
"Cinta tidak cukup untuk memutuskan dua orang agar hidup bersama. Karna Banyak hal yang harus di satukan dan di perjelas kan sehingga tidak ada kata pisah di
akhir kisah."
~Kim Sohyun.
.
.
.
.
Apakah Cinta saja cukup untuk kalian hidup dengan orang yang kalian cintai? Tidak bukan !
Karna ada banyak hal yang harus kalian lakukan sebelum memutuskan untuk menaiki jenjang lebih tinggi lagi.
Semakin tinggi tempat yang kita jejaki. Semakin kencang pula angin menerpa diri. Menyesal !
Satu kata yang berulang kali gadis remaja itu sesali. Ia pikir menikah dengan lelaki yang ia cintai akan memberikan kebahagiaan untuk hidup nya.
Tapi kenyataannya menampar gadis yang kini menyandang status menjadi seorang Istri. Lelaki yang kini duduk di bangku semester akhir kuliah di jurusan Bisnis.
Bunyi mesin mobil memasuki halaman luas rumah mewah miliknya dan sang suami menyadarkan nya dari lamunan. Kim Sohyun, berdiri dari duduknya. Melangkah dengan langkah lebar menuruni anak tangga menuju lantai dasar.
Lelaki berkulit tan masuk ke dalam rumah dengan wajah letih.
BRUK !!
Dada kekar dari lelaki berkemeja putih polos itu terbentur dengan kotak. Hinga membuat isi kota berwarna coklat gelap itu berhamburan di lantai.
Geraman tertahan terdengar cukup jelas. Wajah merah padam Sohyun dengan berserta tatapan amarah terlihat jelas. Kai menatap nyalang ke arah Sohyun. Tidak ada kata gentar di diri sang Istri. Seakan tatapan mematikan yang Kai layangkan adalah hal biasa.
"Apa lagi kali ini eoh !" Seru Kai dengan suara berat.
"Lagi? Eoh !" Sohyun membalas pertanyaan Kai dengan ledekan."Wah ! Begitu hebatnya dirimu ya? Di saat aku terkurung di rumah ini bersama putramu. Kau bebas dengan wanita lain di luar sana." Lanjut Sohyun dengan pekikan yang mampu membangunkan seisi rumah mewah itu.
Ia bahkan tidak peduli jika putranya berumur tiga tahun terbangun dari tidurnya.
Kai tersenyum sinis dengan rahang mengeras. Ia sudah cukup bersabar dengan kelakuan Sohyun. Wanita di depannya kini tidak lagi sama seperti dulu. Kai merasa kehilangan gadis manis yang penuh perhatian. Gadis yang dulu penuh ke sabaran dan pengertian. Kini tidak ada lagi, Kim Sohyun yang sekarang sudah sangat jauh berubah.
"Tidak bisakah kau tidak berteriak di malam hari !" Ucap Kai menahan emosi yang akan meledak.
Oh, ayolah ! Ia baru pulang dari Perusahaan sang Ayah. Setengah hari ia habiskan menekuni dunia Bisnis. Belum tugas skripsi akhir yang harus ia kerjakan. Kai butuh tempat istirahat di saat jam sudah menunjukan pukul
00.30 Malam.
Dimana harusnya ia sudah berada di atas kasur yang empuk. Namun karna tuntutan pekerjaan dan tangung jawab ia harus merelakan banyak waktu. Namun saat pulang ke rumah. Ia harus berhadapan dengan Sohyun yang kerap kali mencari masalah dan membuat bukan hanya fisiknya saja yang lelah tapi juga otaknya.
"Aku tidak bisa lagi hidup seperti ini." Ucap Sohyun dengan suara angkuh.
"Lalu kau mau hidup seperti apa?"
"Aku ingin kebebasanku." Jawab Sohyun dengan wajah serius.
Kai hanya mendesah kasar. Ia melangkah meninggalkan Sohyun yang masih berdiri di tempatnya. Bagi Kai, meladeni ke ingin Sohyun adalah hal yang memuak kan.
Sohyun memutar balik tubuhnya mengejar Kai yang menaiki tangga. Hinga masuk ke dalam kamar ke duanya. Dengan kasar Sohyun mencengkal tangan Kai dengan raut wajah kesal.
"Sampai kapan kau akan begini Kim Sohyun !" Bentak Kai menghempas kasar cekalan tangan Sohyun dari pergelangan tangannya.
Satu kata yang mampu membuat darah Kai mendidih. Kata yang selalu Sohyun keluarkan di saat ke duanya berselisih kata. Dan jujur saja Kai merasa muak dengan kata-kata itu.
Dengan ke dua tangan mengepal ia berbalik menghadap ke arah Sohyun. Senyum sinis terlempar begitu saja.
"Egois?" Ulang Kai dengan suara remeh.
"Iya."
"Kau lupa siapa yang meminta menikah? Siapa yang mengatakan ingin selalu bersama. Dan siapa yang menjebakku. Hinga kita harus menikah saat masih berumur sembilan belas tahun eoh?! Kau bukan !" Teriak Kai yang sudah habis kesabaran.
