I Hate You, Mom & Dad

I Hate You, Mom & Dad
Bab 16



"Cinta bagaikan Pedang. Jika kau salah bergerak maka ia akan melukaimu. Bahkan dapat membuat kau


Mati Rasa."


~Kim Sohyun ~


.


.


.


.


Flashback


Pintu ruang rawat Sohyun terbuka. Sohyun hanya menatap lelaki yang masuk ke dalam kamarnya dengan wajah datar. Kai menarik kursi yang tepat berada di sebelah ranjang Sohyun. Wanita berambut sebahu itu hanya menatap Kai tampa kata.


"Kau tau bukan Maksud ke detanganku ke sini." Seru Kai dengan wajah tak kalah datarnya dari wajah sang wanita yang masih berada di atas ranjang pesakitan.


"Tidak." Jawab Sohyun acuh.


Kai menatap Sohyun tidak percaya. Wanita itu jelas tau maksud ke datangan nya di ruangan rawat.


Sohyun menyenderkan pungung belakang tubuh seyaman mungkin di dasbor ranjang. Ia melipat ke dua tangan nya di depan dada.


"Tidak?!" Ulang Kai tidak percaya.


"Wah ! Kau masih angkuh setelah semua yang kau lakukan Kim Sohyun." Lanjut Kai dengan senyum remeh.


"Semua yang aku lakukan."


Jika tadi Kai yang mengulang kata. Kali ini Sohyun lah yang mengulang kata. Sohyun tersenyum sinis. Ia menegakan tubuhnya yang tadi di sandarkan.


"Baiklah. Mari kita urai satu persatu masalah dulu sampai saat ini Kim Jongin." Ucap Sohyun dengan ke dua mata tegas.


"Katakan kesalahanku. Ah, tidak ! Katakan semua yang kau pikir kan tentang salahku. Dan aku pun akan mengatakan semuanya padamu. Dimana letak kesalahan mu. Dan mari akhiri lingkaran terkutuk ini."


Kai mendesah letih. Haruskah? Ia mengurai kesalahan Sohyun dari dulu sampai saat ini. Kai tidak yakin wanita itu akan bisa menjawab perkataan nya. Ia tau ia tidaklah salah, dan ke kesalah dari awal terletak di diri gadis itu.


"Baiklah jika itu mau mu." Tutur Kai dengan wajah serius. "Kau menjebakku dengan alkohol dan obat perangsang. Mari kita angab itu sebagai kesalahanmu yang pertama. Kau hamil atas ke inginanmu. Aku menerima semuanya dengan baik. Lalu setelah itu semuanya kau mendesakku meminta waktu bahkan kebebasan di masa lalu. Dan kau?! Di saat Jonghyun sakit dan sekarat. Yang kau lakukan malah berselingkuh. Padahal saat itu kau masih istriku Kim Sohyun. Lalu setelah sekian lama, di saat aku sudah hidup lebih baik. Kau datang dengan semua rasa sesak itu. Lalu kau membuat aku bodoh. Kau membuat aku menjadi seorang Appa yang kejam pada putriku. Dan sekarang kau membuat aku di benci oleh ke dua anakku. Bukankah kau begitu hebat dalam mempermaikan orang lain." Urai Kai dengan suara beratnya.


Sohyun diam-diam merasa hatinya berdenyut nyeri. Sebegitu banyak kah kesalahan nya. Namun ada beberapa hal yang tidak dapat ia akui di sini.


Ke dua netra bebeda itu beradu tatap. Hinga mengetarkan hati ke duanya.


"Aku akui jika menjebakmu adalah kesalahanku." Jawab Sohyun lirih tampa memutuskan tatapannya.


Begitu juga dengan Kai. Lelaki itu engan memutuskan tatapannya dengan wanita yang telah melahirkan ke dua buah hatinya.


"Aku mencintaimu." Ucap  Sohyun lirih.


Tidak ada wajah angkuh. Ke dua mata kelam itu berubah menjadi sendu. Kata cinta dari bibir merah merekah itu membuat hati lelaki itu berdenyut.


"Aku melakukan nya. Karna aku mencintaimu, aku menjebakmu karna aku tidak ingin kau menjadi milik wanita lain. Aku ingin kebebasan dan waktu adalah karna aku ingin tampil lebih cantik dan menarik dari gadis di kampusmu. Dari gadis yang jelas-jelas ingin merebut suamiku. Tapi aku terlalu malu dan takut mengakuinya." Jelas Sohyun dengan suara bergetar.


