I Hate You, Mom & Dad

I Hate You, Mom & Dad
Bab 2



"Kita boleh mencintai. Namun jangan sampai terlalu mencintai. Karna bisa jadi Rasa itu malah berubah menjadi rasa Benci yang besar."


~Kim Jongin .


.


.


.


.


4 Tahun kemudian


Bulir-bulir salju berterbangan. Meski waktu masih mebelum menjanjikan kata malam. Namun langit di atas negara Korea terlihat begitu gelap. Jari jemari mungil terlihat bergerak menyentuh bulir-bulir salju yang di tiup angin.


"Tuan muda, kenapa berada di sini? Ayo masuk ! Nanti tuan bisa sakit." Suara sang Baby Sister membuat anak lelaki tampan berumur enam tahun itu menoleh sekilas dan kembali melakukan aksinya.


Derap langkah cukup nyaring di rumah megah. Lelaki berkulit tan terlihat semakin matang dan Sexsi dengan balutan kemeja putih berlengan panjang.


Ke dua netra hitam gelap miliknya menatap seluet sang putra yang berdiri di taman. Dengan perlahan Kai melangkah mendekati sang buah hati. Di ikuti oleh sekretaris nya. Ketika kata terhempas, jantung lelaki itu seakan di siram air es di tengah kebekuan musim dingin.


"Kenapa orang dewasa sangat suka berpisah Nuna? Apa, Appa dan Eomma saling membenci hinga mereka mengabaikan aku?"


Langkah itu terhenti. Bersama remasan kasar di jantung hati. Kai dapat melihat pengasuh sang putra berjongkok. Menyemakan tingginya dengan anak yang terlihat menduduk dalam.


"Kenapa tuan berkata begitu?" Suara lirih mengalun.


Wajah Jonghyun seketika terangkat. Bibir merah padat milik sang Ayah tersenyum perih.


"Setiap tahun, aku selalu merayakan natal dan ulang tahunku sendiri. Dan jika tidak sendiri pun Appa yang akan menemani tampa Eomma." Jawab Jomghyun dengan mata berkaca-kaca.


Nina menghapus lembut air mata yang mengalir di wajah Jonghyun. Ia mengenggam erat tangan kanan Jonghyun, lalu tersenyum.


Tidak ada kata yang dapat di katakan oleh bibir tipis Nina. Apa yang di katakan oleh tuan mudanya itu adalah sebuah fakta yang nyata. Kai tidak pernah membiarkan Sohyun mendekati Jonghyun. Tidak sekali pun, semenjak perceraian ke duanya tiga tahun yang lalu.


Kai dan Sohyun tidak pernah lagi berhubungan. Mungkin lebih tepatnya, Kai lah yang tidak ingin berhubungan lagi dengan Sohyun. Ia membakar semua barang-barang Sohyun tampa sisa. Hinga buah hati pun tidak tau bagaimana rupa sang Ibu.


Dan tidak pernah ada kata Eomma di rumah megah itu. Kata-kata itu seakan menjadi kata terlarang yang tidak boleh di ucapkan.


"Kai~ah !" Tepukan pelan di pundak kiri Kai membuat lelaki itu menatap sekilas ke arah sang sekretaris.


"Hyung ! Batalkan kepergianku minggu ini ke Jepang." Seru Kai lalu melangkah pergi menuju tangga.


Chanyeol mendesah. Ia tau perasaan Kai, perasaan yang remuk mendengar perkataan dari sang buah hati. Chanyeol menatap Jonghyun dengan ke dua mata sendu. Lelaki itu tidak percaya rasa Cinta yang begitu dalam dapat hancur. Dan berubah menjadi rasa beci.


Di lain tempat wanita dengan dres selutut tengah tersenyum. Menghadap ke arah lampu kilat kamera yang mencoba menangkap pose yang memuaskan darinya. Senyum hangat tidak pernah luntur dari wajah cantiknya.


Menjadi seorang model sekaligus artis bukanlah hal mudah. Nama Kim Sohyun melejit merajai dunia majalah dan juga televisi. Wanita yang memiliki mata dan wajah bak Barby hidup itu selalu memukau setiap saat.


Langkah angun dengan senyum ramah menjadi ciri khasnya. Ke datangannya di Korea mampu menyedot sorotan kamera. Senyum itu luntur ketika sudah tidak ada lagi ribuan pasang mata yang menyoroti wajahnya.


"Minumlah." Seru Sulli sang menejer menyodorkan tabung air mineral ke arah Sohyun.


Sohyun menerimanya dan meneguk habis air mineral tampa sisa. Dengusan jengkel mengalun, Sulli hanya terkekeh melihat artisnya memasang wajah masam.


"Kenapa harus ada wartawan? Bukankah kepulanganku di rahasia Eonni?" Tanya Sohyun dengan ke dua mata menyipit melihat Sulli dengan penuh selidik.


Sulli terkekeh. Ia mengakat ke dua tangan ke nya ke atas pertanda menyerah. Sohyun mengembungkan ke dua pipinya. Mobil Fan hitam yang membawa Sohyun melaju dengan kecepatan rata-rata.


Sohyun menyenderkan tubuh senyaman mungkin. Sulli meraih sebuah majalah dan menyodorkan ke arah Sohyun. Ke dua mata Sohyun menatap majalah dan Sulli bergantian


Seolah-olah bertanya.


"Baca saja dulu." Titah Sulli lalu menyibukan diri dengan benda persegi panjang di genggaman tanganya.


