I Hate You, Mom & Dad

I Hate You, Mom & Dad
Bab 8



"Mencintai boleh saja, namun jangan sampai berlebihan. Bisa jadi dia yang sangat kau Cintai akan menjadi musuhmu. Dan benci lah Dia sekedarnya saja, Karna siapa jadi dia akan menjadi yang kau Cintai suatu


saat nanti !"


~Kim Sohyun ~


.


.


.


Tawa canda menghiasi taman luas dengan rerumputan hijau di temani bermacam jenis bunga. Gadis dengan rambut hitam legam sepingang itu berlari menghindari lelaki tampan. Sesekali ia menjulurkan lidahnya, mengejek lelaki berkulit tan itu.


Lelaki tampan itu tak berhenti. Ia tetap berlari mengejar gadis cantik bermata bulat bening dengan pipi cuby itu. Ia berhenti mengatur napas yang terasa tak teratur. Gadis itu ikut berhenti tak jauh dari Kai.


"Apa kau menyerah Kai~ah?" Tanya Sohyun yang berada tak jauh darinya.


Kai mendengus. Ia memicing menatap Sohyun dengan tatapan tajam. Rambut hitam panjang itu berkibar. Angin bertiup cukup untuk menerbangkan rambut yang tak di ikat itu. Sehinga Sohyun terlihat begitu mempesona.


"Baiklah aku menyerah." Seru Kai dengan ke dua tangan terangkat ke atas.


Sohyun mengembangkan senyum banggan nya. Dengan dagu terangkat ke atas ia mendekati sang kekasih yang terlihat mengatur napas. Sohyun berdiri di depan Kai dengan wajah pura-pura angkuh.


"Ck ! Kau lemah sekali." Ledek Sohyun dengan cibiran yang membuat siapa saja gemas ingin mencubitnya.


"Ck !" Hanya decakan jengkel yang di lemparkan oleh Kai.


Sohyun merogoh saku rok sekolahnya. Dengan telaten ia menyapu peluh yang membajiri wajah Kai tersenyum memperhatikan bagaimana Sohyun memperlihatkan kasih sayangnya. Sohyun tau jika lelaki itu menatap wajahnya dengan intens. Namun ia berusaha mengabaikan tatapan Kai. Meski dirinya mencoba menekan desakan kupu-kupu yang terasa terbang dan jantung yang berdegup kencang.


"Kau menghapus keringatku, tapi kenapa kau bisa berkeringat begitu banyak hanya karna aku perhatikan?" Goda Kai membuat Sohyun menarik tanganya yang tadi sibuk menghapus keringat.


Ia mundur satu langkah. Sohyun berdehem guna menghilang kan debaran jantungnya.


"Mana ada." Kilah Sohyun berbalik.


Ia tak ingin Kai melihat wajahnya yang memerah. Bahkan daun telinganya ikut memerah karna malu. Kai tersenyum bahkan terkekeh. Ia merasa terhibur dengan gerak gerik bahkan suara Sohyun yang lucu.


Dengan langkah lebar. Kai berdiri di belakang tubuh Sohyun. Ia memeluk Sohyun dari belakang dan meletakan dagunya di bahu kanan Sohyun.


Sohyun mengumpat. Bukan karna tak suka, hanya saja apa yang kini di perbuatan oleh Kai membuat detak jantung nya mengila. Dan tubuhnya memanas, hinga gejala sakit asma mulai terasa oleh sang pemilik tubuh yang di peluk.


"Aku mencintaimu Kim Sohyun. Hanya kau yang aku cintai." Bisik Kai dengan lembut.


Gila ! Kai tidak tau bagaimana rasanya mati karna cinta mungkin. Detak jantung Sohyun tak bisa lagi di gambarkan dengan kata-kata.


"Kau juga mencintai aku?" Tanya Kai membuat ke dua pipi Sohyun semakin memerah.


Tidak ada jawaban, membuat Kai menoleh melihat wajah yang sudah merah melebihi kepiting rebus. Mungkin. Kai tertawa terpingkal- pingkal saat melepaskan pelukanya. Bagaimana tidak tertawa, wajah itu begitu lucu. Belum lagi gadis itu terlihat tengah menahan napas.


