur, namun wajah yang menunggui terlihat khawatir. Wanita dengan seribu kerutan itu mengenggam tangan wanita yang kini menutup mata.


Perlahan erangan dan pergerakan kecil terjadi pada tubuhnya. Ke dua matanya terbuka lalu tertutup lagi. Cahaya dari lampu kamar membuat ke dua netra hitam bening itu silau.


Perlahan namun pasti ke dua matanya terbuka. Setelah retina matanya menyesuaikan cahaya yang masuk. Tarikan dan dorongan napas lega mengalun. Hong Ajhuma mengusap pelan puncak kepala Sohyun.


"Apa ada yang sakit?" Tanya wanita tua itu.


"Tidak." Jawab Sohyun singkat.


Di kamar luas itu dirinya hanya di temani oleh sang Bibi. Sohyun menatap lama wajah penuh kerutan beban kehidupan itu dengan pandangan cukup dalam.


"Kenapa kau menatap Bibi seperti itu eoh?" Tanya Hong Ajhuma pada sang keponakan.


"Aku baru sadar. Jika Bibi sudah sangat tua sekarang. Pasti Bibi sangat ke susahan saat merawatku bukan?" Ucap Sohyun dengan suara pelan.


Hong Bin tersenyum. Ia mengeleng kan kepalanya. Lalu menatap Sohyun dengan lembut.


"Orang tua tidak pernah ada kata lelah mau pun susah dalam merawat anaknya. Meski Sohyun adalah keponakan Bibi. Tapi bagi Bibi Sohyun adalah putri Bibi yang berharga." Jawab Hong Bin tulus.


Sohyun tersentuh. Ke dua mata nya terlihat berkaca-kaca. Sohyun hanya sebentar merasakan kasih sayang ke dua orang tuanya. Selebihnya ia habiskan dengan Hong Bin. Adik dari Ayahnya. Namun, saat itu wanita yang kini mengenggam tanganya ini hidup dalam serba ke kurangan. Dan saat Sohyun di asuh olehnya, saat itu Hong Bin berkerja sangat keras untuk Sohyun.


KLIK !


Dret !


Pintu kamar terbuka cukup lebar. Dimana Kai masuk di dalam kamar dengan wajah lelah. Ia tidak pulang saat mendengar kabar Sohyun pingsan. Bahkan lelaki itu lebih memilih menyibukan diri di kantor. Karna ia tau di sana pasti ada Hong Bin.


Dengan langkah pelan Kai berdiri di belakang pungung Hong Bin yang duduk di pingir ranjang. Sohyun tersenyum ketika lelehan itu tak terlihat di ke dua sudut matanya.


"Kenapa kau hanya berdiri di sana? Temani Sohyun. Aku harus pulang." Seru Hong Bin dengan suara tenang namun menghanyutkan.


Kai melangkah mendekati ranjang Sohyun. Hong Bin pamit meninggal kan ke duanya. Sohyun menepuk samping ranjang yang kosong. Meminta Kai untuk tidur di samping nya. Kai hanya menurut saja, ia menaiki ranjang dan merebahkan diri di sana.


Sohyun masuk ke dalam pelukan Kai. Lelaki itu hanya diam saja tampa menghindar. Sohyun menegadah melihat wajah lelah Kai.


"Apa terjadi sesuatu di kantor?" Tanya Sohyun lembut.


"Ya, aku harus menyelesaikan proyek penting. Maaf aku tidak bisa pulang saat dengar kau pingsan." Bohong Kai dengan wajah datar.


Tidak ada yang berbicara. Ke duanya larut dalam pemikiran masing-masing. Kai tidak tau harus bagaimana dengan Sohyun. Sedangkan Sohyun memikirkan apa yang tidak ia ketahui. Hinga Kai berubah cukup siknifikan. Lelaki itu begitu dingin padanya.


Waktu mereka berpacaran dulu. Jika Kai marah pun, lelaki itu tidak akan membuat Sohyun merasa di abaikan. Ia begitu penuh dengan kehanggatan. Saat Sohyun mengeluh sakit saat ke duanya bertengkar maka Kai akan mengesampingkan rasa marahnya.


Jujur saja, Sohyun merasa Kai jauh berbeda. Saat Sohyun membuka ke dua matanya saat ia di nyatakan kehilanggan separuh ingatan nya. Saat itu Sohyun merasa kehilanggan seluruh kasih sayang Kai. Lelaki itu seakan hanya memperlakukan Sohyun seperti beban berat. Ia merasa bahwa ia dan Kai telah terjadi sesuatu.


Hinga Kai dan dirinya terasa sangat jauh hinga sulit untuk di gapai. Kim Jongin nya bukan dirinya yang dulu lagi. Lelaki itu sudah sangat jauh berubah.


"Kai~ah." Suara Sohyun membuat Kai menunduk melihat wajah Sohyun yang berada di dada bidangnya.


"Hem." Hanya itu yang Kai keluar kan.


"Apa saat terjadi kecelakaan kita sedang bertengkar?" Tanya Sohyun dengan mendongkak menatap ke dua netra teduh milih Kai.


Tidak ada jawaban. Lelaki itu bungkam, Sohyun cukup mengerti Kai. Jika lelaki itu diam, engan menangapi perkataan Sohyun. Maka sudah jelas jawaban nya adalah benar. Sohyun mendesah, ia tak tau harus bagaimana lagi.


"Apa ada sesuatu yang aku lakukan hinga kita bertengkar?" Tanya Sohyun lagi dengan suara pelan.


"Sudahlah, jangan di pikirkan lagi. Kau akan merasa sakit jika memaksakan diri Sohyun. Tidurlah, aku lelah." Tutur Kai tampa mau memberikan jawaban lebih untuk Sohyun.


