I Hate You, Mom & Dad

I Hate You, Mom & Dad
Bab 12



"Apa yang salah dalam Cinta. Hinga kalian menghakimi aku? Jika berada di posisi diriku apakah kalian akan mampu membenci diri kalian sendiri?"


~Cho Nina~


.


.


.


.


Nina menyeka darah dari wajah tampan Kai yang hancur karna pukulan Ayah dari lelaki itu. Kai meringis saat kapas yang di basah alkohol menyentuh luka di wajah nya. Nina mendesah lirih, ia merasa sakit melihat wajah tampan sang suami terluka.


"Maaf." Seru Nina pelan saat melempar kapas yang bernoda darah ke dalam ke rajang sampah yang berada di samping ia dan Kai duduk.


Kai tersenyum lirih. Ia mengenggam tangan Nina mengelusnya pelan. Ia membawa tubuh Nina ke dalam pelukannya. Nina tersenyum hangat, pelukan Kai begitu hangat. Penuh dengan ketulusan. Lelaki itu mampu membuat ia merasa begitu tenang.


"Seharusnya aku yang mengatakan maaf untukmu dan anak kita. Appa dan Eomma telah menghina dirimu karna ke tidak mampuanku." Ucap Kai dengan pelan.


Nina mengeleng dalam pelukan Kai. Ia tidak masalah di hina atau bahkan di ludahi ia rela. Karna Cinta Nina begitu tulus pada Kai. Tidak masalah jika mereka membenci dirinya atau pun menghakimi dirinya.


Karna di sini Nina tidak merebut siapa pun dari tangan mana pun. Ia dan Kai bertemu setelah perceraian. Dimana ia melamar menjadi Baby sister di rumah Kai. Meski awalnya Kai tidak menyukainya dan mengawasinya dengan sedikit dingin.


Lelaki itu begitu dingin. Hanya pada sang Putra saja ia terlihat seperti manusia lainnya. Bekerja keras untuk meraih gelar sekaligus kursi sebagai Presdir bukanlah hal mudah. Nina menemani Kai di saat-saat tersulit bagi Kai.


Ketulusan, kebaik kan dan kesederhanan Nina. Mampu meluluhkan hati Kai. Membuat ia menikahi Nina dengan sembunyi-sembunyi. Bukanya Kai tidak mau memperhatikan Nina di depan umum. Hanya saja Kai tau ke dua orang tuanya tidak akan pernah setuju dengan Nina.


Bagi ke dua orang tua Kai. Kim Sohyun adalah wanita sekaligus menantu yang sempurna. Tapi tidak bagi Kai ! Bagi Kai wanita yang sudah lama mendampingi nya itu adalah wanita munafik.


"Tidak masalah Oppa. Yang penting Oppa baik-baik saja. Itu sudah cukup bagi diriku." Tutur Nina.


"Aku memang tidak salah memilihmu menjadi istriku." Ucap Kai mengecup dahi Nina perlahan.


Wajah manis Nina memerah. Meski ke duanya telah sering melakukan hal lebih dari sekedar kecupan tetap saja Nina akan merona.


"Tuhan, jangan pisahkan kami. Dan berikan aku dan Kai Oppa kebahagian bersama anak-anak Kami dan juga Jonghyun."


Hati kecil Nina merapalkan doa untuk dirinya dan sang suami. Tak lupa ia juga mendoakan agar Jonghyun bisa bahagia bersamanya.


Di tempat lain, Sohyun terlihat merapikan penampilannya. Rambut yang di Potong asal kini di rapikan. Dan di warnai dengan warna coklat tua. Membuat penampilan dirinya terlihat lebih dewasa dan hot.


Sulli tersenyum mengangkat gaun merah maron yang begitu cantik. Sohyun tersenyum melihat ke antusiasan Sulli. Tidak ada yang dapat membuat bahkan menebak kemana takdir akan membawa kita. Takdir bisa membuat kita hancur sekejap saja. Dan juga bahagia tak terhingga.


Sulli dan Hong Bin tidak tau harus bagaimana atau sedih saat Sohyun telah mengingat semuanya. Yang pasti Sulli berserta Hong Bin akan mendukung apa pun keputusan Sohyun.


"Wah ! Cantik nya, berputarlah pelan." Titah Sulli dengan senyum lebar.


Sohyun mengangguk dan berputar. Sang pemilik salon berserta pegawai Salon menatap Sohyun dengan pandanggan tabjuk. Ia begitu mirib boneka Barbee hidup. Dengan dua mata bulat bening berlensa senada dengan rambut pendek sebahu nya.