"Bernapaslah." Seru Kai di sela tawanya."Kau bisa mati sayang sebelum aku menikahimu jika kau masih menahan napas seperti itu." Lanjut Kai dengan wajah memerah karna tawa besarnya.


Hufffs....


Hempasan pernapasan Sohyun terdengar. Perlahan wajah merah itu mulai kembali ke warna dasarnya. Dan jantung yang tadi berdetak tak normal mulai berdetak dengan semestinya. Sohyun membalikan tubuhnya menatap Kai dengan pandanggan tajam. Membuat Kai hanya bisa nyengir tampa dosa.


"Menyebalkan." Tutur Sohyun lalu berlari menjauhi Kai.


Meski Kai memanggil Sohyun dengan lantang. Gadis itu tidak berhenti membuat Kai menyesal Karna telah membuat kekasih nya itu merajuk karna ulahnya. Oh ayolah ! Siapa yang tidak akan tertawa terbahak-bahak melihat wajah imut Sohyun. Dan cara Sohyun menahan napasnya begitu lucu di mata Kai.


Dengan tarikan napas lelah. Kai kembali mengejer Sohyun yang berlari cukup jauh di depan. Tak di hiraukannya terikan Kai. Sohyun masih berlari hinga berhenti di sebuah gerbang. Dahi Sohyun menyeringit melihat yang awalnya taman indah menjadi sebuah rumah besar. Dimana di gengaman tanganya telah ada satu koper besar.


Pintu gerbang besar yang sangat ia hapal di mana ia berdiri saat ini. Banyak pertanyan di benak Sohyun saat ini. Ia meninggal kan Koper besar yang ia bawa. Dengan perlahan Sohyun membuka gerbang hitam itu. Tiba-tiba saja ia sudah berada di dalam rumah mewah itu. Di sana ia melihat Kai memeluk gadis yang sangat Sohyun tau ia siapa.


Sohyun berlari menarik tangan Kai hinga pelukan hangat itu terpisah. Dengan mata merah dan air mata yang mengantung. Bahkan kini meleleh, Sohyun menatap ke duanya.


"Aku? Menghianati kau?" Tutur Kai menghempas kan tangan Sohyun dengan kasar hinga Sohyun terjatuh di lantai yang dingin.


Kai melangkah mengenggam tangan Nina dengan senyum sinis. Sohyun berdiri dengan wajah kusut. Nina menatap Sohyun dengan pandanggan seolah-olah mengasihani.


"Kenapa kau lakukan ini padaku Kai~ah?" Tanya Sohyun dengan lirih.


"Karna aku tidak mencintai mu lagi. Aku mencintai Nina. Jadi pergilah dari hidupku selama-lamanya." Tutur Kai tampa perasaannya.


"Aku Istrimu Kai~ah. Bagaimana bisa kau.."


"Kami saling mencintai. Kau hadir dalam hidup kami Sohyun. Kau yang salah di sini bukan aku mau pun Kai Oppa." Potong Nina dengan wajah berani.


Ke dua sudut mata Sohyun meleleh. Ia mengigau dengan lirih. Tangan lembut tampa dosa itu mengusap air mata yang mengalir dengan perlahan. Ia juga menangis menatap sang Ibu.


"Eomma." Seru Jenna dengan lirih.


Tangan kecil itu mengucang perlahan tubuh Sohyun. Ke dua mata Sohyun terbuka dengan napas tersengal-sengal. Ia menoleh ke samping, dimana gadis cantik berambut sebahu itu menangis melihat dirinya.


"Oh, Jinna." Seru Sohyun terkejut.


Dengan gerakan spontan Sohyun memeluk tubuh kecil sang Putri. Ia membawa tubuh Jinna dalam dekapannya. Takut ! Sunguh, Kim Sohyun merasa sangat takut saat ini. Tubuhnya bergetar, panas dari badanya membuat Jinna meringis dalam tangis pelannya.


"Eomma !"Seru Jinna entah keberapa puluh kalinya.


Gadis kecil itu awalanya mau merengek pada Sohyun. Ia merasa sepi saat rumah mewah itu tidak berpenghuni. Sang Kakak di antar ke sekolah oleh sang Appa dan pengasuhnya. Sedangkan para pembantu tak tau kemana. Hinga ia merasa lapar. Kai tidak begitu memperhatikan dirinya tak seperti sang Oppa.