Wajah Sohyun menunduk. Ia tidak lagi membiarkan ke dua netranya menatap wajah Lelaki itu. Apa pun ekpresi lelaki itu, Sohyun tidak peduli. Ia lelah menyimpan semua lahar itu sendiri.


"Semua gadis mengirimu foto tubuhnya. Mereka dan kau diam saja. Lalu saat kita bertengkar hebat. Kau tau aku hamil. Hamil anakmu Kim Jinna, hinga emosi ku tidak terkontrol. Aku bahkan minum alkohol karna frustasi kau tidak mencegah kepergianku. Aku berselingkuh?! Aku tidak terima tuduhan itu. Aku tidak pernah menyerahkan tubuhku pada lelaki lain. Aku mabuk dan hampir saja di perkosa. Aku akui itu kesalahanku karna keteledoranku. Aku bukan wanita murahan."


Kata yang di lontarkan oleh Sohyun membuat Kai bungkam. Lelaki itu bungkam. Tidak satu kata pun ia ucapkan.


"Lalu kau mau mengatakan aku menjaukanmu dari Jinna dan membuat ia membencimu? Kau salah Kai. Aku tidak menyembunyikan Jinna darimu. Jika aku katakan jika Jinna putrimu kau akan menolaknya dan bisa saja kau mengatakan bahwa Jinna anak lelaki lain. Aku tidak ingin kau menghinaku lagi. Dan saat aku lupa tentang masa lalu, apa yang kau lakukan pada anakmu?!! Kau menyakiti nya Kai. Kau membuat Jinna terluka. Bodoh ! Jika seorang Appa tidak bisa merasakan perasaan aneh saat melihat darah dagingnya sendiri."


Kata-kata yang Sohyun lontarkan meruntuhkan dunia Kai. Air mata yang tidak ingin ia keluar kan dengan lancang menampakan dirinya. Kim Sohyun,  ia menanggis di sela kata tetap kuat.


Pandanggan Kai terlihat kosong. Hatinya sakit ! Sungguh sangat sakit. Kenyatan yang menghempas kan dirinya. Jatuh ! Meski tubuh itu masih duduk dengan kokoh hatinya jatuh hancur.


Ia tidak bisa berbohong. Ia mencintai wanita yang tengah terisak itu. Ego dan rasa sakit dari kata berhianati membuat Kai gelap mata. Membuat ke dua matanya buta. Yang ada adalah kata benci. Kata bagaimana cara membalas apa yang telah ia terima dari wanita yang jelas-jelas ia cintai.


Pelukan dimana lelaki itu berikan. Ketika dunianya runtuh, ketika ke dua orang tuanya meninggalkan dirinya. Kai datang memberikan pelukan dan menguatkannya. Lelaki itu menawarkan perlindungan. Menawarkan air di bunga yang gersang dan bahkan akan mati.


Kai adalah segalanya bagi Sohyun. Lelaki itu datang dengan seribu kata bahagia yang tidak dapat Sohyun jelaskan. Lelaki itu membuat senyum itu hadir. Lelaki itu yang memancing kata berdebar itu. Lelaki itu yang membuat Kim Sohyun takut. Takut di tinggalkan, dan bahkan rela menjebak lelaki itu tidur dengan nya.


Ia melepaskan apa yang berharga baginya. Ia melapaskan mahkota nya melepaskan masa remaja nya. Hanya untuk bisa bersama lelaki itu. Tidak kah lelaki itu mengerti. Waktu apa yang ia pinta. Kebebasan apa yang sangat wanita itu inginkan.


Tapi kini semuanya telah berbeda.  Kai sudah memiliki wanita lain di sisinya. Bahkan sudah memiliki anak yang akan membuat lelaki itu semakin bertahan pada wanita itu.


"Maafkan aku. Aku bodoh ! Aku salah. Maaf.."


Kata-kata yang tak lagi bisa di tahan oleh kata ego meluncur begitu saja. Lelaki berkulit tan itu menangis. Merangkuh kuat tubuh rapuh itu. Ke duanya sudah tergepung oleh pedang. Dan sama-sama terluka oleh tindakan yang salah. Hinga mereka tidak bisa menolong atau mengobati luka satu sama lain.


Flashback off


Sohyun tersenyum menatap bagaimana Jinna menghibur sang Oppa. Anak nya melakukan beberapa trik untuk membuat Jonghyun tertawa. Jonghyun memang tidak dapat tertawa. Namun bukan berati ia bukan tidak dapat tersenyum.