Hidung mancung, bibir berisi di bawah dan tipis di atas. Alis mata yang hitam teratur, berserta warna kulit yang pucat. Kim Sohyun begitu sempurna sebagai seorang wanita. Lama menghilang dari dunia entertement dan ia akan kembali membenahi karirnya.


Gaun merah menyapu lantai dengan bahu terbuka mempertonton bahu mulusnya. Dengan jepitan mutiara di sebelah kanan menarik anak rambutnya sedikit. Pesonanya ! Sungguh begitu mempesona.


"Nona Kim benar-benar cantik." Puji sang pemilik salon.


"Tentu saja, Nona Kim adalah artis ke banggan Korea." Timpal wanita yang menjadi steylis rambut Sohyun.


Sohyun hanya tersenyum tipis mendengar pujian dari orang-orang di salon.


"Terimakasih atas pujiannya." Tutur Sohyun sopan.


Orang-orang yang ada di sana merasa Sohyun bukan hanya cantik di luar saja. Namun cantik luar dalam. Meski mereka tidak tau wanita yang mereka panggil dengan pangilan Nona itu sudah pernah menjadi seorang Nyonya. Dan sudah mempunyai dua orang anak yang tampan dan imut.


Ya, siapa yang akan menyangka akan hal itu. Menginggat tubuh langsing proposionalnya. Tidak akan ada orang yang menyangka jika ia adalah seorang Ibu.


***


Gadis imut itu tersenyum melihat wajah cantik sang Ibu menghiasi layar televisi. Dimana Kim Sohyun menyabet tiga piala sekaligus. Dari mulai Artis terfavorit, Artis berbakat dan yang terakhir adalah Artis berpengaruh.


"Bukankah Eomma Cantik sekali Nenek?" Tanya Jinna pada sang Nenek.


"Aku berharap, Eomma akan selalu bahagia Nenek." Tutur Jinna dengan wajah lucu.


"Tentu, Eomma dan Jinna harus bahagia." Ucap Hong Bin dengan wajah serius.


"Tapi bagaimana dengan Jonghyun Oppa? Walau pun Jinna tidak suka Kai Appa tapi Jonghyun Oppa begitu baik pada Jinna." Tutur Jinna polos "Apa tidak bisa Jonghyun Oppa tinggal bersama Kita Nenek?" Lanjut Jinna dengan mengalihkan tatapan nya pada Hong Bin.


Hong Bin terlihat menghindar dari tatapan polos sang cucu. Ia berdiri dari duduknya di ikuti oleh Jinna.


"Nenek harus memasak makan untuk perayaan kemenangan Eommamu. Jadi Jinna bermain di kamar dulu saja ya." Ucap Hong Bin menghindari pertanyaan Jinna.


Hong Bin tidak tau bagaimana cara menjawab pertanyaan itu. Karna Sohyun juga pasti tidak mampu menjawab pertanyaan Jinna. Hak asuh anak di Korea pada umumnya jatuh pada Ayahnya. Meski sang Ibu yang melahirkan dan membesarkannya.


Apa lagi Kai adalah lelaki mapan dan memiliki istri. Jika ia tau Jinna anaknya. Sudah pasti hak asuh Jinna akan jatuh di tangannya dengan mudah. Hong Bin bahkan tidak bisa mengatakan pada Sohyun jika Kai sudah menikah. Ia tidak ingin Sohyun merasa sakit dan hancur.


Sohyun menunggu kesempatan untuk bisa kembali pada Kai. Namun tidak bisa terwujud karna Kai mencintai wanita yang kini menjadi istri nya. Dan jika pun Kai tidak menikah dengan Nina pun. Hong Bin tidak akan mau Sohyun kembali pada Kai.


Kesalahan lelaki itu terlalu banyak. Hinga tidak terhitung seberapa banyaknya. Dimata Hong Bin, Kim Kai bukanlah lelaki yang tepat lagi bagi Sohyun. Kehadiran lelaki itu adalah kesalahan yang ada di dalam hidup Sohyun. Cukup satu kali Sohyun jatuh ke tangan yang salah. Hong Bin tidak mau Sohyun jatuh di tangan Kai lagi.


Jinna hanya menatap Hong Bin dengan pandanggan tak terbaca. Lalu melangkah meninggal ruangan tamu menuju kamar sang Ibu. Hong Bin terlihat diam dengan bibir bergerak pelan.


