
"Ku genggaman kuat ! Namun di lepaskan. Ku peluk tapi aku malah di dorong. Ku tunggu tapi malah di tinggal kan. Begitu cinta yang kejam. Jadi aku ingin lebih kejam dari Cinta."
~Kim Sohyun ~
.
.
.
.
Ke dua mata Sohyun terbuka. Ia duduk dengan perlahan, ia menatap sekelilingnya dengan tabjuk. Sebuah taman yang tak pernah bisa ia lupakan. Taman bunga yang menjadi denasti yang paling Kai dan dirinya suka kunjungi.
Sohyun mengelinggi taman bunga. Ke dua matanya membulat melihat siapa yang tengah berada di ribuan lautan manusia. Di sana ada lelaki berkulit tan itu sedang menekuk sebelah kakinya memasang tali sebatu putih Sohyun yang copot.
Perlakuan itu begitu manis. Sohyun tersenyum lirih. Ia melihat sosoknya yang lain di sana. Gadis berseragam SHS itu merona. Kai mengandeng tanggan nya mengelingi taman. Sohyun mengikuti ke duanya.
Perlukaan Kai begitu manis, ia yang dulu begitu seserhana. Tidak ada riasan di wajahnya. Kai memetik setangaki bunga Lily. Terlihat Sohyun berseragam itu mengatakan agar Kai tidak memetik bunga ditaman. Namun lelaki itu malah memberikan kekehan dan mengecup bibir Sohyun.
Jatuh ! Air mata Sohyun meleleh. Ke dua sudut bibirnya tersungging melihat ke Romantis mereka dulu. Ia terus mengikuti ke duanya. Hinga tempat berubah menjadi arpartemen sederhana miliknya.
Sohyun memilih dirinya duduk menatap ke dua bayangan masa lalunya. Dimana Sohyun menjebak Kai meminum alkohol. Awalnya Kai menolak. Tapi ia memaksa, hingga lelaki itu mabuk berat.
Sohyun mendesah letih melihat kilasan kisah hidupnya dengan Kai. Tempat yang ia duduki kembali berubah. Dimana ia tidak lagi berada di dalam arpartemen. Ia berada di sebuah rumah mewah. Bayang ia remaja.
Sohyun merasa tubuhnya membeku melihat siapa yang membelai rambut gadis yang tak lain adalah dirnya itu. Ibu ! Itu adalah wanita cantik itu. Sohyun masih ingat itu adalah hari di mana sang Ibu dan Ayah akan melakukan perjalan bisnis ke luar kota.
"Tidak . Appa ! Eomma ! Jangan pergi." Ucap Sohyun dengan mencoba mencegat tangan sang Ibu.
Namun tanganya menembus tangan sang Ibu. Sohyun menghalanggi sang Ayah. Hal yang sama terjadi, bahkan Sohyun memita diri nya yang dulu menghentikan kepergian sang Ibu dan Ayah.
"Hentikan Appa dan Eomma ! Aku mohon. Jangan biarkan Appa dan Eomma pergi. Mereka akan mengalami kecelakaan." Teriak Sohyun histeris di depan tubuh remaja nya.
Sohyun remaja melambaikan tangan nya dengan senyum mengembang. Sohyun terjerebam jatuh di aspal depan rumahnya.
"Tidak ! Jangan pergi Appa ! Eomma !" Ucap Sohyun dengan isakan tanggis.
Tidak ada yang dapat mendengar kan tanggisannya. Tidak ada yang bisa melarang apa yang menjadi Takdir tuhan.
"Dokter ! Detak jantung nya melemah !" Teriak sang perawat yang mengontrol detak jantung Sohyun.
"Dokter ! Pembuluh darahnya pecah Dokter." Teriak perawat lainnya.
"Cepat siapakan ruangan Operasi lagi." Teriak Dokter tua itu lantang.
Seluruh tenaga medis kembali sibuk. Padahal baru lima jam yang lalu mereka melakukan operasi. Wanita paruh baya yang berada di luar ruangan Sohyun terlihat tegang. Kaca tembus pandanggan itu terlihat jelas dari luar.
Hong Bin terjerebam. Sulli tidak hentikan mengeluarkan air mata. Jinna tidak menanggis, anak itu hanya menatap kosong ke arah ruangan Sohyun. Dokter yang bertanggung jawab keluar dari ruangan berserta kranda tempat tidur yang di bawa keluar.
