
"Bibir mampu menipu. Berkelit dengan seribu alasan. Namun, hati tak pernah munafik. Tidak dapat menyangkal tentang
sebuah rasa !"
~Kim Sohyun.
.
.
.
.
Empat jam lamanya, tangan putih pucat itu memeluk pingang lelaki yang tak kunjung menutup ke dua matanya. Desahan frustasi mengalun pelan sungguh ! Sangat pelan. Seakan tidak ingin mengusik tidur wanita cantik bermata bulat itu.
"Kenapa kau harus menyiksaku seperti ini Sohyun~ah?" Seru Kai lirih.
Erangan pelan membawa wajah cantik itu masuk ke dalam dada bidang Kai. Mati-matian Kai mencoba menahan seluruh rasa di dalam dadanya.
KLIK !
Bunyi pintu terbuka dengan deritan pelan. Membuat Kai menoleh ke arah pintu masuk. Dimana di ambang Pintu Wanita berambut sebahu menatap sendu Kai. Mata itu bengkak, dan Kai tau jika Nina selesai menanggis.
Kai melepaskan pelukan Sohyun dengan perlahan. Turun dari ranjang melangkah lebar menuju Nina. Ia menarik tangan Nina menjauh dari kamarnya. Masuk ke dalam kamar wanita yang berstatus sebagai istri nya itu.
"Maaf." Ucap Kai lirih entah sudah beberapa kalinya.
Nina memeluk Kai dengan erat. Ia menangis pelan. Kai mengelus pungung Nina dengan pelan. Rasa perih dan bersalah menyusup ke dalam hatinya. Ia sudah menceritakan segalanya pada Nina
Meminta wanita itu mengerti akan situasi rumit yang ia hadapi.
"Jangan menangis." Pinta Kai menarik wajah Nina menjauh dari dada bidang nya.
Perlahan ia menangkup ke dua sisi wajah Nina. Jari jempol Kai bergerak menyapu air mata yang mengenangi permukaan wajah Nina. Di sela tangisnya, Nina mencoba tersenyum. Ia mencintai lelaki yang telah membuat hatinya hancur itu.
"Aku berharap ini tidak akan lama Oppa." Ucap Nina penuh doa.
Kai mengangguk. Ia mengecup perlahan bibir Nina. Sedangkan di lain tempat wanita paruh baya itu menegak perlahan alkohol berkadar rendah. Ia sebenarnya masih belum yakin dengan keputusan yang ia buat.
"Ajhuma." Suara Sulli membuat ia menoleh ke arah pintu kamar Sulli.
"Kemarilah Sulli~ah. Bergabung denganku." Ucap Hong Bin dengan tangan meminta gadis cantik itu bergabung dengan nya.
Sulli yang awalnya merasa haus ingin minum. Malah melihat Bibi Sohyun minum sendiri di temani oleh cahaya minim. Sulli melangkah mendekati Hong Bin.
"Kenapa Ajhuma minum di tengah malam begini? Apa Ajhuma khawatir dengan Sohyun?"
"Ya, aku Khawatir jika ia akan terluka. Sohyunku cukup satu kali saja tersakiti. Aku tak ingin ia tersakiti lagi Sulli~ah." Ucap Hong Bin dengan meneguk air dengan rasa sepat itu.
Sulli ikut menuang alkohol di gelas kecil. Meneguk perlahan, menikmati rasa pahitnya.
"Apa pun yang terjadi. Aku percaya tidak ada yang nama kebetulan di dunia ini. Semuanya itu telah di atur oleh sang Pencipta. Jadi Ajhuma tidak perlu khawatir." Ucap Sulli dengan bijak.
Hong Bin terkekeh sinis. Seakan menertawakan kata-kata yang Sulli katakan.
"Kau tau, hidup itu sangat berat Sulli~ah. Dimana kau akan merasakan luka terus menerus. Namun apa kau tau Sulli~ah? Sakit yang tidak terkira adalah saat kau melihat orang yang kau Cintai dan berharga di pisahkan bahkan di sakiti oleh orang lain." Ucap Hong Bin meracau.
Wanita tua itu terlihat mulai mabuk. Sulli hanya tersenyum. Ia tau jika kehidupan wanita tua di samping nya ini sudah begitu sakit. Bagaimana tidak? Hanya karna tidak mempunyai anak. Suami yang ia Cintai menceraikannya. Dan menikah lagi dengan wanita lain. Meninggalkan luka yang dalam.
Hinga ia memutuskan menjadi janda. Dan tak ingin membina hubungan dengan lelaki mana pun. Saat Sohyun jadi yatim piatu. Ia merawat Sohyun dengan penuh kasih sayang. Menjadi Ibu sekaligus Ayah bagi Sohyun. Ia membahagiakan Sohyun seperti anak kandung nya sendiri.
Wajah ia begitu mencintai Sohyun. Melebihi mencintai dirinya sendiri. Sulli begitu salut pada Hong Bin. Wanita itu begitu hebat di mata Sulli dan Sohyun.
"Andaikan Eommaku seperti dirimu Ajhuma. Aku pasti merasa beruntung." Ucap Sulli lirih.