Saat ia dan sang Kakak makan di ruangan meja makan. Kai hanya memberikan Jonghyun saja lauk pauk dan beberapa sayuran. Sedangkan dirinya hanya menatap hampa Sang Ayah. Di tambah Nina juga hanya memperhatikan tuan muda Kim saja.


Jonghyun yang duduk di samping Jinna memberikan apa yang di berikan oleh Kai pada Jinna.  Meski Jinna berharap Kai akan memperhatikan nya dan memperlakukan dirinya seperti sang Kakak. Di mata Kai, Kim Jinna adalah anak angkat Kim Sohyun. Jadi, apa gunanya memperhatikan anak berumur empat tahun itu.


Ingin rasanya Jinna menangis tapi ia di ajarkan oleh Kim Hong Bin. Sang Nenek untuk menjadi anak yang baik. Anak yang tidak suka menangis. Dan itulah yang di lakukan oleh Jinna.


Jinna menjadi merindukan sang Nenek yang memperhatikan dirinya. Hong Bin tidak pernah mengabaikan Jinna. Kim Jinna adalah harta berharga Hong Bin. Dan Kim Jinna selalu di perlakuan sebagai seorang tuan putri. Meski Sohyun sang Ibu sibuk, Jinna tidak pernah kehilanggan kasih sayang.


Sohyun masih menangis. Mimpi manis dimasa lalu berakhir dengan mimpi pahit di masa depan. Seolah mengatakan sebuah jawaban. Dan Sohyun berkesimpulan, jika ia bertengkar dengan Kai masalah berselingkuhan hinga ia kecelakaan.


"Eomma, Jinna ingin kita pulang ke Busan." Pinta Jinna memembuat Sohyun melepaskan pelukanya pada sang Putri.


Sohyun menangkup ke dua sisi wajah Jinna. Ia terluka dan tercabik melihat bagaimana terluka dan kesepian sang anak.


"Apa yang membuat Jinna ingin ke Busan?" Tanya Sohyun lembut.


"Jinna tidak suka Appa." Jawab Jinna jujur.


Sohyun menghapus ke dua air mata Jinna. Ia menatap sang Putri dengan pandanggan menyelidik.


"Kenapa Jinna berkata seperti itu?"


"Jinna tidak di sayangi oleh Appa. Sepertinya Appa lebih sayang Jonghyun Oppa saja." Jawab Jinna jujur.


Tidak ada satu Ibu pun yang akan merasa senang dan baik-baik saja mendengar perkataan sang anak. Jinna bahkan menceritakan perlakuan Kai beberapa hari ini pada Jinna. Meski anak itu tidak mengatakan semuanya. Hong Bin mengajarkan pada Jinna. Mana yang boleh ia katakan dan mana yang tidak.


Hong Bin mengakatan Jinna harus menjaga rahasia agar Sohyun tidak sakit lagi. Dan anak polos itu percaya pada sang Nenek.


"Jinna~ya, Eomma akan berusaha agar Appamu kembali pada kita. Dan menyayangi Jinna dan Eomma. Kita beri Appa waktu satu bulan. Jika Appa tidak berubah. Eomma janji kita akan pergi ke Busan." Tutur Sohyun.


Jinna menatap Sohyun dengan pandanggan polos. Meski tidak terlalu mengerti Jinna hanya mengangguk. Sohyun tersenyum perih.


"Kai~ah, aku tidak tau pasti apa yang terjadi di masa lalu. Tapi yang pasti aku akan berusaha agar kau kembali padaku. Tapi saat kau tak bisa berubah. Aku akan melepaskan dirimu."


Hati Sohyun tercabik saat menginggat bagaimana Kai dan Nina. Namun, di sini bukan hanya dia yang harus di pikirkan. Tapi ada dua buah hati yang akan terluka. Jika Sohyun dan Kai memutuskan cerai. Meski kenyataanya sebenarnya ke duanya sudah bercerai bukan?!


Namun apakah kebahagian itu akan kembali membawa Sohyun pada Kai. Atau malah akan merusak dan terluka untuk ke sekian kalinya. Dulu saat ia berpikir tidak matang dengan mudahnya kata pisah terucap. Tapi saat ini ke dewasa itu sudah ada. Hinga tidak ada lagi kata egois di sana.