"Maaf Ny.Kim kami terpaksa melakukan operasi lagi. Maaf !" Ucap Dokter tua itu.
"Lakukan apa pun untuk Sohyunku. Selamat dia Dokter." Pinta Hong Bin dengan mengenggam tanggan sang Dokter.
"Kami akan melakukan yang terbaik untuk nona Kim." Ucap sang Dokter.
Di ruangan berbeda. Kai meremas rambut nya dan menariknya kencang. Nina mengelus pelan pundak punggung Kai. Kai kalut sungguh ! Jam sudah menunjukan pukul tujuh pagi.
Kim Jonghyun. Putranya di larikan ke rumah sakit. Saat ia mengendong Sohyun, saat itu pula Jonghyun berteriak nyaring. Anak itu pingsan hinga ikut di larikan di rumah sakit dimana Sohyun di rawat.
Ke duanya menunggu di ruangan yang di sekat. Dimana di sana di peruntukan untuk tamu dari pasien rumah sakit. Kai menatap ke dua telapak tangannya yang masih melekat warna merah amis itu.
Nina menatap tangan Kai. Ia berdiri dari duduknya melangkah menuju kamar mandi ruangan VVIP itu. Hanya dua menit saja Nina masuk lalu keluar dengan membawa handuk kecil basah. Ia menarik tangan Kai, dengan perlahan Nina mengelap ke dua telapak tangan lalu beralih ke arah baju kemeja putih Kai.
"Oppa !" Seru Nina.
Kai hanya diam saja. Ia terlalu syok menerima hal yang ia pikir di luar pemikiran nya. Nina tau Kai masih terguncang. Nina juga merasa kan hal yang sama, karna jujur saja Nina tidak pernah mengalami hal yang menakutkan seperti tadi pagi.
"Kai ! " Seru Hyemi dengan suara dingin.
Kai menoleh melihat ke arah sang Ibu. Kai berdiri dari duduknya melangkah menuju sang Ibu. Lelaki tua itu melangkah meninggalkan ruangan sang Cucu. Jika ia masih di sana, ia tidak bisa berjanji untuk tidak membuat Kai berada di atas ranjang pesakitan.
PLAK !!!
PLAK !!!
"Eomma !" Cicit Jisoo melihat bagaimana cara Hyemi memberi tamparan.
Jisoo mengenggam tangan Hyemi yang bergetar. Jisoo menatap Nina memberikan kode agar wanita itu meninggal kan ruangan. Jika ia berada di sana, Jisoo yakin sang Ibu akan menyakiti wanita itu juga. Tak peduli jika Nina tengah hamil anak Kai.
Hyemi merupakan atlet tinju wanita. Banyak yang tertipu oleh wajah cantiknya. Namun di balik itu tubuh terlihat lemah itu begitu kuat. Hinga sang suami pun akan babak belur jika ia marah. Saat ia marah, Hyemi akan memecahkan seluruh perabotan. Itu pertanda ia sedang mengalihan rasa marahnya. Yang harusnya memukul, ia akan memukul benda-benda di dekat nya sebagai pelampiasan rasa marah pada manusia.
"Keluarlah Nina." Titah Kai menyeka darah di ujung bibirnya.
Nina mendesah lalu keluar. Jisoo menatap Kai dengan wajah takut. Kai hanya medesah letih. Tubuh dan hatinya terasa begitu letih saat ini.
"Mati kau !" Teriak Hyemi dengan menghempas tangan Jisoo.
Jisoo melangkah mundur. Kai hanya pasarah saat tubuhnya menjadi sasak tinju. Tubuh Kai di banting dan di tunju dengan kuat. Tubuh Kai tumbang menerima pukulan demi pukulan. Pikirannya melayang ! Ia menginggat wajah kesakitan Sohyun. Ujung hatinya terasa nyeri saat menginggat bagaimana wajah Sohyun.
Tatapan menakutkan yang wanita itu lemparkan. Bagaimana tangan Sohyun menahan pisau yang tertancap itu. Bagaimana wajah Jonghyun menatap Kai. Hinga sang Putra tumbang.
"E..emma." Seru Jisoo bergetar karna ngeri .
Hyemi beradiri dari tubuh Kai. Napasnya memburu, kebugaran tubuh tidak seperti dulu lagi. Membuat ia sedikit ngos-ngosan.
"Jika aku tidak menginggat kau masih mempunyai dua anak maka kau akan aku bunuh hari ini." Ucap Hyemi dengan suara dingin.
