I Hate You, Mom & Dad

I Hate You, Mom & Dad
Bab 4



"Tidak ada satu pun manusia yang kuat di dunia ini. Karna manusia adalah mahluk paling lemah. Lemah hati dan


tinggi ego !"


~Kim Jongin.~


.


.


.


.


Tepukan pelan dengan gerakan berayun pelan membuat ke dua mata sipit itu engan terbuka. Di tambah pelukan hangat dari sang Ibu, membuat Jinna semakin memeluk erat leher jenjang Sohyun. Sohyun tersenyum, telapak tangannya tak berhenti memberikan tepukan pelan. Di sertai nyanyian pelan pengantar tidur.


Wanita paruh baya itu memberikan sang keponakan kode. Sohyun mengangguk, melangkah menuju tempat tidurnya. Dengan perlahan membaringkan Jinna sepelan mungkin. Ia tersenyum melihat Putri kecilnya mengeliat. Sohyun mengecup kening sang Putri lama.


"I Love you, my heart." Ucap Sohyun lirih.


Ia kembali memberikan kecupan di kening Jinna. Lalu melangkah meninggalkan kamarnya. Di kaca besar bening dengan pemandangan kota Soul terlihat cukup jelas. Sohyun memeluk sang Bibi dari belakang. Hong Bin tersenyum tampa menoleh.


"Bibi." Seru Sohyun lirih.


"Hem." Hanya deheman yang di lontarkan Hong Bin untuk sang keponakan.


"Apakah Bibi merindukan Paman?" Tanya Sohyun dengan meletakan kepalanya di bahu kanan Hong Bin.


"Entahlah. Bibi tidak tau bagaimana rasanya kata rindu itu sayang." Tutur Hong Bin jujur. Ia mengusap puncak kepala Sohyun pelan.


Sohyun menegakkan kepalanya dan tubuhnya. Hong Bin membalikan tubuhnya. Netra coklat lembut milik Hong Bin dapat melihat kepedihan di ke dua netera hitam bening milik Sohyun.


Dengan perlahan Hong Bin menangkup ke dua sisi wajah Sohyun. Bibir Sohyun bergetar hebat. Ke dua mata Sohyun berkaca-kaca, ia menundukan kepalanya.


"Aku merindukannya Bibi, aku merindukan dia. Apa yang harus aku lakukan Bibi?"


Wanita cantik itu mengeluarkan isi hati terdalamnya. Ia rindu lelaki yang menjadi Ayah dari anaknya. Lelaki yang memberikan Senyuman hangat dan uluran tangan yang kokoh. Hinga Sohyun tidak takut lagi jatuh. Jatuh dalam rasa sepi karna di tinggalkan.


"Sayang." Wanita paruh baya itu tidak dapat melanjutkan kata-kata lebih lagi.


Sohyun memeluk Hong Bin. Ia menanggis lagi, tangisan pilu. Ia merindukan keluarga yang hangat. Namun, ia tau ! Tidak ada lagi jalan untuk kembali pulang. Ia tidak punya jalan untuk pulang. Kunci itu tak lagi miliknya.


Kunci hati, Kim Jongin tidak lagi milik Kim Sohyun. Hati Kai telah berpindah ke tangan wanita lain. Hinga Sohyun, hanya memegang buku album kusam. Dimana hanya ada kata Perempuan masa lalu ! Bukan perempuan masa kini dan masa depan.


"Aku terlambat Bibi. Aku tidak bisa kembali." Ujar Sohyun dengan sesegukan.


"Tidak sayang. Jangan kembali, karna yang perlu kau lakukan adalah membuat rumah baru. Bukan kembali ke jalan yang sama. Keputusanmu yang dulu sudah benar sayang. Bibi akan selalu mendukungmu sayang. Dan akan membimbingmu mandirikan rumah baru untuk Jinna." Ucap Hong Bin berusaha memberikan kepercayaan pada sang Keponakan.


Masih melekat di benak Hong Bin. Kala itu hujan deras menguyur Seoul. Dimana Sohyun datang padanya dengan tubuh basah dengan pandanggan kosong. Kim Hong Bin, mengutuk Kai dengan seribu doa jahat.


Sebebulan setelah itu. Ia baru menyadari ada perubahan yang aneh pada Sohyun. Tubuh Sohyun mulai terjadi perubahan. Dimana perut yang terlihat biasa saja itu mulai membesar. Kim Sohyun, hamil ! Dan usia kandungnya adalah tiga bulan masuki usia empat bulan. Saat Sohyun di layangkan surat cerai.


Tampa ragu, Sohyun menandatanggani surat cerai dari Kai. Tidak ada perlawan, bahkan saat persidangan berlangsung. Perut Sohyun tak lagi terlihat kecil. Dimana usia kandung menginjak umur lima bulan. Ketukan palu tak membuat Sohyun menangis pilu. Hanya senyuman pahit yang ia lemparkan.


Hong Bin dapat melihat bagaimana kilatan ke bencian berkobar di kedua mata Kai. Namun berbanding terbaik dengan Sohyun, ia tersenyum lebar. Sampai Kai dan keluarga pergi meninggalkan ruangan sidang. Barulah tangisnya luruh.


Ingin rasanya, Hong Bin menarik rambut Kai. Memukuli lelaki yang menjadi mantan suami sang Keponakan dengan sadis. Namun, ia tidak melakukan nya. Karna ia tau itu sama saja menjatuhkan harga diri Sohyun. Ia mengerti keputusan Sohyun.