Sohyun diam. Ia merasa benar-benar berada di jarak yang sangat jauh dengan Kai. Meski pun ia kini berada di dalam pelukan Kai. Namun entah mengapa ia merasa ia tidak lagi berada di hati lelaki yang kini ia peluk. Bahkan panggilan itu tidak lagi sama di mana kata Sohyun~ah telah berubah menjadi Sohyun saja.


Seakan-akan dia tidak lagi milik lelaki itu. Melihat Kai memejamkan ke dua matanya. Sohyun melepaskan pelukannya. Ia turun dari ranjang dengan perlahan. Dan melangkah keluar kamar. Kai membuka ke dua matanya saat bunyi pintu tertutup. Ia mengusap wajahnya gusar.


"Jangan memaksa aku lebih dari ini Sohyun. Dan jangan menanyakan apa pun padaku. Karna lebih baik kau tidak tau jika ingin tetap di sini bersama Jonghyun. Kita tidak lagi sama dan sejalan. Jadi cukup jalani peranmu sebagai Ibu bukan sebagai Istri karna kau bukanlah istriku." Ucap Kai dengan pelan sangat pelan.


Sedangkan di luar, Sohyun menuruni tangga dengan perlahan. Ia melangkah menuju taman belakang. Tak peduli angka jam menunjukan pukul dua belas. Ia hanya ingin memberikan otaknya pasokan oksigen yang segar. Ke dua kakinya berhenti di taman belakang.


Satu minggu sudah ia berada di rumah. Banyak hal yang berubah. Termasuk kini hamparan bunga yang ia lihat. Dulu setahunya, taman yang kini ia pandang terdapat banyak bunga Liliy putih yang indah. Tapi saat ini ia hanya melihat hamparan bunga mawar merah berduri.


"Apakah aku masih milikmu Kai~ah? Atau bukan lagi milikmu? Kenapa semua di rumah ini terasa asing bagiku eoh?" Ucap Sohyun dengan lirih.


Ke dua matanya mengeluarkan bening Kristal. Dadanya terasa begitu sesak hinga ia memukuli dadanya dengan keras. Sakit sekali, sungguh. Dimana saat orang yang kita Cintai terasa sangat jauh berubah. Pandanggan matanya terasa sangat dingin.


Cukup lama Sohyun merenung di taman. Hinga rintik hujan mengujani tubuhnya. Saat itu Sohyun bangkit dari duduknya. Baju gaun tidurnya basah kuyup, dengan langkah perlahan Sohyun masuk kerumah. Membiarkan rintik air yang mengendap di baju tidurnya membasahi lantai. Ia naik dan membuka pintu kamar. Namun di atas tempat tidur tidak ada sosok yang tadi memejamkan mata. Sohyun membuka lemari baju membawanya masuk kamar mandi.


Selesai berpakai. Sohyun keluar bermaksud mencari Kai di ruang kerja. Langkah kakinya begitu pelan, belum sempat ia sampai di pintu kerja. Kamar dengan lampu yang masih hidup membuat Sohyun tertarik.


Ia melangkah dengan perlahan. Rambutnya masih basah. Dengan perlah. Sohyun membukanya, ke dua mata Sohyun membuat sempurna. Ia tercekat, melihat pemandangan yang memilukan. Di kamar yang cukup besar. Hampir menyamai kamar Kai dan dirinya. Ia melihat wanita yang mengasuh putra nya tengah bercumbu mesra dengan lelaki yang menjadi suaminya.


Tidak tangung-tangung. Wanita itu tidak lagi memakai satu helai benang pun. Dan semakin lama, adegan yang ia lihat semakin menyiksa. Kepala wanita cantik itu terasa memberat. Hinga kepala nya terasa berputar. Dengan tangan gemetar Sohyun menutup pintu dengan sangat perlahan. Ia melangkah gontai menuju kamarnya.


Tubuhnya ia rebahkan dengan pelan. Kepalanya berkunang-kunang. Sohyun berdiri dengan peluh yang membajiri tubuhnya. Ia melangkah menuju laci, membuka botol berisi obat tidur dan obat penenang saat sakit kepala datang.


Ia tidak meminumnya dengan jumlah sedikit namun begitu banyak. Tertatih-tatih ia melangkah menuju tempat tidur. Ia menarik selimut hinga batas dada. Tidak ada air mata ! Bukan karna ia tidak sakit. Namun karna air mata tidak akan bisa mengurangi rasa sakit. Mereka yang tidak menanggis saat tersakiti bukan karna mereka kuat. Namun karna merasa sudah hancur dan rusak.


Ke dua mata Sohyun tertutup perlahan. Berharap apa yang saat ini ia lihat adalah mimpi. Meski ia tau, sanggat tau jika itu adalah kenyataanya bukanlah mimpi. Kenyatan yang tak bisa Sohyun terima dengan lapang dada.


Lelaki itu telah menghianati cinta tulusnya. Membuat hatinya pecah dan hancur tak berbentuk. Namun apa yang bisa ia lakukan di saat rasa sakit mengalahkan rasa Cinta  yang ia miliki. Kim Sohyun, tidak bisa pisah dengan Kim Jongin. Hinga ia tidak bisa lagi membuka ke dua mata. Isakan dan tangisan tidak menjadi satu dalam luka dalam.


Semakin dalam sebuah luka. Maka semakin jauh isakan dan tangisan. Sohyun tidak ingin menjadi orang bodoh. Ia ingin mempertahan kan sesuatu yang seharusnya tidak ia pertahan kan. Kim Sohyun, akan jatuh dalam api dan luka. Jika ia tetap berdiri di tempat yang tidak seharunya.