***
Sohyun menyusun meja makan dengan berbagai macam makanan. Nina hanya diam membantu Sohyun tampa suara. Meski Sohyun begitu cerewet, Jung Ajhuma tersenyum melihat tingkah Sohyun. Sama seperti pertama kali ia bertemu dengan Sohyun.
"Selesai." Ucap Sohyun tersenyum lebar. "Nina tolong banggukan Jonghyun dan juga Jinna. Aku akan membangunkan Kai." Titah Sohyun dengan senyum manisnya.
Nina hanya mengangguk dan melangkah ke kamar Jonghyun dan Jinna. Sedangkan Sohyun melangkah menuju kamar ke duanya. Dengan perlahan Sohyun membuka gorden jendela kamarnya. Membawa sinar matahari masuk ke dalam kamar yang awalnya temaram.
Ke dua mata Kai mengerjap pelan. Ia baru tidur satu jam yang lalu. Dimana ia kembali ke kamar di pukul setengah lima pagi. Dan jam sekarang sudah jam enam. Sohyun duduk di pingir ranjang memperhatikan wajah tampan Kai.
Ia menunduk. Mengecupi seluruh permukaan wajah Kai. Mulai dari kening, ke dua pipi, hidup, ke dua mata dan berakhir di bibir sexy Kai. Membuat Kai terbangun dengan wajah kesal.
Sohyun terkekeh. Sama persis seperti dulu. Kai adalah mahluk yang benci di bangunkan. Tapi bukan Kim Sohyun namanya jika ia tidak melakukan itu semua. Kai duduk dengan ke dua mata masih terpejam.
"Bangun sayang. Ini sudah pagi." Tutur Sohyun menangkup ke dua sisi wajah Kai.
Ke dua mata Kai terbuka perlahan. Ke dua mata Kai terhenti ke arah ke dua netra hitam bening Sohyun. Ke dua bibir Sohyun terangkat. Ia bahagia, karna mimpinya terwujud. Dimana ia membangunkan Kai di setiap pagi dengan senyum bahagia.
"Kau ingat? Kita selalu memimpikan ini semuanya. Dimana bangun di pagi hari bersama, sarapan bersama ke dua buah hati kita. Kau ingat itu adalah mimpi kita berdua dulu?" Tanya Sohyun dengan nada lembut.
Ke dua sudut bibir Kai terangkat. Ia mengangguk singkat. Itu benar ! Itu adalah keinginan Kai. Tapi itu dulu, jauh sebelum ke duanya memutuskan menikah.
CUPS !
"Morning Kiss." Ucap Sohyun lalu berdiri dari duduknya.
Kai terdiam. Tidak seharusnya bukan ia seperti ini. Kai mendesah lirih. Ia berharap ini semua cepat berakhir. Namun di satu sisi ia takut jika apa yang di katakan oleh Hong Bin bisa membuat ia hancur. Dan Kai tidak ingin itu semuanya terjadi. Bagi Kai lebih baik berpura-pura seperti saat ini. Dari pada ia harus membuka lembara pahit itu.
Sohyun terlihat memilih baju kerja Kai. Sedangkan Kai masih terlihat termenung di atas tempat tidurnya. Hinga suara Sohyun membuat ia turun dari ranjang masuk ke dalam kamar mandi.
***
Jonghyun membantu sang adik dalam mengambar. Sedangkan Sohyun menatap ke duanya dengan wajah masih tidak percaya. Bagaimana tidak? Ia merasa baru kemarin menikah dengan Kai. Dan saat ia bangun ia sudah menjadi seorang Ibu beranak dua.
"Kenapa Ny.Kim melihat tuan dan nona seperti itu?" Seru Nina yang duduk bersama Sohyun di ruang tamu.
"Aku tidak percaya, bagaimana bisa aku melupakan sebagian masa laluku." Seru Sohyun masih tidak mengalihkan tatapanya pada ke dua buah hatinya.
"Mungkin itu masa yang tidak ingin Nyonya kenang." Jawab Nina sedikit sinis.
Sohyun mengalihkan wajah nya ke arah Nina. Ke dua alis mata Sohyun terangkat. Seolah-olah ia merasa perkataan Nina mengandung sebuah makna yang dalam.
"Maksudmu?"
"Ah ! Aku salah bicara Nyonya. Aku harus kebelakang dulu." Ucap Nina.
Sohyun menatap pungung belakang Nina dengan heran. Namun ia menepis pemikiran buruk.
"Apa ada sesuatu yang tidak mereka katakan padaku?" Ujar Sohyun pelan.
"Eomma !" Seru Jonghyun membuat Sohyun menoleh.
"Ada apa Pangeran tampan?" Tanya Sohyun dengan senyum.
"Apa benar Eomma adalah seorang artis?" Tanya Jonghyun polos.
Jinna mengangguk. Ia menceritakan jika sang Ibu adalah artis. Namun pertanyaan itu membuat dahi Sohyun berkerut. Hinga tekanan menghantam kepalanya. Hinga meringis. Ke dua anaknya merasa khawatir.
"Akh ! Sakit." Ucap Sohyun dengan menarik rambut nya.
"Eomma !!" Pekik ke duanya melihat Sohyun pingsan.