"Kau mau bertemu dengannya?" Tanya Sulli tampa mengalihkan pandanggan nya pada Sohyun.


"Tidak. Aku hanya cukup melihat perkembangannya dari jauh. Kau tau bukan Eonni lelaki itu akan semakin menjauhiku dengannya jika dia tau aku menemuinya. Lebih baik begini, seperti yang lelaki itu mau. Dia tetap dengan ke egoisnya. Dan aku tetap dengan prinsipku." Ujar Sohyun dengan senyum.


Jari jemari bergerak membelai sampul majalah yang bersampul foto sang Putra. Ulang tahun ke enam Kim Johyun. Putra tunggal pemilik Kingdom Groub di gelar meriah.  Itulah judul besar di sampul majalah.


Tidak ada yang tau. Masa lalu apa yang membuat Kim Sohyun dan Kim Jongin tidak punya ke sempatan bersama lagi. Tidak ada yang tau pula, siapa mantan istri dari pengusaha sukses itu. Hanya segelintir orang saja yang tau. Namun, siapa yang bisa mengalahkan ke kuasaan dan uang.


***


Kai mengelus surai sang Putra yang tertidur di dalam pelukan hangat nya. Bunyi pintu berderit cukup nyaring. Namum masih tidak dapat membangun kan pangeran kecil Kai. Kai tersenyum melihat siapa yang masuk ke kamarnya.


Dengan perlahan Kai membaringkan tubuh sang Putra dengan lembut dan menyelimuti tubuh sang putra. Wanita dan Pria paruh baya itu mengode Kai untuk mengikuti ke duanya.


Wanita paruh baya itu meletakan semangkuk nasi di depan sang Putra. Kai tersenyum hangat pada sang Ibu. Ke tiganya duduk di meja makan.


"Bulan besok adalah hari ulang tahunnya Jonghyun." Tutur Tuan Besar Kim, membuka suara lebih dulu.


"Tidak terasa, Jonghyun cucuku sudah besar." Timpal Ny.Kim dengan senyum lebar.


Kai menganguk.  Melihat tumbuh kembang sang Putra membuat Kai merasa begitu bahagia.


"Aku dengar Sohyun kembali ke Korea." Seru Ny.Kim lagi.


Perkataan sang Ibu membuat pergerakan tangan Kai terhenti. Bahkan senyum lebar penuh kebahagian pun ikut patah. Ke dua orang tuanya mendesah keras melihat reaksi sang Putra.


"Sudah berapa kali aku katakan Eomma. Berhenti mencari tau tentangnya. Jika ke datangan Eomma dan Appa ke sini hanya untuk membahas wanita itu. Sebaiknya, ah lupakan."


Kai langsung berdiri dari duduknya. Suara tegas sang Appa membuat pergerakan Kai terhenti.


"Sampai kapan kau akan menjauhkan Sohyun dengan Jonghyun? Tidak kah kau berpikir putramu begitu merindukan Ibunya. Dan ingin tau siapa Ibunya. Berhenti keras kepala Kim Jongin !" Seru sang Ayah dengan kembali menyebutkan nama kecil Kai.


"Aku akan menikah. Jika itu yang kalian mau. Tapi jangan pernah mengungkit tentang wanita itu lagi." Itu kata terakhir yang di hempas suara berat Kai sebelum lelaki itu melangkah meninggalkan ruangan makan.


Di balik dinding kokoh, Jonghyun mendengar perdebatan antara ayah dan kakeknya. Jonghyun awalnya ingin mengagetkan ke tiganya. Namun, saat topik nama sang Ibu di sebutkan. Anak lelaki itu mengurungkan niatnya.


"Eomma... Kenapa Appa begitu membencimu? Apakah, Jonghyun tidak akan pernah bertemu dengan Eomma?" Suara serak keluar dari bibirnya dengan mata berair.


Jonghyun sebisa mungkin memahami pemikiran orang dewasa. Namun, otaknya tidak mampu dan tidak akan bisa.


"Kenapa Jonghyun menanggis?" Suara serak basah lelaki bertelinga ucaplang itu membuat Jonghyun mendongkak. Hinga air matanya semakin deras mengalir.


"Paman, bisakah paman membawaku bertemu dengan Eommaku? Sekali saja?" Suara lembut nya mengalun dengan parau.


Chanyeol menekuk ke dua kakinya. Menyamakan tinggi nya dan Jonghyun.


"Tapi Eomma Jonghyun tidak di Korea." Bohong Chanyeol dengan menghapus air mata Jonghyun dengan perlahan.


"Kenapa orang dewasa suka sekali berbohong."


Tatapan mata nanar Jonghyun membuat Chanyeol merasa di tampar.


"Jongh.."


"Eomma berada di Korea. Kakek yang mengatakan nya, dan Paman mau terus berbohong? Sama seperti Appa."


Perkataan Jonghyun semakin membulat Chanyeol tersudutkan. Jonghyun melangkah setengah berlari meninggalkan Chanyeol yang masih membeku.


"Kenapa harus anak itu yang merasakan dampak dari ke egoisan kalian berdua." Seru Chanyeol dengan  suara lirih.


Masih melekat di benak Chanyeol. Bagaimana pertengkaran dasyat ke dua nya. Hinga Kai melayangkan surat cerai. Tampa perlawanan, Sohyun menerimanya. Tampa sedikit pun membantah. Bahkan hak asuh sang Putra, wanita bermata bulat itu tidak Protes.