"Perkembangan psikologi Jonghyun sudah jauh membaik. Jika begini terus, tidak menutup kemungkinan ia akan bisa berbicara lagi." Ucap wanita yang bername tag Jung Ga Eun.


"Terimakasih Dokter atas bantu nya." Tutur Sohyun dengan membungkuk.


"Jangan begitu Sohyun~ah. Jonghyun sudah aku angab sebagai anakku sendiri." Tutur Ga Eun tulus.


Ke dua alis mata Sohyun terangkat mendengar perkataan Ga Eun yang di nilai tidak lagi Formal.


"Jangan menatap aku seperti itu Sohyun~ah, kau membuat aku merasa tak enak." Tutur Ga Eun dengan senyum tiga jari.


"Eomma !" Teriak anak lelaki datang dengan di ikuti oleh lelaki jangkung di belakang nya.


"Jillo~ah." Seru Ga Eun antusias.


Sohyun melongo menatap Ga Eun dan Chanyeol bergantian. Lalu beralih pada Jillo yang mengecup bibir Ga Eun.


"Kenapa kau menatap Istriku begitu Sohyun~ah?" Seru Chanyeol tersenyum geli melihat reaksi Sohyun.


"Tidak. Aku tidak menyangka, Dokter secantik Ga Eun~Ssi mau dengan tiang listrik seperti Oppa." Goda Sohyun setelah sekian lama terdiam.


Ga Eun tertawa mendengar perkataan Sohyun. Sedangkan Chanyeol mendengus sebal.


***


Lelaki  berahang tegas itu merebut minuman berkadar alkohol tinggi itu dari tanggan lelaki bermarga Kim itu. Membuat lelaki itu mendegus marah di sisa kesadarannya. Hinga lelaki ia tertidur di lantai dingin arpartemen mewah miliknya.


"Seharusnya kau tidak terluka seperti ini Woon~ah." Ucap Jaehyun resah.


Lelaki bermaga Jung itu menatap wajah Rowoon dengan khawatir. Tampa banyak kata ia memapah lelaki itu masuk ke dalam kamar lelaki itu.


Sedangkan di tempat lain. Wanita yang tengah berbadan dua itu menatap lelaki yang kini berbaring dengan ke dua mata terpejam. Ia merasa hancur melihat lelaki itu terlihat pucat. Dengan perlahan ia mengusap kering yang meleleh di sudut dahi Kai.


"Apakah kau begitu mencintai Kim Sohyun. Oppa ! Tidak bisakah kau melupakan nya saja. Mencintai aku dan anak kita. Seperti kau mencintai Sohyun dan Jonghyun." Tutur Nina lirih.


Jika Orang-orang membenci Nina. Wanita itu tidak peduli, asalkan Kai mencintai dirinya. Asalkan Jonghyun menyayanginya dirinya. Nina adalah gadis sederhana dengan wajah manis.


Hidup nya cukup miris. Ia adalah anak yatim pintu, yang bekerja dengan membanting tulang. Ia tidak lah wanita yang matre. Tidak sekali pun ia mengininkan uang. Bahkan Ibu lelaki itu mengundangnya ke restoran untuk memberikan Nina setumpuk uang dengan imbalan Nina mau menjauhi Kai.


Ia mau Nina menceraikan Kai. Nina harus bersujud agar Hyemi tidak meminta hal itu pada Nina. Wanita manis itu selalu mencintai lelaki dengan dalam. Dulu, ia pernah mencintai lelaki dengan tulus pula.


Lelaki itu meninggal kan Nina dalam kesendirian. Mengatakan akan menjemput dan menikahi Nina saat ia sukses. Namun tiga tahun berlalu lelaki itu tak kunjung datang. Hinga hati Nina beralih pada Kai. Pada lelaki yang menyimpan luka.


Lalu kenapa ia harus di lukai oleh lelaki untuk ke sekian kalinya.


"Apa Oppa akan meninggalkan aku dan anak kita. Seperti lelaki itu meninggal kan aku sendiri Oppa?" Tutur Nina dengan linangan air mata.


"Tuhan ! Bisakah kau adil untuku. Setidaknya biarkan aku bahagia sebentar saja. Hanya sebentar saja." Pinta Nina pelan.


Ia mengenggam tangan kanan Kai dengan wajah sendu. Nina mengecup telapak tangan Kai pelan namun dalam.