"Jisoo !" Tutur Hyemi.
"Eoh !" Seru Jisoo pelan.
"Berikan surat itu padanya. Dan setelah ini kau urus anak tak tau diri itu. Jangan lupa pisahkan dia dari Jonghyun. Siapakan surat mengalihan hak asuh anak." Ucap Hyemi dengan angkuh.
Jisoo mengangguk. Hyemi melangkah keluar dari ruangan mewah itu. Jisoo membatu Kai berdiri dan duduk di atas soffa.
"Ini Oppa. Ah !" Ucap Jisoo menyodorkan surat berlambang rumah sakit.
Kening Kai berlipat. Seakan bertanya apa itu? Melihat tatapan Kai. Jisoo membuka surat putih itu menyodorkan pada Kai.
"Itu tes uji DNA dari Jinna anak Sohyun." Ucap Jisoo pelan.
Kening itu semakin berkerut dalam. Tangan Kai menerima nya dengan bergetar. Kata demi kata di baca. Melayang ! Surat itu jatuh di lantai. Jisoo hanya menatap sang kakak dengan sedih.
"Anak itu begitu kasihan. Ayahnya memperlikukanya begitu kejam. Dan sekarang ibunya harus berada dalam ke adaan sekarat. Jinna tidak punya siapa-siapa lagi selain Sohyun. Karna Appanya tidak tau jika ia pernah ada dan memperlakukan dia dengan buruk." Ucap Jisoo membuat Kai meremas tangan nya.
"Jonghyun. Ia tidak bisa berbicara Oppa. Ia mengalami trauma hinga kehilanggan pita suaranya Oppa. Dokter Kang mengatakan bahwa jiwa keponakanku terguncang." Ucap Jisoo lirih.
Runtuh dunia Kai runtuh. Putranya tidak bisa berbicara sekarang. Sedangkan anak yang ia perlakuan seenaknya dan di benci. Adalah anak kandung nya. ******** ! Binantang ! Biadap ! Kata-kata itulah yang berpura-pura di otak Kai saat ini. Kristal bening jatuh luruh.
"Tidak ! Itu tidak mungkin. Jinna bukan anakku." Bantah Kai.
Jisoo hanya mendesah.
"Terserah Oppa. Kau harusnya tau Oppa. Sohyun Eonni hamil saat kau menceraikanya, kau tau Oppa.. Ah sudah lah. Aku tidak tau harus berkata apa saat ini. Kau telalu hancur Oppa jika kau tau apa yang terjadi." Ucap Jisoo lalu memilih untuk pergi dari sana.
***
Ke dua mata Sohyun terbuka perlahan. Hong Bin berteriak nyaring saat Sohyun membuka mata. Para tenaga medis segera menghampiri. Sohyun hanya diam, kala Dokter memeriksa ke adaanya. Ia merasa nyeri di perut bawanya.
Hong Bin di minta keluar dari ruangan rawat. Sulli masuk dengan membawa Jinna di dalam gendongannya.
"Sayang !" Seru Sohyun dengan suara serak.
"Eomma !" Ucap Jinna duduk di pingir ranjang.
"Jangan menanggis putri cantik. Eomma hanya terluka biasa saja." Ucap Sohyun mengusap air mata yang mengalir di ke dua pipi sang Putri.
"Syukurlah kau baik-baik saja Sohyun." Ucap Sulli lega.
"Hem, terimakasih telah menjaga putriku Eonni." Ucap Sohyun pelan.
"Bodoh !" Maki Sulli pelan.
Tak lama air matanya jatuh. Sulli menanggis haru, Jinna terlihat engan berbicara.
"Jinna sayang Eomma. Jangan terluka lagi." Ucap Jinna pada akhirnya.
Sohyun mengangguk dalam posisi tidurnya.
"Eomma, tidak akan terluka lagi. Tidak akan pernah lagi sayang. Ayo tidur di pelukan Eomma." Ucap Sohyun.
Jinna masuk dalam pelukan Sohyun. Meski agak nyeri di tekan oleh tubuh Jinna. Sohyun tetap tersenyum.
"Saatnya Aku melakukan apa yang harusnya aku lakukan. Aku tidak akan lagi diam. Meski harus bermain kotor. Aku akan membuat dia menyesal."
Sohyun menatap dalam wajah Jinna. Sulli tersenyum dengan punggung tangan menyapu air mata.