"Eomma ! Kenapa menanggis?" Suara serak di depan pintu kamar membuat lamunan Hong Bin buyar.


Sohyun menghapus kasar air matanya. Dan berbalik, di ambang Pintu Jinna mengusap ke dua matanya. Terlihat anak itu tergangu oleh suara tangisan sang Ibu. Kim Jinna anak yang kini berumur empat tahun. Anak yang ia sembunyikan dari Kai dan khalayak umum.


Jinna melangkah mendekati ke duanya. Sohyun berjonkok, merentangkan ke dua tangannya. Membawa Jinna masuk ke dalam pelukannya.


Jinna tidak mengangguk atau pun menjawab perkataan Sohyun. Ia kembali memejamkan ke dua matanya. Ia merasa begitu mengantuk. Hinga tertidur dengan hitungan detik di bahu Sohyun. Sohyun terkekeh, bukankah sang Putri begitu mirib dengan Kai.


Lelaki berkulit tan itu juga tak jauh berbeda dengan Jinna. Kai bisa dengan mudah tidur tampa memikirkan di mana tempat ia tidur. Sedangkan di lain tempat Kai mengusap kepala Jonghyun pelan.


"Apa ada hal yang membahagiakan Hyun~ah?" Tanya Kai melihat sang Putra dari bangun tidur sampai sore hari terlihat begitu cerah.


"Eoh !" Hanya itu yang di jawab oleh sang Putra.


Kai merapatkan duduknya pada Jonghyun. Ia penasaran, hal apa yang membuat anaknya begitu bahagia.


"Apa itu?"


"Aku bermimpi bertemu dengan Eomma. Dan juga,. Ah ! Aku begitu bahagia." Jawab Jonghyun membuat pergerakan tangan Kai yang akan membawa sang Putra untuk duduk di pahanya.


Sedangkan Jonghyun ia terlihat resah. Saat melihat tatapan dari wanita paru baya itu. Hampir saja ia mengatakan bahwa ia mendapatkan surat berserta kado dari sang Ibu.


Kai terdiam. Rahangnya mengaras, ke dua matanya membara rasa benci. Jonghyun berdiri dari duduknya. Nina menghampiri ke duanya membawa piring berisi potongan buah-buahan.


"Tuan muda, ayo makan buahnya." Seru Nina dengan wajah bahagia.


Kai tersadar mendengar seruan Nina. Ia tersenyum melihat Nina membawakan dia dan sang Putra buah-buahan. Ia tau Nina selalu melakukan semuanya sendiri, jika itu menyangkut untuk dirinya dan sang Putra. Kasih sayang Nina pada Jonghyun tidak perlu di ragukan lagi.


"Tuan Muda, teman tuan berada di luar." Ucap Jung Ajhuma.


"Siapa Nenek?" Tanya Jonghyun penuh semanggat.


"Ah ! Tuan muda Jillo." Seru sang wanita paruh baya itu.


Senyum lebar terpantri. Jaehyun melangkah setengah berlari keluar tampa mengindahkan teriakan Nina yang meminta Jonghyun tidak berlari.


Sedangkan Kai hanya tersenyum melihat sang Putra selalu antusias melihat Jonghyun. Putranya begitu semanggat jika putra dari Chanyeol datang kerumah nya.


"Maaf Tuan." Suara Jung Ajhuma membuat Kai memutuskan padangannya dari Jonghyun ke arah sang pembantu yang sudah lama bekerja di keluarganya.


"Ada apa Ajhuma?"


"Ada titipan untuk tuan, yang saya letakan di kamar tuan." Ucap Jung Ajhuma lalu membungkuk dan melangkah meninggal sang Tuan.


"Maaf tuan, saya tidak ingin ingin ikut campur. Namun, saya rasa sudah tidak tahan lagi melihat yang terjadi."


Suara hati Jung Ajhuma sebelum meninggal ke dua suami-istri itu. Kai hanya menatap pintu kamarnya dengan wajah tak terbaca. Nina menoleh menatap wajah Kai dengan senyum hangat.


***


Jinna dengan imutnya berlari-lari mengejar bulir-bulir salju. Hong Bin tersenyum bahagia. Sohyun kembali mengarap projek film terakhir nya sebelum memutuskan keluar dari dunia entertemen.


"Jangan berlari-lari nanti jatuh." Peringat Hong Bin pada sang Cucu.


"Nenek kesini." Teriak Jinna dengan antusias.


Hong Bin melangkah mendekati Jinna sebelum ia berteriak nyaring. Anak imut itu terjatuh di tumpukan salju. Hong Bin berlari, saat itu juga anak lelaki berumur tujuh tahun ikut berlari mendekati Jinna. Membantu anak berambut sebahu itu.


"Kamu baik-baik saja?" Tanya anak bermata bulat itu.


"Terimakasih Oppa." Ucap Jinna sambil membungkuk hormat.


Hanya senyuman yang di lemparkan oleh anak berlesung pipi itu. Hong Bin tersenyum melihat ke duanya. Dan saat itu suara teriakan membuat tubuh Hong Bin membeku. Ia mebalikan tubuhnya dengan ke dua mata membulat.


"Jillo~ah !" Teriakan itu seakan menyinta perhatian ke tiganya.