"Jangan kembali dan jangan pernah datang lagi. Aku tidak yakin bisa membiarkanmu tetap hidup jika kau kembali. Atau pun menyakiti Sohyun." Gumam Hong Bin pelan.


***


Jinna tertawa bersama anak-anak lainnya. Gadis imut itu di masukan ke taman kanak-kanak. Dimana Jinna memang butuh bersosiali sasi bersama teman-teman seumuran dengan nya.


"Jinna~ah !" Seru wanita yang menjadi guru Jinna.


Senyum Jinna menghilang ketika ia menatap wanita yang berada di belakang tubuh sang guru. Wanita masih terlihat cantik di usia tuanya itu tersenyum lebar. Beda halnya dengan Jinna ia hanya diam menatap wanita tua itu.


"Anak-anak ayo kembali ke kelas. Biarkan Jinna bersama Neneknya di sini." Seru guru Kang dengan memerintahkan anak didiknya masuk.


Jinna diam dengan tatapan tak terbaca. Hyemi mendekati Jinna, ia berlutut menyamakan tinggi tubuhnya dan Jinna. Meski ia masih terlihat tinggi dari Jinna. Setidaknya anak berumur empat tahun itu tidak terlalu menegadah melihat wajah Hyemi.


"Apa kabar sayang? Apa luka kaki Jinna sudah sembuh?" Tanya Hyemi dengan wajah sedih


Tidak ada Jawaban. Jinna diam tampa jawaban. Hyemi mengumpat ! Ia menyumpah serapah putra nya. Jinna hanya diam saat jari jemari keriput Hyemi menarik rambut Jinna kebelakang telingga. Hinga memperlihatkan wajah yang sempat tidak terlihat karna anak itu menunduk saat Hyemi berlutut.


"Cantik dan Imut. Ternyata ini yang benama Kim Jinna. Sama seperti Sohyun Eonni." Seru wanita pucat yang baru saja datang menghampiri ke duanya.


Ke dua mata Jinna menatap gadis cantik itu dengan wajah tak terbaca. Gadis cantik itu mengulurkan sebatang coktat ke arah Jinna. Hyemi tersenyum menatap wajah binggung Jinna.


"Ambil !" Titah Hyemi dengan lembut.


Dengan ragu Jinna mengeleng. Helaan napas ke dua wanita cantik berbeda usia itu terdengar. Gadis cantik berambut kemerahan itu menunduk dan mengambil tangan Jinna membuat batangan coklat besar itu masuk ke tangan Jinna.


"Ayo ucapkan terimakasih pada Bibi Jisoo." Tutur Hyemi dengan senyum lembut.


"Dia masih binggung Eomma." Tutur Kim Jisoo dengan senyum.


"Hallo, aku Kim Jisoo adik dari Appamu yang menyebalkan itu. Apa Bibimu ini terlihat aneh ya?" Tanya Jisoo melihat kerutan di dahi Jinna.


"Terimakasih." Ucap Jinna lalu berlari meninggalkan Jisoo dan Hyemi di halam bermain taman kanak-kanak.


Jisol terkekeh melihat nya. Sedangkan Hyemi hanya mendesah resah. Ia taak bisa melakukan apa-apa lagi untuk Sohyun mau pun Kai.


"Sudahlah Eomma ! Kita tidak bisa ikut campur tangan di masalah Oppa. Biarkan mereka dan takdir yang bertindak." Ucap Jisoo bijak.


"Takdir tidak berjalan dengan sendirinya. Kita manusia harus menjalankannya. Kai begitu keras kepala, dan Eomma harap dengan ini anak itu akan merasakan penyesalan." Ucap Hyemi dengan menatap sehelai rambut hitam legam yang sempat ia cabut pelan.


Sangat pelan. Hinga Jinna tidak merasakan rasa sakit. Jisoo hanya menatap Sang Ibu dengan gelengan pelan. Bagi Jisoo, sang Oppa terlau keras kepala. Egonya lebih tinggi dari pada matahari. Dan jika ia tau pun Jinna Putri nya apa yang akan berubah?


Nina dan Kai sudah menikah. Bahkan wanita yang kini menjadi kakak Iparnya sedang mengandung. Jisoo berada di pihak yang netral.


"Campur tangan yang lain akan membuat arahnya berbeda Eomma." Ucap Jisoo sebelum melangkah menuju mobil hitam yang terpakir di luar gedung sekolah.


"Setidaknya aku sudah bergerak. Hinga jika aku mati, aku tidak akan merasa terlalu bersalah pada So Eun." Ucap Hyemi pelan.