Diam. Sohyun terdiam mendengar penuturan Kai. Tidak ada yang salah dengan apa yang di katakan oleh sang suami. Memang dirinya lah yang memaksa Kai menikah. Bahkan ia menjebak lelaki itu agar segera menikahinya.
"Tapi itu karna.."
"Karna kau mencintaiku? Lalu sekarang apa kau sudah tidak mencintaiku begitu?!" Potong Kai dengan emosi melunjak.
Sohyun menunduk kan kepalanya. Melihat reaksi Sohyun, membuat lelaki bertampang hot itu membalikan tubuhnya melangkah ke kamar mandi. Meninggalkan Sohyun di tengah rasa marah lebih baik. Dari pada harus membuat pertengkaran ke duanya lebih serius lagi.
"Kau !" Hempasan kata membuat pergerakan tangan Kai yang berada di engsel pintu kamar mandi terhenti.
"Di sini aku memang salah. Harusnya aku tidak menjebakmu. Harusnya aku tidak tergila-gila padamu saat itu. Aku pikir hidup dengan cinta darimu akan membuat aku bahagia. Tapi ternyata aku salah, aku ingin kebebasanku. Bebas seperti teman-temanku yang lain. Karna kau dan Jonghyun aku tidak pernah punya waktu bersama teman-temanku." Tutur Sohyun dengan suara lemah.
Kai hanya dapat mendengar kata demi kata yang keluar dari bibir Sohyun tanpa ada niatan berbalik atau pun membantah.
"Itu tidak adil untuk aku. Kau bisa bersama teman-temanmu. Dan mewujudkan mimpimu. Lalu aku? Sampai kapan aku akan menjadi ibu rumah tangga? Yang hanya mengurusi anak saja eoh?" Lanjut Sohyun dengan wajah semakin tertunduk.
"Lalu kau mau bebas?" Entah sudah pertanyaan ke seratus berapa Kai mengulang pertanyaan itu ketika ke duanya cekcok.
"Ya." Jawab Sohyun pelan.
Ke dua sudut bibir Kai tertarik ke atas. Bukan ! Itu bukan senyum bahagia melainkan senyum hambar. Hati Kai serasa hambar. Kata-kata yang keluar dari bibir Istrinya membuat Kai merasa bodoh.
Ia bodoh. Ia berpikir Sohyun bahagia bersamanya. Meski awalnya ia berpikir Sohyun dan Jonghyun adalah beban. Namun lama-kelamaan. Ia mulai merasa kehadiran Jonghyun dan Sohyun adalah berkah. Sebelum Sohyun berubah.
Sebelum wanita itu menuntut ke bebasan. Pertengkaran sering kali mewarnai kehidupan pernikahan yang sudah empat tahun terjalin. Meski begitu Kai mencoba memahami dan memahami Sohyun. Tapi ternyata, Kai salah besar. Yang di butuhkan oleh wanita itu adalah kebebasan.
"Baiklah." Seru Kai dengan lemah.
Kepala yang awalnya tertunduk kini terangkat mendengar seruan pelan Kai. Sohyun menatap punggung belakang Kai dengan wajah tak terbaca.
"Kita bercerai saja. Itulah kebebasan yang bisa aku berikan. Aku akan merawat Jonghyun dan kau bisa bebas."
Kai memutar engsel pintu dan menariknya. Ia masuk ke dalam kamar mandi tanpa menambah kata. Sohyun membeku. Hatinya tertampar dengan perkataan Kai.
Kai bersandar di pintu kayu kamar mandi. Ke dua mata sipitnya menatap kosong cermin besar di kamar mandi mewah nya. Tak jauh berbeda dengan ke adaan Kai. Tubuh Sohyun merosot jatuh kelantai. Ke dua kakinya tak bertulang.
Bunyi dering ponsel membawa ke warasan Sohyun kembali. Ia berdiri dengan susah payah. Lelehan kristal telah tergenang di ke dua pipinya. Tanpa raungan, Sohyun mendirikan tubuhnya di tempat tidur King Size. Ia meraih tas kerja Kai, merogoh isinya guna mencari benda yang sempat bergetar dan berdering.
Jari jemari lentik nya membuka kunci ponsel. Ke dua matanya membulat. Seakan kepalanya berasap, ia meremas keras benda persegi panjang jangih itu.
"Penghianat." Seru Sohyun pelan.
Dengan ke dua mata berlinang. Sohyun menghapus kasar air matanya. Dan menghapus pesan yang masuk ke ponsel suaminya.
Sohyun memasukan kembali ponsel Kai ke dalam tempat nya semula.
Tanpa pikir panjang. Ia meraih ponsel berserta tas sandang kecil. Melangkah keluar kamar menuju kamar sang putra. Sohyun mengecup dahi Jonghyun dalam. Berusaha sebisa mungkin tidak terisak menganggu tidur anak berumur tiga tahun itu.
Dengan mencoba menguatkan hati. Sohyun meninggalakan sang Putra. Tampa menganti piala tidur nya Sohyun pergi dari rumah sang suami.